Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Dimensi Lain


__ADS_3

Haaai ...


Lembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


Mata kami tertuju pada Satria. Dia melawan makhluk itu sekuat tenaga. Tapi ketika mahkluk itu ditendang dan hancur, seketika itu kembali utuh lagi.


"Satriaaaa" kata kami bertiga


Dia tersungkur lagi oleh makhluk itu


Sekelebat bayangan hitam muncul lagi. Ya lelaki berhodie hitam.


"Siapa lelaki itu" gumamku dalam hati.


"Prasta, ajak Tamara dan Nararia keluar dari rumah hantu ini." perintah Satria.


"Enggak, aku enggak akan pergi tanpa kamu, Sat." kataku sambil menangis.


"Ayo kita keluar, Satria bisa menghadapi nya. Percayalah " kata Prasta menyakinkan kami.


Akhirnya dengan berat hati. Kami bertiga hendak menuju pintu keluar. Tapi pintu yang kami ingat semula hanya berjalan sekitar 50 M. Kini lama banget kami berjalan tidak sampai - sampai.


"Ini aneh Pras, seingat ku tadi cuma belok sekali kok." kataku


"Iya kenapa ini jadi jauh banget ya." timpal Tamara


"Sebentar ... sepertinya memang benar. Ada yang tidak beres." kata Prasta.


Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Kami menuju tempat kuburan itu. Tapi lagi - lagi aneh. Kami tidak menemukan kuburan itu. Satria juga hilang, kuburan dan mayat hidup juga hilang.


"Kemana kuburannya? Satria mana?" kata Tamara yang panik


"Ini bener - bener aneh sekali." kata Prasta


"Apa yang harus kita lakukan, Pras?" tanyaku


"Aku akan coba komunikasi sama Satria." kata Prasta


Dia pun lalu memejamkan mata. Tapi tak lama kemudian Prasta membuka mata.


"Gimana Pras?" tanyaku tidak sabar


Dia hanya menggelengkan kepala. Itu membuat aku dan Tamara menangis. Tapi saat ini bukan waktunya menangis. Sosok dedemit mulai bermunculan. Kami melihat makhluk halus yang sangat kami takuti.


Sontak membuat Tamara histeris dan dia pingsan. Aku pun masih menggoyangkan pipi dan tubuhnya. Berharap dia dapat bangun. Tapi ketika dia sad wae, masih melihat makhluk itu. Dia kembali pingsan.


"Ini tidak bisa dibiarkan" kata Prasta.


Prasta lalu mengeluarkan pusakanya. Tombak emas adalah pusaka Prasta. Sejenak aku mengamati pusaka itu. Dia sangat lihai dalam memainkan pedangnga. Satu per satu makhluk itu dimusnahkan.


"Nara kamu tidak apa kan?" tanya Prasta


"Enggak, ini Tamara gimana?" tanyaku


"Tinggalin saja kalau dia nggak mau bangun." kata Prasta jutek


Segera setelah mendengar perkataan Prasta. Tamara bangun dari pingsannya. Aku sebel sekali dengan dia. Ternyata dia tidak pingsan. Dia hanya mencoba tidur dan tidak melihat rupa sang mahkluk itu.


Selanjutnya, kami mencoba terus berjalan. Semakin masuk ke dalam. Suasananya mencekam. Kami berada di di depan goa.


"Tempat apa lagi ini?" tanyaku


"Putri Medang Tamara. Kau kan selalu mengaku sebagai putri Medang. Jadi kamu tidak akan takut dengan beginian kan?" tanya Prasta

__ADS_1


"Seharusnya kamu melindungiku dengan segera jiwa dan raga mu. Aku kan seorang putri, mana pantas kamu memerintahku." balas Tamara.


Dari obrolan dua manusia itu. Ada yang aku tangkap, yaitu Prasta meragukan Tamara sebagai putri Medang.


"Prasta, andai kamu tahu. Aku lah putri mahkota Medang itu." gumamku dalam hati.


"Nara ... Ayo kamu bersama ku. Aku yakin putri mahkota Tamara akan bisa menjaga diri." kata Prasta


"Wooi... apa kamu lupa, Satria menitipkanku padamu?" kata Tamara


Dengan hembusan nafas yang kasar. Prasta akhirnya berbalik badan.


"Ayo buruan" kata Prasta


Aku pun langsung menggandeng tangan Tamara. Ada rasa panas ketika telapak tanganku menyentuh telapak tangannya.


Kami kemudian melewati goa seram itu. Kami masih mencari dimana keberadaan Satria. Hingga kami berjumpa dengan sebuah kampung.


"Aneh rumah hantu terdapat kampung." gumamku


"Betul, Nara ... kita harus waspada." kata Prasta


"Hei lihat itu" tunjuk Tamara


Kami pun langsung melihat ke arah jari telunjuk Tamara. Ternyata ada Satria sedang bersama para gadis - gadis itu. Melihat hal itu Tamara pun menjadi murka. Dia hendak melabrak para gadis itu. Tapi ketika aku memejamkan mata. Aku tidak mau melihat adegan senonoh Satria bersama gadis itu.


"Tamara sabar ... kalau kamu ke sana. Kita bisa mati. Lihat itu" kata Prasta


Kami pun kemudian melihat banyak sekali jebakan di sana. Banyak anak panah di atas pohon. Prasta kemudian melempar sebuah kerikil. Sontak sebuah tombak langsung menantap ke sebuah kerikil. Tamara pun bergidik ngeri.


"Tamara tenangkan hati mu. Atau kamu mau mati dan tidak bisa membawa Satria kembali?" tanyaku


"Tapi Satria?" kata Tamara


"Diam jangan berisik. Kalau kamu ingin kulit mulus mu tertancap tombak itu ke sana lah." kata Prasta


Akhirnya Tamara pun diam. Dia hanya menangis melihat Satria bercumbu mesra dengan 4 gadis. Sebenarnya hati ku juga sakit. Tapi apa daya, aku hanyalah manusia biasa tanpa kekuatan.


"Kita harus memastikan apakah Satria yang ada di depan kita itu asli atau palsu." kata Prasta.


Tapi nampaknya Tamara sudah tidak sabar. Dia muak lelaki nya bersetubuh di depan umum. Apa lagi persetubuhan Satria dan ke empat gadis itu menjadi tontonan.


"Satria ... hentikan. Apa yang kau lakukan? aku calon istri mu. Gadis sialan, enyah kau." kata Tamara


Sekelebat anak panah meluncur dari pohon. Tapi Tamara bisa menghindar. Ternyata Tamara juga bisa bela diri. Jebakan tidak ada satu pun yang mengenai Tamara. Kemudian para penduduk itu menyerang Tamara. Melihat hal itu, ingin rasanya aku menolong. Tapi aku takut aku hanya akan menyusahkan Tamara.


"Prasta" kataku


"Tetaplah di sini. Aku akan membantu Tamara." kata Prasta


Prasta kemudian melipir ke utara. Dia tidak mau muncul dari tempat persembunyianku. Akhirnya dia membantu Tamara melawan penduduk itu. Aku pun masih menangis, karena tidak ada gunanya aku sekarang. Disaat pangeranku sedang bercumbu mesra. Aku hanya bisa melihat nya.


*


(Adhiraksa)


Adhiraksa telah selesai dalam melakukan tapa nya. Kini dia bisa menyentuh dan berdekatan dengan Satria maupun Prasta. Dia sedang termenung di atas Candi Prambanan.


"Aku seperti kalau diriku dipanggil oleh putri mahkota. Tapi kenapa aku tidak merasakan tarikan." kata Adhiraksa


Tiba - tiba dia dikejutkan oleh kedatangan Puspa dan Kencana.


"Itu karena putri mahkota sedang berada di dimensi lain. Mereka terjebak dalam dunia mahkluk jahat. Sehingga kau tidak bisa menembus ke sana." kata Kencana


Adhiraksa lalu melompat turun.


"Apa maksudmu?" tanya Adhiraksa


"Nararia sedang dalam masalah. Ada makhluk yang mengincar diri nya. Sehingga dia ditarik di dunianya. Kita tak punya banyak waktu. Kita harus segera ke dunia ciptaan makhluk itu." kata Puspa


Akhirnya mereka bertiga segera menghilang. Mereka berusaha mencari kami. Mereka menemukan jejak kami di taman lampion. Ya karena memang kami masuk dimensi lain dari sana.

__ADS_1


"Rumah hantu itu" tunjuk Kencana


"Ayo lah itu hanya mainan, Kencana." kata Adhiraksa.


"Mereka dijebak di dalam sana." kata Puspa


Tanpa menunggu lama lagi. Mereka lalu masuk ke rumah hantu itu. Benar saja, pintu masuk rumah hantu itu adalah gerbang gaib menuju dimensi lain. Mereka melewati potret kuburan.


Mereka ber 3 pun secara kasat mata bisa menyaksikan. Kejadian apa yang terjadi di 3 kuburan itu.


"Adhir dan Puspa, kalian lanjutkan perjalanan. Aku akan membawa kembali pangeran Satria." kata Kencana


Ternyata Satria tertahan dalam penjara dalam kuburan. Kencana kemudian masuk ke salah satu kuburan itu. Sedangkan Adhir dan Puspa Segera mencari kami.


*


Kembali ke lokasi ku


Aku masih mengamati gerakan Prasta dan Tamara. Tapi makhluk itu tak bisa dibunuh ternyata. Ketika musnah muncul lagi. musnah muncul lagi. Aku melihat tenaga Prasta dan Tamara mulai melemah.


Sedangkan Satria dan ke 4 wanita itu seperti tidak terpengaruh dengan perang itu. Mereka masih melakukan adegan mesum.


"Satria kurang ajar, biadab, mesum, nggak mou nya moral. Nggak sudi aku dikasih bekas wanita siluman itu" umpatku


Prasta dan Tamara akhirnya bisa lemah. Mereka berdua di tangkap oleh penduduk desa itu. Sekarang aku bingung banget. Apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tidak punya kekuatan untuk membantu mereka.


*


Puspa dan Adhir.


"Ini goa jahanam." kata Puspa


Mereka berdua pun kemudian diserang oleh para dedemit yang sangat banyak. Makhluk itu tidak bisa dikalahkan. Setiap hilang muncul lagi. Hilang muncul lagi.


"Mereka tidak bisa musnah, Pus" kata Adhiraksa


"Ya Adhir, ini adalah dunia ilusi. Artinya ilusi adalah bayangan. Kita serang bayangan makhluk ini." kata Puspa


Akhirnya mereka berdua menyerang bayangan makhluk itu. Benar saja, makhluk itu langsung musnah seketika. Tapi masalah muncul lagi. Makhluk itu seperti tawon. Mati satu muncul lagi kawannya.


"Kalau seperti ini bagaimana selesainya?" tanya Adhiraksa


"Kita harus membunuh sumbernya." kata Puspa


"Maksudnya?" kata Adhiraksa


"Kita harus bisa mencari pimpinannya. Jika kita bisa membunuh pimpinannya. Maka semua dedemit ini akan musnah. Serta kita bisa kembali ke dunia manusia." kata Puspa


*


Aku masih menangis sambil menyaksikan Prasta dan Tamara di siksa. Mereka berdua dipaksa untuk melayani para gadis dan pria. Sungguh dunia ini sangat kejam. **** adalah kehidupan utama mereka.


"Aku harus menyelamatkan mereka. Tapi gimana caranya?... Dewi Sakti tolong aku." kataku lirih sambil memegang liontin Pancaroba.


***


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktu nya. Jangan lupa untuk k look vote, rate, like, dan comment ya.


next :


Apakah Puspa dan Adhiraksa datang tepat waktu?


Apa yang harus Nararia lakukan untuk menyelamatkan sahabatnya?


Berikan jawabannya untuk episode berikutnya ya.


Makasih.


With love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2