Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Strategi Tandingan dari Pasopati


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Tidur ku tidak nyenyak malam ini, karena aku terganggu oleh dua orang. Pertama oleh Pasopati dan yang kedua oleh adikku. Hal yang membuatku tertegun adalah rencana pembatalan terhadap pernikahanku dengan Satria. Tentu saja, aku tidak mau hal itu terjadi. Kalau sampai pernikahanku batal, maka aku akan tertahan selamanya di abad 9.


Pagi nanti aku akan menemui Pasopati. Pasti dia memiliki saran, batinku. Karna rasa ngantuk dan capek, Aku memutuskan untuk segera tidur. Tapi sayangnya, aku lupa menutup ketajaman indra pendengaran dan mataku. Aku dapat melihat berbagai jenis makhluk gaib dan suara - suara mereka. Itu semua membuat aku tidak bisa tidur nyenyak. Sampai bantal aku lipatkan ke telinga tetap saja terdengar.


"Huhuhuhu ... Aku mau tiduuuuur, pancaroba kembalikan indra penglihatan dan pendengaranku seperti semulaaaaa." teriakku.


Kalung itu memancarkan sinar dan seketika semuanya normal.


Tapi bayangan para hantu dan suara ghaib dari mereka terus membayangiku.


"Sial, aku tidak bisa tidur." gerutuku


Aku kemudian meditasi malam dan menyalakan kemenyan dari cendana. Seketika itu pikiranku rileks dan tertidur pulas.


--


Bilik kamarku diketok oleh oleh seseorang yang kukenal suaranya.


"Kakaaak, buka pintunya. Bangun kak sudah siang ni." teriak seseorang


Seseorang itu adalah Widasari. Aku masih ogah beranjak dari tidur ku karena mataku masih lengket. Aku tidak memperdulikan suara Widasari lagi. Tapi aku teringat kalau pagi ini aku harus menjumpai Pasopati.


"Pasopatiii!!" teriakku


Aku langsung bangun dari tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bebersih. Aku langsung menuju pancuran yang ada di sebelah bilikku. Aroma segar air yang mengalir dan sabun dari gandharupa membuat tubuhku fresh.


"Segeeer banget badanku, yihaaaa." gumamku


Aku segera ganti baju dan keluar dari bilikku. Aku lihat Pasopati dan Widasari sudah ada di luar bilik.


"Kalian ngapain di sini?" tanyaku


Mereka memandangi ku dengan tatapan sinis.


"Ada apa? apa yang terjadi?" tanyaku


"Putri, kau kejam sekali, membiarkan kami menunggu di luar bilik seperti kami menunggu tuan putri saja." celoteh Pasopati


Aku dan Widasari berbalik menatap Pasopati dan kami pun tertawa bersama.


"Apanya yang lucu?" tanya Pasopati


"Aku kan memang tuan putri abad ke - 9." kataku sembari ketawa


Kami kemudian tertawa bersama dan kutanyakan, maksud mereka berdua sudah menganggu di depan bilik


"Kalian ngapain?" tanyaku


"Kakaaak, kami ke sini ingin mengajakmu untuk memilih aroma terapi untuk lulur mu di taman Gandha Arum." kata Widasari


Taman Gandha Arum adalah kebun kerajaan yang berisi berbagai jenis tanaman obat dan wewangian untuk membuat ramuan tradisional.

__ADS_1


Tapi ada hal yang lebih penting harus diselesaikan. Aku harus mencari cara agar Widasari bisa menyingkir dariku dan Pasopati. Tapi aku bingung caranya seperti apa. Dia akan curiga kalau aku terang - terangan meminta Pasopati untuk jalan bersamaku.


"Putri, bisakah kau membantuku?" tanyaku


"Ada apa kak? sebutkan saja, apa mau mu?" tanya Widasari.


Aku sejenak berpikir dan ketemu alasannya.


"Tolong panggilkan Rakai untuk kita bisa pergi bersama." kataku


"Kenapa tidak Kak Pasopati saja, kan sesama lelaki." bantah Widasari


"Tapi kalau Pasopati yang memintanya, dia pasti akan marah pada kakakmu ini." kataku


Dia setuju dan kemudian secepat kilat menghilang dari hadapan kami. Pasopati kemudian memandangku dan berkata


"Kenapa Rara?" tanyanya


"So, ada masalah." kataku


"Apa?" tanyanya


Aku kemudian menjelaskan tentang rencana Balaputra dan Astana untuk membuat kekacauan saat pernikahanku. Konspirasi yang akan adikku lakukan juga aku beritahu ke dia. Dia hanya tersentak tapi tidak terlalu kaget.


"Kok kamu tidak kaget?" tanyaku


"Sebenarnya, aku sudah curiga dengan Pangeran Balaputra." kata Pasopati.


"Kau ada rencana?" tanyaku


Pasopati diam sejenak dan mencoba mencari cara untuk menggagalkan rencana Balaputra dan Astana.


"Lalu?" tanyaku


"Kita buat strategi tandingan." kata Pasopati


"Strategi Tandingan?" tanyaku


Aku masih agak bingung dengan rencana Pasopati. Tapi aku setuju jika kita mengikuti permainan adikku dan menyiapkan strategi tandingan.


"Caranya gimana, So?" tanyaku


"Aku akan menyuruh orangku untuk mengawasi dan mengikuti Astana kemanapun dia pergi." kata Pasopati


"Lalu?" tanyaku tak sabaran


"Setelah Astana berhasil mencari wanita dan warok. Aku akan menemui mereka dan akan ku bayar dengan harga 3x lipat dari uang pemberian Balaputra." kata Pasopati


"Setelah itu, dia akan berpihak pada kita?" tanyaku


Pasopati mengiyakan perkataanku. Aku berpikir jika di abad ini sudah ada kamera, pasti aku akan gunakan kamera sebagai bukti. Juga menggunakan handycam untuk merekam tindakan adikku dan orang kepercayaannya yang bernama Astana itu. Tapi sayang, pada abad ini belum ditemukan kamera dan handycam.


"Ra ... Rara kok diam saja?" tanya Pasopati


"Aku sedang berpikir untuk menangkap basah tindakan mereka menggunakan sebuah tekhnologi." kataku


"Pasti dunia mu di masa depan, sangat menyenangkan ya?" tanya Pasopati


Aku hanya mengangguk.

__ADS_1


"So, kita harus punya rencana lain, jika yang pertama gagal." saran ku


Dia sedang berpikir rencana apa yang akan digunakan untuk menggagalkan rencana Balaputra.


"Rencana lain ada pada dirimu." kata Pasopati


"Maksudnya?" tanyaku


Dia hanya tersenyum sinis dan licik begitu memandangku dan kemudian tertawa lepas.


"So, kenapa?" tanyaku


"Kau kan sudah tahu rencana adikmu. Jadi ya kamu jangan terpengaruh dengan wanita yang akan datang ke Istana dan jika dia mengaku sebagai istri Satria." kata Pasopati


"Iya lah pasti, tapi kalau Satria curiga kenapa aku tenang, gimana?" tanyaku


"Pura - pura kau tidak tahu dan dengar penjelasan Satria." kata Pasopati


Aku dan Pasopati kemudian sepakat untuk memerankan bagian masing - masing. Pasopati akan menyuruh orang mengikuti Astana dan membuat orang yang berpihak ke adik berpihak pada kami. Sedangkan aku memiliki tugas untuk tidak terpengaruh dengan orang - orang yang mungkin akan membuat aku cemburu dan berusaha tetap tenang.


Tak lama kemudian, Widasari dan Satria datang secara bersamaan.


"Kalian ngobrol apa? kok sepertinya serius banget." tanya Satria


"Tentang rencana pernikahan kita, sayang. Pasopati akan membantu menghias istana dengan janur - janur yang indah." kataku


Satria pun kemudian tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Pasopati.


"Makasih ya, So. Oh iya, ayo katanya mau ke taman Gandha Arum." kata Satria


Kami bersiap dan menuju taman tersebut untuk memilih jenis tanaman dan wewangian yang akan kami gunakan dalam pernikahan.


"Aku penasaran, dengan tradisi di sini." gumamku dalam hati


"Kakak, di sana ada berbagai macam bunga yang digunakan untuk obat dan kecantikan." kata Widasari.


"Kau pasti akan menjadi Prameswari yang cantik dan tersohor di negri ini, putri." tambah Pasopati


Aku hanya tersenyum dan langsung naik ke kereta menuju taman. Kali ini kami menggunakan 1 kereta yang agak besar. Kereta itu muat untuk kami berempat. Sedangkan sais kereta adalah Pandu. Sais kereta yang menemani kami saat ke tepi sungai. Tapi Pasopati mengurungkan niat untuk ikut.


"Maaf semuanya, aku hari ini memiliki jadwal melatih para prajurit. Jadi kalian berangkat ber tiga saja ya." kata Pasopati


Widasari nampak kesal dengan alasan Pasopati yang tiba - tiba tidak jadi ikut.


"Tapi kak, masa hanya kami bertiga? aku akan menjadi orang ke tiga diantara mereka" kata Widasari


Aku berusaha membujuk Widasari agar ikut bersama kami. Tapi sepertinya dia tidak bersemangat jika Pasopati tidak ikut.


"Satria, gimana kalau kamu tidak usah ikut saja. Aku mau buat kejutan untukmu." kataku


**


Episode kali ini cukup ya,. terimakasih atas waktunya.


maaf telat update, kemarin sedang tidak enak badan.


with love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2