
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Aku pun duduk bersebelahan dengan Dika. Dan sejajar dengan Ivan.
"Hmmm...Dika, mau kah kamu tukar tempat denganku?" tanya Satria
"Tidaaak, apa sih" kataku manyun.
"Udah duduk sini loe Sat" panggil Prasta
Satria pun akhirnya mengalah. Dia duduk di samping Prasta.
"Kita selanjutnya kemana?" tanya Satria
"Kita akan ke kompleks pemakaman." kata Gusde
"Makam?" tanyaku
Seketika itu bulu kudu ku merinding. Aku merasakan akan terjadi hal yang aneh. Aku lalu memanggil Adhiraksa.
"Ada apa putri?" tanya Adhiraksa
"Adhir ... kita mau ke kuburan lagi. Aku takut" kataku
"Tenang putri, kuburan yang akan kalian kunjungi itu kuburan yang istimewa. Percayalah, tidak akan apa - apa. Kecuali, jika kalian tidak sopan." kata Adhiraksa
"Apa maksudmu istimewa?" tanyaku
"Kau akan tahu setelah sampai sana." kata Adhiraksa, kemudian menghilang.
Aku masih memikirkan tempat atau makam macam apa yang akan kita tuju. Setahu ku di Bali tidak ada makam. Aku juga masih trauma dengan makam. Setelah kejadian di Setra Gondho Mayit. Aku jadi takut dengan makam.
Kita sampai di Danau Batur.
"Sekarang kita turun di sini, kemudian akan lanjut nyebrang Danau Batur. Karena desa yang akan kita tuju ada di seberang danau ini." kata Gusde
Aku kemudian ingat dengan sebuah pemakaman unik di Bali. Ya, makam istimewa, benar apa kata Adhir. Makam ini adalah makam kuno yang sangat terkenal. Makam suci bagi penduduk desa nya.
"Jadi kita mau ke Trunyan?" tanyaku
"Iya, betul ... " sahut Mas Arya
Kami pun lalu turun dari mini bus. Selanjutnya naik perahu. Per orang Rp 200.000, tentu saja aku yang membayar.
"Bendahara Kerajaan Atom dan Inti UGM, selesaikan" perintah Gusde.
"Siyaaap" kataku
Setelah melakukan negosiasi, kami pun lalu naik kapal. Awalnya aku takut, karena ini adalah kali pertama aku nyebrang Danau Batur. Ya, danau yang lekat dengan cerita masyarakat yang berkembang.
"Untung kamu bukan keturunan Majapahit, Putri." kata Adhiraksa yang tiba - tiba hadir.
"Emang kenapa?" tanyaku
__ADS_1
"Ya nggak papa sih, kan dulu Patih Kebo Iwa adalah satu - satu nya pejuang yang susah ditundukan Mahapatih Gadjah Mada." kata Adhiraksa
"Ya, Kebo Iwa dikalahkan dengan sebuah siasat. Makanya tadi aku sempat melihat seorang pejuang tangguh yang tinggi besar. Diakah Mahapatih Kebo Iwa?" tanyaku pada Adhiraksa.
Adhiraksa lalu menengok ke arah yang aku tunjukan. Dia pun kemudian tersenyum manis. Demikian sang pejuang tangguh itu.
"Salam hormat kami dari Kerajaan Medang di Poh Ptu." kata Adhiraksa sambil menundukan kepala.
"Selamat datang para pangeran dan putri mahkota. Senang sekali, saya dikunjungi oleh putra putri generasi Mataram. Saya persilakan anda semua menyeberangi Danau Batur ini." kata Patih Kebo Iwa.
Aku pun menundukan kepala dan tersenyum. Akan tetapi tindakan ini ternyata membuat ku menjadi pusat perhatian.
"Nara kenapa kamu?" tanya Prasta
"Aku sedang memberikan hormat kepada Mahapatih Kebo Iwa. Kita akan menyeberangi Danau ini. Sehingga kita harus izin, guna menghormati beliau." kataku
"Ya, Patih Kebo Iwa adalah seorang patih yang hebat. Dia menjadi ujung tombak pada masa pemerintahan Prabu Sri Astasura Ratna Bumi Banten" sahut Mas Arya.
Kami semua lalu mengucapkan doa keselamatan. Danau Batur merupakan danau yang luas di Bali. Sehingga kita wajib menghormati kepada sang penguasa danau.
Danau Batur adalah danau kawah di Kintamani, Kabupaten Bangli di Bali. Danau ini terletak sekitar 30 km (19 mi) di timur laut Ubud. Danau itu berada di dalam kaldera gunung berapi aktif, Gunung Batur, terletak di sepanjang, aktivitas vulkanis Cincin Api Pasifik.
"Dika, dulu saat kamu pendidikan komando juga diterjunkan ke laut yah?" tanyaku
"Iya, kita disuruh berenang. Pokoknya kamu tak akan sanggup deh." goda Dika
"Ivan?" tanyaku
"Ivan lebih parah lagi, kan dia pasukan khusus udara." sahut Dika
Kami lalu bercanda bersama di dalam perahu itu. Ada sedikit kengerian. Tapi selama aku di sisi Dika dan Ivan. Bahaya yang mungkin terjadi jika perahu tiba - tiba oleng. Setidaknya mereka akan menyelamatkanku.
(45 menit kemudian).
Desa Wisata Bali yang akan kita bahas kali ini adalah desa wisata Trunyan. Letak desa ini adalah di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
"Selain keindahan alamnya yang memancing banyak wisatawan, desa ini juga hadir dengan keunikan. Jadi keunikan yang dimaksud adalah keunikan cara pemakaman. Dimana warga desa ini tidak dikubur, melainkan dengan tata cara tersendiri yang diatur sesuai adat desa. Inilah yang kemudian membuat banyak wisatawan tertarik untuk mengunjungi desa ini. Salah satunya adalah melihat langsung keunikan pemakamannya." kata Gusde bak tour guide.
"Ayo kita ke pemakamannya." ajak Satria.
"Kenapa desa ini dinamakan Trunyan?" tanya Prasta
"Nama Trunyan diyakini berasal dari nama pohon Taru Menyan yang tumbuh di desa tersebut. Taru sendiri berarti pohon sedangkan Menyan berarti harum. Nama Taru Menyan inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari desa ini. Lalu lama kelamaan desa ini pun dikenal dengan nama Trunyan yang berasal dari kata Taru Menyan tersebut." kata Mas Arya.
Kami lalu melangkahkan kaki menuju pohon keramat itu. Ya, pohon menyan yang wangi. Pohon yang dapat menyerap bau mayat yang dikuburkan di bawah nya.
Aku pun melirik ke arah Dika, Ivan, Prasta, dan Satria. Langkah kaki ku sangat berat. Aku takut nanti akan melihat banyak hal gaib.
Deg... Dika langsung mengenggam tanganku
"Tenang ada aku" katanya
Ingatanku kemudian melayang 10 tahun yang lalu. Ketika aku ketakutan. Dia selalu mengenggam tanganku. Ya genggaman tangan Dika yang menghangatkan.
"Kamu masih ingat dan tahu cara bagaimana menenangkan ku, Dik" kataku
"Maafkan aku ya, selama ini aku menjauh dari kamu. Aku ingin sukses dulu." kata Dika.
Tapi Satria lalu berjalan diantara kami. Dia memisahkan genggaman tanganku dengan Dika.
"Kamu takut?" tanya Satria
"Enggak, biasa saja." kataku, lalu melepaskan tangan Satria.
__ADS_1
Aku lalu berjalan duluan dan menggandeng lengan Dika.
"Hmmm... lelaki itu siapa sih sebenarnya?" tanya Satria
"Teman kecil Nara, kamu jangan coba dekati Nararia. Pada saat kamu baru saja putus dari Tamara. Dia pasti akan menganggap sebagai pelampiasan saja." kata Prasta
"Baiklah aku paham, aku akan bertindak yang wajar saja. Aku akan coba tenangkan hatiku." kata Satria
"Enggak, dia milikku" kata Prasta, lalu mengejar kami yang sudah berjalan duluan.
Aku pun melirik ke arah Prasta. Hanya senyuman yang bisa kita lemparkan. Tak berapa lama kami sampai di depan pohon keramat itu. Aku lalu memandangi pohon itu.
"Enggak usah dilihat" kata Dika
Dika paham jika mata batinku terbuka tatkala kami pulang dari candi beberapa tahun lalu. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku adalah titisan putri Medang.
"Adat desa ini mengatur cara menguburkan mayat warganya. Penguburan dibagi menjadi tiga jenis, sesuai dengan jenis kuburan(sema) untuk tiga jenis kematian. Warga yang meninggal dengan kematian wajar akan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan, pada lokasi yang diberi nama Sema Wayah. Sebelumnya dilakukan upacara terlebih dahulu untuk warga desa yang meninggal tersebut" kata Gusde.
Kami lalu mengamati pemakaman itu. Ya mayat yang diletakan dalam ancak saji tersebut berjumlah 11. Meskipun mayat tersebut terlihat membusuk. Tapi tidak tercium bau busuk sama sekali. Ini lah kehebatan Taru Menyan. Mayat yang dapat dikuburkan di bawah pohon itu hanya mayat yang meninggal secara wajar. Apabila ada mayat yang meninggal tidak wajar. Maka tidak boleh dimakamkan di bawah pohon menyan.
"Untuk warga desa yang meninggal secara tak wajar seperti dibunuh, bunuh diri maupun kecelakaan akan diletakka di Sema Bantas. Terakhir untuk warga desa yang masih bayi, anak kecil hingga dewasa yang belum menikah akan diletakkan pada Sema Muda." sahut Mas Arya
Bau busuk yang hadir dari mayat tersebut disamarkan oleh bau harum dari pohon Taru Menyan tempat mayat diletakkan. Pohon tersebut memang terkenal dengan baunya yang harum. Bau harum itulah yang kemudian menetralisir bau busuk dari mayat. Inilah yang kemudian membuat mayat yang diletakkan di bawah pohon ini tidak menimbulkan bau busuk.
"Mayat yang diletakkan di bawah pohon Teru Menyan tidak diletakkan begitu saja. Melainkan dengan diberi pagar bambu di sekeliling mayat. Selain itu mayat juga ditutupi dengan kain putih. Tak lupa keluarga almarhum akan memberi sesaji di sekitar mayat. Nah, jadi tidak berarti mayat diletakkan begitu saja di bawah pohon Taru Menyan, ya." kata Gusde
Ya selama ini, yang aku tahu mayat digeletakan begitu saja di bawah pohon. Ternyata tidak, mayat tersebut dibuatkan ancak saji sebagai media kuburan mereka.
"Lalu setelah menjadi tulang belulang?" tanya Prasta
"Saat mayat sudah berupa tulang belulang nantinya akan diambil untuk dikumpulkan menjadi satu. Ini guna memberi ruang bagi mayat baru agar dapat diletakkan di bawah pohon Taru Menyan." sahut Mas Arya
Menurut legenda, Taru Menyan-lah yang wanginya menghipnosis 4 bersaudara dari Keraton Surakarta untuk mengarungi daratan dan lautan hingga tiba di Desa Trunyan.
Singkat cerita, 4 bersaudara itu terdiri dari 4 laki-laki dan si bungsu perempuan. Setibanya di Trunyan sang kakak sulung jatuh cinta kepada Dewi penunggu pohon tersebut. Setelah menikah, jadilah Trunyan sebuah kerajaan kecil. Meski sang Dewi penunggu pohon telah menikah. Taru Menyan masih mengeluarkan wangi.
Akibat takut diserang dari luar karena semerbak wanginya, sang Raja memerintahkan warga untuk menghapus wangi itu dengan cara meletakkan jenazah begitu saja di atas tanah. Dan Tradisi itu masih berlaku hingga saat ini.
"Jadi memiliki kaitannya dengan Jawa, ya?" tanyaku
"Betul, Bali dan Jawa kan saudara." kata Gusde
Setelah puas berbincang - bincang dan mengetahui seluk beluk pemakaman di Trunyan. Kami pun mendengar suara teriakan - teriakan. Kami pun panik, secepatnya Dika dan Prasta menarik tangan ku.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. (Ternyata pembaca setia masih ingat ya dengan Ivan dan Dika). Gimana mereka dimunculkan atau dihilangkan lagi?
next :
Teriakan apa itu? Kejadian apa yang akan dialami mereka di Taru Menyan?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
Citralekha
__ADS_1