
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
Tapi sorot mata Dika seperti mata orang lain. Dia bangkit dan menahan pedang sakti lelaki berhodie.
"Dikaaaa" teriak Ivan
Satria, Prasta, Adhiraksa, Kencana, dan Senopati pun terkejut dengan apa yang dilakukan Dika.
"Dikaaaa.... tidaaaak" teriak Prasta
Dika terlihat sedang menahan pedang sakti lelaki berhodie. Semua yang memandangnya seperti tersihir. Pasalnya Dika berani melawan lelaki berhodie itu dengan tangan kosong.
Tanpa pikir panjang, Puspa lalu melempar selendang emas nya. Ditariklah tubuh Dika dari lelaki itu. Demikian juga dengan Kencana yang sudah menarik ragaku.
Lelaki berhodie itu lalu menghilang.
"Dika ... Dika bangun" teriak Ivan.
Ivan segera menangkap tubuh Dika yang tertarik oleh selendang Puspa.
"Siapapun kau yang menyelamatkan Dika, terimakasih." kata Ivan sambil terus menepuk pipi Dika.
Ya Dika berlumuran darah, Satria segera memanggil Dokter untuk menolong Dika.
"Ada apa? Apa yang terjadi, kenapa di ruang ini sangat aneh? apakah ada penjahat yang masuk?" tanya Dokter.
"Iya dokter, tapi sahabat saya berhasil menyelamatkan Nara. Tapi dia mengorbankan diri nya. Dok, cepat tolong dia." kata Satria
"Baiklah, silahkan yang lain tunggu di luar. Kita akan pindahkan pasien ini ke ruang sebelah." saran dokter.
"Tidak dok, keadaannya sangat memprihatinkan. Dia jangan dipisahkan dengan Nararia. Agar kami mudah mengawasinya." kata Prasta
Akhirnya Dika dan aku berada dalam 1 ruang ICU yang sama. Benar apa kata Prasta, pasti lelaki berhodie itu akan terus menyerang.
Mereka pun membiarkan dokter menangani Dika. Diantara yang lain, Ivan lah yang paling sedih.
"Nara belum bangun, sekarang Dika yang menjadi korban. Apa yang sebenarnya terjadi?" teriak Ivan
Prasta lalu mendekati Ivan perlahan. Dia tahu jika Ivan sangat terluka. Soalnya dua teman kecil nya sedang dalam bahaya.
"Van, ini karena salah musuh kami. Kami memiliki musuh yang tak kasat mata." kata Prasta
"Lalu kenapa kau berada di dekat Nararia? apakah kalian ingin membunuh teman- temanku?" tanya Ivan yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
Mas Arya dan Satria berusaha menenangkan Ivan. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan.
"Kita harus berdoa untuk kesembuhan mereka berdua." saran Mas Arya.
Akhirnya Ivan pun bisa tenang dan kembali berdoa kepada kesembuhan kami.
**
"Puspa kenapa bisa terjadi?" tanya Kencana
"Aku diserang oleh makhluk kiriman lelaki itu. Ternyata makhluk itu hanya untuk mengalihkan perhatianku. Sehingga dia berhasil masuk dan menghancurkan pagar pelindung putri mahkota." kata Puspa
"Kasihan manusia itu, jika dia tidak memiliki daya hidup. Pasti dia sudah meninggal. Tapi ada yang spesial dengan lelaki bernama Dika itu." timpal Senopati
Puspa lalu menjelaskan jika lelaki itu adalah teman masa kecilku. Aku sangat sayang dengan temanku itu. Sehingga mereka ber 3 lalu berusaha untuk kesembuhan Dika sebelum aku kembali ke Raga ku.
"Kita harus menyembuhkan Dika sebelum putri mahkota kembali. Aku tidak tahu harus mengatakan apa jika terjadi sesuatu pada Dika." kata Puspa
"Dika terkena pedang Susuk Tunggal. Pusaka dari Dewa Kegelapan. Dia bisa sembuh dengan permata hijau dari Hutan Dandaka. Tapi permata itu ada di dalam tubuh Pangeran Pasopati." kata Senopati
"Itu artinya kita harus menemukan titisan pangeran Pasopati." kata Kencana
"Tapi ada cara lain untuk menyelamatkan Dika. Dia bisa sembuh dengan tetesan air dari teratai emas." kata Puspa
"Teratai emas sedang dibangkitkan oleh putri mahkota. Kalau begitu sementara waktu kita salurkan hawa murni untuk menahan agar Dika keadaannya tetap stabil." kata Kencana.
__ADS_1
Mereka lalu bersama - sama mengalirkan hawa murni. Mereka berharap Dika bisa bertahan sampai aku berhasil membangkitkan teratai emas. Ya pusaka itu terkunci ketika aku kembali dari masa lalu. Sehingga perlu dibangkitkan lagi.
**
Prasta dan Dika masih memikirkan tentang lelaki berhodie itu. Mereka lalu mohon diri untuk keluar sebentar.
"Ivan, Mas Arya, tolong bantu jaga mereka. Kami akan keluar sebentar." kata Satria
"Kalian mau kemana?" tanya Ivan
"Kami akan berkomunikasi dengan guru kami. Memohon petunjuk dan nasihat dengan apa yang kita alami." kata Prasta
"Hati - hati." kata Mas Arya.
Prasta dan Satria lalu keluar dan menuju mobil mereka. Sebenarnya mereka tidak pergi jauh. Mereka lalu bersemadhi di dalam mobil mreka. Sukma mereka lalu melayang ke angkasa. Mereka ingin bertemu dengan kakek guru nya.
"Kakek rsi" sapa mereka berdua
"Cucu ku, persiapkan diri kalian dengan baik. Musuh utama sudah muncul. Perang tidak bisa dielakkan lagi." kata kakek rsi
"Kakek rsi, apakah musuh utama kami itu lebih kuat dari sebelumnya?" tanya Prasta
"Iya pangeran ketika kau musnahkan dia terus bertapa. Sehingga dia mendapatkan anugrah dari Dewa Kegelapan. Kalian pun harus bersemadhi untuk mengembalikan kekuatan kalian." kata kakek rsi.
Satria sebenarnya ingin bertanya dengan apa yang terjadi. Tapi tanpa bertanya pun kakek rsi telah tahu apa yang terjadi.
"Nararia bukanlah wanita sembarangan cucuku. Dia dilindungi oleh kekuatan dewata. Kalian tidak terlalu merisaukannya. Sekarang kalian fokuslah pada kesaktian kalian. Jika perang telah tiba, kalian bisa menggunakan kekuatan kalian." pesan kakek rsi
"Kakek apakah kami boleh tahu, siapa sebenarnya Nararia itu? apakah dia bagian dari kita?" tanya Satria
"Kenali dia maka kalian akan tahu siapa dia." kata kakek rsi kemudian menghilang.
Setelah itu, sukma mereka kembali ke badannya. Mereka lalu berdiskusi untuk melakukan meditasi di sebuah tempat. ya, tujuannya ialah untuk mengembalikan sebagian kekuatannya yang hilang.
**
Dalam meditasi ku aku berhasil bertemu dengan memanasi Dewa Wisnu. Beliau sangat baik dan pemurah. Sehingga teratai emas dapat dibangkitkan kembali.
"Terimakasih Hyang Wisnu, atas kemurahan hati mu. Saya berjanji akan menggunakannya sebaik mungkin. Serta akan saya gunakan untuk kemanusiaan." kataku
Suara tanpa wujud lalu bersabda
Setelah mengucapkan terimakasih. Aku lalu mohon pahit hendak menuju ragaku. Tapi ketika aku membuka mata. Aku tidak menemukan Puspa.
"Puspa ... Puspa ... Puspa ... kamu dimana?" teriakku
Tapi tak ada jawaban sama sekali dari Puspa. Aku lalu memutuskan untuk kembali ke Raga ku sendiri. Tapi di tengah jalan. Aku melihat sukma seorang lelaki yang sedang dibawa oleh pengawal Dewa Yama.
"Aku seperti kenal dengan lelaki itu." batinku
Aku mencoba mengikuti tapi ternyata prajurit Dewa Yama telah menghadangku.
"Hey manusia! ini bukan tempat untuk bermain. Kembalilah segera jika kau tidak ingin celaka." bentaknya
Aku pun mengedarkan pandanganku. Aku mencoba memastikan sukma yang dibawa oleh utusan Dewa Yama. Setelah aku tahu, siapa lelaki itu.
"Ardikaaa" teriakku
Aku langsung berlari dan menghadang utusan itu.
"Hentikan... apa yang terjadi dengan Dika?" tanyaku penasaran
"Dia telah gugur, itu makanya aku membawa sukma dia ke Yamadipati" kata pengawal.
"Enggak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi dengan Dika?" tanyaku
"Dia terkena tusukan pedang Susuk Tunggal. Sehingga nyawa nya harus kami bawa" kata pengawal
"Enggak, kalian enggk boleh membawa Ardika." kataku
Aku pun terlibat dalam perdebatan itu. Sehingga berujung pada peperangan. Aku sekuat tenaga melawan prajurit Yamadipati. Kemenanganpun ada di pihakku.
"Aku sudah katakan, jika dia adalah cinta kecil ku. Tidak ada yang boleh membawa nya pergi." kataku
Aku pun menuntun sukma Dika yang sangat lemas sekali. Tapi tiba - tiba Dewa Yama pun datang.
"Hentikan anak mas." katanya
Aku pun tersenyum dan kemudian menghaturkan salam hormat.
__ADS_1
"Dewa Yama, terimalah sembah saya." kataku
"Apa yang anak mas lakukan. Anak mas telah melanggar kodrat. Tidak seharusnya anak mas membawa sukma itu." kata Dewa Yama
Aku pun langsung menghaturkan salam kembali. Berharap Dewa Yama akan membantu dan melepaskan sukma Dika.
"Dewa Yama, aku mohon kembalikan sukma sahabatku." kataku
"Aku akan kembalikan sukma itu, tapi jika kau memenuhi persyaratannya." kata Dewa Yama
"Apa itu dewa?" tanyaku
"Tukar nyawa nya dengan nyawa mu." kata Dewa Yama.
Deg ... aku pun langsung melihat ke arah Dewa Yama. Serta kembali melihat ke arah sukma Dika. Aku pun kemudian meneteskan air mata dan memanggil Dewi Sakti.
"Dewi Sakti." panggilku lirih.
Tiba - tiba langit bergelegar... tak lama kemudian Dewi Sakti dengan menunggang Singa Gunung. Melihat kedatangan Sang Dewi. Dewa Yama pun menghaturkan salam.
"Selamat datang Dewi." kata Dewa Yama
"Terimakasih Dewa Yama. Dewa, bisakah kau kembalikan sukma Dika? Dia belum seharusnya meninggal." kata Dewi Sakti
"Tapi dewi, dia adalah manusia biasa yang pasti akan meninggal karena terkena tebasan Pedang Susuk Tunggal." jelas Dewa Yama.
"Tapi dia akan bisa kembali setelah dia meminum air dari tetesan teratai emas. Dewa, lihatlah wanita yang ada di hadapanmu. Lihatlah dia penuh dengan cinta." perintah Dewi Sakti.
Dewa Yama lalu melihat ke arah ku. Aku pun mengucapkan salam panganjali dan tersenyum ke arahnya.
"Putri Mahkota Mataram, Kau memiliki anugrah dari Dewa Wisnu dan Dewi Sakti. Baiklah anak mas, sekarang kembalilah ke Raga mu. Aku akan kembalikan sukma temanmu." kata Dewa Yama.
Setelah itu, aku mengucapkan terimaaksih kepada Dewa Yama dan Dewi Sakti.
"Kembalilah anak mas, aku merestui mu." kata Dewi Sakti.
Setelah itu, aku kembali tanpa sukma Dika. Karena menurut petunjuk, Dika harus meminum tetesan air dari teratai emas.
Aku pun kembali ke Rumah Sakit. Aku melihat Puspa dan Kencana juga Adhiraksa.
"Putri, kau sudah kembali." kata Puspa
Aku hanya menganggukan kepala dan kemudian masuk ke ragaku. Tak berapa lama aku membuka mata perlahan dan menggerakan tanganku.
"Putri, selamat datang kembali." kata Puspa.
"Ardika" kataku
"Tenang putri, dia baik - baik saja." kata Kencana.
Aku langsung menoleh ke kiri. Aku melihat Dika terbujur lemas. Air mataku meleleh, aku sebenarnya ingin mengeluarkan teratai emas. Tapi tenaga ku belum sanggup.
"Puspa tolong bantu aku berikan hawa murni." kataku
Puspa dan Kencana lalu memberikan hawa murni. Setelah itu, aku bisa mengeluarkan teratai emas. Bunga itu lalu berputar di atas Dika dan memberikan tetesan air sakti.
"Dika ... kenapa dia belum sadar?" tanyaku
"Sabar putri," kata Puspa.
Tapi 2 jam kemudian, Dika belum juga sadar.
***
Haii... jangan menghujat ya teman2,. maaf ini sedang banyak deadline. Jadi jangan menghujat konten sedikit, lama update ya. Ini sudah berusaha disempatkan untuk diketik.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Kenapa Dika tidak juga sadar?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
__ADS_1
Citralekha