Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Kemana Perginya


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


***


"Dari tadi kek seperti ini, kan nggak usah capek berdiri dan berteriak." gumamku.


Tapi di dalam kamar Prasta dan Satria tidak ada orang. Bahkan aku mencoba menelusuri mereka di setiap sudut kamar. Tapi tak ada dan tak menemukan kehidupan di kamar ini.


"Prasta! Satria! kalian kemana?" teriakku


Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Aku pun kesal dan lelah mencarinya. Hingga akhirnya aku kembali ke bilik kamarku.


"Putri hai" sapa Puspa.


"Kok lesu?" tanya Kencana.


"Mereka kabur, nggak ada di kamarnya." kataku


Aku pun langsung merebahkan tubuhku. Rasa sebel, kecewa, dan marah.


"Puspa Kencana, kenapa mereka pergi?" tanyaku


"Entahlah putri, kami pun tidak tahu. Hmmm.. mungkin mereka lapar dan lagi cari makan di luar." kata Puspa.


Ah iyaa,. bisa jadi kan mereka lapar. Trus mereka cari makan di cafe atau resto dekat sini. Aku pun langsung meraih hp. Seketika itu langsung aku charger nya. Berharap segera terisi batre dan aku telepon mereka.


*


Prasta dan Satria


Setelah keluar dari kamarku. Mereka lalu ke kamarnya. Mereka mandi dan setelah itu berdiskusi bersama.


"Sat, kamu tahu kan kalau Nararia sudah mendapatkan Padma Ratni." kata Prasta


"Itu artinya dia bisa tahu dengan cara menyentuh salah satu dari kita. Maka dia akan tahu kebenaran dengan kita." kata Satria.


Prasta hanya menganggukan kepala.


"Kalau begitu tidak ada jalan lain Sat, kita harus kembali. Menghimpun kekuatan untuk bertarung dengan pasukan Ardana Kumara." saran Prasta.


"Baik kalau begitu ayo segera kembali. Aku yakin sebentar lagi Nara akan mencari kita." kata Satria.


Mereka berdua lalu membereskan barang - barang dan segera keluar dari kamar. Ya, mereka langsung check out dari kamar itu.


"Apa kau siap kembali, Pras?" tanya Satria.


"Iya, kita akan tunggu putri Nararia menjemput kita. Serta menyiapkan pasukan jika peperangan terjadi. Aku mendapatkan pandangan kalau Walaing memiliki niat yang tinggi untuk mendapatkan inti kekuatan jahat." kata Prasta.


"Berarti kita juga harus mendapatkan inti kekuatan dharma." kata Satria.


Setelah itu mereka


*


Walaing


Sudah beberapa hari Walaing bertapa di dasar neraka. Berbagai godaan telah dia temui dan lalui. Tekad yang kuat dan tinggi membuatnya bertahan. Satu yang hanya ingin diraihnya. Dia ingin memenangkan pertarungan ini. Dia tidak terima jika di masa lalu dikalahkan oleh anak kecil.


Sebagai gambaran, bahwa Walaing telah dikalahkan oleh putra kedua kita (Pramodha dan Pikatan). Putra kedua bernama Dyah Kayuwangi. Meskipun usianya baru belasan tahun. Tapi kemampuan putra kami sangat hebat. Sehingga mampu mengalahkan dan membunuh Walaing.


"Dasar setan cilik! jika kau belum reinkarnasi. Maka akan aku bunuh orang tua mu, paman, bibi, dan seluruh keluargamu!" batin Walaing.


Dendam yang membara membuat dirinya terus kuat menghadapi segala rintangan.


"Walaing kau akan selesai bertapa setelah melewati purnama ke 7" kata suara yang terdengar dalam telinganya.


"Jadi masih ada waktu 2 purnama lagi. Aku harus bertahan." batin Walaing

__ADS_1


Setelah itu Walaing kembali melanjutkan meditasi.


*


Dika dan Ivan.


Mereka segera melanjutkan kegiatan pelatihan bersama. Malam hari nya, Dikadiraksa, Ivan, dan Senopati Dandaka bertemu.


"Ada apa pangeran?" tanya Senopati.


Ya mereka berkumpul karena diminta oleh Adhiraksa.


"Apakah ada yang penting?" tanya Ivan.


"Iya, aku mengumpulkan kalian semua. Ada hal yang harus aku bicarakan. Baru saja aku mendapat gambaran." kata Adhiraksa.


Semua yang datang kemudian saling tatap. Tidak seperti biasanya gambaran yang Adhir dapat disampaikan. Tentu saja ini berkaitan dengan hal yang penting sekali.


"Gambaran apa pangeran?" tanya Senopati.


"Kalau Walaing akan berhasil mendapatkan inti kekuatan adharma. Kita pun harus bisa mendapatkan inti kekuatan dharma." kata Adhir.


"Bahaya pangeran, apakah kita bisa mengagalkannya?" tanya Dika.


Tentu saja mereka menjadi khawatir. Sebab akan sangat sulit mengalahkan Walaing. Terlebih jika nanti dia bersatu dengan Ardana Kumara. Kekuatan mereka tidak akan tertandingi dengan kekuatan yang kami miliki.


"Tapi bukankah Nara sudah mendapatkan Padma Ratni?" tanya Ivan.


"Padma Ratni hanya akan hebat jika nara berhasil bertemu dengan cinta sejatinya. Pertemuan mereka akan menimbulkan sebuah kekuatan baru bernama 'Padma buana'. Tanpa ada rasa kuat dan cinta dari kedua insan ini. Maka Padma Buana tidak akan tercipta." kata Adhir.


"Kalau begitu kita tinggal cari tahu. Sebenarnya siapa pangeran Pikatan. Apakah Prasta atau Satria. Setelah kita tahu, kita minta mereka bersatu. Serta membangkitkan Padma buana" saran Ivan.


Dika pun setuju dengan usul Ivan. Tapi tidak dengan Senopati Dandaka.


"Tidak semudah itu, jika Nara tahu siapa pangeran Pikatan. Itu belum tentu bahwa pangeran Pikatan adalah cinta sejatinya." kata Senopati.


Sontak perkataan Senopati membuat Dika dan Ivan kaget. Bagaimana tidak, jika di masa lalu mereka berdua adalah sepasang suami istri.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Dika.


"Itu karena salahku." kata Adhiraksa tertunduk.


"Ada apa Adhir?" tanya Dika.


Adhiraksa seperti tersangka utama dalam hal ini. Dan memang benar kalau dia adalah tersangka nya.


"Adhir... jelaskan padaku. Apa yang kamu lakukan?" tanya Dika.


"Aku ..." kata Adhir terpotong.


Karena pada saat itu, aku hadir bersama Puspa dan Kencana.


"Putri Nara" kata Senopati.


"Senopati, ada hal penting yang harus aku sampaikan." kataku


"Ada apa?" tanya Senopati.


"Prasta dan Satria menghilang. Aku kira mereka kesini. Tapi ternyata tidak." kataku


Mereka semua pun saling menatap satu sama lain. Soalnya mereka tadi juga menyinggung masalah Prasta dan Satria.


"Kami baru saja membicarakan mereka, Nara." kata Ivan.


"Tentang apa?" tanyaku


Sebelum Ivan menjawab, ternyata sudah mendapatkan lirikan tajam dari Dikadiraksa. Tentu saja membuat aku curiga.


"Hey, ada apa?" tanyaku


"Putri, apakah kau sudah tahu kalau Walaing akan berhasil mendapatkan kekuatan inti adharma?" tanya Senopati mencoba mengalihkan perhatianku.


Aku pun menganggukan kepala. Tentu saja aku tahu. Karena itu lah aku menemui mereka.


"Adhir, apakah kamu tahu kemana Prasta dan Satria berada sekarang?" tanyaku


"Kenapa kamu mencari mereka?" tanya Adhir dengan nada tidak suka.

__ADS_1


"Hahahaha...pangeran tengik cemburu" ledek Dika.


"Dikaaa... bukannya kamu juga cemburu?" balas Adhir.


"Aku ..." kata Dika langsung aku potong.


"Stooop... bukan saatnya bercanda." kataku


Mereka langsung tertunduk dan entah apa yang mereka lakukan dalam 1 badan itu.


"Adhir, kamu pasti tahu kan kemana perginya mereka?" tanyaku


"Adhir dari tadi bersama kita. Justru kamu lah yang bersama mereka. Kenapa kau mencari mereka disini?" tanya Ivan.


Aku pun lalu menceritakan tentang salah satu kehebatan Padma Ratni. Aku kira mereka bakalan kaget dan terkejut. Tapi ternyata mereka hanya tersenyum.


"Kalian kok nggak kaget?" tanyaku


Bahkan mereka sekarang tertawa mendengar pertanyaanku.


"Wah kurang ajar kalian, berani sama putri mahkota." kataku sambil mencubit lengan Dika.


Dika pun hanya tersenyum dan berusaha menghindar.


"Justru ini yang sedang kita bahas, Ra" kata Adhir.


Aku pun langsung kepo dong. Apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh aku telah banyak ketinggalan info tentang Medang.


"Apa yang sedang kalian bahas?" tanyaku


Senopati lalu melirik pada Kencana. Setelah mendapatkan isyarat persetujuan. Senopati langsung menjelaskan tentang aku dan Pikatan. Tentu saja setelah aku tahu siapa sebenarnya Pikatan. Belum tentu dapat membangkitkan Padma Buana.


"Jadi meskipun di masa lalu aku berjodoh dengan Pikatan. Belum tentu di masa kini aku bersama dia?" tanyaku


Senopati pun hanya menganggukan kepala. Tentu saja aku sangat bingung. Bagaimana bisa, bukankah Dewi Sakti mengatakan jika aku akan berjodoh dengan Pikatan di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanyaku


Semuanya lalu melirik ke arah Adhiraksa. Aku pun menjadi curiga. Apakah ini ada hubungannya dengan dia. Jika benar, apa yang terjadi sebenarnya.


"Adhir ... kamu tahu tentang ini?" tanyaku


Dia hanya tertunduk dan kemudian mengangkat kepalanya kembali. Aku pun langsung mendekati dan memegang memegang tangannya. Seketika itu, aku langsung mendapatkan gambaran tentang masa lalu Adhiraksa.


Setelah beberapa lama, aku mengetahui dan menyelami masa lalu Adhir. Aku melepaskan tanganku.


"Adhir" kata lirih.


"Putri,. maafkan aku" kata Adhiraksa.


Aku pun langsung berbalik badan dan langsung memeluk Puspa.


"Jangan menyalahkan Adhir, putri. Ini yang harus terjadi. Ini merupakan bagian dari karma mu." kata Puspa menenangkanku.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next:


Kira-kira apa yang Adhiraksa lakukan di masa lalu?


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"

__ADS_1


__ADS_2