
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
Tubuh Balaputra bermandikan keringat. Hal itulah yang membuat denawa baik khawatir.
"Paduka, pangeran Balaputra sepertinya ada masalah dalam meditasinya." kata pengawal denawa
"Betul, godaan itu pasti berkaitan erat dengan apa yang akan ritual oleh pangeran. Jadi jangan ikut campur. Kita hanya menjaga dari serangan luar." kata raja denawa
Mereka kemudian memasang pagar gaib agar Balaputra tidak diganggu dari luar.
**
(Istana Medang)
Ayah Samaratungga sangat murka. Pasalnya putri mahkota kabur dari istana. Dia lalu memanggil seluruh pejabat kerajaan.
"Paman patih, kenapa kita bisa kecolongan. Kenapa putriku kabur dari istana?" tanya ayah raja
"Maaf maharaja, kami yang salah. Tetapi penjagaan terhadap kamar putri mahkota sangat ketat. Kalau pun di culik oleh denawa, itu sangat mustahil." kata patih
"Tapi nyatanya? putriku kabur disaat kang mas Pu Palar sedang dalam perjalan ke mari. Apa yang harus aku katakan pada Raja Pikatan itu, paman patih?" tanya ayahku yang sangat bingung
"Tapi ini sangat mengherankan anak mas. Jika putri mahkota kabur dari istana. Lewat mana? kenapa para prajurit tidak melihatnya?" tanya Senopati
Ayah raja kemudian berpikir. Dia pun memejamkan mata. Mencoba menerawang apa yang aku lakukan di istana.
"Saya mendapatkan penglihatan, jika putri mahkota di bawa pergi oleh suatu kekuatan. Dia pergi setelah bertemu dengan pangeran Satria. Panggil pangeran Pikatan kemari." kata ayah raja
Melihat hal itu, ibu Dewi Tara kemudian mendekati ayah raja. Ibunda ingin menenangkan ayah raja. Tujuannya hanya satu agar tidak terjadi perselisihan dengan Satria.
"Maaf paduka, sebaiknya paduka menahan emosi. Jangan sampai menimbulkan kesalahpahaman dengan nanda pangeran Pikatan. Akibatnya bisa fatal." kata Dewi Tara
"Benar paduka, kita tidak boleh menyinggung perasaan pangeran Pikatan. Kita bisa selesaikan dengan cara kekeluargaan." kata paman patih.
Senopati kemudian keluar dari pendopo. Dia bersama beberapa prajurit ke Ksatrian. Tapi ternyata Satria (Adhiraksa) tidak ada di tempat. Dia sudah bertanya kepada prajurit dan orang kepercayaan Adhiraksa. Tapi tak seorang pun tau dimana Adhir berada.
Senopati segera kembali ke pendopo untuk melaporkannya kepada ayah raja.
"Maaf paduka raja, kami tidak menemukan pangeran Pikatan." kata senopati tertunduk
"Apa?? jadi putri mahkota menghilang bersama dengan pangeran Pikatan?" tanya maharaja
wajah ayah maharaja sangat merah. Amarahnya hampir meledak. Dia tidak menyangka kalau calon menantunya akan membawa kabur putri mahkota.
"Senopati segera kerahkan prajurit Medang untuk mencari mereka berdua!!" perintah maharaja
"Tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan, maharaja? belum tentu Pangeran Pikatan yang membawa kabur putri mahkota." kata penasihat kerajaan
"Tidak paman, saya yakin mereka berdua sedang mempunyai masalah. Saya tidak mau mengambil resiko. Saya tidak mau kehilangan putri mahkota." kata maharaja
Senopati segera menyiapkan pasukan untuk disebar ke segala penjuru kerajaan. Mereka dituntut untuk menemukan putri mahkota dan Pangeran Pikatan.
Sepeninggalnya ratusan prajurit. Dewi Tara mencoba menenangkan suaminya sekali lagi.
__ADS_1
"Kang mas, tenangkan dirimu. Saya yakin Pangeran Pikatan tidak akan melakukan hal itu." kata Dewi Tara
"Tapi nyimas, mereka berdua menghilang secara bersamaan dan secara misterius." kilah maharaja
Dewi Tara lalu pergi meninggalkan maharaja. Dia hendak ke sanggar pamujannya. Dewi Tara ingin memohon ke hadapan Adi Budha. Bagaimanapun juga Dewi Tara adalah pemuja Budha yang taat. Sehingga dia percaya bahwa Sang Budha akan membantu dirinya.
**
(Pertapaan Rakyan Sanjiwani)
Sanjiwani sama seperti Dewi Tara. Dia adalah pemuja Budha yang taat. Pada saat itu, dia di datangi oleh Sakyamuni. Salah satu Bodisatwa Budha.
"Bangunlah putriku" sapa Sakyamuni
"Terimalah sembah sungkem dari hamba, Sakyamuni." kata Sanjiwani
"Aku tahu apa yang sedang aku pikirkan, nak. Kalian akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Tapi sebelum itu, kalian akan melewati masa sulit. Tapi ini semua adalah cobaan yang harus kalian lakukan." kata Sakyamuni
Setelah memberikan nasihat, Sakyamuni kemudian menghilang. Sanjiwani masih memikirkan apa perkataan dari Sakyamuni.
"Masa sulit yang seperti apakah itu. Apakah salah satu diantara kami harus berkorban?" tanya Sanjiwani pada dirinya sendiri.
**
(Istana Medang)
Pasopati sangat panik tatkala tahu bahwa Maharaja Samaratungga memerintahkan ratusan prajurit. Dia sangat heran dalam pasowanan agung itu dirinya tidak dilibatkan. Dia segera menemui mahapatih.
"Paman patih" kata Pasopati
"Nanda Pasopati, maafkan kami yang telah melupakanmu. Maharaja sedang dikuasai oleh amarahnya. Nanda, segeralah mencari keberadaan putri mahkota dan Pangeran Pikatan." kata Mahapatih
Mahapatih Medang adalah seorang yang adil bijaksana. Dia tahu sejatining diri. Dia juga telah melihat kehidupan kedua dari Pasopati. Sehingga dia percaya pada Pasopati. Dia berharap Pasopati akan mampu membantu memecahkan masalah di Medang.
"Hati - hati nanda." kata Mahapatih
Pasopati segera menghilangkan dirinya sendiri. Semenjak Mustika Hijau ada di dalam tubuhnya. Dia memiliki berbagai kesaktian dan kebolehan yang dia inginkan. Dalam sekejab dia telah sampai di Hutan Dandaka. Seluruh masyarakat Dandaka menghaturkan sembah padanya. Hal itu dikarenakan, siapapun pemegang mustika Hijau adalah pemimpin kaum Dandaka.
"Ada apa So?" tanya Satria
"Sat, ada masalah." kata Pasopati
"Masalah apa, So?" tanya Senopati Dandaka
Pasopati segera menceritakan kejadian yang ada di istana. Mendengar hal itu, Satria agak naik pitam.
"Adhiraksa!" kata Satria
"Semenjak kemunculannya, aku sudah mempunyai feeling tidak bagus." kata Senopati Dandaka
"Sama aku juga. Tapi apa daya kami. Dia adalah saudaramu, Sat." kata Pasopati
Satria tahu bahwa saudaranya itu memiliki sifat yang iri pada dirinya. Bahkan Adhiraksa mampu menunjukan 2 sifat. Sifat welas asih, kasih sayang, dan juga iri pendendam apabila keinginannya tidak tercapai.
"Aku harus segera menemui Adhiraksa." kata Satria
"Tapi putri Nararia." kata Pasopati
"Aku tahu dia pasti berada di tempat yang aman. Terlebih dengan kehadiran Puspa dan Kencana." kata Satria
__ADS_1
Pasopati sangat kagum dengan sahabatnya itu. Sekarang Satria telah paham dan tahu akan kekuatan yang dimiliki oleh Nararia.
"So, kamu kembali ke istana. Awasi gerak gerik istana." kata Satria
"Tapi Sat." interupsi Pasopati
"Jangan membantah." bentak Satria
Pasopati tanpa pikir panjang segera kembali ke istana.
**
(Satria mencari Adhiraksa)
"Tempat ini telah kosong. Dia pasti tahu kalau aku akan datang." umpat Satria
Segera dia menghilang dan melacak keberadaan Adhiraksa.
**
(Adhiraksa kembali ke Medang)
Kemunculan Adhiraksa membuat penghuni Medang gusar. Masyarakat menganggap bahwa Pangeran Pikatan telah membawa kabur putri mahkota. Mendengar kabar bahwa Satria (Adhiraksa) kembali. Maharaja segera memanggilnya ke pendopo.
"Nanda pangeran Pikatan dari mana saja kamu? dimana putri mahkota?" tanya maharaja
"Putri Mahkota yang mana, paduka raja?" tanya Adhiraksa
"Putri Mahkota hanya satu yaitu Dyah Pramoddhawarddhani." kata maharaja
Adhiraksa kemudian tertawa dengan sangat lantang. Dia menertawakan ayahku. Dia merasa bahwa ayah raja dengan mudah dapat ditipu.
"Maharaja maharaja ... anda benar - benar tidak jeli." kata Adhiraksa
"Apa maksudmu, pangeran?" tanya maharaja yang sudah tidak sabar
"Anda benar - benar tidak kenal dengan putri anda sendiri, raja." kata Adhiraksa
Ayah raja semakin bingung dengan perkataan Adhiraksa. demikian juga dengan ibuku dan pejabat kerajaan Medang. Mereka semua bingung, bahkan mereka ingin sekali membunuh Satria.
"Pangeran Satria... jaga ucapanmu! kata kepala prajurit
"Mau aku luluh lantakan kerajaan mu ini, hah maharaja Samaratungga?" tanya Adhiraksa
"Pangeran, apa maksud dari perkataanmu, Nak. Bunda tidak paham" kata Dewi Tara
"Dengarkan baik - baik oleh kalian semua .... " kata Adhiraksa yang belum seselai mengatakan sesuatu.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
Jadi Aku mohon jangan lupa untuk like, comemt, vote, dan rate ya..
next : Apakah Adhiraksa akan mengatakan hal yang sebenarnya?
Apa yang akan Satria lakukan?
Kasih saran di kolom komentar ya..
__ADS_1
With Love
Citralekha