
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
Aku pun hanya tersenyum. Setelah kami berdiskusi tentang Candi Bima. Kami pun tak lupa untuk sembahyang memuja Dewa yang ada di Candi Bima. Setelah selesai, kami pun menuju ke candi selanjutnya.
"Kita kemana sekarang, Dhir?" tanyaku
"Ke Sang Pemanah Ulung." kata Adhir.
Aku pun mengeryitkan dahiku. Hmm.. tentu saja aku tahu, apa yang dimaksud oleh Adhir.
"Kamu tahu dimana itu?" tanya Adhir.
"Tahulah, tempat favoritku di sana. Kita bisa berfoto dengan karakter tokoh pewayangan." kataku
"Hahaha..dasaaar, yaudah ayo kita cus ke sana." ajak Adhir.
Jarak Candi Bima dengan Candi Arjuna tidaklah jauh. Ya sekitar 10 menit sampai lah. Soalnya harus muter.
10 menit kemudian
Kami sampai di parkiran Candi Arjuna. Kami melewati beberapa pedagang wisata di sana. Ya itu karena candi ini adalah candi yang paling ramai dikunjungi. Adhir pun memberikan 5 lembar 100rb an kepada petugas loket.
"Mas, ini kebanyakan berdua hanya 50rb" kata penjaga loket.
"Nggak papa mas, ambil saja kelebihannya" kata Adhir.
Petugas loket itu lalu memberikan kami seorang pemandu wisata. Tapi kami pun lalu menolak dengan halus.
Saat masuk ke lokasi, pertama kami melewati sebuah tempat yang unik. Tempat itu ada di sisi kanan dari loket masuk.
"Kamu tahu nggak itu apa?" tanya Adhir.
"Tahu, itu namanya Dharmasala" kataku
Dharmasala berasal dari bahasa Sansekerta, dharma yang berarti ajaran atau hukum, dan Sala yang berarti tempat. Dharmasala mempunyai fungsi sebagai tempat dilakukannya persiapan kegiatan upacara keagamaan sebelum dilakukan di candi. Bangunan tersebut terdapat di kompleks Candi Arjuna berupa pendapa atau bangunan terbuka dari kayu.
"Apa kamu tahu apa fungsinya?" tanyaku
"Di india, tempat asal candi-candi, juga banyak ditemukan bangunan-bangunan semacam ini. Fungsinya adalah untuk memberi tempat istirahat bagi para pengunjung yang beribadat di candi-candi. Disampaing itu bangunan Dharmasala juga dimanfaatkan sebagai tempat upacara atau pertemuan keagamaan. Dengan demikian bangunan-bangunan ini hanya difungsikan secara sementara dan bukan bangunan tempat tinggal." kata Adhir.
Hmmm..jadi Dharmasala itu semacam tempat peristirahatan bagi kau yatri atau pendeta.
__ADS_1
Beberapa bangunan Dharmasala menggunakan batu-batu yang dipahat dengan bagus. Besar kemungkinan khusus bangunan Dharmasala yang mempunyai panil-panil ini digunakan sebagai tempat upacara resmi keagamaan sebelum mengunjungi candi atau digunakan untuk instirahat tokoh-tokoh penting kerajaan sedangkan pondasi yang berupa umpak-umpak biasa diperuntukan bagi para peziarah orang kebanyakan.
"Ada yang menarik lho dari tempat ini. Aku melihat ada aura kesucian di sini." kata Adhir.
"Aura kesucian? maksud kamu sumur kuna?" tanyaku
Adhir pun langsung menatapku. Mungkin dia tidak percaya, kalau aku tahu ada dua buah sumur kuna di kompleks Dharmasala ini.
"Kenapa?" tanyaku
"Dari mana kamu tahu?" tanya Adhir.
"Aku kan pernah ke sini. selain itu, aku pernah membasuh muka di sini." kataku
Dia pun langsung menarik tanganku. Serta mengajakku untuk menuju sumur itu.
"Namanya Sendang Maerokoco dan Sendang sedAyu." kataku
"Kamu tahu?" tanya Adhir.
"Tu ada tulisannya" kataku sambil tertawa.
Adhir pun lalu menepok jidatnya sendiri.
Sendang Sedayu dan Sendang Maerokoco merupakan dua sumber air yang sangat penting dalam ritual kebudayaan masyarakat dataran tinggi Dieng. Dua sumber air ini dianggap sebagai air suci yang dapat membersihkan diri dan jiwa umat yang ingin bersembahyang di Kompleks Candi Arjuna.
"Ayo kita bersihkan diri terlebih dahulu." kata Adhir.
"Siapa kalian?" tanyaku
"Kami adalah Pangeran Maerokoco dan ini adalah Dewi Sedayu. Kami berdua adalah penguasa dua buah sumur kuna ini." kata Pangeran Maerokoco
Kami berdua pun lalu menghaturkan salam kepada sang pemilik sumur.
"Maafkan kekencangan kami pangeran." kataku
"Tidak, putri mahkota. Justru kami senang. Karena dikunjungi oleh pangeran dan putri." kata Dewi Sedayu.
Pada waktu itu terjadilah obrolan yang hangat. Sang Dewi lalu mempersilahkan kami. Tentu saja untuk membasuh muka kami. Bahkan kami diizinkan untuk mandi.
"Mandi??" tanyaku
Aku mempertegas, karena tidak mungkin aku mandi di tempat terbuka seperti itu. Pangeran pun nampak tahu dengan isi hatiku. Dia lalu tersenyum dan membangun secara singkat bilik kamar mandi.
"Silahkan putri" kata Pangeran
Adhir pun mempersilahkan aku mandi duluan. Tentu saja kesempatan langka ini harus dimanfaatkan. Aku pun lalu mandi, betapa segarnya air ini. Aku merasakan diriku seperti bersinar. Sungguh air yang wangi. Ingin sekali aku berendam. Serta tak mau aku keluar dari situ. Tapi teriakan Adhir membuatku sadar. Aku lalu menggunakan pakaianku kembali.
"Gimana perasaanmu?" tanya Adhir.
"Seger banget, Dhir.. makasih pangeran dan dewi." kataku
Kini tiba giliran pada Adhiraksa. Dia pun mandi dan membersihkan dirinya.
__ADS_1
*
Secara etimologi, “sendang” berarti kumpulan air suci, sementara “rahayu” berarti membersihkan diri. Karenanya, “sendang sedayu” dapat diartikan sebagai mata air suci yang digunakan untuk membersihkan diri.
Sendang Maerokoco. Nama “maerokoco” disematkan pada sumber air ini merujuk pada sosok Gatotkaca. Ketika dilahirkan, Gatotkaca tidak bisa melihat. Di sumber mata air ini, setiap orang yang datang diharapkan dapat melakukan introspeksi terhadap semua hal yang pernah dilakukan.
Ritual penyucian diri akan dimulai di Sendang Sedayu lalu ke Sendang Maerokoco dan berakhir di sebuah bangunan yang disebut Dharmasala. Dharmasala merupakan sebuah tempat bagi para umat untuk merapikan pakaian sebelum beranjak ke tempat persembahyangan.
Ada sumber yang menyebutkan keberadaannya lebih tua, karena berkaitan dengan kepercayaan Kapitayan. Kapitayan merupakan sistem kepercayaan yang dipeluk masyarakat Dieng sebelum masuknya Hindu dan agama-agama lain. Dalam kepercayaan ini, keberadaan air atau sumber air sangat penting karena dianggap sebagai tempat awal kehidupan.
*
Setelah selesai di kedua sendang sakti itu. Kami lalu melangkah menuju Candi Arjuna. Candi Arjuna merupakan salah satu candi yang berada di kelompok candi Arjuna. Kelompok candi ini terletak di tengah Kawasan Candi Dieng dan terdiri atas 5 candi yang berderet memanjang arah utara-selatan.
"Candi Arjuna dimasukkan ke dalam seni bangunan Dieng Baru, berdenah bujur sangkar berukuran 6 x 6 meter, dengan pintu menghadap ke barat. Candi didirikan di atas fondasi berupa tanah lembut semacam gambut. Fondasi disini maksudnya pemadatan tanah di bawah candi, untuk memperkuat tanah sebelum didirikan candi." kata Adhir.
"Ya, aku pernah dengar, bahwa tanah ini dulunya adalah rawa. Ini ada kaitannya dengan Gangsiran Aswatama" kataku
"Bisakah kau cerita tentang terowongan itu, Nara?" tanya Adhir.
Aku pun lalu menganggukan kepala.
"Gangsiran Aswatama adalah saluran air yang berasal dar dataran keluar melalui saluran dibawah gunung. Saluran ini berupa gorong-gorong yang disusun dari batu yang terletak di Barat Laut dataran Tinggi Dieng." kataku
"Terus, hubungannya dengan Candi Arjuna?" tanya Adhir.
" Gangsiran Aswatama dapat menunjukkan bahwa dulunya daerah dataran ini penuh dengan air atau berupa sebuah danau besar. Kemungkinan Gangsiran ini dibangun sebelum candi-candi didirikan terutama Kompleks Candi Arjuna, Candi parikesit dan beberapa Dharmasala. Bangunan-bangunan candi tersebut memang terletak di daerah paling rendah, sehingga perlu dikeringkan lebih dahulu supaya terdapat lahan yang cukup untuk membangunnya" kataku
Adhir pun lalu manggut manggut. Dia juga tahu sih, kalau dahulu nya tempat ini adalah sebuah danau.
"Bisakah kamu ceritakan padaku tentang bangunan ini, nona Arkeolog Muda?" tanya Adhir.
"Sure, i will do" kataku sambil tersenyum
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1