Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Satria Terpesona


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


.


Pagi hari yang indah. Aku masih ogah untuk bangun. Aku merasakan nyaman karena berada di pelukan Satria. Sebuah kecupan manis mendarat di keningku. Kecupan itu membangunkanku.


"Kak Satria." kataku


Ia hanya tersenyum terus memandangiku. Matanya sangat indah. Aku nggak sanggup memandang mata yang begitu indah. Dia terus tersenyum dan mendekat kepadaku.


"Rakyan." katanya lirih


Aku nggak sempat menjawab pertanyannya. Bibir manisnya sudah mendarat di bibirku. Awalnya aku merasa kesulitan dalam bernapas. Tapi lama kelamaan aku bisa mengatasinya.


"Kakak" hanya kata itu yang bisa kuucapkan.


Dia semakin membuatku nyaman. Ini adalah ciuman terindah. Jujur ini adalah ciuman pertama ku. Ternyata aku menyerahkan bibir manisku pada seorang pangeran di masa lalu.


"Hentikan kak." aku kemudian memalingkan wajahku.


Aku takut Kak Satria melakukan hal lebih dari ciuman itu. Bagaimanapun juga Satria adalah lelaki normal. Demikian juga denganku. Meskipun di masa depan aku baru lulusan SD. Tapi di abad ini aku sudah sangat dewasa.


"Kenapa? kamu tidak suka?" tanyanya.


"Bukan Kak, kita tidak boleh seperti ini. Tindakan ini sangat tidak dibenarkan. Kita belum ada ikatan penikahan sama sekali." kataku


Ia pun mengerti dengan maksudku. Ia juga memelukku dengan erat dari belakang. Aku sebenarnya tidak ingin melepaskan semua ini. Tapi kami harus menjaga norma. Terlebih kami adalah putri dan pangeran. Seharusnya kami menjadi contoh bagi masyarakat.


"Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri." katanya


"Lihatlah kak, Surya sudah muncul. Saatnya kita bergegas untuk bertemu dengan orang tuaku." kataku.


"Segera mandi di keputren dan siap - siap sarapan ya. Aku akan menunggumu." katanya


Aku segera bangun dari tidur dan bersiap untuk mandi. Tapi aku binggung pakaianku dan dimana aku harus mandi.


"Kak gimana dengan pakaianku?" tanyaku


"Dayang akan mempersiapkan segala keperluanmu." katanya


"Dimana aku mandi?" tanyaku lagi.


"Perlu aku temani?" katanya.


Aku kemudian mencubit pipinya dan segera berlalu. Tapi tangannya masih belum ikhlas melepaskanku. Ia memelukku dari belakang. Hembusan nafasnya di telingaku membuatku geli.


"Cepatlah mandi permaisuriku dan mintalah dayang untuk meriasmu." katanya


Aku hanya mengangguk. Ia segera keluar dari kamarku dan memanggil dayang untuk menyiapkan segala keperluanku. Tak berapa lama dayang datang membawa seperangkat pakaian.


"Rakyan, ini pakaianmu dan kami akan mengantarkanmu mandi." kata dayang.

__ADS_1


Aku kemudiam menerima pakaian yang mereka berikan. Aku juga mengikutinya dari belakang. Ternyata pemandiannya tidaklah jauh dari bilik kamarku.


"Putri silahkan mandi di sendang ini." kata mereka.


Aku melihat tempat pemandian putri sangat bagus. Banyak jaladwaranya. Airnya sangat jernih dan keluar dari pancuran. Pemandangan kolam ini persis dengan petirtaan yang selama ini aku lihat di gambar. Bahkan jaladwara (saluran air) sama persis seperti jaladwara yang ada di museum prambanan.


"Asri sekali tempat ini, dayang." kataku kagum


"Putri, air dari sendang ini berasal dari sumber mata air langsung. Jadi badan putri akan segar jika mandi di sini." kata mereka


"Apa itu yang menggelembung? apa itu pasir hisap?" tanyaku.


"Itulah tuk atau sumber mata air. Gelembung air itu adalah sumber air dari tanah." katanya


Jadi air yang akan aku gunakan mandi adalah air sumber. Langsung dari mata air. Aku sudah tidak sabar ingin mandi. Segera aku mencelupkan diri ke air. Rasanya sangat segar. Dayang juga membantuku untuk memberikan ramuan wewangian. Semacam sabun yang terbuat dari ramuan kunyit dan daun pandan.


"Dayang, segar sekali air ini." kataku.


Aku kemudian membasuh mukaku dengan aliran air dari jaladwara. Ku ucapkan doa kepada Dewi Gangga agar air yang ku gunakan mandi dapat menyegarkan dan membersihkan diriku yang kotor.


"Dayang, kalau di duniaku abad 21, air ini pasti akan dijadikan sebagai air mineral dalam kemasan." kataku.


Dayang bingung dengan ucapanku. Mereka saling tatap satu sama lain. Aku baru menyadari apa yang aku ucapkan tadi telah membuat dayang kebingungan.


"Kenapa?" tanyaku


"Putri apa maksudmu dengan abad 21?" tanya mereka.


Aku kemudian tersenyum dan baru menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan.


"Oh tidak bukan apa - apa. Ayo dayang kita mandi bersama. Kalian harus ikut aku ke istana." kataku


"Putri sudah, ayo segera ganti baju dan kami akan merias putri." kata mereka


Aku sebenarnya masih ingin bermain air. Tapi dayang sudah memperingatkanku untuk segera ganti baju karena Satria sudah menungguku.


"Putri kami akan meriasmu. Pasti Rakai akan bahagia melihat kecantikan putri." kata dayang.


Aku nurut saja dengan usul mereka. Mereka melulur tubuhku dengan kunyit dan tumbukan beras. Badanku benar - benar dimanjakan. Tak berapa lama aku selesai di rias. Dayang membantuku menggunakan pakaian kebesaran seorang putri.


"Putri kau cantik sekali. Pantas saja Rakai ingin menikah denganmu." kata mereka


"Terimakasih ini semua karena kalian. Tapi kan dayang aku masih kecil." kataku


"Apa maksud putri, usia putri sudah seharusnya menikah." kata mereka.


Aku kemudian memandangi diriku. Aku kaget karena aku lebih dewasa, kira - kira umurku sekitar 27 tahun.


"Kok bisa." kataku


'Bisa Rakyan karna umurmu bertambah setelah kamu masuk ke dunia ini' bisik Puspa.


"Puspa kamu bisa bicara padaku?" tanyaku


'Bisa, tapi hanya putri yang bisa mendengarkan kamu.' kata Puspa.

__ADS_1


"Putri kenapa berbicara sendiri?" tanya dayang.


"Tidak dayang, aku hanya mengagumi diriku. Ternyata aku cantik dan sudah dewasa." kataku


Kami kemudian keluar dari kamarku. Satria sudah menungguku di luar. Dia terus memandangku dan kemudian segera memeluk dan menciumku.


"Rakyan kau sungguh mempesona." katanya


Ia memandangiku tanpa kedip. Ia melihatku dari bawah hingga atas. Bahkan di hadapan prajurit dan dayang, ia memelukku.


"Aku tidak salah pilih kamu." katanya


"Kak Satria hentikan, malu dilihatin mereka." kataku


Satria kemudian melirik pada prajurit dan dayang untuk segera menyingkir dari hadapan kami.


"Kenapa kau lakukan ini?" tanyaku


"Aku ingin menciummu sekali lagi sebelum ke istana." kata Satria.


Setelah selesai dengan permainannya yang membuatku malu dan merona. Akhirnya dia mengajak aku untuk menuju kereta. Bahkan dia tidak membiarkanku berjalan. Melainkan mengendongku. Aku sangat tidak enak dengan mata dayang dan prajurit.


"Ayo naik ke kereta." ajaknya


Kami kemudian naik ke kereta. Dayang dan pengawal menaiki kereta di depan dan di belakang kami. Aku sangat senang dengan perjalanan ini. Aku akan segera bertemu dengan orang tuaku di abad ini.


"Apa kota raja jauh dari sini?" tanyaku


"Dekat kok, paling sehari sampai." katanya


"Letak kota raja dimana?" tanyaku


"Tidak jauh dari Manjusri Grha." katanya


"Wuah ini kalau naik motor nggak sampai sejam." kataku


Satria terus memandangiku. Aku barusan melakukan kesalahan lagi. Tapi seharusnya dia tahu dengan maksudku.


"Kak Satria, apa orang tuaku merindukan aku?" tanyaku


"Tentu saja, mereka sangat baik. Mereka sangat menyayangimu." katanya


Aku merasakan ngantuk karena jalannya kereta pelan dan ditambah dengan sepoi angin perjalanan. Aku kemudian tertidur di pangkuan Satria.


"Tidurlah sayang. Aku akan membangunkanmu setelah sampai kota raja." katanya


"Terimakasih kak untuk kebaikannya." kataku


Aku semakin pulas tatkala Satria terus membelai rambutku. Nyaman sekali tidur di pengakuannya. Terlebih jalannya kereta kuda tidak terlalu kencang.


**


Episode kali ini cukup ya teman - teman.


Terimakasih atas waktunya. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.

__ADS_1


With love


Citralekha


__ADS_2