
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
"Jebakan? kita terjebak, tidak Aura. Sudah, cepat kamu lakukan video call ke Nararia." kata Tamara
Aura pun lalu memvideo call aku. Kami bertiga lalu tersenyum, karena Aura dan Tamara tidak tahu sedang kita permainkan.
"Angkat saja putri" kata Puspa
Aku pun segera mengangkat telepon dari Aura.
"Hallo Aura, ada apa kamu menghubungiku? Aku sudah tidak ada urusan denganmu." kataku jutek
Aura pun tertawa puas dengan apa jawabanku. Sepertinya dia percaya bahwa aku tidak tahu apa - apa.
"Nara, meskipun kau tidak ada hubungannya dengan Prasta. Tapi aku tetap sakit hati denganmu. Apakah kau tahu... Aku punya kejutan untukmu." kata Aura dengan senyum liciknya
"Kejutan? kejutan apa? Atau kau mau kaish tahu aku. Jika Satria ada di Jerman dan dia sedang bersama Tamara? hahaha...Aku tidak peduli." kataku sok cuek
Tapi Aura semakin tertawa puas setelah tahu aku tidak mengerti. Aura pun lalu mengarahkan teleponnya kepada Tamara.
"Nara, apa kabar mu?" tanya Tamara
"Hai putri Tamara, aku baik - baik saja. Terimakasih telah mengkhawatirkanku." kataku sok manis.
"Kau telah merebut perhatian pangeran Satria dariku. Kini aku akan membuatmu menanggis dan memohon ampunanku." kata Tamara dengan licik.
Aku pun lalu berkata seolah aku tidak takut dengan Tamara. Ya memang apa salahku. Satria memang sebenarnya milikku. Justru yang menjadi orang ke tiga kan Tamara atau Pu Tamer.
"Tamara kamu mau ngapain sih? buang - buang waktuku saja." kataku
Tamara pun lalu mengarahkan teleponnya kepada bayangan Dika dan Ivan. Aku sebenarnya tersenyum Tapi aku pura - pura kaget.
"Tamara apa yang kau lakukan dengan Dika dan Ivan?" tanyaku
"Hahahaha... Nara, sahabat tercintamu ada denganku. Aku bisa saja saat ini membunuh mereka." kata Tamara
"Tamara, lepasin mereka. Apa sih mau nya kamu? Kenapa kamu melibatkan Dika dan Ivan?" tanyaku
Tamara dan Aura pun lalu tertawa penuh kemenangan. Puspa dan Kencana juga senyum - senyum.
"Gue mau agar kamu merusak wajah mu itu." kata Tamara
"Kamu rusak wajahmu di depan muka kami. Jika tidak, maka kau akan mendapatkan kabar kematian temanmu ini." kata Aura menyahut.
Mungkin Tamara berpikir jika wajahnya aku rusak. Maka Satria tidak akan suka denganku.
"Kalau aku tidak mau gimana?" tanyaku
"Maka kami akan membunuh mereka berdua di depan matamu" kata Tamara
"Bunuh saja, aku nggak peduli. Udah ya, kalau enggak ada yang dibicarakan lagi. Aku tutup teleponnya" kataku
__ADS_1
Aku pun lalu mematikan teleponnya. Aku justru kasihan dengan mereka berdua. Setelah tahu, jika yang mereka culik hanyalah bayangan.
"Aura, kenapa Nara tidak merasa khawatir sama sekali?" tanya Tamara
"Itu hanya mengertak kita. Seolah - olah dia tidak peduli. Tapi aku yakin, saat ini dia sedang menangis." kata Aura
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Tamara
"Kita patahkan tangan mereka. Setelah mereka bangun nanti. Kita bilang, jika Nara lah orang yang membuat mereka seperti itu. Dengan begitu mereka berdua akan membenci Nara." usul Aura
Tamara dan Aura pun kemudian menyiram Dika dan Ivan. Bayangan itu lalu bangun.
"Tamara, Aura" kata Dika lirih
"Ardika, Novian ... kalian sebentar lagi akan kehilangan tangan kalian. Sahabatmu tercinta tidak peduli denganmu. Sehingga aku akan mematahkan tangan kalian dulu. Bersiap - siaplah, ini tidak akan sakit kok." kata Tamara dengan senyum licik.
Aura pun lalu mengeluarkan pedang pusakanya. Ada sorot mata membunuh kepada mereka berdua. Tamara pun lalu memasang video recordernya.
"Tamara apakah aku boleh menghubungi Prasta?" tanya Aura.
"Jangan... jika Prasta dan Satria tahu. Dia akan semakin membenci kita." kata Tamara
"Aku tidak peduli, kita berbuat baik pun. Mereka tidak akan memilih kita." kata Aura
Tapi Tamara tetap bersikeras. Agar Aura tidak menghubungi Prasta. Akhirnya, Aura pun menyerah. Dia langsung menghunuskan pedang nya di hadapan leher Dika dan Ivan.
"Ini tidak akan sakit kok. Kalian nikmatilah hidup ini." kata Aura lalu langsung menebaskan pedang nya.
Tapi bukannya lengannya mengeluarkan darah. Pedang itu justru tak mengenai apapun. Melihat hal itu, Aura pun semakin sebal. Dia menyangka bahwa aku telah melindungi Ivan dan Dika.
"Ini pasti kerjaan piaraan Permaisuri menyebalkan itu." kata Tamara penuh amarah.
Aura dan Tamara lalu memusatkan pikiran untuk merasakan energi lain. Tapi semuanya nihil, tidak ada energi apapun di ruangan itu.
"Bagaimana bisa kita tidak bisa merasakan energi itu. Ini sungguh ilmu yang tinggi." kata Aura.
Tamara pun lalu menelpon ku kembali. Aku pun langsung menerima panggilan telepon itu.
"Hallo Tamara, bagaimana apakah kau sudah bisa menghabisi Dika dan Ivan?" tanyaku seperti meledek.
"Kurang ajar, jadi kau telah merencanakan semua ini?" tanya Tamara sangat jengkel.
"Aku hanya mengikuti permainannya saja, Tamara. Jangan pernah kau berani menyentuh orang terdekatku. Atau aku akan benar - benar memusnahkan dirimu." kataku
Setelah itu, Tamara langsung mematikan teleponnya. Dia lalu membanting HP nya.
"Apa yang terjadi?" tanya Aura
"Ini adalah perbuatan Nararia sialan itu. Dia telah berani menipu kita." kata Tamara
"Apa kataku, ini terlalu mudah untuk menculik 2 manusia bodoh itu." kata Aura.
Tamara pun lalu marah - marah dan membanting apa pun yang dia lihat. Dia melemparkan semua itu kepada bayangan Dika dan Ivan. Tapi bayangan itu terus tersenyum mengejek.
"Aku akan menghancurkan kalian!" bentak Tamara.
Tapi tiba - tiba asap hitam datang. Tandanya adalah pangeran Walaing datang.
"Pangeran" kata mereka berdua
"Dasar kalian manusia bodoh dan tidak berguna." kata Walaing.
__ADS_1
"Apa maksudmu, pangeran?" tanya Aura dengan geram.
"Mereka berdua hanyalah sebuah bayangan. Bagaimana mungkin kalian bisa dikelabuhi seperti ini??" bentak Walaing.
Tamara dan Aura pun saling menatap satu sama lain.
"Bayangan??" tanya mereka berdua
Walaing lalu mengarahkan kekuatannya untuk menghancurkan bayangan itu. Dia menebaskan selendang dipakainya. Tapi bayangan itu masih tersenyum. Hingga membuat Walaing mengeluarkan sebuah pusaka saktinya. Sekali tebas, bayangan itu pergi.
"Jadi?" tanya Tamara
"Kalian tidak lebih bodoh dari seekor kerbau. Kalian tidak berguna sama sekali." kata Walaing
Tamara pun tidak terima dengan hal itu. Dia langsung menyabetkan pedang nya kepada Walaing. Walaing pun tersabet. Tapi sabetannya tidak ada yang bisa melukainya. Pertarungannya sangat hebat. Tamara juga tidak ada rasa takut melawan Walaing.
"Walaing, aku tidak terima kau semena - mena denganku. Ingat batasanmu, kau hanya seorang pangeran yang kalah dari suamiku. Bagaimanapun juga, aku adalah selir raja. Aku ratu ke dua di Kerajaan Medang." kata Tamara.
Mereka pun terus bertarung lagi. Aura pun berusaha melerai mereka berdua. Tapi tubuhnya terpelanting akibat adu kekuatan Tamara dan Walaing.
"Tamara, Walaing ... hentikan pertarungan yang tak berguna ini." teriak Aura
Tapi teriakan Aura tidak dihiraukan oleh mereka berdua. Hingga akhirnya raja kegelapan datang. Teriakan nya membuat Tamara dan Walaing terpelanting. Tamara mengeluarkan darah segar. Aura pun kemudian menghampiri Tamara.
"Tamara, kamu nggak papa kan?" tanya Aura
"Itu kah raja kegelapan?" tanya Tamara.
"Walaing, Tamara hentikan pertarungan tidak berguna ini. Perbuatan kalian membuat musuh tertawa puas. Karena misi mereka adalah mengadu domba diantara kalian." kata raja kegelapan.
Akhirnya Tamara dan Walaing pun menyadari kesalahannya.
"Maafkan kami raja kegelapan." kata Tamara dan Walaing secara bersamaan.
"Sekarang kalian kembali ke bukit hijau. Bertarunglah dengan Dika dan Ivan. Mereka bukanlah manusia lemah. Tapi mereka telah menjelma menjadi manusia yang sakti." kata raja kegelapan.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Apakah Tamara akan berhasil?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1