
*Sebelum membaca jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Oh hya kasih bintang 5 juga boleh
Apalagi koin seikhlasnya...
karena Nur buat episode juga butuh studi dan mencari referensi yang valid.
.
*
Kami kemudian turun ke bawah dan mencari tempat untuk berteduh. Maklum di Candi Prambanan itu jam 14.00 ke atas itu adalah panas - panasnya, sehingga kita butuh tempat untuk berteduh. Oh iya di halaman 1 Candi Prambanan itu hanya ada beberapa buah pohon saja hlo. Pohon yang ada di halaman 1 dan dibiarkan tumbuh hanyalah pohon keben.
Pohon keben atau nama ilmiahnya adalah barringtonia asiatica. Pohon itu tumbuh di wilayah tropika, tersebar di sepanjang samudra Hindia.
"Istirahat di sana yuk (tunjukku ke arah kursi beton di bawah pohon rindang)."
"Oke, pas banget bisa sambil nyilir (cari angin)." usul Dika.
Kami berempat kemudian menuju pohon itu. Sembari duduk Dika mengeluarkan cemilan yang ia bawa dari rumah dan Ivan turun sebentar untuk membeli air mineral. Ivan membeli air mineral dengan cara memanggil pedagang dari gerbang candi. Kami sangat menikmati suasana sejui angin semilir dan pemandangan indah Prambanan. Tiba - tiba Fais kaget karena tepat disampingnya ada buah yang jatuh dari pohon.
"Aduuuuh ... untung saja nggak kena." teriak Fais.
Buah itu kemudian menggelinding ke arah pagar Candi Prambanan. Aku perhatikan buah itu dan ku ambil buah itu. Tiba - tiba mataku melihat kalau buah itu mirip dengan hiasan batu yang ada di pagar.
"Kok mirip ya!" gumamku.
__ADS_1
Aku kemudian mengambil dan menyerahkan ke Fais.
"Mas Fais, ini buah kok bentuknya sama dengan hiasan pagar itu?" tanyaku sambil menunjukan hiasan yang berjejer rapi di pagar Prambanan.
"Ini buah keben namanya." jawab Fais sambil mengambil buah itu dari tanganku.
Dika kemudian mengambilnya dari tangan Fais dan mencoba menyamakan dengan hiasan yang ku maksud.
"Iya sama, apa ini memiliki arti di candi, jangan - jangan hiasan pagar itu memang meniru bentuk buah ini." kata Dika yang penuh dengan telisik terhadap buah itu.
Fais kemudian mengeluarkan buku sakunya dan membolak balikkan per halaman. Ia kemudian membaca singkat dan kemudian tersenyum.
"Betul adik - adik, hiasan pagar itu memang mengambil inspirasi dari buah ini. Buah ini memiliki bunga yang baunya harum serta bentuknya unik. Sehingga para leluhur kita menirunya untuk hiasan di candi." jelas Fais yang kemudian dia memutar mutar buah itu.
"Ini pasti mempunyai makna yang dalam kan?" tanya Ivan yang juga penasaran kemudian dia mengambil buah keben yang tergeletak tak jauh dari dirinya.
"Kenapa?" tanya Dika.
"Buah ini pernah mendapatkan predikat sebagai buah perdamaian." terang Fais.
"Buah perdamaian?" kata kami bertiga secara bersamaan.
Fais kemudian menjelaskan bahwa pada tanggal 5 Juni 1986, saat hari peringatan Lingkungan Hidup, Presiden Soeharto sebagai tema yaitu a tree for peace. Bahkan ia juga menjelaskan bahwa pohon itu memiliki arti yang dalam bagi Kraton Ngayogyakarta.
Pohon keben secara khusus di tanam di area kraton karena dianggap memiliki simbol lain. Simbol tersebut ialah sebagai lambang negara yang agung dan bersih. Selain itu keben juga berarti sebagai perangkul kebersamaan. Keben juga memiliki arti yang dalam di Pulau Anak Krakatau.
"Apakah buah ini bermanfaat?" tanyaku.
__ADS_1
"Tentu saja ... leluhur kita pasti tidak sembarang memilih pohon untuk inspirasi dalam bangunan suci." kata Fais, kemudian dia menjelaskan manfaat dari buah keben itu.
Manfaat dari buah keben ialah mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan yang alami. Racun tersebut dapat diperoleh dengan cara memanaskan atau direbus buahnya dan kemudian diperas. Hingga akhirnya mendapatkan cairan yang berwarna merah.
Di Jawa dahulu, air perasan dari biji keben digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung serta dapat digunakan untuk membunuh ekto parasit seperti lintah. Sedangkan pohon keben yang sudah besar, batangnya dapat digunakan untuk kontruksi rumah dan untuk pembuatan kano. Sehingga masyarakat pesisir pernah menggunakan kayu keben untuk membuat kano.
"Wuah ... pohon ini bermanfaat banget ya ternyata." gumamku sambil tersenyum.
"Kita bisa nanam nggak ya?" sahut Ivan yang kemudian kami memiliki ide untuk mendapatkan bibit pohon itu.
"Oh hya adik - adik, apakah kalian tahu siapa yang membangun kembali Candi Prambanan?" tanya Fais yang membuat kami mengalihkan perhatian dari buah keben.
"Belanda". jawab Dika.
Fais kemudian tertawa ngakak, "Iya tahu Belanda ... tapi apakah kalian tahu sejarahnya seperti apa?".
Kami kemudian menggelengkan kepala.
*
cukup sekian ya teman - teman, episode kali ini semoga tercerahkan dan jika nanti mengunjungi Candi Prambanan dapat melihat bentuk bunga keben dan membandingkan dengan hiasan yang ada di pagar candi.
Tapi jika penasaran dengan bentuknya seperti apa, bisa lo googling sekarang.
terimakasih ya atas waktunya
with love
__ADS_1
Citralekha