
"Satria" kataku
Mendengar hal itu, ayah raja Pu Palar segera melihat ke arah pandangan mataku.
"Adhiraksa Sida. " kata Pu Palar.
Aku hanya tertegun melihat pangeran yang mirip dengan Satria. Ternyata namanya Adhiraksa Sida. Siapa dia aku sendiri kurang tahu. Demikian juga dengan Pasopati yang masih nampak bingung. Dia pun terpana dengan rupa sang Adhiraksa yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Satria.
"Putri, aku tidak salah lihat kan?" tanya Pasopati
"Puspa" kataku
"Kalian akan tahu jawabannya." kata Puspa
Aku melihat ke arah ayah Pu Palar. Dia memeluk seorang ksatria tampan itu. Dipeluknya dengan penuh haru. Dia pun juga melirik ke arahku.
"Adhiraksa putraku, kamu kembali." kata Pu Palar.
"Putra??" tanya Pasopati yang kemudian melihat ke arahku
Aku masih terus memikirkan perkataan ayah Pu Palar. Mungkinkan dia adalah saudara kembar atau adiknya Satria. Tapi selama ini, dia tidak pernah menceritakan apa - apa.
Kami masih mematung sambil kebingungan. Ayah Pu Palar masih memeluk Adhiraksa dengan penuh kasih. Setelah itu, dia melepaskan pelukannya.
"Ayah, aku dengar kalau Kakak Satria meninggal dan di bunuh di Hutan Dandaka. Aku segera menyusul ke sini. Tapi ternyata semuanya hanyalah setingan untuk menyelamatkan kakak." kata Adhiraksa
"Ayah pikir juga begitu, nak. Tapi ternyata semuanya demi kebaikan kakakmu. Rakyan kemarilah" kata Pu Palar memanggilku
Aku segera mendekat ke ayah Pu Palar dan Adhiraksa. Ayah kemudian memperkenalkan aku dengan Adhiraksa.
"Adhiraksa ini adalah putri mahkota kerajaan Medang. Rakyan Pramodhawarddhani." kata Pu Palar.
"Jadi ini calon kakak iparku, yah?" tanya Adhiraksa
Pu Palar hanya mengangguk. Kami pun kemudian berkenalan.
"Nararia" kataku
"Adhiraksa" katanya
Saat kami berjabat tangan, detak jantungku sangat kencang. Pertemuan yang manis. Tangannya sangat lembut. Tatapan matanya sangat tajam. Tubuhnya kekar. Wajahnya sangat tampan. Bisa dibilang lebih tampan sedikit. Sedikit salah beda sekitar 0,01 persen dari Satria.
Pada saat itu, tiba - tiba Pasopati mendekatiku. Dia melihat bahwa tangan kita berjabatan cukup lama. Dia sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya dengan Adhiraksa.
"Ehem ... maaf pangeran Adhiraksa, saya adalah Pasopati." kata Pasopati memperkenalkan diri.
Mendengar ucapan Pasopati, kami segera melepaskan tangan.
"Saya Adhiraksa, saya tahu kalau kamu adalah pendamping kakakku." kata Adhiraksa
Aku hanya tersenyum melihat tingkah Pasopati. Dia sangat ingin sekali melindungi mata dan hatiku untuk Satria yang sedang berjuang mendapatkan kesaktian. Demikian juga dengan Adhiraksa yang sesekali melihat ke arah ku.
"Pasopati, dia adalah Adhiraksa Sida. Dia adiknya Satria. Kami tidak pernah mempublikasikannya. Dia nanti adalah calon penguasa Pikatan. Tapi ternyata jalan yang dipilih putraku ini berbeda. Dia tidak silau dengan kemasyuran dunia." kata Pu Palar.
__ADS_1
Aku hanya terus tersenyum. Aku merasa kehadiran Adhiraksa dapat mengobati rasa kangen ku pada Satria. Dalam keadaan suka, tiba - tiba Senopati Dandaka menyela kami.
"Maaf pangeran, raja, dan putri. Sekarang saatnya kita menyusun siasat" kata Senopati
Aku bingung bingung dengan perkataan senopati Dandaka. Siasat apa yang dimaksud oleh sang senopati. Kenapa harus ada siasat, aku masih belum tahu.
"Iya benar, aku memiliki gagasan lain terhadap pangeran Adhiraksa." kata Pasopati
Aku semakin bingung dengan rencana atau siasat Pasopati dan Senopati. Demikian juga ayah Pu Palar nampaknya masih bingung.
"Gagasan apa?" tanya Adhiraksa.
Suara lembut dan merdu dari Adhiraksa selalu membuatku nyaman untuk berada di dekatnya.
"Rara, kamu mikir apa sih. Ingat pangeran Satria masih bertapa." gumamku dalam hati
Melihat Aku tersenyum, Kencana dan Puspa pun meledek ku.
"Putri jangan bilang putri jatuh cinta pada pandangan pertama dengan adik sang Rakai" goda Puspa
"Apaan sih" batinku
"Tapi wajah putri merah merona, lho." goda Kencana
Mendengar ledakan Kencana dan Puspa. Pasopati segera menatap tajam ke arah kami.
"Ups pangeran Pasopati masih melihat kita." kata Kencana
Tak berapa lama Kencana dan Puspa kembali menutup mata batin Pasopati dengan sekali tepukan. Pasopati tiba - tiba terjatuh.
"Tidak apa - apa pangeran, sepertinya ada semut." kata Pasopati
Aku hanya tersenyum melihat kelucuan Pasopati. Kini dia sudah tidak dapat melihat rupa dan wujud Kencana serta Puspa. Dia kemudian mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas kekonyolan dirinya.
"Dalam hal ini pasti ada orang yang ingin menyingkirkan pangeran. Jadi kita harus segera kembali ke Medang. Kita harus berpura - pura bahwa jasad itu adalah jasad Satria. Setelah agak mereda (kira - kira 7 hari). Pangeran Adhiraksa muncullah. Kemunculan pangeran akan membuat gusar orang yang ingin pangeran Satria meninggal." kata Pasopati menjelaskan
"Lalu ketika kakak kembali dari bertapa?" tanya Adhiraksa
"Kalian bisa menyusun strategi untuk saling membayangi dan membantu satu sama lain. Dalam waktu yang sama, pangeran Satria dan pangeran Adhiraksa bisa berada di dua tempat. Dengan cara seperti itu, kita akan tahu dimana musuh dimana kawan." tambah Senopati Dandaka
Tiba - tiba Ratu Kala Bang memberikan usul kepada kami. Usul beliau berbeda dengan usul senopati.
"Kalau saya boleh usul, sebaiknya pangeran Adhiraksa muncul sekarang sebagai pangeran Satria. Dari situ kita akan tahu gelagat dari orang yang tidak suka. Saya rasa cara ini lebih simple dan masuk akal. Dari pada harus ribet. Selain itu, kemunculan pangeran Adhiraksa sebagai pangeran Satria akan dapat mengalihkan perhatian musuh. Kita dapat mengecoh musuh. Sehinga tapa sang pangeran Satria akan semakin khusuk." usul ratu Kala Bang
Mendengar usul dari Kala Bang. Kami semua setuju. Tiba - tiba Adhiraksa interupsi kepada kami.
"Maaf senopati, ayah, putri, dan Pasopati, jika diinzinkan apakah saya bisa ke Medang bersama kalian. Saya ingin mengenal Medang lebih baik agar penyamaran kita berhasil. Saya juga setuju dengan usul ratu Kala Bang." usul Adhiraksa sambil melirik ke arahku
Aku kaget dengan usulnya. Tapi aku juga seneng, karena setiap hari bisa melihat wajah dan senyum Adhiraksa. Tapi tetap aku akan berusaha menjaga perasaan hanya untuk Satria, ya untuk Satria. Karena dia adalah masa depanku.
"Tapi " sela Pasopati
Dia nampaknya ada sesuatu yang kurang enak terkait hubungan aku dengan Satria jika setiap hari aku bisa melihat wujud sang Adhiraksa.
__ADS_1
"Pasopati, saya setuju dengan usul putraku. Meskipun ini akan membahayakan putraku Adhiraksa. Tapi demi kejayaan putraku menjadi maharaja, saya mengizinkannya." kata Pu Palar
Setelah semuanya sepakat. Kami kembali ke Medang. Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada ratu Kala Bang, senopati, dan masyarakat Hutan Dandaka.
Ayah Pu Palar bersama prajuritnya kembali duluan. Perjalanan mereka akan lebih singkat, karena bantuan d asri senopati Dandaka dengan ajian bayu umilang. Sedangkan pangeran Adhiraksa akan muncul dengan kereta sebagai Satria.
Aku dan Pasopati akan menghilang dan secepat kilat kembali ke sangar Pamujan. Sebenarnya kami ke sini adalah roh kita. Sedangkan jasad kasar kami berada di dalam istana. Itu Kencana lakukan agar masyarakat dan kerabat keraton tidak gempar dengan hilangnya kami.
Tak lama kami sudah kembali ke badan kasar kami. Aku merenggangkan tubuh. Di samping kami ternyata sudah ada ibu Dewi Tara dan Widasari. Mereka nampak gelisah menunggu kami.
"Kakak, pangeran" kata Widasari
Dia kemudian memelukku dan Pasopati. Demikian juga dengan ibuku yang menghampiriku.
"Nak, kamu harus terima takdir. Relakan kepergian pangeran Satria. Ayo segera ke balai Witana. Kita selesaikan kremasi pangeran Satria." kata ibu Tara
Dengan langkah mantap, aku dan yang lainnya ke Balai Witana. Setidaknya aku sudah tidak kalut. Aku sudah mendapatkan jawaban bahwa jasad yang akan di bakar bukanlah pangeranku, melainkan sebatang pohon.
"Baik bunda, mari ke balai Witana." kataku
Kedatangan kami ke balai Witana membuat semua mata tertuju kepada kami. Ayahku nampak lembut memegang bahuku. Dia terus menguatkanku. Demikian juga adikku, Balaputra. Dia juga bersikap lembut.
"Kakak Rakyan yang sabar ya, ikhlaskan kepergian kakak ipar." kata Balaputra
"Terimakasih adik" kataku
Disaat itu, Pandita kerajaan memberikan usul untuk segera melakukan upacara terakhir, yaitu pembakaran jasad kasar. Tapi Pasopati segera melarangnya.
"Tunggu Pandita, kita akan menunggu kedatangan raja Pu Palar, bagaimanapun juga beliau adalah ayah pangeran Satria." kata Pasopati
"Tapi paman Pu Palar masih di Dandaka. Kita tidak tahu, dia akan selamat atau tidak. Mengingat Dandaka adalah kerajaan terbesar lelembut tanah Jawa." kata Balaputra
Perdebatan antara Pasopati dan Balaputra pun tak bisa dielakan lagi. Melihat hal itu, ayah raja Samaratungga menjadi terlihat gusar dan menasehati agar mereka berdua tidak ribut dihadapan jasad Satria dan masyarakat Medang yang sedang berkabung.
"Maafkan hamba, paduka." kata Pasopati lirih
"Maafkan nanda, ayah." kata Balaputra
"Sudahlah kita akan menunggu kakang mas Rakai Patapan Pu Palar." kata ayah Samaratungga
Sementara itu, Widasari terus nempel di lengan Pasopati. Melihat hal itu aku hanya bisa tersenyum. Padahal Pasopati agak risih. Entah apa yang membuat Pasopati agak risih dengan Widasari.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
Akan ada kisah seru lho setelah ini dengan kemunculan Adhiraksa Sida.
Apakah kemunculan sang Adhiraksa dapat membuat hati putri Nararia berpaling dari pangeran Satria?
Selain itu, juga akan hadir tokoh wanita lagi yang akan menjadi saingan Widasari.
Tunggu kisah selanjutnya ya...
__ADS_1
With love
Citralekha