Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Barong Brutuk


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


"Jadi memiliki kaitannya dengan Jawa, ya?" tanyaku


"Betul, Bali dan Jawa kan saudara." kata Gusde


Setelah puas berbincang - bincang dan mengetahui seluk beluk pemakaman di Trunyan. Kami pun mendengar suara teriakan - teriakan. Kami pun panik, secepatnya Dika dan Prasta menarik tangan ku.


"Suara apa itu?" tanya Prasta


"Sepertinya sedang ada perayaan deh." kata Gusde.


"Aaah... bakalan seru ni, pertunjukan ini hanya dilakukan sekali dalam setahun. Beruntung kita ke sini hari ini." sahut Mas Arya.


Aku masih bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Gusde dan Mas Arya. Perayaan apa maksudnya. Apakah piodalan atau sebuah pertunjukan yang ... wait, setahun sekali.. Waaa beruntung banget aku. Bisa melihat pertunjukan ini. Tarian yang sangat unik.


"Kamu kok senyum - senyum, Ra." tanya Ivan


"Bukannya kamu tadi ketakutan?" tanya Prasta


"Seneng dunk, aku tahu ada pertunjukan apa." kataku


Semua orang kemudian menoleh kepada ku. Ya, ada pertunjukan yang merupakan rangkaian dari upacara Odalan.


"Apaan?" tanya Gusde


"Barong Brutuk" kataku


"Kok kamu tahu?" tanya Mas Arya


"Aku pernah bikin makalah tentang Megalitik di Desa Trunyan." kataku bangga


Yang lain pun kemudian sibuk melihat pertunjukan langka itu.


Selain keunikan dalam penguburan mayat, juga memiliki tarian langka bernama Barong Brutuk sangat jarang dipentaskan terkecuali saat odalan di Pura Pancering Jagat desa Trunyan pada purnamaning sasih kapat.


Barong Brutuk adalah sebuah sepasang arca atau barong khas Bali. Umat Hindu Bali mempercayai bahwa Barong Brutuk adalah simbol penguasa di Desa Trunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat (laki- laki / di dalam prasati disebut Ratu Datonta) dan Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar (perempuan).


Barong brutuk menanamkan pengetahuan tentang leluhur kepada generasi penerus mereka. Barong Brutuk dikatakan pula sebagai symbol pertemuan perempuan dengan laki–laki sebagai proses kehidupan manusia dalam Agama Hindu disebut Purusa dan Pradana.


"Yang menarikan itu remaja, ya?" tanya Prasta.


"Barong brutuk ini ditarikan oleh 21 orang pemuda yang sbelumnya harus melewati masa karantina terlebih dahulu selama 42 hari yang dilaksanakan disekitar areal suci pura, selama 42 hari tersebut pemuda tersebut dilarang meninggalkan areal pura dan dilarang berhubungan dengan perempuan." kata Gusde.


"Kostum nya itu terbuat dari daun pisang kering yah?" tanya Satria

__ADS_1


"Tidak seperti tarian Barong lain di Bali yang busananya biasanya sangat penuh dengan motif hiasan, busana Barong Brutuk ini sangat sederhana. Tidak ada ukiran, tidak ada potongan kaca, apalagi cat prada keemasan. Hanya  kumpulan daun pisang kering (Keraras), yang konon hanya boleh dipetik dari Desa Pinggan." sahut Mas Arya


Kami pun kemudian mengamati kembali pertunjukan yang sangat menarik dan unik itu.


Barong Brutuk ini tidak diiringi dengan musik. Brutuk hanya berjalan-jalan di halaman atau mengelilingi Jeroan Pura sambil membawa cambuk.  Sehingga sebenarnya agak sulit kalau dibilang menari, karena memang hanya sembahyang,  berjalan berkeliling dan melecutkan cambuk. Tidak banyak penduduk diperkenankan masuk untuk menghindari lecutan cambuk. Banyak penduduk terlihat menonton dari balik pagar, ada juga beberapa yang nekat di pintu Jeroan.


"Untuk apa penduduk itu mengambil potongan daun pisang kering?" tanya Dika


"Penduduk mempercayai bahwa potongan daun kraras dari Barong Brutuk itu membawa keselamatan dan berkah. Demikian juga lecutan cambuknya. Dipercaya memberi kesembuhan (tamba) bagi yang sakit. Beberapa orang anak-anak memanggil-manggil dan menggoda Barong Brutuk agar mencambuk ke arah mereka." kata Mas Putu


Namun ketika  Barong Brutuk itu mendekat dan mencambuk, anak-anak itu pada berlarian dan tertawa senang. Ada beberapa orang yang sempat terkena lecutan juga.


Bahkan ada seorang penduduk yang tampak sedang sakit malah bersimpuh memohon dicambuk, dan ketika dicambuk bukannya kabur namun malah menyerahkan diri – karena ia percaya akan khasiat pengobatan dari lecutan Barong Brutuk itu.


Selain itu bebrapa kali saya lihat Barong Brutuk itu melemparkan buah-buahan dari banten ke penonton. Dan orang-orang berebut untuk mendapatkannya,karena juga dipercaya sebagai berkah dan obat.


"Pementasan ini sangat panjang. Pagi hari hanya di halaman Jeroan Pura, lalu setelah istiahat sejenak dilanjutkan ke areal Jaba Pura (bagian luar /areal Pura yang lebih rendah). Sore harinya dipentaskan bagaimana pria dan wanita Trunyan pada jaman dulu mencari pasangannya, yang disebut dengan acara metambak-tambakan." kata Gusde


"Metambak?" tanyaku


"Barong Brutuk dengan topeng raja dan ratu menarikan tarian percintaan ini. Mereka sama -sama menari dengan aggresif-nya, hingga akhirnya merasa cocok dan menikah. Saya dijelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Trunyan, bahwa urusan mencari jodoh bukanlah hanya urusan pria saja yang harus aggresif menyeleksi dan menentukan pilihan hidupnya, namun para wanita pun layak sama aggresifnya dalam menentukan pilihannya sendiri." jawab Mas Arya


Barong Brutuk ini berlangsung selama seharian penuh. Berbeda dengan pertunjukkan Barong pada umumnya, Barong Brutuk tidak menggunakan iringan musik apapun dan tariannya tidak menggunakan pakem tari pada umumnya. Para penari menari dengan sendirinya sambil mengarahkan pecut panjang mereka.



"Menjelang sore hari, akhir pementasan Barong Brutuk ditandai dengan para penari melepas topeng serta kostum mereka. Kemudian mereka melukat atau mandi di danau. Setelah itu, upacara ditutup dengan melakukan sembahyang bersama serta megibung (tradisi makan bersama)." kata Gusde


Kami kemudian melangkah naik ke dalam pura. Di desa ini ada sebuah pura kuna. Pura tersebut bernama Pancering Jagad. Kami pun takjub dengan pura kuna ini. Dalam pura tersebut terdapat sebuah arca yang sangat disakralkan.


"Pura Pancering jagat, merupakan salah satu pura yang terdapat di Desa Trunyan, Kabupaten Bangli.  Bila anda mengunjungi puran ini, akan terdapat sebuah patung dengan ukuran yang besar dan cukup tinggi yang bernama Bhatara Datonta atau Bhatara Ratu Pancering Jagat. Patung Bhatara Datonta ini merupakan salah satu peninggalan pada jaman batu besar. Patung ini menggambarkan ekspresi seorang bhatara dengan ekspresi yang sangat dashyat, tangan kirinya bergantung longgar pada sisi kiri tubuhnya; tangan kanannya tertekuk di atas bahu mengarah ke belakang, posisi membawa kapak; alat vitalnya mencolok ke bawah, tetapi lembut. Tepat di bawah alat vital itu ada sebuah lubang yang menggambarkan alat kelamin wanita. Keduanya dianggap simbol vital kekuatan laki dan perempuan. Simbol ini diduga bentuk awal dari lingga dan yoni, kekuatan Dewa Siwa dan Dewi Uma dalam tradisi Hindu. Bhatara Ratu Pancering Jagat memiliki sebanyak 21 orang unen-unen dalam bentuk topeng yang dinamakan Barong Brutuk." kataku menjelaskan.



"Sepertinya kita tidak bisa masuk. Kita hanya bisa melihat dari luar. Tapi tunggu kita pasti bisa masuk." kata Gusde


"Gimana caranya?" tanya Prasta


"Ini lah gunanya kita pake kamen. Kita bisa sembahyang di sana." kata Mas Arya


Kami lalu melirik satu sama lain dan setelah itu tersenyum. Tapi tiba - tiba seorang penari Barong Brutuk mendekati kami.


"Silahkan" katanya sambil menyerahkan klaras (daun pisang kering).


Aku pun tersenyum dan mengucapkan terimaaksih. Entah kenapa aku mendapatkan daun pisang itu secara langsung.


Setelah itu, kami langsung masuk ke dalam Pura Pancering Jagad.


Keberadaan Pura Ratu Gede Pancering Jagat dan Arca datonta tertulis pula dalam beberapa prasasti. Dalam prasasti Trunyan AI, Trunyan B, Bwahan A, Bwahan B, Bwahan C, Bwahan E, Batur Pura Tulukbiyu, dan Pura Tulukbiyu B diuraikan tentang interaksi sosial religius pada saat upacara keagamaan yang dihadiri oleh masyarakat penyungsung pura. Prasasti-prasasti tersebut menjelaskan tentang kegiatan ritual yang ditujukan kepada Ratu Pancering Jagat atau yang lebih dikenal dengan Bhatara Da Tonta di Desa Turun-an (Trunyan). Hal ini menunjukkan adanya kontak sosial dalam masyarakat dalam satu banua di kawasan Danau Batur.


"Mereka melakukan ritual sakral ini pasti ada tujuannya, kan?" tanya Ivan


"Pasti, Nara ... apa kamu tahu tentang ritual ini dengan pura Pancering Jagad?" tanya Dika


"Dalam Prasasti trunyan B (tahun 833 Çaka) diterangkan secara jelas hubungan desa-desa di Trunyan khusunya antara Desa Air Hawang dengan Desa Turun-an. Desa Er Rawang dan Desa Turun-an mempunyai tugas mas ing-masing dalam upacara kebesaran Bhatara Da Tonta dan apabila tidak dapat melakukan tugas tersebut maka masing-masing desa akan dikenakan kewajiban." kataku menjelaskan.

__ADS_1


Mengacu pada isi prasasti tersebut jelas kiranya bahwa kepercayaan kepada Ratu gede Pancering Jagat atau Bhatara Da Tonta yang berkembang sejak masa prasejarah tetap berlanjut pada masa klasik dan sampai sekarang ini. Itulah pula sebabnya mengapa Pura untuk memuliakan Bhatara Da Tonta tetap dijaga, dikeramatkan dan dilestarikan.


"Pada awal tahun 2007 pura ini pernah ditimpa bencana karena pohon tumbang yang mengakibatkan 17 pelinggih beserta tiga candi bentar dan tembok pembatas pura hancur. Namun berkat kerjasama antara masyarakat, unsur swasta dan pemerintah pura ini telah dapat direnovasi kembali" tambahku


Pura Pancering Jagat merupakan struktur berteras-teras (berundak), hal ini mengacu pada konsep loka yang menunjukkan semakin tinggi halaman pura semakin suci. Pura Pancering Jagat secara umum terbagi menjadi empat halaman (loka) dengan denah pura berbentuk segi empat panjang. Empat halaman (loka) yang terdapat di Pura Pancering Jagat ini kemudian terbagi lagi menjadi komplek-komplek pura lengkap dengan bangunan pelinggihnya.


"Teras pertama ini berupa apa?" tanya Ivan


"Halaman Jaba Sisi. Halaman jaba sisi (Jabaan/nista mandala) terdapat sebuah bangunan berupa wantilan yang berfungsi sebagai balai pertemuan masyarakat Desa Terunyan dan juga dipergunakan untuk melaksanakan tabuh rah (sabung ayam) pada saat upacara pecaruan" kata Gusde.


"Kalau halaman 2 gimana?" tanya Mbak Yessy.


Untuk sampai ke halaman jaba Tengah harus melewati sebuah kori agung yang merupakan pintu masuk utama Pura Pancering Jagat dengan arah hadap ke barat menurut mata angin masyarakat Desa Terunyan, yang mana arah selatan berpatokan pada danau.


"Halaman Jaba Tengah (Tempek Semanggen) terdapat beberapa buah pelinggih yakni empat buah bangunan dan tiga buah pelinggih." kata Gusde


Kami hanya melewati dan foto bersama saja. Setelah itu, kami langsung ke bangunan utama. Ini adalah kesempatan yang bagus dan baru kali ini. Salah satu gedong atau rumah arca di buka.


"Prasasti Turunan." kataku


"Kamu tahu apa bunyi nya?" tanya Gusde


Aku hanya menganggukan kepala. Aku lalu mendekat ke gedong prasasti. Aku menghaturkan doa dan puja terlebih dahulu. Setelah itu, aku membaca beberapa baik isi nya.


..atĕhĕrto banua di er rawang, manguning di da bhātara da tonta rājakāryyanda, mangalap er danu, dirusĕn da bhatāra, kumamuningin ida, tĕhĕr ya


Macincin mamata, matingĕtingĕt mamata, mangamuningin bhātara da tonta pikangudunda datu to sahayan padang, di banua di er rawang, mangurumandyang i


Da bhātara, kunang yan I tka ya, bakat ya ku 2...


Artinya


..demikian pula (kewajiban) Desa Er Rawang kepada Bhatara Da Tonta pada saat upacara kebesaran beliau yaitu mengambil air danau, memandikan Bhatara, mengoles sesuatu yang berwarna kuning kepada beliau kemudian beliau diberikan


Cincin permata, anting-anting permata, mengoleskan sesuatu yang berwarna kuning Bhatara Da Tonta yang dihormati sebagai datu atau pemimpin oleh semua warga Desa di Er Rawang pada saat upacara untuk I


Da Bhatara. Bila mereka tidak datang pada saat upacara itu, mereka didenda 2 kupang...


Aku pun kemudian mendengar riuh orang tepuk tangan. Tapi ketika ku membuka mata. Aku tidak menemukan keberadaan teman - temanku.


"Hey, kemana mereka?" tanyaku


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. Serta sdg ada 3 event dalam waktu yg bersamaan.


next :


Sedang berada dimana Nararia ketika membuka mata dan setelah membaca prasasti itu?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih

__ADS_1


With love


Citralekha


__ADS_2