Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Perintah Raja


__ADS_3

** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


"Putri, kita harus segera kembali ke Medang." kata Pasopati


"Tapi, So" kataku


"Putri, kembalilah. Jangan membuat ayah dan ibu mu khawatir." kata Satria


Aku ingin berkata tidak. Tapi benar apa yang dikatakan oleh Satria. Aku masih penasaran kenapa sang resi, melarang Satria kembali ke Medang.


"Kak Satria, aku harus kembali ke Medang." kataku lirih


Dia memegang bahuku dan langsung memeluknya. Kehangatan ini sebenarnya ingin aku rasakan tiap hari. Tapi ini tidak adil, baru saja bertemu. Kami sudah harus berpisah lagi.


"Kembalilah, kau kan bisa dalam sekejab mengunjungiku." katanya


"Baiklah, jaga hati mu ya sayang." kataku


Dia lalu mengecup kening dengan penuh cinta. Berat meninggalkan dia. Tapi apa dayaku, harus segera kembali. Tapi sebelum kembali aku terlebih dahulu berpesan kepada keluarga Dandaka.


"Ratu Kala Bang dan Senopati." kataku


"Iya putri." kata mereka bersamaan


"Saya titip Kak Satria di Dandaka. Tolong jaga dia, aku tidak ingin kehilangan dia." pesanku


"Kami akan menjaga pangeran Satria dengan segenap hati kami." kata Ratu Kala Bang.


Setelah itu, aku pamitan pada keluarga Dandaka. Demikian juga dengan Pasopati. Dia orang yang paling berhutang budi pada hutan ini. Sebelum meninggalkan hutan ini. Nampak bulir bening air mata nya menetes.


"Pasopati" kata Senopati


Pasopati segera menghampiri Senopati dan memeluknya. Rasa haru juga menyelimutiku. Air mataku menetes lagi dan lagi.


"Senopati, aku berhutang nyawa padamu. Terimaaksih." kata Pasopati


"Pasopati saudaraku, sudah seharusnya kita harus saling tolong menolong." kata Senopati.


Setelah itu, Pasopati menghampiri Ratu Kala Bang. Ada rada haru dan bersalah.


"Ratu, saya mohon maaf. Karena menolongku, mustika Hijau istana ini harus hilang." kata Pasopati


"Tidak pangeran, keselamatanmu sangat penting. jangan hiraukan itu." kata Ratu Kala Bang.


Tiba - tiba Satria mendekati Pasopati dan Ratu Kala Bang.


"So, Ratu Kala Bang, dan Senopati." kata Satria


Semuanya menoleh ke arah Satria.


"Ada apa pangeran?" tanya Ratu Kala Bang


Tiba - tiba Satria bersamadi. Langit menjadi gelap, petir tiba - tiba menyambar. Bumi bergoyang. Penghuni Dandaka berteriak dan berlari - lari.


"Ada apa ini?" tanya Senopati


Wajahnya sangat khawatir. Dia lalu melihat ke arah Satria. Tubuhnya memancarkan cahaya hijau. Tak lama kemudian keluarlah sebilah perisai. Pusaka itu berputar - putar dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Satria kemudian menangkap perisai itu. Setelah itu kondisinya normal kembali.


"Satria" kataku


Aku langsung menghampirinya. Memastikan bahwa dia baik - baik saja.


"Aku tidak apa - pa sayang." katanya

__ADS_1


Dia lalu berjalan ke arah Ratu Kala Bang. Dia juga menjelaskan, bahwa perisai itu bernama "Kundhabuana". Pusaka yang dia dapatkan dari Dewi Dhanatari. Dewi penguasa hutan Kahyangan.


"Ratu, ambil ah perisai Kundhabuana. Ini sebagai pengganti mustika Hijau yang telah digunakan untuk Pasopati." katanya


"Tapi pangeran, pusaka ini" kata Ratu Kala Bang


"Mungkin ini maksud Dewi Dhanatari memberikanku pusaka ini. Terimalah, Hutan Dandaka akan kembali disegani. Dengan pusaka ini, Hutan ini akan memancarkan sinar yang semakin kuat." kata Satria


Ratu Kala Bang dan Senopati, juga prajurit Dandaka sangat senang. Mereka mengucapkan terimakasih kepada pangeran Satria. Akhirnya pusaka Dandaka kembali ada.


Saatnya, Aku dan Pasopati kembali ke Medang. Kami diantar oleh Senopati Dandaka. Tak berapa lama, kami telah tiba di dalam kamarku. Di luar (ruangan) terjadi keributan. Aku kemudian keluar karena merasa curiga. Takut - takut kalau kerajaanku diserang oleh musuh.


"Ada apa ini dayang?" tanyaku


Mereka memandang ku dan kemudian semuanya berlari ke arah ku. Demikian juga dengan ibundaku, Dewi Tara.


"Putriku, kamu kemana saja?" tanya ibuku yang nampak sedih


"Benar putri, Putri Sanjiwani sampai harus keluar istana, karena mencari anda." kata Anupali


"Saya tidak kemana - mana, bunda. Saya hanya tidur saja kok." kataku berbohong.


Oh iya, Pasopati di daratkan di balai obat. Jadi orang tidak akan curiga dengan kami.


"Putri ku, syukurlah ayah sangat khawatir." kata ayahku


Setelah itu ayah dan ibu mengajak rundingan di singhasananya. Nampak seluruh pejabat kerajaan Medang hadir. Aku merasa khawatir, entah kenapa rasanya seperti was - was.


"Maaf maharaja, ada apakah gerangan kami semua dikumpulkan?" tanya mahapatih Medang


"Para penasihat, Pandita, sesepuh, dan juga pejabat Medang. Saat ini putri ku telah ditemukan. Kini saatnya kita akan menyelenggarakan pesta pernikahan. Putriku Pramoddhawarddhani dan putraku Rakai Pikatan. Kalian harus segera menikah minggu depan." kata ayah


Seperti petir disiang bolong. Aku kaget, pasalnya satria yang ada di depan mataku bukanlah Satria yang ku cintai. Tapi dia adalah Adhiraksa.


"Tapi ayah raja, dia ... " kataku tiba-tiba dipotong oleh Adhiraksa


"Sesuai titah ayah raja, kami akan menikah minggu depan. Lagi pula, kami sudah lama tinggal bersama. Kita harus menjaga norma dan susila di kerajaan. Kita sebagai calon ratu dan raja tentu harus menjadi panutan. Bukan begitu, Putri?" tanya Adhiraksa


"Benar nanda Satria, kalian sudah mengenal satu sama lain. Segenap pembesar kerajaan, segera kirimkan surat ke Pikatan. Kita akan mengundang Kangmas Rakai Patapan Pu Palar juga ke negara sahabat kita." kata ayahku


"Tapi ayah" kataku


"Perkataan ayah adalah sabda Pandita ratu. Jadi nanda harus segera menikah. Ini semua demi kebaikanmu, nak." kata ibuku


Aku langsung lari dan keluar dari balai utama. Entah apa pandangan orang tentang aku. Adhiraksa pun nampak ikut keluar dan mengejarku.


"Putri berhenti ... berhenti putri." teriaknya


Tapi aku tidak menghiraukannya. Dia kemudian memerintahkan prajurit untuk menghadangku.


"Prajurit mingggiiir!!" bentakku


"Maaf putri" kata mereka tak bergeming sedikitpun


Hingga akhirnya, Adhiraksa dapat menangkap lenganku.


"Putri kenapa kau menolak denganku?" tanya nya


"Kau tau jawabannya" kataku


"Putri, aku tahu kamu siapa." katanya


Aku kemudian melihat ke arah nya. Tapi aku mencoba bersikap setenang mungkin.


"Maksudmu apa?" tanyaku


"Kau bukan putri mahkota yang sesungguhnya." kata Adhiraksa


Aku kaget dengan perkataan Adhiraksa. Aku juga binggung, karena dia tahu tentang aku.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa maksudmu, Adhir." kataku


"Kau berasal dari masa depan, kan? kini putri mahkota yang sesungguhnya telah kembali dari tapanya. Jadi aku minta jangan ganggu hubungan putri mahkota dan pangeran Pikatan." kata Adhiraksa.


Seperti di tusuk ribuan jarum. Hatiku merasa sakit dengan semua ini. Tapi bagaimana mungkin dia tahu semua ini. Aku sangat penasaran, sebenarnya Adhiraksa ini orangnya seperti apa.


"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, Adhiraksa."


Setelah itu aku langsung berlari menuju bilik kamarku. Aku menangis sejadi - jadinya. Aku tak tahu aku harus gimana lagi.


**


Satria dan Senopati Dandaka berlatih untuk mengasah kesaktian uang dia miliki. Mereka berlatih di sebuah bukit yang tidak jauh dari Dandaka. Saling serang dan tinju sama lain. Selama berhari - hari mereka bertarung. Tenaga senopati Dandaka seperti tidak habis - habisnya. Tapi Satria adalah seorang manusia. Dia butuh istirahat.


"Senopati kau sangat hebat." puji Satria


"Kau pun pangeran. Tapi sebenarnya saya, tetap saja saya bisa dikalahkan oleh putri mahkota." kata Senopati


"Ya, aku tidak menyangka jika dia adalah murid Dewi Sakti." kata Satria


Tak berapa lama mereka istirahat dan makan. Mereka mendengar suara teriakan orang minta tolong. Suara seorang wanita. Mereka berdua lalu bangkit dan mencari sumber suara.


"Ayo senopati." kata Satria


Dengan setia, senopati mendampingi satria mencari suara orang itu. Tak berapa lama mereka menemukan seorang wanita yang tengah diserang oleh segerombolan denawa.


"Hentikan!!" teriak Satria


"Berani kau menganggu kesenangan kami." gertak denawa


Sebelum Satria menyerang. Terlebih dahulu senopati telah menangkis serangan dari denawa itu.


"Pangeran, selamat wanita itu. Ini urusanku." kata senopati


Satria kemudian mendekati wanita itu. Dia nampak ketakutan. Baju nya banyak yang sudah robek. Wanita itu mundur perlahan - lahan.


"Jangan takut, saya orang baik." kata Satria


Wanita itu terperangah dengan ketampanan Satria. Bahkan dia sampai tak berkedip. Akhirnya wanita itu mau ditolong oleh Satria.


Denawa juga sudah dikalahkan oleh Senopati.


"Terimakasih pangeran." kata wanita itu


"Sama - sama, kita harus hidup saling tolong menolong." kata Satria


Wanita itu langsung bergelayut manja dilengan Satria. Melihat hal demikian, senopati seperti tidak suka. Bagaimana pun juga, senopati telah berjanji akan menjaga Satria untukku.


"Pangeran siapa namamu? Nama saya adalah Rakyan Wwatan Pu Tamer." katanya


"Pangeran Satria, ayo segera kembali ke Dandaka." kata Senopati


"Pangeraaann." kata Pu Tamer dengan manja.


"Saya akan mengirimkan prajurit untuk mengantar anda kembali ke kerajaan anda." kata Senopati


Pu Tamer dengan rasa dongkol akhirnya menyerah. dalam hatinya "pangeran Satria, aku harus mendapatkanmu."


***


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe


next :


Apa yang akan dilakukan putri Nararia?


Siapakah Rakyan Wwatan Pu Tamer ini?


Temukan jawabannya di episode selanjutnya ya.

__ADS_1


With Love


Citralekha


__ADS_2