
*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Rate bintang 5 juga boleh hlo ...
Happy Reading.
.
Kami puas dengan memandangi relief lampu pada abad ke 8. Ternyata leluhur kita dahulu teknologinya sudah mumpuni. Luar biasa sekali dan hebat banget.
"Eh aku mau masuk lagi dan tiduran di halaman 1" kataku.
"Iyaaaaa " teriak mereka bertiga kompak.
"Kalian masih betah di situ?" tanyaku.
Mereka terus menjelajahi masing - masing candi perwara. Mereka berharap menemukan sesuatu yang baru.
"Kamu istirahat saja. Kami mau berpetualang, main labirin raksasa." kata Ivan.
Aku kemudian berlalu begitu saja nggak memperdulikan mereka. Aku melangkahkan kakiku ke halaman Candi Sewu. Aku merasa nyaman dan damai banget. Angin sepoi membuat ak betah di sini. Terlebih Candi Sewu sepi pengunjung, berbada dengan Candi Prambanan yang ramai banget.
Aku kemudian merebahkan diriku. Aku rasakan hangatnya batuan candi. Aku kemudian memejamkan mata dan menyebut nama Satria.
"Satria."
Aku kemudian membuka mata dan kulihat dia sudah ikut berbaring di sampingku.
"Eh ngapain kamu di sini?" tanyaku.
"Kamu kan yang manggil aku." katanya disertai senyum manisnya.
"Oh iya ... berapa umurmu?" tanyaku.
"1.000 an tahun lebih." katanya
Aku kemudian tertawa terbahak - bahak. Satria sudah bercanda denganku.
"Kamu bercanda ya? mana ada seperti itu." kataku
"Kenapa kamu tertawa?" tanyanya sebal.
"Mana ada usia 1.000 an tahun lebih. Kamu pasti udah meninggal atau jangan - jangan kamu hantu ya?" kataku sambil cekikikan.
Dia melihatku dengan mata - mata gemas. Aku tidak percaya dengan ucapannya itu.
__ADS_1
"Emang usiamu berapa?" tanyanya
"14 tahun, kamu berapa?" tanyaku lagi
"17 th." jawabnya.
Aku kemudian tersenyum padanya. Akhirnya dia ngaku dan nggak bohong lagi.
"Berarti aku manggil kamu kak ya." kataku sambil tersenyum
"Oke" katanya singkat.
"Kak Satria ... Aku boleh ngomong sesuatu nggak?" kataku serius sambil melihatnya.
"Apa?" jawabnya
Aku kemudian mengkonfirmasi tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Serta menanyakan kenapa dia bisa menghentikan putaran waktu. Dia kemudian menjelaskan kalau itu semua ia lakukan secara tidak sengaja.
"Kak Satria, Aku minta maaf ya." kataku
"Apa? Kakak nggak dengar." katanya
"Aku minta maaf atas kesalahanku tadi." kataku
"Aku mau maafin kamu tapi dengan syarat." katanya sambil tersenyum.
"Kok pake syarat. Emang apaan syaratnya?" tanyaku.
"Kamu harus mau jadi pacarku." katanya
Aku kaget banget karna dia mengucapkan kalimat itu. Aku kan masih kecil belum berpikiran seperti itu. Lagian ini bukan saatnya pacaran. Aku harus fokus pada sekolahku.
"Apaan sih kak, kita kan masih kecil. Udah jangan mikir aneh - aneh. Gimana kalau kamu jadi kakakku saja." kataku
"Yaudah untuk saat ini aku akan menjadi kakakmu. Tapi jika saatnya tiba nanti, kamu harus menjadi kekasihku." katanya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku juga bahagia karena aku memiliki seorang kakak yang ganteng.
"Oh iya, Kak Satria tinggal dimana?" tanyaku
"Di sini, inilah istanaku. Tempat tinggalku." katanya
Aku kembali tertawa dan menyentuh dahinya.
"Kak ini candi, dimana kakak tinggalnya?" tanyaku lagi.
__ADS_1
Dia kemudian berdiri dan mengajakku menuju Candi Prambanan. Aku kemudian mencari keberadaan Dika, Fais, dan Ivan. Aku berniat untuk memperkenalkan Kak Satria dan pamitan kalau aku ingin ke Prambanan.
"Tunggu kak, Aku mau pamitan dulu sama Dika. Aku takut nanti mereka mencari aku." kataku. Aku sambil celinggukan mencari mereka.
"Mereka lagi sibuk bermain. Mereka nggak akan mencarimu selama kamu dengan aku." katanya.
"Ngak mau, pokoknya aku mau pamitan dulu." Aku kemudian berlari dan mencari mereka diantara ratusan reruntuhan candi perwara sambil memanggil mereka.
Aku berkeliling di sisi depan, kanan dan kiri. Aku ternyata tidak bisa menemukan mereka bertiga. Bahkan tidak ada lalu lalang 1 / 2 wisatawan pun. Satria tiba - tiba menyentuh bahuku.
"Nararia mereka masih sibuk bermain. Tenang saja aku nggak akan nyulik kamu kok." katanya sambil tersenyum.
Aku akhirnya nurut sama dia. Kami berdua jalan kaki ke arah selatan dan tiba - tiba ada kereta kencana yang mendekat ke arah kami. Sais kereta itu turun dan menghaturkan sembah kepada Kak Satria.
"Ampuni hamba paduka Rakai dan Rakyan. Silahkan paduka naik dan hamba akan mengantar paduka ke istana." kata sais kereta itu.
Aku kemudian berpikir dalam hati kalau Satria adalah Rakai. Aku kemudian naik kereta kencana.
"Kak, benar kan kakak itu adalah Rakai, pangeran dari abad ke - 9?" tanyaku.
"Nararia, aku bukan Rakai. Aku ini Satria, kakakmu." katanya sambil tersenyum.
Dalam hati aku masih tidak percaya kalau dia itu pasti Rakai.
"Jangan bohong, kak." kataku sambil memegang erat lengannya.
"Kamu masih sama seperti dahulu. Sifat kesatrimu tidak berubah." katanya.
Aku kemudian bertanya apa maksudnya itu semua. Tapi tiba - tiba aku dibuat kagum oleh pemandangan yang indah. Kanan kiriku adalah kolam teratai yang sedang bermekaran indah nan warna warni.
"Pemandangan ini, aku pernah lihat." kataku
"Dimana?" tanyanya
"Ini di abad 9, kak. Aku ingat ini adalah pemandangan Parahyangan Brahman." kataku sambil terus mengingag tempat yang pernah ku datangi.
Satria kemudian tersenyum. Dia mendekatkan dirinya ke aku. Aku kemudian tersenyum dan memejamkan mata. Aku berpikir jika ia akan menciumku. Tapi tiba - tiba dia mencubit pipiku.
"Jangan tutup mata, lihatlah dirimu." katanya.
Aku kaget dan ini sangat luar biasa. Bagaimana mungkin.
*
Episode kali ini cukup ya teman - teman. Terimakasih atas waktunya.
__ADS_1
with love
Citralekha.