
*Sebelum membaca jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Happy reading ya
.
.
Aku dan Pasopati menonton pertunjukan mabanyol. Mereka menggunakan topeng serta bertingkah yang lucu. Semua penonton tertawa. Ada seorang yang kemudian membawa tampah dan berjalan keliling. Ia bermaksud meminta sedekah dari uang.
"Pasopati, Aku mau memberikan beberapa uang mas ma 4 keping apa boleh?" tanyaku.
"Itu terlalu banyak untuk mereka Rakyan. Sebaiknya kasih ini saja." katanya sambil memberikanku segenggam uang perak.
"Kenapa nggak boleh memberikan uang mas ma?" tanyaku lagi.
Ia menjelaskan, jika aku memberikan banyak keping emas akan mengundang penjahat. Tapi aku tidak menghiraukan pesan Pasopati. Aku merasa bahwa pertunjukannya lucu dan bagus. Jadi mereka patut untuk diapresiasi.
"Jangan Rakyan di sini banyak berandal yang akan memperhatikan kita." katanya.
Aku bergidik ngeri jika berandalan nanti mencegat kami. Aku nggak mau Pasopati terluka karena kebodohanku. Tapi hatiku luluh tatkala, ada seorang yang membawa tampah menghampiriku.
"Uang yu nya putri." katanya kepadaku.
Aku kemudian memberikan 3 buah keping perak dan sebuah uang mas ma. Orang itu langsung melihatku dan mengucapkan terimakasih.
"Pasopati ayo kita ke Manjusri Grha." ajakku.
Tak berapa lama kami segera mundur dari pertunjukan itu. Pasopati dengan setia mengikutiku dari belakang. Perjalanan kami menuju kereta tidaklah jauh. Tapi tatkala aku mau naik kereta. Tiba - tiba ada segerombolan orang yang mengepung kami. Aku kemudian mundur.
"Berhentiiiiii !!!!" teriak segerombolan orang.
Pasopati kemudian berdiri di depanku. Ia berusaha melindungiku. Ada rasa takut dan khawatir, karena jumlah perampok itu terlalu banyak. Aku jadi bersalah karena telah membuat susah Pasopati.
"Enyahlah kalian dari hadapanku!!" bentak Pasopati.
"Hahahahha ... serahkan bundelan itu." kata mereka sembari menunjuk pada buntelan kain yang ku bawa.
Aku kemudian menyadari bahwa tindakanku memberikan uang emas berakibat buruk. Aku menyesal tidak mendengarkan nasihat Pasopati. Aku menangis dan berdiri mematung di belakang Pasopati sambil menangis.
"Pasopati maafkan Aku. Tidak seharusnya aku bertindak bodoh seperti tadi." kataku.
"Sudahlah Rakyan tidak perlu disesalkan. Sudah terjadi lain kali nurutlah padaku." katanya.
Terjadilah pertempuran antara berandalan dengan Pasopati. Menurutku ini pertempuran tidak seimbang. Berandal jumlahnya 20 orang, sedangkan Pasopati sendirian. Ia tidak konsen karena terus melindungiku.
"Berikan padaku !!" teriak salah satu bergundal.
Ia kemudian menarik tanganku dari samping. Sementara Pasopati disibukan dengan serangan kepungan dari berandal. Ia lalai menjagaku, sehingga Aku bisa disandera.
"Lepaskan Aku, apa kau tidak tahu siapa aku?" gertakku.
"Wah galak sekali kamu cah ayu. Ayo ikut kangmas bersenang - senang." katanya.
Aku terus memberontak. Akan tetapi tenagaku tidak sanggup mengalahkannya. Aku menanggis, Pasopati kemudian melihat ke arahku. Tapi dia terkena panah dari salah satu berandalan yang bersembunyi di balik pohon.
__ADS_1
"Pasopatiiiiii !!!" teriakku sambil menangis.
"Ikat dia." perintah kepala rombongan.
Mereka kemudian mengikat Pasopati dengan darah bercucuran. Aku terus memberontak dan berusaha melepaskan diri dari tangan perampok. Tapi mereka semakin kuat dalam mencengkeram aku.
"Aku akan berikan emas ini, tapi lepaskan kami." kataku sambil menanggis.
"Tapi aku sekarang tidak tertarik dengan uangmu. Ikutlah denganku. Kamu akan Aku jual ke orang kaya nakal." katanya. Aku sangat takut mendengarnya.
'Satria kamu dimana, tega sekali kamu membiarkan Aku seperti ini.' batinku.
Cahaya putih kemudian muncul dihadapanku. Potret seorang lelaki paruh baya berpakaian serba putih. Aku lihat dan ternyata orang itu adalah pandita yang pernah bertemu ketika kau masuk ke abad - 9.
"Pendeta tolong Pasopati." kataku
"Jangan ikut campur kau pendeta. Aku tidak tega kalau harus membunuh seorang pandita." teriak berandalan.
Pandita itu langsung menjentikan jari. Ajaib dari jarinya keluar beberapa anak panah yang langsung menghujam jantung para berandalan. Melihat temannya mati. Mereka menyerang pandita beramai - ramai. Mereka menusukan pedang dan tombak. Tapi tak ada satupun yang dapat menyentuh kulitnya.
"Kau siapa pendita, kenapa senjataku tidak mempan membunuhmu?" tanya salah satu berandal
"Aku bukan siapa - siapa. Aku hanya kebetulan lewat sini dan melihat ketidakadilan. Sehingga aku harus ikut campur." katanya
Berandal itu makin garang, saling tusuk tapi semua sia - sia. Pendeta itu kemudian mencakupkan tangan. Ia membuat semua berandalan muntah darah.
"Ampun pendeta. Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini." kata salah satu brandal.
"Pergilah dan jadilah orang baik yang selalu menolong orang lemah." pesan pendeta itu.
Mereka kemudian lari meninggalkan Aku dan Pasopati. Aku kemudian berlari menghampirinya. Aku menaruh kepala Pasopati dipangkuanku.
Tanganku pun penuh dengan darahnya. Darah terus menetes. Aku kemudian melirik kepada pendeta. Ia kemudian mendekati kami. Tangannya kemudian mengusap tubuh Pasopati yang luka. Ajaib dalam waktu sekejap lukanya sembuh. Tanganku juga bersih dari darah.
"Terimakasih pendeta, kau kan pendeta yang berdialog denganku saat di Parahyangan Brahman." kataku
Ia hanya tersenyum dan hendak meninggalkan kami. Tapi aku kemudian berlari dan mencegatnya.
"Pendita tunggu, kenapa kau menghindariku?" tanyaku
"Tidak Rakyan ... Aku tidak kemana - mana. Hanya ingin duduk saja." katanya sambil berjalan ke bawah pohon Mahoni.
"Apa yang ingin kau tanyakan". katanya.
"Pendeta siapa namamu?" tanyaku
"Aku Bhagawan Narada." katanya.
Aku kemudian menghaturkan sembah kepadanya. Aku tahu kalau Bhagawan Narada adalah orang suci utusan dewa. Aku sempat heran, kenapa pendeta suci Narada menemuiku.
"Rsi Narada, kenapa Parahyangan Brahman menghilang?" tanyaku
"Iya memang belum dibuat." jawabnya.
"Kenapa belum?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Karena Kamu dan Rakai belum menikah. Jadi 2 parahyangan yang kamu cari tidak ada." jawabnya.
Aku semakin bingung dengan ucapannya. Bagaimana mungkin itu tidak ada. Sementara sebelum ke sini aku bahkan ke Prambanan.
"Rsi apakah kamu tahu caranya agar aku bisa kembali ke duniaku." tanyaku.
"Kamu akan bisa kembali dengan melalui pintu." katanya
"Pintu? dimana pintunya?" tanyaku dengan semangat.
Aku seneng sekali mendengar aku masih memiliki kesempatan untuk kembali.
"Pintu menuju duniamu ada di wastupurusamandala Parahyangan Brahman." jawabnya.
"Tapi kata Rsi, tempat itu belum dibuat. Bagaimana bisa aku kembali?" tanyaku bingung
"Kamu yang harus membuat bangunan itu ada, jika kau ingin kembali." katanya
"Mana mungkin Rsi. Aku tidak akan sanggup membangun candi itu." kataku
"Maka menikahlah dengan Rakai dan minta dia membuat sebuah kompleks percandian untuk Tri Murti." katanya
Aku kemudian berpikir, apa cerita roro jonggrang itu benar terjadi.
"Bukan Rakyan ... tapi dengan Rakai menikah denganmu. Kekuasaan dia akan semakin luas. Ia akan menjadi maharajadiraja. Ia pasti akan membangun parahyangan itu sebagai bentuk kekuasaan dan eksistensinya." kata pendeta.
Nampaknya Rsi Narada bisa membaca pikiranku.
"Jadi kalau Aku tidak menikah dengan Satria, Aku nggak akan kembali" tanyaku.
"Iya" jawabnya singkat
"Butuh berapa lama Aku di sini Rsi?" tanyaku.
"Sekitar 50th" katanya.
Aku kemudian terbelalak. Bagaimana mungkin Aku bisa tinggal selama itu.
"Itu tidak mungkin Rsi aku di sini begitu lama. Bagaimana dengan keluargaku?" tanyaku.
"Rakyan waktu duniamu 1 jam sama dengan 25 tahun di sini. Jadi kamu hanya akan menghilang selama 2 jam." kata pendeta itu.
"Ampun Rakyan dan Rsi ... saat ini paduka Rakai sedang bersama Gendis Wangi. Ini sangat buruk Rakyan." kata Pasopati.
"Pasopati ... ayo kembali dan temukan Satria. Aku nggak akan membiarkannya menikah dengan Gendis Wangi." kataku.
Kami kemudian pamitan kepada Rsi Narada untuk mencari Satria.
"Temukan dia Rakyan, jika kamu tidak menikah dengannya sebagai permaisuri. Kamu tidak akan pernah kembali ke duniamu lagi." pesan Rsi.
"Itu artinya Rakyan harus menjadi garwa prameswari." kata Pasopati.
**
Spesial long episode ya. Terimakasih telah berkenan membaca cerita ini.
__ADS_1
With love
Citralekha