
***Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate bintang 5 ya*
Koin juga terimakasih banyak.
Happy reading**
.
.
Senjata panah pancaroba yang dasyat membuat Satria jelmaan Satria musnah. Kencana kemudian menghampiriku.
"Putri, ayo kembali ke Istana Medang." katanya
Tapi aku masih penasaran kenapa Kencana bisa kalah dengan denawa itu. Padahal Kencana adalah pangeran penjaga teratai emas.
"Kencana, tunggu. Kenapa kamu bisa kalah oleh Satria jelmaan denawa?" tanyaku
Kencana kemudian tersenyum dan menjelaskan padaku. Meskipun dia sakti tapi bulan kodratnya untuk membunuh denawa itu. Takdir denawa itu ada di tanganku, yaitu musnah dengan panah pancaroba.
"Ayo segera kembali, kita harus segera membebaskan Satria dari wujudnya macan putih." kata Kencana
Kencana kemudian memegang tubuhku dan segera menghilangkan diriku. Tak berapa lama, kami sudah sampai di kandang istana. Betapa kagetnya aku tatkala mengetahui jika macan Satria tidak ada di kandang. Prajurit juga tidak ada di kandang.
Aku kemudian melihat Pasopati lari terengah - engah menuju ke arahku. Sontak aku kaget melihat kelakuan Pasopati
"Ada apa, So?" tanyaku
"Balaputra macan" katanya
Aku bingung dengan kelakuan Pasopati yang menyebutnya dengan tidak jelas.
"Kenapa, apa yang terjadi, apa maksudnya Balaputra macan?" tanyaku sambil mengguncangkan bahu Pasopati
Dia kemudian meminta Pasopati untuk mengatur nafas agar bisa terkendali dan dapat dengan jelas mengatakan sesuatu. Dia kemudian mengatur nafas dan menguasai dirinya.
"Balaputra meminta prajurit untuk merajah dan membunuh macan putih." katanya
Aku bingung dan kaget dengan perkataan Pasopati.
"Apa yang terjadi, So?" tanyaku
Pasopati segera menjelaskan, bahwa macan putih telah dituduh oleh Balaputra telah membunuh Satria. Aku segera menjelaskan pada Pasopati. Kalau macan putih itu adalah Satria yang asli. Sedangkan yang menghilang adalah Satria palsu.
"Dimana?" tanyaku
"Di lapangan kedaton." katanya
Aku segera mengajak Pasopati untuk menuju Kedaton. Tapi Kencana berbisik padaku untuk menggandeng tangan Pasopati. Dia akan membantu menghilangkan kami berdua. Aku kemudian memegang tangan Pasopati. Sontak dia kaget dan memandangku.
"Jangan salah paham, ini ku lakukan agar kita segera sampai ke Kedaton." kataku
Tak butuh berapa lama, kami sampai di Kedaton. Aku tak sanggup melihat macan Satria di lempar dengan batu. Aku kemudian berlari dan melindungi macan Satria.
"Hentiiiikaaan." kataku
Masyarakat kemudian berhenti melempari batu. Aku segera memeluk macan Satria yang terluka. Dia penuh darah.
__ADS_1
"Kak Satria maafkan aku. Aku tidak mengenalimu sejak pertama." kataku sambil terisak.
Macan Satria segera memeluk dan mengusap kepalaku. Kaki depannya seolah mengusap air mataku.
"Aku sudah datang. Aku akan melindungimu." kataku
Balaputra segera maju ke arahku dan memarahiku.
"Kakaaak apa yang kau lakukan?" tanya Balaputra
"Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu ingin membunuh macan putih ini?" tanyaku
Dia kemudian menjelaskan, jika macan putih itu telah menerkam dan memangsa pangeran Pikatan. Sehingga macan itu harus di bunuh atas perbuatannya. Masyarakat lalu bersorak untuk segera membunuh macan putih itu.
"Putri, kenapa kau melindungi macan sialan itu? Dia sudah membunuh pangeran Pikatan, calon suamimu." kata seorang senopati.
"Tidak, macan putih ini adalah pangeran Satria. Sedangkan Satria yang selama ini ada bersama kita adalah palsu. Dia seorang denawa yang malih rupa berwujud Satria." kataku
Tapi Balaputra tetep bersikekeh dan mempengaruhi masyarakat untuk tetap membunuh macan putih. Melihat hal itu, tiba - tiba ayahku datang dan marah - marah.
"Balaputra ... apa yang kau lakukan pada kakakmu?" tanya ayahku
"Ampun ayah maharaja, tapi macan putih itu telah menerkam dan memakan habis pangeran Pikatan." kata Balaputra
Aku kemudian memotong pembicaraan antara Balaputra dan ayahku. Tapi salah seorang bertanya kepadaku.
"Putri, apakah kau memiliki bukti bahwa macan putih ini adalah pangeran Satria yang asli. Seperti apa yang putri katakan tadi." kata seorang warok
Aku berpikir bahwa warok itu adalah komplotan Balaputra. Pasopati pun sudah berdiri di depanku sambil melindungiku dari lemparan batu.
"Putri bagaimana ini?" tanya Pasopati
Melihat hal itu, Warok segera mempengaruhi masyarakat untuk melempari kami batu. Tiba - tiba sebuah batu mengenai kepalaku dan darah segar mengalir ke pelipisku.
"Putri kau terluka." kata Pasopati
"Jangan hiraukan aku, So yang penting Satria aman." kataku
Tiba - tiba macan Satria mengaum dan mengamuk. Dia berusaha menakut - nakuti masyarakat dan mencakar warok provokator tadi. Melihat hal itu, Balaputra kemudian memerintahkan prajurit panah untuk memanah macan putih itu.
"Segera panah macan sialan itu." teriak Balaputra
Prajurit panah bersiap untuk memanah macan Satria. Aku sudah berusaha untuk menahannya tapi masyarakat tidak menghiraukan aku lagi.
Aku kemudian berkomunikasi pada Kencana dan Puspa. Aku berharap mereka akan membantu kami. Tapi sebelum mereka mengatakannya. Rsi Narada muncul ditengah - tengah kami.
"Narayan ... Narayan ... Narayan ..." kata Rsi Narada.
Aku dan Pasopati langsung menyembah Rsi Narada. Sedangkan yang lainnya masih diam mematung.
"Siapa namamu rsi?" tanya Balaputra
"Aku adalah Rsi Narada." katanya
Begitu mengetahui siapa rsi itu. Semua masyarakat segera menyembah pada rsi suci itu. Rsi Narada kemudian menghampiri aku dan Pasopati. Tangan beliau kemudian mengeluarkan sinar dan segera menyembuhkan luka kami.
"Terimakasih rsi." kata ku dan Pasopati
__ADS_1
Rsi Narada kemudian menjelaskan bahwa apa yang aku katakan tadi benar adanya. Bahkan beliau juga mengatakan ada seseorang yang telah merencanakan semua ini. Aku dan Pasopati tahu bahwa dalang ini adalah Balaputra. Tapi rsi melarang kami.
"Rsi jika benar macan putih ini adalah pangeran Satria yang asli. Buktikan pada kami." kata Balaputra
Rsi Narada kemudian mendekati macan putih itu. Dia berkata padaku, hanya aku lah yang bisa mengembalikan wujud Satria.
"Putri, dia akan bisa berubah menjadi wujudnya tapi harus kau yang melakukan." kata Rsi
"Bagaimana caranya rsi?" tanyaku
"Pakai teratai emas dan berikan kasih sayang mu pada nya." kata Rsi
Aku masih bingung dengan maksud sang rsi. Sempat aku menoleh Pasopati dan rsi. Rsi hanya tersenyum dan berkata padaku hanya kasih sayang yang tulus serta bantuan dari teratai emas, dia akan kembali.
Aku kemudian paham dan segera memanggil teratai emas. Tapi teratai emas tidak keluar dari badanku. Hanya tanganku yang bersinar.
"Putri, usapkan tanganku pada kepala macan Satria. Teratai tidak akan menampakan dirinya jika dilihat oleh banyak orang. Tapi cahaya yang ada di tangan mu itu adalah kekuatan dari teratai emas." kata sang rsi.
Aku kemudian mengucapkan mantra dan berharap Satria kembali ke wujud semula. Aku segera menyentuh kepala macan putih dan tak berapa lama. Macan itu berubah menjadi bentuk Satria yang sebenarnya.
Aku bahagia tat kala melihatnya kembali ke wujud manusia. Aku langsung memeluknya. Berkali - kali dia mengucapkan permintaan maaf.
"Pangeran" kata Pasopati
Pasopati membuat kami harus segera melepas pelukan itu. Tak lama kemudian, gelang dari Dewa Indra menyala dan langsung ada di tangan kita.
"Gelang ini." kata Satria
"Jangan pernah melepaskannya pangeran. Apapun yang terjadi jangan pernah melepasnya." kataku
Masyarakat kemudian mendapatkan penjelasan yang panjang lebar tentang Satria. Masyarakat kemudian menyembah dan menghaturkan permintaan maaf terhadap kami.
"Kakak maafkan aku yang tidak mengenalimu." kata Balaputra
Aku dan Pasopati hanya tersenyum sinis. Tapi tetap harus bersifat manis di hadapan semua orang. Setelah semuanya berakhir. Sang rsi kembali ke Swargaloka.
Aku sangat bahagia melihat Satriaku kembali padaku.
"Jangan pergi dariku lagi." kataku
"Maafkan aku, sayang. Aku telah membuatmu khawatir." katanya
Pasopati kemudian menyela kami.
"Satria, kenapa semua bisa terjadi? bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?" tanya Pasopati
Satria kemudian mengajak kami duduk dan dia akan menjelaskan tentang kejadian tempo hari.
"Jelaskan pada kami, kak. Apa yang terjadi kenapa bisa sampai kakak diubah menjadi macan putih?" tanyaku
"Sabar sayang, satu per satu nanya nya. Aku tahu kalian sangat penasaran." katanya terus membuat kami semakin penasaran.
Tapi sebelum itu, dia meminta pada dayang untuk menyiapkan makanan. Katanya dia sangat lapar.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya.
__ADS_1
With love
Citralekha