Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Candi Tegal Linggah


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


"Lalu dimana kita akan menginap?" tanya Wira


"Aku tahu dimana." kataku


Kami pun lalu segera bergegas untuk pamit. Setelah mengucapkan terimaaksih. Kami langsung menuju motor dan berangkat ke Pura dengan mata air yang paling jernih itu.


"Lokasinya dimana?" tanyaku


"Dusun Tegallinggah, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar." kata Andi


"Gianyar? berarti masih di sekitaran sini ya?" tanyaku


"Betul kak." sahut Jofel


Kami pun lalu melajukan motor kami menuju lokasi tersebut. Aku pun kemudian memanggil Kencana dan Adhiraksa. Tak lama kemudian, mereka muncul di sampingku. Tentu saja sembari terbang.


"Ada apa putri?" tanya Kencana


"Bagaimana perkembangan antara Prasta dan Satria?" tanyaku


"Mereka berdua semakin dekat putri. Jika tidak segera dihentikan akan sangat berbahaya." kata Kencana


"Berbahaya bagaimana?" tanyaku


"Jika ke 2 pangeran itu sampai melakukan hubungan badan. Sehingga menyebabkan kehamilan bagi wanita yang diliputi aura negatif. Maka hasilnya akan negatif putri." kata Adhiraksa


Ada rasa sakit ketika mendengar penuturan mereka berdua. Aku jelas tidak akan membiarkan Prasta dan Satria melakukan hubungan terlarang itu.


"Lalu dimana mereka sekarang?" tanyaku


"Ke 2 lelaki itu sedang mengerjakan proyek nya. Sedangkan Aura mengajak Tamara mencari sebuah vila." kata Adhiraksa


"Villa?" tanyaku


"Betul, Aura dibantu dengan balian jahat akan mengadakan ritual senggama." terang Kencana


Aku semakin was - was, aku takut jika mereka melakukan ini malam ini. Sementara mata air nya belum semua terkumpul. Baru setengah yang terkumpul.


"Kalian harus membuat mereka malam ini tidak ketemu." kataku


"Baik putri, akan kami lakukan yang terbaik." sahut mereka berdua.


Keduanya lalu menghilang lagi. Tak lama kemudian kami sampai. Ya lokasi yang dimaksud oleh yuniorku sangat seram. Suasana sakral nya sangat kental. Aku masih mendengar suara binatang. Serta suasananya sangat menenangkan.


"Tempat apa ini?" tanyaku


"Candi Tebing Tegallinggah. Candi ini terpahat pada tebing batuan volkanik hasil erupsi Gunung Batur. Wilayah candi ini masuk dalam bagian dari Daerah Aliran Sungai Pakerisan yang terkenal dengan padatnya tinggalan arkeologi." kata Wira


"Apakah ada mata air nya?" tanyaku, karena aku belum melihat candi dan juga mata air nya.

__ADS_1


Mereka pun lalu memintaku untuk masuk ke dalam. Seperti pada pura kebanyakan lainnya. Kami disambut oleh pengempon atau penjaga pura ini.


"Swastyastu Jero Mangku, mohon izin untuk sembahyang dan nunas tirta." kata Wira


"Baiklah silahkan, tapi kalian harus menggunakan kamen dan senteng dulu ya" kata Jero Mangku


Kami pun lalu mengenakan kamen dan senteng. Ya setiap hendak mau masuk ke Pura. Kita diwajibkan untuk menggunakan kain. Selanjutnya kami lalu masuk ke dalam candi tebing. Namanya candi tebing adalah candi yang di pahat dua dimensi pada tebing cadas.


"Candi Tebing ini merupakan tinggalan yang terletak paling selatan dari beberapa tinggalan di sepanjang Tukad (Sungai) Pakerisan. Dimulai dari Pura Pegulingan, Pura Tirta Empul, Pura Mangening, Pura Gunung Kawi, Candi Tebing Krobokan, Pura Pengukur-Ukuran, Pura Subak Bubugan, dan Candi Tebing Tegallinggah." kata Wira


"Ada tinggalan apa saja di kompleks candi ini?" tanyaku


" 2 (dua) buah Candi Tebing dengan tiga buah menara, 1 (satu) buah Gapura, dan 1 (satu) buah Ceruk.  Seluruh struktur yang telah terinventarisasi ini berada pada sisi barat dari aliran Tukad Pakerisan. Pada sisi timur pada saat pengambilan data lapangan dilakukan terdapat satu buah ceruk dengan tiga ruang. Ceruk pada sisi timur ini belum dilakukan pendataan secara detail seperti struktur yang ada di bagian barat." kata Andi


Aku melihat sekeliling kompleks ini. Aura mistis sangat kental. Aku melihat para bidadari sedang bermain. Banyak kaum kinari (manusia burung) berlari - lari. Aku pun hanya tersenyum. Demikian juga dengan Andi.


"Kakak tahu nggak sejarah penemuan lokasi ini?" tanya Andi


"Enggak, emang gimana sejarah nya?" tanyaku


"Kompleks pertapaan ini ditemukan oleh Mr. Krijgsman pada tahun 1952. Saat itu dia masih menjabat sebagai Kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Bali. Sebelum seluruh komplek pertapaan itu ditemukan. Mr. Krijgsman untuk pertama kalinya mengadakan penelitian terhadap ceruk-ceruk pertapaan di sekitar situs tersebut. Dalam penelitian itu kemudian ditemukan lagi sekelompok pertapaan dengan bangunan sucinya yang berupa dua buah candi." kata Wira


"Trus apa lagi?" tanyaku


"Ketika ditemukan oleh Mr. Krijgsman seluruh bangunan itu masih tertimbun dengan tanah. Kelompok pertapaan yang diketemukan itu sebagian besar pekerjaanya belum selesai, dan yang nampak baru dikerjakan adalah bentuk atapnya saja. Sedangkan yang nampak kelihatannya sudah selesai adalah pintu gerbang dari pada kelompok pertapaan tersebut, dan diatas ambang pintunya dihiasi dengan pahatan kala." sahut Jofel


Kami pun kemudian menjelajahi satu per satu bangunan kuno itu. Hingga aku tergelitik pada seorang yang berpakaian putri. Aku yakin itu bukan manusia. Karena dilihat dari pakaiannya seperti seorang putri dari kerajaan.


"Selamat datang eyang buyut." katanya padaku


"Eyang buyut?" tanyaku


"Betul eyang, kami adalah keturunanmu. Kami menghaturkan sembah sujud nini haji. Gunakanlah air ini nantinya untuk kesembuhan kakek Rakai, nini." katanya


"Kak Nara nggak papa kan?" tanya Andi


"Andi kamu lihat seorang putri kah?" tanyaku


Andi pun menggelengkan kepala. Aku semakin yakin, bahwa putri tadi mungkin orang yang sudah membangun tempat ini. Tapi kenapa dia memanggilku eyang buyut. Apakah wangsa yang berkembang di Bali. Ada hubungannya denganku di masa lalu.


"Apakah kalian tahu siapa yang membangun tempat ini?" tanyaku


"candi ini merupakan bangunan peninggalan dari abad ke 12 Masehi. Penemuan candi ini pun berlangsung secara unik. Apalagi, bangunan candi ini secara langsung dipahat pada dinding tebing."


"Bangunan ini mirip dengan candi yang besok akan kita datangi, kak." sahut Jofel


Kami pun kemudian menuju candi tebing yang ada mata airnya. Ya tujuan pertama kita memang mencari air.


"Selain bangunan ini, apakah dahulunya juga ditemukan artefak Arkeologi lainnya?" tanyaku


"Candi Tebing Tegallinggah Blahbatuh ini memiliki beberapa keunikan lewat tujuh ceruk serta 3 lingga yang ditemukan oleh para peneliti. Lingga yang ada di candi ini merupakan lingga yang menggambarkan sosok trimurti dalam agama Hindu, yakni Dewa Siwa, Wisnu, serta Brahma." kata Wira


"Oleh sebabnya, candi ini dinamakan tegallinggah?" tanyaku


"Kemungkinan Kak, tapi memang desa ini namanya Desa Tegallinggah." kata Andi


Air yang tadi nya mengalir kecil seperti malu - malu. Ketika aku menyentuh puncak ratna nya. Tiba - tiba keluar deras. Aku juga melihat beberapa bidadari yang berbaris rapi. Mereka seperti membuat pagar betis. Mereka seperti mempersilahkan aku lewat. Sungguh suatu kesempatan yang indah.


"Kak, biarkan Jofel panggil Jero Mangku tadi untuk memohonkan kita minta air ini." kata Jofel


"Tidak perlu, nak. Silahkan ambil langsung. Saya rasa pemiliknya telah mempersilahkan kepada mbaknya. Sehingga langsung saja mengambil. Ini silahkan terlebih dahulu untuk sembahyang." kata Jero Mangku yang tiba - tiba muncul di samping kita.

__ADS_1


Aku dan Wira pun lalu sembahyang. Setelah itu, aku langsung mengambil air itu. Aku melihat disekelilingku para bidadari menundukan kepada kepadaku.


"Terimakasih" kataku


Setelah kami mendapatkan air. Kami pun langsung pamit untuk melanjutkan perjalanan kami. Tapi karena sudah sore. Aku yakin mereka juga capek. Sehingga kami memutuskan untuk mengakhiri pencarian hari ini. Kami akan lanjutkan besok pagi.


"Kak kita mau nginep dimana?" tanya Andi.


"Kita akan menginap di mess Balai Arkeologi Denpasar. Tadi aku sudah wa sama Jik Ngurah. Kita berempat bisa tinggal di rumah dinas nya. Kalian tahu letak Balai Arkeologi, kan?" tanyaku


Mereka semua pun menganggukan kepala. Mereka pasti tahu lah dimana letak kantor paling ngehits untuk kalangan Arkeolog itu.


"Nanti kita mampir ke toko pakaian ya" kataku


"Mau beli baju, Kak?" tanya Jofel


"Iya, kita semua harus beli baju untuk ganti kita. Nanti Kak Nara yang bayar." kataku


Setelah itu kami pun menuju pusat perbelanjaan. Tak lama kemudian kami sampai di Balai Arkeologi Denpasar. Kedatangan kami sudah disambut oleh penjaga mes.


"Selamat datang mbak Nara. Silahkan masuk dan jika butuh apa- apa. Silahkan telepon saya" kata penjaga nya


"Makasih ya pak" kata kami kompak


Kami pun langsung masuk dan memilih kamar kita.


"Tinggal 3 nata air lagi." kataku


"Iya kak, betul. Besok sekali jalan kita langsung akan mendapatkannya." kata Wira


"Lokasinya sangat berdekatan. Sehingga kita bisa menghemat waktu Kak." kata Andi.


Aku selalu berdoa, semoga Adhiraksa dan Kencana berhasil. Semoga mereka berhasil menggagalkan rencana Aura malam ini. Jika sampai malam ini, Satria dan Prasta bersama mereka. Maka sia - sia perjalanan yang telah aku lakukan.


"Malam ini aku harus meraga sukma lagi. Aku harus memastikan mereka baik - baik saja." batinku


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. Selain itu, menulis beberapa episode ini diperlukan studi dan referensi. Sehingga informasi yang saya sampaikan valid.


next :


Apakah malam ini Nararia, Kencana, dan Adhiraksa berhasil menggagalkan rencana Aura?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love


Citralekha


*


Berikut adalah Candi Tebing Tegallinggah



Mata air yang keluar dari sela - sela candi tebing.

__ADS_1



__ADS_2