
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading.
.
.
Aku keluar dan menemui Satria. Ia sudah menungguku di pendopo keputren.
"Sudah siap bertemu orang tuamu?" tanya Satria
"Iya" jawabku singkat.
"Nararia ... kamu cantik sekali hari ini" puji Satria
Aku sangat malu dengar pujian Satria. Aku tersenyum dan meliriknya. Tapi aku tidak melihat dimana Pasopati berada.
"Apa yang kamu cari?" tanya Satria
"Pasopati mana?" tanyaku
Orang yang ku cari tak berapa lama muncul dari arah pintu samping. Aku heran dengan Pasopati hari ini. Dia tidak seperti sais kuda. Ia menggunakan pakaian kebesaran bak pangeran.
"So, kenapa kamu menggunakan pakaian seperti ini?" tanyaku
"Gimana cakep nggak?" jawab Pasopati
"Enggak ... jangan sentuh kepunyaanku." kata Satria
Satria kemudian menghalangi pandangan Pasopati padaku. Sepertinya dia cemburu pada Pasopati. Aku nggak habis pikir kalau Pasopati adalah seorang sais ngapain harus cemburu.
"Kak Satria" kataku
"Iya sayang" kata Satria mesra
"Tangannya tolong dikondisikan ya." kata Pasopati sambil melepaskan tangan Satria di pundakku.
Aku sangat aneh dengan sikap 2 orang ini. Pasopati pasti seorang bangsawan bukan sais.
"Pasopati kamu siapa sebenarnya?" tanyaku
"Maksudmu apa Ra?" tanya Satria
"Pasopati bukan sais kereta kan? dia salah satu bangsawan kan?" tanyaku
Pasopati hanya tersenyum dan mencolek daguku.
"Ayo segera menghadap ayah dan ibu" ajak Pasopati.
Pasopati kemudian menggandeng tanganku dan meninggalkan Satria.
"Eeeh tunggu ... enak saja mau bawa Nararia dari tanganku." kata Satria.
"Memangnya kenapa?" tanya Pasopati.
"So, apa yang kamu lakukan?" tanyaku
"Ayo kita kerjai Satria." bisik Pasopati
Aku kemudian tersenyum dan mengangguk. Aku ingin lihat bagaimana reaksi Satria.
"Ayo So." ajakku pergi meninggalkan Satria.
Satria kemudian mengejar kami dan merebutku dari Pasopati.
"Ikut denganku jangan sama Pasopati. Dia penjahat wanita." kata Satria.
__ADS_1
"Pasopati baik sama aku, bahkan dia bersedia mengobarkan nyawanya saat aku diserang berandalan. Kamu malah asyik berduaan dengan Gendis Wangi." kataku
Pasopati kemudian melihatku dan menggelengkan kepala. Aku jadi bersalah, kenapa aku menyebut nama Gendis Wangi.
"Gendis Wangi, aku kok melupakan dia ya. Kemana ya dia, kenapa tiba - tiba hilang." kata Satria
"Nararia sebaiknya kamu menikah denganku saja. Lihatlah Satriamu ini dia lebih memilih wanita lain." kata Pasopati
"Bukan begitu Rara, baiklah. Ayo segera pergi, menjauhlah kau dari Pasopati." kata Satria.
Kami masih asyik ngobrol dan berdebat. Widasari datang menjemput kami.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Widasari.
"Maaf putri, kami akan segera menghadap ayah dan ibu." kataku
Tapi Widasari tidak menggubrisku. Dia sibuk mencuri pandang pada Pasopati. Ku lihat Pasopati juga tersenyum.
"Ehem ... Kak Satria, gimana kalau kita duluan menghadap ayah dan ibuku." kataku pada Satria.
"Widasari jaga sikapmu." gertak Satria
"Putri Widasari sepertinya tertarik padamu, So." bisikku
Aku lihat rona wajah Pasopati memerah. Ia sangat tersipu dengan perlakuan Widasari.
"Ayo segera ke stinggil." ajak Pasopati.
Kami ber 5 kemudian menuju stinggil. Istana ini sangat indah dan besar. Semuanya menggunakan lantai dari batu andesit. Pendopo penuh dengan ukiran yang indah. Atap dari papan kayu dan genting tertata rapi persis seperti rumah joglo sekarang.
"Putri Widasari, apa kau tertarik dengan Pasopati?" tanyaku
Putri Widasari hanya tersipu malu dan menggandeng lenganku.
"Jangan seperti itu kakak. Aku malu." kata Widasari.
"Kak Rakyaaaan" kata Widasari manja
Aku memperhatikan tingkah Widasari dan Pasopati. Jika dilihat - lihat, mereka sangat serasi dan cocok. Tapi aku jadi penasaran siapa sebenarnya Pasopati itu.
"Kak Rakyan ayah dan ibu pasti sangat rindu padamu." kata Widasari.
"Aku juga rindu sama mereka." kataku
Kami kemudian sampai di sebuah gerbang paduraksa (gerbang yang memiliki atap). Gerbang itu dijaga oleh puluhan prajurit yang membawa tombak, pedang di sakunya, dan perisai.
"Selamat datang paduka Rakai, Rakyan, Putri Widasari, dan pangeran Pasopati." kata salah satu pengawal.
"Pangeran pasopati?" tanyaku
"Benar tuan putri, pangeran Pasopati adalah saudara tuan putri." kata pengawal itu lagi.
"Saudara?" tanyaku mengkonfirmasi.
"Betul putri, pangeran Pasopati dari Kerajaan Tirta Arum masih memiliki hubungan darah dengan paduka." jelas pengawal.
Aku baru tau ternyata Pasopati seorang pangeran.
'Tapi kenapa dia mau menjadi sais kereta untukku dan satria.'gumamku dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan." kata Pasopati
"Masuk dan ketemu dengan orang tuaku." kataku berbohong.
Pengawal mempersilahkan kami masuk ke dalam. Aku terkesima dengan ornamen dan hiasan yang ada di pendopo. Banyak orang yang hadir, mereka semua mengenakan baju yang indah.
'Kamu hanya perlu mengikuti arahan dari Satria dan Pasopati.' bisik Kencana
__ADS_1
'Bersikaplah manis seperti seorang putri raja Nararia.' kata Puspa.
"Selamat datang para putra." kata seorang lelaki yang menggunakan jamang makuta.
'Dia adalah Dyah Tanjung Dewa. Dia ayah Pasopati.' bisik Kencana
"Terimakasih paman Tanjung Dewa." kataku sambil menghaturkan sembah.
Aku kemudian maju ke arah Dyah Tanjung. Sisi sebelah kiri belakangku terdengar suara orang yang memanggil namaku
"Putriku Rakyan." suara seorang wanita.
Aku kemudian menoleh dan berbalik badan. Nampak seorang wanita paruh baya yang cantik dan terlihat bijaksana. Kecantikannya bisa menenangkan siapapun yang memandanginya.
'Dia ibumu, Dewi Tara pitri dari Raja Dharma Setu (kakekmu).' bisik puspa.
Aku kemudian mendekati Dewi Tara dan menghaturkan sembah, serta memeluknya.
"Ibunda Dewi Tara." kataku
"Putriku." kata Dewi Tara menyambutku dengan pelukan yang hangat.
Kami berpelukan untuk beberapa waktu. Aku juga melihat seorang kerabat kerajaan yang juga menangis. Aku lihat dengan seksama kalau itu adalah mamaku di masa depan. Aku ingin menghampirinya tapi dilarang oleh Kencana.
'jangan mendekatinya sekarang, Nararia.' bisik Kencana.
'Baik Kencana, tapi aku kangen dengan mamaku.'kataku
Aku meneteskan air mata dan melihat ke ibu itu. Aku ingin memeluk mamaku. Aku kangen mereka.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dewi Tara.
"Putriku, apakah kau tidak rindu pada ayah?" kata seorang lelaki tampan, kekar, berotot, dan memiliki kumis.
'Dia raja Samaratungga, ayahmu.' bisik Puspa.
Aku kemudian menghampiri raja Samaratungga dan menghaturkan sembah padanya.
"Terimalah sembah nanda, ayah." kataku
"Kamu sudah kembali, sayang. Ibu mu selalu menanggis tiap malam karena kamu meninggalkan istana ini." kata Raja Samaratungga.
Ayahku kemudian melepaskan pelukannya padaku. Ia kemudian memperkenalkanku di hadapan para punggawa. Ayah juga memerintahkan kepada raja bawahannya untuk hadir dalam sebuah pesta dan berharap mereka membawa hadiah untukku.
"Sebagai rasa terimakasih karena putriku telah kembali. Aku akan mengadakan upacara yadnya selama 7 hari. Aku juga perintahkan kepada para raja yang masuk dalam wilayahku untuk memberikan hadiah kepada putriku." kata Raja Samaratungga
Ini luar biasa, diluar dugaanku. Aku akan dibuatkan pesta selama 7 hari. Dewi Tara kemudian memintaku untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku duduk sebaris dengan Satria, Pasopati, dan Widasari.
"Rakai kapan kau akan meminang putriku?" tanya ayahku.
Aku kaget begitu mendengar ucapan dari sang raja. Aku tak berani memandang ke arah Satria. Tapi jika Satria menikah denganku semakin cepat akan semakin baik. Aku akan segera kembali ke duniaku
"Ampun paduka, hamba terserah pada putri paduka." kata Satria.
"Gimana putriku?" tanya Dewi Tara
"Aku bersedia bunda, ayah." kataku.
Mereka sangat senang mendengarkan jawabanku.
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih teman - teman
With love
Citralekha
__ADS_1