Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Istana Medang Part 1


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


.


Perjalanan ke istana Medang sangat melelahkan. Aku tertidur di pangkuan Satria. Ia meminta kepada Pasopati untuk pelan - pelan.


"Pasopati, pelan - pelan saja. Aku nggak mau Nararia terbangun. Kasihan tadi pagi hampir saja dia dibunuh oleh butho." pesan Satria.


"Baik Rakai, maafkan aku karena tidak bisa menjaganya dengan baik." kata Pasopati.


"Pasopati, apa yang harus aku katakan pada orang tuanya kalau dia tidak ingat siapa dirinya. Aku juga bingung jika nanti dia berkata tentang masa depan dan dunianya di abad 21." kata Satria.


"Maksudmu?" tanya Pasopati berlagak pilom.


"Jangan bohong Pasopati. Kamu sudah tahu kalau dia dari masa depan kan?" kata Satria.


Aku mendengarkan percakapan mereka berdua. Tapi aku pura - pura tertidur. Aku tahu apa yang sedang di khawatirkan oleh Satria dan Pasopati. Aku harus mencoba mengingat semuanya tapi sia - sia. Tapi aku sedikit memiliki bekal tentang abad 9. Setidaknya Fais telah memberikanku informasi tentang Mataram.


'Aku jadi kangen dengan Dika dan Ivan.' batinku


'Aku nggak boleh mengecewakan Satria dan Pasopati' gumamku dalam hati.


Aku coba menggeliat tapi Satria membelai rambutku. Dia juga bersenandung, suaranya merdu banget.


"Pasopati, apa kamu tahu sesuatu tentang Nararia?" tanya Satria.


"Maksudmu apa?" tanya Pasopati


"Apa ada rahasia yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Satria


"Rahasia apa maksudmu?" tanya Pasopati kembali.


"Akhir - akhir ini dia selalu memintaku untuk membuat candi untuk Tri Murti. Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Satria.


Aku kaget mendengar pertanyaan Satria. Apakah dia lupa kalau kita pernah ketemu di Prambanan. Apakah dia lupa lalau dialah yang membuat candi itu. Tapi biarkan sang waktu yang akan menjawab semuanya. Aku tidak boleh menyalahi kodrat yang telah digariskan.


"Nggak tahu, aku. Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Pasopati


"Aku takut kehilangan dia lagi, So. Aku harus bertapa, menembus ruang dan waktu untuk mencarinya." kata Satria.


"Dimana kamu menemukan dia?" tanya Pasopati.


"Aku berada di sebuah kompleks percandian yang indah. Dia bersama teman - temannya." kata Satria.


Aku tahu ternyata Satria tidak ingat kalau dialah yang membangun candi itu. Berarti aku harus lebih berhati - hati dan jangan sampai dia tahu, kalau Candi Prambanan adalah gerbang buatku kembali ke masa depan.


'Tenanglah Nararia ... kamu hanya harus menjalankan peranmu di sini. Jika kau berhasil maka kamu akan kembali ke masa depan' bisik Puspa


'Kalau sampai Satria tahu bahwa Candi Prambanan adalah gerbang ke masa depan. Apakah dia mau membuatnya?' tanyaku


'Pasti tidak, dia sangat menyayangimu.' bisik puspa


'Berarti sejarah akan berubah?' tanyaku


'Tugasmu adalah membuat semuanya berjalan seperti pada abad ke 21' kata Kencana.

__ADS_1


Aku paham sekarang, aku harus membuatnya sesuai dengan sejarah yang ada. Aku harus mendampingi dia hingga menuju kemenangan dan membangun candi itu. Tapi aku tahu dalam perjalanan itu tidaklah semulus yang ku kira. Akan banyak rintangan yang menghadang.


"So, lebih cepat lagi, jangan sampai kemalaman." perintah Satria.


"Baik" jawabnya singkat.


Beberapa waktu kemudian dia membangunkanku dengan lembut. Belaian tangannya di pipiku membuatku nyaman sekali.


"Nararia bangunlah, sebentar lagi kita sampai di kota raja." kata Satria.


Aku kemudian menggeliat dan perlahan membuka mata. Aku tersenyum padanya dan kuusap pipinya yang lembut. Dia membalas senyuman itu.


"Apakah kita sudah sampai?" tanyaku


"Sebentar lagi." jawabnya.


Aku kemudian menyibakkan tirai keretaku. Aku lihat pemandangan luar. Banyak sekali masyarakat yang menyembah kepada kami. Aku kemudian melambaikan tangan dan tersenyum kepada masyarakat Medang.


"Kamu sangat ramah sekali Nararia." kata Satria.


"Kita harus bersikap ramah kepada siapapun, Kak." kataku.


"So, kamu nggak capek dari tadi mengendalikan kereta?" tanyaku


"Sudah biasa dan sudah tugasnya." Jawab Satria.


Dari kereta aku melihat pintu gerbang kota raja yang megah dan penuh masyarakat yang menyambut kehadiran kita. Mereka berteriak menyebut nama kami.


"Kak, sebaiknya kita turun dan menyapa mereka." kataku


"Baiklah kalau itu permintaanmu. Ayo turun, So berhenti. Kami akan turun." perintah Satria.


"Kalau begitu kamu ikut saja dengan kami, So. Kawal lah kami. Pasti aku akan tenang." kataku


Pasopati melihat ke arah Satria. Ia menunggu persetujuan dari Satria. Aku kemudian melirik dan tersenyum pada Satria, berharap dia akan mengabulkan permintaanku.


"So, ikutlah bersama kami." perintah Satria.


Pasopati kemudian meminta kepada pekathik kuda untuk mengurus keretanya. Kami bertiga diikuti dengan dayang dan pengawal berjalan menuju gerbang istana.


"So, berikan aku uang." kataku


"Untuk apa?" tanyanya.


"Bukankah kau yang mengajariku untuk memberikan sedekah kepada masyarakat?" kataku sambil tersenyum.


"Haduh aku jadi makin cinta deh sama kamu." kata Satria.


Pasopati kemudian memberikanku sekantong uang perunggu. Aku kemudian membagikan kepada anak - anak, orang tua, dan beberapa buruh. Mereka sangat senang dan bahkan mereka berebut.


"Harap tenang, jangan saling dorong. Aku akan membuatkan pesta dan membagikan makanan untuk kalian semua." kata Satria.


Terdengar rakyat sangat riuh karena mendengar pengumuman dari Satria. Aku lihat Pasopati terus mengawasiku dan dia mengeluarkan belati serta melukai tangan salah satu wanita paruh baya.


"Pasopati !! apa yang kamu lakukan? ini sangat kejam." bentakku


Ia hanya diam saja dan menyeret wanita itu ke tengah.

__ADS_1


"Kenapa paduka melukai tangan hamba?" tanya wanita itu


Aku berusaha mendekatinya tapi Satria menahanku.


"Jangan mendekat, tetap berada di sisiku." kata Satria.


"Tapi Pasopati sangat kejam pada ibu itu." kataku


"Kamu lihat saja apa yang akan dia lakukan. Kamu harus berterimakasih padamu." kata Satria.


Pengawal kemudian membuat formasi melingkari aku dan Satria.


"Apa yang kamu bawa di buntelan stagenmu?" bentak Pasopati.


"Hamba tidak membawa apa - apa, paduka." kata wanita itu.


Pasopati berusaha meraih buntelan itu tapi wanita tadi langsung menyerangnya. Terjadilah pertarungan yang seimbang. Rupanya wanita itu sangat sakti tapi Pasopati bukanlah orang sembarangan. Pasopati mengeluarkan kesaktiannya. Wanita tadi berubah berubah menjadi butho.


"Rakyan, kau harus mati di tanganku." kata butho itu.


"Apa butho itu istri dari butho yang menyerangku di pesanggrahan?" tanyaku pada Satria.


"Bisa jadi, tenanglah Pasopati bisa menghadapinya." kata Satria


Sama seperti butho kemarin, setiap tetesan darahnya berubah menjadi butho lain dan menyerang rakyat. Rakyat berhamburan berlarian. Pengawal pun dapat dikalahkan. Aku ngeri melihat banyak rakyat dan pengawal menjadi korban.


"Pasopatiiii." teriakku.


Aku melihat ia terluka. Satria kemudian maju dan menghadapi butho itu. Aku menghampiri Pasopati dan menuntunnya.


"Apa yang kamu rasakan?" tanyaku


"Aku baik - baik saja." katanya


"So, apakah Satria akan bisa mengalahkan butho itu?" tanyaku


"Tentu saja, ia seorang pangeran yang gagah perkasa." kata Satria


Aku kemudian menyaksikan pertarungan itu. Aku merasa was - was takut Satria kalah.


'Puspa, Kencana keluarlah dari dalam diriku. Bantu lah Satria mengalahkan butho itu.' perintahku


'Tenanglah Nararia, Satria bisa mengalahkannya.' kata Kencana


Tak berapa lama butho itu dapat dimusnahkan menggunakan panah sakti yang Satria miliki.


"Kamu tidak apa - apa?" tanyaku


"Tenanglah." katanya


Aku kemudian memeluknya dan terdengar suara sorak - sorak rakyat. Dari dalam gerbang istana munculah para perwira dan ratusan prajurit. Mereka kemudian menyembah kami dan mempersilahkan kami masuk ke gerbang kota raja. Kami naik kereta, karena jaraknya lumayan jauh dan agak menanjak.


**


Episode kali ini cukup ya teman - teman. Terimakasih atas waktunya.


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2