
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Sadar akan hal itu yang penting. Aku pun lalu berbicara kepada Wira dan lainnya.
"Kita akan satukan 7 mata air ini. Aku dikasih kabar kalau tempat itu sangat hening. Tempat yang akan sangat spesial dan sakral untuk menyatukannya. " kataku
"Ya Kak, kita ke sana." kata Wira
Kami pun lalu bergegas menuju tempat terakhir. Tempat yang kata Wira letaknya tidak jauh dari Tirta Empul.
Kami lalu menuju parkiran dan melajukan roda motor kami. Perjalanannya menurutku lumayan lama. Setengah jam kami tidak sampai - sampai.
"Wir, kamu tahu tempatnya kan?" tanyaku
"Tahu Kak, jaraknya tu kalau naik motor 10 menit sampai." kata Wira
"Tapi kita sudah berputar - putar selama 30 menit." kataku
Andi dan Jofel pun kemudian mengajak kami untuk berhenti.
"Ada yang aneh kak." kata Andi
"Iya, sepertinya kita sedang dipermainkan." kataku
Aku pun lalu memanggil Adhiraksa. Tak lama kemudian pangeran itu datang.
"Kamu dari mana saja?" tanyaku
"Parah putri, paraaah" katanya seperti orang eh kok orang ya. Apa dong sebutan untuk Adhiraksa. Manusia bukan, hantu bukan, dewa bukan,. ah entah lah, heheh
"Tenaang ... ada apa?" tanyaku
Adhiraksa lalu menceritakan kalau dia habis berantem dengan pasukan para dedemit.
"Kok bisa?" tanyaku
"Aku baru saja menghabisi pasukan dedemit kiriman balian jahat." kata Adhiraksa
"Kamu kalah? malu - malu ij aku saja." ledekku
"Eiiitts, sorry pangeran terganteng se antero dunia ini menang dunk. Tapi gila, itu baru seperempat kekuatannya saja. Sekarang kenapa kamu tidak segera ke Mengening?" tanya Adhiraksa
"Dari tadi kita hanya muter2 Adhir." kataku
Ternyata obrolanku dengan Adhiraksa membuat 2 yunior ku terdiam. Dari tadi mereka hanya mengamatiku. Ya seolah aku berbicara sendiri.
"Kak, sudah punya solusi?" tanya Andi
"Sudah, ayo segera kita ke Mengening." kataku
Kami pun lalu berdoa dan memohon keselamatan agar segera sampai ke tempat tujuan. Ternyata berkat doa, kabut tipis yang tadi menyelimuti pandangan kita memudar. Kini kita telah berada di atas Pura Mengening. Ya Pura Mengening... pura yang ada simbol kendi amerta nya. Pura yang akan kita jadikan sebagai titik pusat penyatuan 7 mata air.
"Air kita baru 6 botol, Kak." kata Andi
"Satu nya kan kita ambil dari Mengening." kataku
"Oh iya, Andi lupa. Ayo Kak segera turun. Sebelum nanti ada hal yang aneh lagi." ajak Andi.
Kami pun lalu turun menuju Pura Mengening. Pura Mangening terletak di Banjar Sarasada, Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Candi ini adalah situs kuno, yaitu peninggalan pemerintahan Raja Marakata tahun 1022 Masehi.
"Apa yang kamu tahu tentang penemuan pura ini, Wir?" tanyaku
"Pura Mangening ditemukan oleh WF Sutterheim di 1925 – 1927 tapi tidak disebutakan secara rinci, kemudian pada tahun 1960 Bernet Kempers menyatakan bahwa ada sebuah kuil dengan sisa-sisa bangunan diatas bukit kecil." jelas Wira
"Penelitian dilakukan terhadap pura. Keadannya dalam kondisi lengkap termasuk Lingga Yoni ditemukan. Temuan tersebut ditempatkan diruang kamar candi dianggap suci oleh orang lokal. Tempat ini dibangun di lembah sungai Pakerisan yang memiliki sumber daya air yang melimpah." sahut Jofel
__ADS_1
Air yang ditampung dikolam dan mengalir melalui Sungai Pakerisan. Tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi disamping melihat peninggalan raja-raja jaman dahulu, kita juga dapat melihat aliran sungai yang cukup indah. Air sungai ini difungsikan untuk mengairi sawah disekitarnya bahkan sampai ke daerah Pejeng dan Bedulu.
"Kak, itu ada Jero Mangku nya. Sepertinya beliau sedang menunggu kita." kata Andi
"Swastyastu Jero" sapa kami bersama
"Swastyastu, mari silahkan ikut saya." kata nya
Kami pun hanya tersenyum mendengar ajakan Jero Mangku. Kami menuruni anak tangga menuju patirtan. Aku melihat banyak sekali patirtan. Aku hitung ternyata ada 10 mata air.
"Mata air di Mengening ini sangat spesial, mbak." kata Jero Mangku
"Spesial nya kenapa Jero?" tanyaku
"Mata air ini ada 10 buah. Tapi yang sangat spesial dan berbeda ialah 1." kata Jero Mangku
"Yang mana Jero?" sahut Wira
Jero Mangku lalu mengajak kami ke sebuah mata air yang paling lebar dan besar. Pada kolam itu terdapat banyak sekali ikan koi dan bawal.
"Apakah petirtaan ini yang spesial, Jero?" tanyaku
"Betul, ini namanya Klebutan Tirta Malela. Tirta yang dapat dan dipercaya untuk awet muda. Serta dapat menyembuhkan orang dari terkena tenung." kata Jero Mangku.
"Kalau gitu, apakah kami bisa mengambilnya, Jero?" tanyaku
Jero Mangku hanya tersenyum. Dia pun lalu berjalan menghampiriku.
"Kalau kamu ingin air itu untuk kebebasan pangeranmu. Kau harus menukarnya dengan sesuatu yang penting dalam hidupmu." kata Jero Mangku.
Aku bingung dengan perkataan Jero Mangku. Pas maksudnya dari menukar.
"Maksudnya apa Jero?" tanyaku
"Kau bisa mengambil setelah mempersembahkan sesuatu. Bukan berupa benda atau sarana ritual. Karena jika air ini dipasupati, maka alirannya akan surut." kata Jero Mangku
Aku mencoba memahami maksud dari arti kata Jero Mangku. Demikian juga dengan Andi, Jofel, dan Wira. Mereka nampak bingung. Tapi Aku paham dengan maksud dari Jero Mangku. Aku pun lalu tersenyum.
"Tentu Jero, akan saya persembahkan cinta saya kepada Siwa dan Parwati. Orang tua yang mengajarkan tentang pengorbanan cinta. Sama seperti Dewi Sakti ketika membakarkan diri dalam api suci. Karena dilarang oleh ayahnya bertemu dengan Dewa Siwa. Saya juga akan mengorbankan apapun itu untuk mendapatkan dan bersatu dengan cinta saya." kataku mantap
"Apa kau yakin, bahwa mereka adalah pangeranmu?" tanya Jero Mangku
Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari Jero Mangku. Aku memang belum tahu siapakah pangeran Pikatanku.
"Meskipun mereka bukan pangeran saya. Tapi menyelamatkan sesama manusia adalah kewajiban." kataku
Jero Mangku pun kemudian tersenyum dan mempersilahkan aku mengambil air itu. Setelah semuanya selesai, kami lalu menuju Pura Mengening.
*
(Suasana di villa)
Hari ini Aura dan Tamara sudah berhasil meyakinkan Prasta dan Satria. Mereka akan menuju sebuah tempat. Entah tempat semacam apa itu.
"Sayang ayo kita pergi sekarang." kata Aura
"Baiklah ayo berangkat." kata Prasta
Mereka pun lalu berangkat menggunakan mobil yang sudah Aura siapkan. Dalam mata manusia biasa, mobil itu sangat mewah. Tapi tidak dengan mata Prasta dan Satria yang sudah ada Puspa dan Kencana. Mereka sedang menaiki keranda.
Mereka pun menuju sebuah tempat yang sangat indah. Suasananya sangat nyaman dan megah. Tapi mata Apsara mereka melihat bahwa tempat itu adalah sebuah Setra (kuburan).
"Mereka pasti akan melakukan puja memanggil Rangda." kata Puspa dalam hati
"Betul, sekarang kita harus memberitahu kepada putri Nararia." kata Kencana
Tapi sayangnya, mereka berdua sudah terkunci dalam Setra itu. Kekuatan kedewataan mereka lemah. Terlihat wajah panik diantara mereka berdua. Tapi Puspa sudah menduganya.
"Tenang lah, aku sudah mengirim Kinara sebelum kita masuk. Tenang lah Kencana, putri Nararia akan segera sampai." kata Puspa
Kencana pun tersenyum mendengar siasat Puspa yang sangat luar biasa.
"Kenapa kau tersenyum Satria?" tanya Tamara
__ADS_1
"Aku tak menyangka tempat ini sangat indah sekali. Dari mana kalian menemukan tempat ini?" tanya Satria (Kencana)
"Aura yang menemukannya." kata Tamara sambil melirik pada Aura.
Mereka berdua pun seolah - olah sedang duduk. Serta mereka diberikan minum. Ya minuman itu ternyata darah. Jika mereka tidak meminumnya. Maka Aura akan curiga, itu artinya jika Aura curiga. Akan bisa membahayakan Prasta, Satria, dan Tamara.
"Kenapa tidak kalian minum?" tanya Aura
"Aku tidak haus." kata Satria
"Gimana kalau kita segera masuk ke kamar indah kita?" kata Prasta (Puspa).
Mendengar lelakinya tidak sabar untuk berdua dengan mereka. Akhirnya Aura bersama Prasta. Sedangkan Tamara bersama Satria. Mereka memasuki kamar masing - masing. Kamar yang indah, tapi sebenarnya itu adalah liang lahat.
*
(Pura Mengening).
Kami berlima sudah bersiap melakukan ritual itu. Tapi kata Jero Mangku kurang 2 orang lagi. Dalam ritual kali ini harus ber 7.
"Butuh 2 orang lagi." kata Andi
"Kita tinggal menunggu 1 makhluk lagi." kata Jero Mangku
Aku yakin bahwa Jero Mangku ini bukanlah sembarang. Dia bisa melihat Adhiraksa. Tapi siapa yang dimaksud makhluk 1 lg. Aku masih bingung. Tapi tak berapa lama, aku melihat ada seekor burung.
"Itu dia" kata Jero Mangku
Wira, Jofel, dan Andi pun melirik pada seekor burung yang hinggap di sampingku.
"Putri ini adalah Kinara, peri surga milik Puspa. Pasti dia membawa pesan penting." kata Adhiraksa.
Aku segera menoleh pada burung kecil itu. Ternyata benar burung itu berubah menjadi manusia setengah burung. Mereka ber 3 sudah tidak kaget lagi melihat kehadiran mahkluk yang menurut mereka aneh.
"Ada apa Kinara?" tanyaku
"Ampun tuan putri, saya diutus oleh Dewi Puspasari. Mereka sekarang sedang berada di Setra Gondho Mayit. Tempat ratu Ra Nini berada. Dewi Puspasari dan pangeran Kencana tidak bisa keluar dari Setra itu. Kita harus segera menyelamatkan mereka. Sebelum semuanya terlambat." kata Kinara
Aku pun semakin khawatir dengan kabar dari Kinara. Itu artinya kita harus segera melakukan raga sukma.
"Yang bisa melakukan raga sukma hanya kamu, putri." kata Jero Mangku
"Aku, Jero?" tanyaku memastikan
"Betul, bahkan pangeran Adhiraksa pun tidak akan bisa masuk ke Setra Gondho Mayit." kata Jero Mangku
"Putri, ini akan sangat berbahaya." kata Adhiraksa
Tapi aku telah siap dengan segala konsekuensinya. Apapun yang terjadi, aku akan masuk ke Setra Gondho Mayit. Aku percaya pada perlindungan Tuhan. Aku percaya, panah pancaroba akan membantu ku.
"Tidak putri, pancaroba tidak akan bisa digunakan di Setra Gondho Mayit." kata Jero Mangku
"Lalu bagaimana putri Nararia akan melawan Ra Nini?" tanya Adhiraksa.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. Selain itu, menulis beberapa episode ini diperlukan studi dan referensi. Sehingga informasi yang saya sampaikan valid.
next :
Apakah Nararia akan berhasil menyelamatkan ke - 4 sahabatnya?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
Citralekha
__ADS_1