
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
"Putri, cepat keluar. Jangan seperti itu, pangeran Pasopati tadi bilang." kata dayang
"Bilang apa?" tanyanya
"Jika putri tidak mau keluar, pangeran akan menemui Rakyan Sanjiwani." teriak dayang
Mendengar hal itu, Widasari segera membuka pintu kamarnya. Dia takut, jika perkataan dayang benar. Dia membuka pintu. Pasopati tidak ada di luar kamarnya. Widasari celinggukan mencari - cari keberadaan Pasopati. Tapi dia tidak menemukannya.
"Dayang, kak Paso pergi kemana?" tanya Widasari
"Ampun putri, pangeran sudah pergi." kata dayang sambil menundukkan kepala
"Kurang ajar, dia pasti menemui Sanjiwani. Akan aku labrak dia. Tidak kapok ternyata setelah ku senggol kemarin. Perlu merasakan pedang ku, ternyata." umpat Widasari
Pada waktu itu, tiba - tiba Pasopati muncul. Dia tidak menyangka, Widasari bisa berbuat jahat. Dia tidak menyangka, tapi dia juga sadar. Widasari melakukan hal itu, karena cemburu. Pasopati pun merasa bersalah karena telah melukai perasaan Wida.
"Oh jadi Wida sudah mencelakai putri Sanjiwani?" tanya Pasopati
Widasari kemudian membalikan badan. Dia nampak terkejut, karena Pasopati ternyata bersembunyi. Dia sangat gugup. Takut jika Pasopati akan semakin membenci dirinya.
"Kak Paso, bukan begitu. Aku melakukan hal itu, karena ... karena .. " kata Widasari tertahan
"Cemburu?" potong Pasopati
Dia hanya mengangguk. Pasopati pun dengan lemah lembut mendekatinya. Dia tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik. Dia harus mengembalikan sifat Widasari yang welas asih.
"Wida, maafkan aku, karena telah menyakitimu." kata Pasopati.
Widasari segera memeluk Pasopati. Dia sangat bersyukur, karena Pasopati tidak marah dengannya.
"Kakak tidak marah denganku?" tanya Widasari
"Tidak, tapi dengan syarat." kata Pasopati
"Apa syaratnya?" tanya Widasari
Pasopati kemudian berpikir sejenak. Dia harus memberikan sedikit pelajaran etika kepada kekasihnya itu.
"Minta maaflah kepada Sanjiwani." kata Pasopati
Mendengar hal itu, Widasari langsung melepaskan pelukannya. Dia membalikan badan. Sebenarnya dia tidak setuju dengan permintaan Pasopati. Tapi jika dia tidak melakukan itu, maka Pasopati akan marah.
"Selain itu, adakah yang lain?" tanya Widasari.
Pasopati lalu menjelaskan kepada Wida. Pertolongan Sanjiwanilah yang membuat dirinya masih hidup. Jika tidak ditolong olehnya. Bisa dipastikan, Pasopati tidak akan selamat. Wida pun akhirnya mengerti.
"Baik kak, aku salah. Aku akan minta maaf kepada Sanjiwani." kata Widasari.
"Apa perlu aku antar?" tanya Pasopati
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." kata Widasari
**
(Bala dan Astana).
__ADS_1
Astana telah mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan Balaputra.
"Astana, kau tak perlu mengantarmu sampe Rancang Kencono. Tapi ada tugas untukmu." kata Balaputra
"Baik pangeran, apa kah tugas itu?" tanya Astana
"Terus awasi cungguk Satria. Aku tidak mau kecolongan. Sambil kau pelajari teknik perangnya. Jangan lupa hasut rakyat untuk mengabdi kepada kita." pesan Balaputra
"Baik pangeran, hamba akan lakukan dengan baik. Selamat jalan pangeran." kata Astana
Balaputra pun berpesan kepada Astana. Bahwa dia tidak boleh memberitahu semua orang tentang kepergiannya. Termasuk kepada ayah dan ibu nya.
"Tapi bagaimana jika paduka Maharaja bertanya?" tanya Astana
"Katakan jika aku kembali ke Sriwijaya." kata Balaputra
Setelah memberi pesan. Balaputra segera berangkat. Dia berangkat seorang diri. Tekadnya telah bulat. Dia harus menambah kesaktian. Dia harus berhasil merebut tahta Medang. Segala rintangan tak dia hiraukan. Bahkan dia juga berpakaian seperti rakyat jelata. Dia melepas tanda kebesaran. Hal itu memudahkan dia untuk berguru kepada pertapa sakti yang mungkin dia jumpai.
Sebelum meninggalkan kota raja. Balaputra memandangi gerbang istana. Sorot matanya tajam dan penuh dengan nafsu.
"Aku akan kembali, Medang. Tunggu aku menjadi Maharaja." kata Balaputra
Setelah itu, dia memacukan kudanya dengan kencang. Tujuannya cuma satu yaitu Goa Rancang Kencono.
**
(Aku dan Adhiraksa)
Pagi - pagi sekali, Adhiraksa sudah sampai di depan kamarku.
tok tok tok
"Putri bangun, udah siang lho" kata Adhiraksa
"Putri ayo lah bangun atau aku akan masuk menembus pintu kamarmu" kata Adhiraksa
Mendengar perkataan Adhiraksa. Aku segera memanggil Kencana.
"Ada apa putri?" tanya Kencana
"Buat pagar gaib, agar Adhiraksa nggak bisa masuk. Aku masih ngantuk." kataku
"Baik putri." kata Kencana
Kencana segera membuat pagar gaib. Dia tahu bahwa kesaktian Adhiraksa tidak bisa dianggap enteng. Akan tetapi dengan daya perintah dari ku. Pagar yang di buat Kencana menjadi lebih kuat.
Adhiraksa melihat, bahwa pintu kamarku seperti terlindungi.
"Putri kecil, kamu mau main - main ya denganku. Baiklah, ayo kita coba" kata Adhiraksa
Adhiraksa segera bersamadi. Dia mencoba membuka pagar gaib dan menembusnya. Tapi sia - sia, dia tidak mampu untuk masuk. Bahkan menyentuh saja, dia kesulitan.
"Ilmu apa yang digunakan oleh putri kecil itu." batin Adhiraksa
Akhirnya dia menyerah dan mengatakan bahwa akan menungguku di lapangan panah.
"Putri, aku mau ke lapangan panah. Jika kamu ingin ikut berlatih panah, segera mandi dan susul aku." kata Adhiraksa
Aku tidak menghiraukan perkataannya. Karena aku sedang asyik menyelami dunia mimpiku.
**
(Bertemu Satria)
__ADS_1
Aku melihat sosok lelaki yang gagah dan tampan. Lelaki itu penuh dengan cahaya yang menyilaukan. Aku penasaran dengan lelaki itu.
"Permisi, siapakah anda ini?" tanyaku
Sosok itu tiba - tiba berbalik arah. Aku terpana melihat wajahnya.
"Satria" kataku
Dia merentangkan tangan. Tubuhnya sangat hangat dan harum. Aku terus peluk erat tubuh hangat itu.
"Kamu sudah selesai bertapa?" tanyaku
"Sudah, aku sudah kembali" katanya
Aku sangat bahagia mendengar perkataannya. Aku tidak kesepian lagi nantinya.
"Apa kamu merindukanku?" tanyanya
"Tentu, sayang." kataku
"Bukankah sudah ada Adhiraksa yang mengantikanku?" tanya Satria
Aku menggelengkan kepala. Aku berharap Satria tidak pergi dariku lagi.
"Kak, jangan pergi lagi ya" kataku
"Tentu sayang. Tapi saatnya aku kembali. Tunggu sebentar lagi." katanya
Sosok Satria tiba - tiba pudar. Lama - lama lenyap dari dekapanku. Aku berteriak dan kemudian bangun.
"Satria, Satria, Satria" teriakku
Aku seperti orang yang hilang kendali. Ku cari Satria di setiap sudut. Tapi tak kutemukan dia. Hingga Puspa keluar dari tubuhku.
"Putri" katanya
Aku segera memeluk Puspa. Ternyata pertemuanku dengan Satria hanyalah mimpi.
"Sabar putri, pangeran sebentar lagi akan kembali." kata Puspa
Aku masih menangis di pelukan Puspa. Dia sahabat yang baik dan selalu ada untukku.
"Puspa, berarti pertemuanku dengan Satria hanyalah mimpi?" tanyaku
"Tidak, tapi itu adalah sukma dari Satria. Dia memberitahu kepadamu. Dia akan segera kembali." kata Puspa
Aku kemudian ingat dengan perkataan Adhiraksa. Jika dia sudah menunggu di lapangan panah. Aku harus segera ke sana. Mungkin ada hal yang sayang untuk dilewatkan.
"Puspa, aku harus ke lapangan panah." kataku
"Pergilah putri, akan ada adu kesaktian antara Rakyan Sanjiwani dan Widasari." kata Puspa
"Apaa??" tanyaku tak percaya
***
Episode kali ini cukup ya,. Mohon maaf telat update. Banyak tugas yang harus dikerjakan nie. Semoga terhibur ya.
Jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya.
with love
Citralekha
__ADS_1