
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya*
Happy reading
.
.
Balaputra terus merayu Widasari dengan kata - kata manisnya. Widasari pun mulai akrab dan bercakap - cakap tentang kehidupan cintanya dengan Pasopati.
"Pangeran pasti ada sesuatu hal yang ingin anda tanyakan pada hamba." kata Widasari.
"Aku hanya ingin mengunjungimu. Berharap kita bisa bersahabat." rayu Balaputra.
Widasari pun senang dan merona ketika terus di rayu oleh Balaputra.
"Putri, apakah kau tahu dimana keberadaan pangeran Satria?" tanya Balaputra.
Widasari mengeryitkan alisnya. Dia merasa ada sesuatu janggal dari Balaputra. Bahkan Wida juga menyadari ketidakhadiran Satria di istana Medang.
"Kakak, aku juga baru menyadari ketidakhadiran kakak Satria." kata Widasari
"Jadi kamu juga tidak tahu dimana Satria sekarang, Wida?" tanya Balaputra sambil memegang bahu Wida.
Widasari hanya menggelengkan kepala sambil mengingat - ingat.
"Apakah Pasopati tidak bicara denganmu tentang Satria?" tanya Balaputra
"Kak Pasopati pernah bilang kepadaku kalau Kak Satria kembali ke Pikatan." kata Widasari.
"Bohooong!!!" teriak Balaputra
Widasari gemetaran karena dibentak oleh Balaputra. Dia pun mundur dan duduk di kursi dengan wajah yang syok. Melihat Widasari ketakutan, Balaputra akhirnya meminta maaf. Dia malah takut jika Widasari tidak mau membantu dirinya menemukan Satria.
"Wida maafkan aku." kata Balaputra lirih.
Wida masih menangis sesenggukan karena di bentak oleh Balaputra.
"Wida maafkan aku" kata Balaputra
Kini Balaputra duduk berlutut di hadapan Widasari. Sebenarnya hal itu membuat Bala muak. Ini kali pertama dia berlutut di hadapan seorang wanita. Jika tidak karena demi informasi penting, dia pasti tidak akan melakukan hal itu.
Melihat ketulusan Balaputra, Widasari pun meminta Balaputra untuk duduk di kursi. Dia menjadi tidak enak, bahkan sekelas pangeran ke dua istana Medang harus berlutut di hadapannya.
"Pangeran jangan seperti itu." kata Widasari.
"Kamu boleh menghukumku, Wida, karena telah kasar padamu." kata Balaputra
"Kakak aku benar tidak tahu, dimana Kak Satria berada. Aku hanya tahu dia kembali ke Pikatan." kata Widasari
Balaputra pun kemudian memohon kepada Widasari untuk mencarikan informasi dimana keberadaan Satria berada.
"Wida, aku boleh minta tolong padamu?" tanya Balaputra penuh harap.
"Apa yang bisa aku bantu, Kak?" tanya Widasari
Mendengar Widasari sudah luluh. Balaputra tersenyum licik. Siasatnya berjalan dengan lancar. Dia mampu meluluhkan hati Widasari.
"Wida, tolong carikan informasi dimana keberadaan Satria." kata Balaputra
"Untuk apa kakak ingin tahu dimana keberadaan Kak Satria?" tanya Widasari.
Widasari berusaha menyelidiki alasan Balaputra ingin mencari keberadaan Satria. Dia sedikit curiga, karena dia tahu ada perselisihan antara Satria dengan Balaputra. Dia takut melakukan kesalahan dan dapat berakibat fatal pada hubungannya dengan Pasopati.
Balaputra nampaknya sadar bahwa Widasari sudah mulai curiga. Dia harus berhati - hati, agar Wida mau membantu dia.
"Aku hanya ingin memastikan keselamatan Satria saja. Terlebih dia akan menikah dengan kakakku. Jadi keselamatan dia menjadi penting banget, Wida." kata Balaputra
Widasari nampak manggut - manggut mendengar alasan dari Balaputra. Menurut Wida itu sangat masuk akal. Dia juga berpikir, bahwa Balaputra sudah ingin berdamai dengan Satria.
"Tapi kakak tidak akan menyakiti Kak Satria, kan?" tanya Widasari mengkonfirmasi.
__ADS_1
"Tidak Wida, aku janji." kata Balaputra.
Widasari pun menyanggupi untuk bertanya pada Pasopati. Tapi Balaputra melarangnya bahwa itu semua atas permintaannya.
"Kenapa kak?" tanya Widasari penasaran
"Aku nggak mau nanti terjadi kesalahpahaman diantara kita, Dik." kata Balaputra
Widasari pun paham. Dia juga mengerti bahwa hubungan antara Pasopati dan Balaputra belum membaik. Wida berharap suatu saat nanti, mereka akan bersatu dan membawa kejayaan bagi Mataram.
"Baik kak." kata Widasari.
Setelah melakukan perbincangan itu. Balaputra undur diri dan akan kembali ke Kesatrian.
...
Malamnya Widasari nampak mondar mandir. Dia bingung harus bertanya seperti apa. Agar tidak dicurigai oleh Pasopati. Menurutnya ini adalah perbincangan yang agak berat. Dia takut Pasopati akan salah paham.
Pasopati malam ini datang ke bilik Widasari. Dia mendapat laporan dari salah seorang prajuritnya. Bahwa Widasari tadi siang bertemu dengan Balaputra. Dia ingin bertanya kepada Widasari tentang pertemuannya dengan Balaputra.
(tok tok tok)
"Wida buka Wida, ini aku Pasopati." kata Pasopati
Mendengar suara Pasopati. Widasari semakin khawatir. Tapi dia mencoba untuk positive thinking. Dia berharap Pasopati tidak mengetahui pertemuannya dengan Balaputra.
"Iy-iya kak, sebentar." kata Widasari
Dia segera bergegas membuka pintu kamarnya. Gemetaran dan juga keringat dingin.
"Kak Pasopati, ada apa?" tanya Widasari
"Kamu sedang apa, kok lama sekali buka pintunya?" tanya Pasopati
"Aku sedang dandan, iya sedang dandan." kata Widasari gugup
Pasopati tahu bahwa Widasari sedang gugup.
Widasari kemudian mempersilahkan Pasopati untuk duduk di teras depan kamarnya.
"Ada keperluan apa kakak menemuiku?" tanya Widasari
"Bukankah aku kekasih hatiku, sayang? Apa aku tidak boleh mengunjungimu?" tanya Pasopati
Widasari hanya tersenyum dan berusaha membuat dirinya tenang. Dia tahu bahwa Pasopati dapat membaca mimik wajah dan gestur tubuh seseorang jika melakukan kesalahan.
"Seharusnya aku yang menemui kakak." kata Widasari.
"Sekali - kali boleh dong kalau aku yang menemuimu?" tanya Pasopati sambil mencubit hidung Widasari
Pasopati melakukan hal tersebut agar Widasari merasa rileks dan tidak merasa terintimidasi. Dia tahu bahwa kedatangannya pasti ada maksud tertentu.
"Kakak mau minum apa?" tanya Widasari
"Air sereh boleh ya, sayang." kata Pasopati
Widasari segera memanggil dayang untuk membuatkan wedang sereh hangat kepada Pasopati.
"Wida, kamu sangat cantik hari ini." puji Pasopati
Mendengar pujian Pasopati, Widasari wajahnya merona. Dia tersenyum sendiri. Rasa nya seperti madu yang manis. Berbunga bunga hatinya. Pasopati pun mendekatinya dan membelai rambutnya yang hitam.
"Wida, seharian ini kamu ngapain?" tanya Pasopati
"Aku di Keputren saja sayang." kata Widasari
Pasopati terus membuat Wida dimanjakan. Dia berharap dapat mengorek informasi dari Widasari tanpa terlihat sedang menginterogasi.
"Ngapain saja di Keputren. Kau adalah calon istriku. Aku boleh kan tahu aktivitasnya?" tanya Pasopati
Widasari hanya menganggukan kepala.
__ADS_1
"Lalu kamu ngapain saja sayang?" tanya Pasopati
"Tadi Kak Balaputra datang." jawab Widasari
Pasopati sangat senang, Widasari mulai terbuka dengannya dan tidak merasa terintimidasi.
"Ada keperluan apa Balaputra datang?" tanya Pasopati
Widasari berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuknya mengorek informasi tentang keberadaan Satria. Dia merasa tidak enak karena sudah berjanji akan akan membantu Balaputra.
"Dia datang mengunjungiku. Oh iya kak, apa aku boleh tanya?" tanya Widasari
"Tanya apa sayang?" tanya Pasopati
"Aku akhir - akhir ini tidak melihat Kak Satria. Dia kemana sih, aku merindukan dia." kata Widasari
Pasopati sekarang tahu apa motif Balaputra mendatangi Widasari. Ternyata untuk mengorek keberadaan Satria. Ya dia pergi bertapa hanya Pasopati dan Nararia yang tahu dimana keberadaan Satria. Meskipun lokasi persisnya dimana tidak tahu.
"Satria kembali ke Pikatan." kata Pasopati
"Tapi, Kak Bala bilang dia sudah mencari Kak Satria ke Pikatan tidak ada." kata Widasari
Mendengar pertanyaan Widasari. Pasopati mulai curiga dan was - was. Ternyata Balaputra telah meminta prajuritnya untuk mencari keberadaan Satria.
"Bala berkata seperti itu?" tanya Pasopati
"Iya." jawab Widasari
"Kenapa dia ingin mencari Satria?" tanya Pasopati
"Kak Bala bilang jika dia ingin melindungi Kak Satria. Dia takut terjadi sesuatu hal yang buruk padanya." kata Wida
Pasopati sangat geram dengan Balaputra. Dia telah berani sejauh itu mencari keberadaan Satria. Tapi sepertinya nihil, sampai Bala mencari informasi kepada Widasari.
"Kakak pasti tahu, kan dimana keberadaan Kak Satria?" tanya Widasari
"Kalau aku memberitahumu, apakah kau akan bilang ke Balaputra?" tanya Pasopati
"Ya, aku sudah janji." kata Widasari
Pasopati tidak ingin mengecewakan kekasih hatinya. Tapi dia sendiri juga tidak tahu dimana keberadaan Satria secara pasti. Dia hanya tahu kalau sedang meditasi di wana Taas.
Tapi meskipun Pasopati tahu dimana keberadaan Satria. Jelas tidak akan pernah memberitahukan kepada Widasari. Terlalu riskan untuk keselamatan Satria.
"Kalau aku memberitahumu, apa upah untukku?" tanya Pasopati
"Apapun yang kakak minta, kalau aku mampu pasti aku penuhi." kata Widasari semangat.
Pasopati nampak senyum licik dan berniat mengerjai Balaputra.
"Dia sedang mempersiapkan perhiasan untuk acara pernikahannya dengan Nararia." kata Pasopati
"Sampai selama ini?" tanya Widasari
"Iya, karena Satria sedang ada di Hutan Dandaka." kata Pasopati
Pasopati memberitahu Widasari lokasi bohongan dimana Satria berada.
"Kenapa di Hutan Dandaka? itu kan hutan terlarang." tanya Widasari.
"Di tengah hutan itu terdapat sebuah permata yang sangat langka. Permata hanya ada 1 di dunia ini. Makanya Satria ingin menghadiahkan permata itu untuk Nararia." kata Pasopati
Mendengar penuturan Pasopati, Widasari sangat bahagia. Dia mengecup pipi kanan dan kiri Pasopati.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
(Kira - kira Balaputra bakalan mencari Satria ke Hutan Dandaka tidak ya?, secara hutan itu sangat angket dan jarang dijamah oleh manusia).
with love
__ADS_1
Citralekha