
sebelum membaca
*Jangan lupa vote ya*
like, coment, atau kasih bintang 5 juga boleh lho
Happy reading
.
.
Aku kemudian membuka mata dan kulihat 2 orang penggawalku sudah ada di sampingku. Sebenarnya aku belum puas berdialog dengan Pandita. Tapi kesaktian Pandita Narada sangat hebat. Dalam sekejab aku sudah kembali lagi ke masa depan.
Aku melihat dua orang temanku sedang berdiri sambil menunjukan wajah yang sebal. Aku jadi kikuk menghadapi mereka berdua.
"Ngapain, kalian di sini?" tanyaku heran.
Dika kemudian memandangku dengan penuh tatapan sinis. Dia kemudian menyerat ku dengan paksa. Menarik tanganku agar segera menyingkir dari tempat berdiriku semula.
"Kamu kenapa Ra, berdiri ditengah - tengah pintu kayak patung saja" katanya yang mulai jengkel.
Aku kemudian celinggukan kanan dan kiri. Ternyata benar, aku tadi berdiri di tengah pintu. Aku sudah menghalangi banyak orang yang ingin berfoto di depan Candi Prambanan.
"Hehehehhe... sudah berapa lama aku berdiri di sini?". tanyaku sambil cenggar cenggir.
"Sejam!!!" kata Ivan yang membuatku menutup mata, karena suaranya keras sekali.
"Kamu nggak kesambet penghuni candi kan?" tanya Ivan lagi.
Ivan sangat geram dan mulai malu tatkala banyak orang yang berusaha menggeser kami. Aku pun segera menepi dan berteduh.
"Kalau kesambet mas mas ganteng mah ngak papa" jawabku sambil tersenyum
Aku kemudian mengajak mereka berdua masuk ke halaman utama. Berharap mereka tidak mempermasalahkan apa yang tadi aku lakukan. Tak lupa segera aku mencubit mereka berdua, agar tidak marah padaku.
"Masuk yuk, dah nggak sabar ni" kataku.
Mereka kedua kemudian mengikuti masuk. Tiba - tiba ada seseorang yang menghampiri kami. Kami kemudian menjaga jarak dengan orang asing. Kami takut kalau orang itu adalah pencopet. Maklum pada waktu itu, masih banyak copet yang berkeliaran.
"Hai adik - adik, kok cuma bertiga? Mau aku temani nggak masuk ke dalam" katanya.
__ADS_1
Kami kemudian memandangnya penuh kecurigaan. Dari ciri - cirinya sih sepertinya dia adalah seorang guide . Dia menggunakan jaket almamater berwarna cream. Aku kemudian membaca logo yang ada di jaketnya. Ternyata dia seorang mahasiswa UGM.
Kampus yang selama ini aku impikan. Tapi aku tahu, aku tidak mungkin bisa kuliah di UGM. Kondisi ekonomi kami tidak mampu untuk membayar buaya kuliah di kampus paling bergengsi di negri ini.
"Enggak" jawab kami kompak.
"Gratis, lho ... aku kebetulan lagi magang di sini. Aku Fais dari Jurusan Sejarah, UGM" katanya sambil memperkenalkan diri.
Kuperhatikan dia baik - baik, dan kemudian ku berpikir 'Apa dia Rakai?' tanyaku dalam hati.
'Kalau Rakai kok dia cungkring, item, lusuh lagi. Nggak mencerminkan seorang pangeran sama sekali. Masa ini jodohku'. Aku kemudian senyum geli sendiri membayangkan kalau sosok ini adalah Rakai.
"Eh kesambet loe ya?" tangan Fais sudah gerak - gerak di depan mataku.
"Sembarangan saja" bantahku.
Aku kemudian berdiskusi dengan Ivan dan Dika. Bagaimanapun aku tidak bisa memutuskan sendiri.
"Gimana ni, terima nggak?" tanya Ivan.
"Yaudah, terima saja lumayan kan gratis, hehehhe" usul Dika.
Akhirnya kami terima Fais menjadi guide kami. Dia mulai beraksi menjelaskan tentang Candi Prambanan. Sifat usulku muncul, dalam hatiku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang susah, hehehe.
"Enggak" jawab kami kompak.
"Duh kalian ini pelajar yang nggak mencintai sejarah warisan nenek moyang" ledek Fais.
Kami bertiga kemudian melotot ke arah Fais. Aku juga mengepalkan tangan sebagai tanda tidak terima jika kami dibilang tidak mencintai Candi Prambanan. Tiap tahun saja kami selalu datang ke Candi untuk sembahyang.
"Oke, oke.. enggak..enggak, bercanda" kata Fais.
"Eh, katanya kamu kan guide kami ya, tugasmu lah jelasin ke kami" kataku sewot.
"Temenmu ini galak banget ya, ati - ati lho ntar ketemu ama penghuni ni tempat" kata Fais.
Aku kemudian menatap tajam ke arah Fais. Aku juga jalan lebih dahulu.
"Udah udah Ayo Mas Fais jelaskan tadi itu apa yak, yang UNESCO, tadi" kata Dika melerai kami.
'Semoga saja dia bukan Rakai hmm.. Apakah mungkin Rakai itu si Dika? Dika kan baik sama aku' batinku
__ADS_1
"Oke anak - anak, kakak guru akan jelaskan kepada kalian tentang Candi Prambanan" kata Fais yang mulai songgong
Aku mulai kesal dengan Fais yang terus berputar - putar menjelaskan kepada kami. Itu semua karena aku sudah tidak sabar mendapatkan informasi tentang keagungan Candi Prambanan.
" Kamu niat jadi guide nya kami nggak sih? Ngomongnya bertele - tele." kataku.
"Ampuuun dah ni Nyi Roro Jonggrang, gue kutuk lho jadi patung mau?" katanya yang mulai sedikit emosi.
"Udah dong, nggak seru ni. Kalau kalian hanya berantem saja, males ah, yuk Dik, kita jalan berdua" kata Ivan yang sudah mulai bosan dengan kelakukan kami.
Akhirnya aku nggalah dan minta maaf ke Fais. Tidak ada gunanya aku marah dengan dia. Aku takut jika nanti dia marah, maka aku akan kehilangan narasumber yang hebat dan tentunya gratis, hehehe
"Oke ... jadi Candi Prambanan atau dikenal dengan nama Roro Jonggrang diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage sejak tahun 1991, dengan nomor inventaris C.642 dan dikenal sebagai Prambanan Compleks Compound" jelas Fais.
"Halaman pagar keliling ini berukuran 390 x 390 m2. Saat ini halaman terluar candi ini tidak ditemukan adanya bagunan lain. Hanya struktur pondasi yang ditemukan oleh Arkeolog pada saat ekskavasi. Fondasi tersebut diperkirakan sebagai tempat tinggal para pendeta" lanjut Fais.
Aku kemudian teringat oleh gambaran yang baru saja aku dapatkan. Banyak pendeta yang berdatangan ke Parahyangan Brahman untuk melakukan puja. 'pantas saja tadi aku lihat banyak pendeta. Duh kok aku tadi **** sih. Bisakah aku masuk kembali ke abad itu untuk jalan - jalan di sana.
"Oke anak - anak lanjut ya. Halaman tengah itu (sambil menunjukan pagar utama Prambanan) dikelilingi oleh tembok pagar berukuran 220 x 220" jelas Fais.
"Mas, ini candi - candi kecil ini jumlahnya berapa ya?" tanya Dika
Dika mulai bertanya dengan kritis setiap benda yang menurut dia menarik perhatian. Jujur saja meskipun kami sering ke Prambanan tapi tidak pernah kami mendapatkan pengetahuan seperti ini.
"Oke, di halaman dua yang saat ini kita injak terdapat 224 buah candi perwara atau candi pendamping. Sehingga ukurannya lebih kecil dari yang di atas" jawabnya.
"Mas Fais pernah menghitung atau tau nggak di sisi timur, barat, utara, selatan itu jumlah candi perwara nya berapa - berapa? Sehingga kalau ditotal jadi 224" tanya Ivan yang mulai mengidentifikasi setiap perkataan Fais.
Aku masih saja fokus pada penjelasan Fais dan manggut - manggut . Selama ini aku belum pernah tau. Soalnya, yang ku tahu kalau ke sini cuma naik lihat arca trus turun dan sembahyang.
"Jadi gini Van, candi perwara ini disusun menjadi empat deret. Semakin ke dalam candinya semakin tinggi letaknya. Deret pertama 68 buah, deret ke dua 60 buah, deret ketiga 52 buah, dan deret keempat 44 buah" terang Fais.
"Kenapa setiap deret mempunyai selisih 8?" tanya Dika.
Aku malah baru menyadari bahwa tiap deret yang dijelaskan oleh Fais memiliki selisih 8. Mungkinkah angka 8 merupakan penggambaran dari pengider - ider nawa sanga. Menggambarkan 8 arah mata angin. Menggambarkan 8 dewa lokapala.
Fais kemudian terdiam dan ....
**
Episode ini cukup ya dan terimakasih sudah berkenan membacanya.
__ADS_1
with love
Citralekha