
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment*.
Rate bintang 5 juga boleh.
Happy reading ya teman - teman.
.
Aku melihat lelaki yang pernah menolongku ketika aku di dunia lain. Dia tersenyum padaku dan melambaikan tangannya. Aku kemudian berkata kepada Dika dan teman - teman kalau aku akan kembali ke halaman 1 Candi Prambanan.
"Eh, kalian duluan saja ke Candi Lumbung dan Bubrah, ntar aku susul." kataku pada mereka.
"Kamu mau kemana Ra?" tanya Dika.
"Aku tadi melihat saudaraku, Mas Parji. Inget kan? mas yang tadi kasih kita masuk gratis." kataku mencari alasan.
Dika dan Ivan juga sebenarnya ingin menemaniku dan bertemu dengan Mas Parji. Tapi kan aku hanya alesan, bukan Mas Parji, tapi lelaki tampan yang misterius itu.
"Eng ... enggak usah, ntar aku sampaikan salam kalian." kataku.
"Eh beneran?" kata Dika.
"Iya, udah sana kalian ke candi itu sebelum sore, ntar aku susul." teriakku sambil aku berlari menuju halaman Wisnu Mandala dan mengejar lelaki itu.
Sebelum itu, aku kemudian menoleh ke arah Dika, Ivan, dan Fais. Aku memastikan kalau mereka sudah menjauh dariku dan tidak melihatku.
Aku kemudian berlari dan mengejar lelaki misterius itu.
"Hei, tunggu ... kenapa kamu menghindar!" kataku sambil terus berlari mengejar dia. Dia tidak menghiraukan aku sama sekali, hanya menoleh dan tersenyum dengan manis.
"Hei ... kalau kamu nggak mau berhenti. Aku nggak akan ngejar kamu lagi. Aku mau kembali ke teman - temanku." kataku sambil berhenti dan bersiap untuk balik menyusul teman - temanku.
Aku kemudian tidak menghiraukan lagi lelaki itu. Sambil cemberut aku kemudian berjalan menuju Candi Lumbung. Belum lama aku melangkahkan kaki. Tiba - tiba sepasang tangan telah menutup mataku. Aku kaget dan langsung menyentuh tangan yang menutupi mataku. Aku meraba tangan halus dan lembutnya.
"Eh kamu, kok ngeselin banget, tiba - tiba menutup mataku. Emang kita kenal?" tanyaku sewot pada lelaki itu.
"Bukannya kamu yang memanggilku?" godanya sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
Aku kemudian menepis tangannya dari kepalaku. Tapi aku merasakan nyaman memegang tangannya.
__ADS_1
"Woi ... kamu suka ya sama aku?" katanya PD sambil menyibak rambutnya.
"Ih PD, siapa juga yang suka kamu." Aku kemudian berbalik arah dan aku memutuskan untuk menyusul teman - teman.
Dia kemudian memegang tanganku dan langsung memelukku. Ini adalah kali pertama aku dipeluk oleh lelaki lain selain Mas Antong.
"Duh ... kok deg - degan ya." kataku dalam hati.
"Kamu Rakai bukan?" tanyaku sambil berusaha melepaskan pelukan tangannya.
Dia hanya tersenyum dan terus memandangiku.
"Hallo" aku kemudian mencubit lengannya.
"Sakit tau ... kamu tu kecil - kecil tapi tenaganya ya." dia berkata sambil terus memegang tanganku.
"Eh jangan macam - macam ya, ini tempat wisata banyak orang. Aku nggak mau ntar dikira kita nggak punya moral, masih kecil tapi dah pacaran." kataku sambil mundur pelan - pelan.
"Kamu malu ketahuan orang - orang di sini? lihatlah sekelilingmu." katanya sembari menunjukan orang - orang yang ada di pintu masuk candi.
Aku sangat kaget karena semua orang itu membisu bagaikan patung tak bergerak sama sekali.
"Eh apa yang terjadi?" tanyaku.
Aku kemudian berpikir, kalau orang ini pasti Rakai. Kalau benar Rakai, aku pasti seneng banget. Dia lebih ganteng dari pada Dika.
"Hei ... kok kamu melamun?" tanyanya. Tangannya kemudian mencubit pipiku.
"Kamu lo, bukan siapa - siapa dan juga nggak kenal berani - beraninya nyubit - nyubit aku." kataku sewot.
Dia kemudian mendekat kepadaku dan terus mendekat. Aku kemudian mundur pelan - pelan. Aku merasa takut kalau orang ini adalah orang jahat dan bisa saja dia penculik. Dia akan menculikku dan akan mencungkil mataku untuk dijadikan cendol.
"Jangan takut Nararia. Aku sudah datang. Aku akan melindungimu." katanya.
"Apa kamu Rakai?" tanyaku.
"Aku bukan Rakai, tapi Aku Satria. Namaku Satria". katanya.
Aku berpikir jika dia bukan Rakai berarti pendeta waktu itu sudah berbohong padaku. Kalau aku akan ditemui oleh Rakai.
__ADS_1
"Aku Satria Dyah Seladu ... paduka Rakai yang telah mengirimku untuk menjagamu di masa sekarang." katanya menyakinkanku.
Aku mencoba menggeleng - gelengkan kepala. Aku mungkin terlalu terobsesi kalau dia adalah Rakai pangeran dari kerajaan Mdang ri Mamratipura.
"Aku akan menjadi temanmu. Aku tahu kamu sangat kesepian." katanya lagi.
"Aku nggak kesepian kok. Aku punya Dika dan Ivan." kataku yakin.
"Dia akan meninggalkanmu." katanya.
Aku kemudian menggelengkan kepala dan berlari akan menyusul Dika dan Ivan.
"Kamu tidak akan bisa membangunkan mereka kalau kamu nggak mau jadi temanku." teriak Satria.
Aku kemudian mengehela nafas dan berbalik arah.
"Kamu maunya apa sih?" tanyaku penuh kebencian.
"Nararia ... percaya padaku. Izinkanku untuk menjagamu." katanya penuh harap.
"Dari mana kamu tahu namaku." kataku.
"Kata pendeta yang kamu temui saat di duniaku." katanya.
Aku berpikir sejenak, dan aku juga harus menyelamatkan Dika, Ivan, dan Mas Fais agar bergerak lagi.
"Aku nggak akan menyakitimu. Aku berjanji." katanya penuh harap dan tiba - tiba memegang tanganku.
"Apa kamu janji, jika kita berteman, keadaannya akan kembali seperti semula?" kataku sambil menangis. Aku takut kalau Dika dan Ivan akan mati. Aku takut kalau ortu mereka akan marah padaku.
*
Episode kali ini cukup ya teman - teman.
terimakasih atas waktunya.
Akhirnya Satria muncul ya..
tunggu kisah selanjutnya ya.
__ADS_1
with love
Citralekha.