
Flashback seminggu sebelumm pernikahan mama.
.
.
.
Seminggu sebelumnya
Mama, calon bapak tiri, dan saudara perempuan tiriku pulang dari Jakarta. Mereka menggunakan transportasi kereta. (Dulu sistem duduknya masih berdesak - desakan. Pedagang masih banyak di kereta. Orang yang memiliki tempat duduk bisa berdiri alias diserobot orang).
Mereka masuk gerbong dengam berdesak - desakan. kejadian itu dimanfaatkan oleh tangan - tangan kreatif. Mereka adalah copet. Copet itu menggasak dompet dari Pak Kasno. Mereka sadar kecopetan setelah mereka duduk dan dompetnya hilang. Pak Kasno menanggis, karena uang hasil sumbangan dari saudara - saudaranya di Jakarta raib. Untungnya mama membawa uang lebih untuk jajan.
"Uangnya dicopot, Dik." kata bapak sambil menangis.
"Lha mau gimana lagi, Mas. Kita sudah lapor ke petugas. Tapi hasilnya nihil, tidak ketemu. Orang segini banyak di kereta ya sulit mencarinya." kata mama.
"Terus gimana untuk biaya nikah nanti?" tanya bapak
"Aku punya uang simpanan." kata mama
Malam itu di perjalanan pulang, bapak dan mama masih bersedih karena kehilangan dompet yang berisi uang sumbangan dari saudara - saudaranya.
...
(Di rumahku).
Aku dan Mas Antong juga keluargaku sangat rukun. Mereka menjagaku sepenuh hati. Hingga suatu malam, 2 malam sebelum mama pulang, Mas Antong bercakap - cakap denganku
"Kamu sebentar lagi akan punya bapak tiri." kata Mas Antong
"Tapi aku nggak mau, Mas. Bapak tiri pasti jahat, kan?" tanyaku
"Ya didoakan saja, Ra. Semoga bapakmu nanti baik dan sayang sama kamu." katanya.
"Mas, aku dengar kamu mau merantau ke Jakarta ya?" tanyaku
"Iya, mau mencari kerja di sana." katanya
"Kenapa nggak di sini saja, Mas? aku bakalan kangen." kataku sambil terisak.
Malam ini aku tidur bersama Mas Antong. Aku terus mendekap dia. Aku takut kehilangan dia dan aku juga takut akan kehadiran lelaki asing hang tidak ku kenal masuk di kehidupan kami.
Malam itu, Mas Antong juga membelai lembut rambutku. Mungkin dia juga merasakan sedih dan tidak tega denganku. Tapi dia tidak menunjukan rasa sedihnya di hadapanku.
-----
Setibanya di rumahku, mereka ber tiga dalam keadaan lesu. Aku udah menduga pasti terjadi sesuatu. Mama kemudian mengadu pada Mbok Temu.
__ADS_1
" Enggak beli oleh - oleh apa-apa. Uang sumbangan dari sodaranya Mas Kasno dicopet." adu Mama ke bude.
Mbok Temu kemudian berkata "Yowes ngak papa, yang penting sehat dan slamet dah sampai rumah."
"Anu Yu, Aku merasa ada 2 orang lelaki yang mendekatiku. Dia menggunakan koran untuk nutupi tangannya. Tangan satunya masuk ke kantong rompiku. Aku mau menahannya tapi nggak bisa. Tanganku terjepit oleh banyaknya orang." kata Pak Kasno.
"Yaudah, lain kali lebih hati - hati. Mau teriak seperti apa juga nggak bakalan balik uangnya." kata Mbok Temu.
Pak Kasno kemudian ngomong lagi ke mama
"Besok nikah, aku sudah nggak punya apa - apa buat biaya pernikahan kita."
Secepat kilat mama nyaut "Yaudah besok ambil saja tabungannya Rara di sekolah, ada kok 1 jutaan lebih."
Kaget dong aku, kok yang jadi korban tabunganku. Lelaki itu nggak ada usaha lainnya. Aku saat itu langsung pergi meninggalkan mereka. Aku langsung main ke rumah temenku.
----
Pagi harinya..
"Ra, buku tabungannya mana. Aku mau ambil buat biaya nikah." kata mama.
Mama pagi - pagi sudah ribut menanyakan buku tabunganku.
Aku pun kemudian protes, "Kok pake tabunganku, Ma. Uang itu ntr untuk biaya aku masuk SMP."
"Besok Mama tuker pake gelang mama." jawab mama.
Aku kemudian memberikan buku tabungannya. Mama datang ke sekolahku dan mengambil semua tabunganku tanpa sisa.
Aku hanya bisa nanggis di kamar. Aku melihat tabunganku selama 2 tahun ludes. Mama menghabiskan untuk kepentingan yang seharusnya bukan tanggungjawab mama.
Aku kemudian ke rumah Mbok Temu masih dengan mata sembab. Dia kaget dan langsung membelai lembut rambutku.
"Kenapa kok nangis? tabungannya habis?" tanya Mbok Temu.
Aku hanya mengangguk sambil nangis sesenggukan. Mbok Temu menenangkanku dengan berbagai alasan dan nasihat.
"Sabar ya Nduk, suatu saat kamu pasti akan mendapatkan uang mu kembali. Itu sudah menjadi keinginan mamamu buat nikah lagi." kata Mbok Temu
"Tapi mama berubah, Mbok Temu. Mama jadi jahat dan tega sama aku." kataku
Mbok Temu juga menangis begitu melihat aku sesenggukan.
"Mbok, aku mau ikut Mas Antong ke Jakarta saja lah ya." kataku
"Ya nggak bisa." katanya
"Kenapa?" tanyaku
__ADS_1
"Mas Antong kan belum kerja, nanti kalau kamu ikut ke Jakarta malah ganggu dia kerja. Udah berdoa saja semoga semuanya akan baik - baik saja." hibur Mbok Temu.
Malam ini aku tidur di rumahnya Mas Antong. Aku tidur bersama Mbak Iput (anak tertua mbok temu). Mama menyusul aku ke kamar.
"Rara sudah tidur?" tanya mama
"Sudah, biarkan tidur di sini." kata Mbok Temu.
----
Pagi - pagi aku mengelilingi desa. Aku melihat suasana pedesaan yang asri dan hijau.
Aku kemudian ke kuburan Simbok dan mengadu di samping makam Simbok.
"Mbok, besok mama mau nikah. Aku nggak setuju, Mbok. Deknen dudu uwong apik (dia bukan orang baik), Mbok. Belum apa - apa saja sudah menghabiskan tabunganku, Mbok. Besok apa lagi yang akan dihabiskan, Mbok?" Curhatku pada makam Simbok.
Aku lama sekali di makam seorang diri. Biasanya aku paling takut kalau diajak ke makam. Tapi kali ini aku berani sendirian sambil nanggis.
Tiba - tiba aku merasakan hawa dingin yang menyentuh kepala dan memelukku. Tanganku juga sedikit merinding dan bulu kuduk berdiri.
Aku merasakan kehadiran Simbok memeluk. Tapi aku nggak bisa lihat dan hanya bisa merasakan kehadiran arwah simbok.
"Mbok, Aku pulang dulu ya. Mama nyar nyariin aku. Soalnya tadi aku nggak pamit." kataku
Aku kemudian buru - buru keluar dari makam. Tapi tiba - tiba ada sesuatu yang menahanku. Seperti ada tembok besar bening yang membuatku nggak bisa keluar dari makam itu. Padahal di depanku adalah pintu makam yang terbuka lebar.
"Ini kenapa ya, kakiku nggak bisa digerakan." gumamku.
Aku ketakutan dengan hal ini. Aku benar - benar menangis. Aku kemudian melihat satu per satu nisan.
"Tuhan, kenapa ini?" kataku
Aku semakin takut karena aku melihat dari sudut makam mengeluarkan asap.
"Asap apa itu?" tanyaku.
Aku semakin merinding. Aku ingin segera berlari sekuat mungkin. Tapi nggak bisa. Aku seperti patung.
"Mbok ... tolong aku." rintihku sambil melihat makam Simbok.
Makam yang biasa sunyi tiba - tiba berubah seram. Pohon - pohon di area pemakaman bergerak bak tertiup angin kencang. Aku semakin takut dan kemudian menangis. Aku melihat beberapa nisan keluargaku yang tetap tenang. Ini adalah kali pertama aku merasakan aura dan hawa tidak enak di pemakaman. Aku ingin berlari kencang dan keluar dari area ini. Tapi sayangnya, itu semua tidak berhasil. Aku semakin menangis dan semakin larut dalam tangisan.
**
Episode kali ini cukup ya.
Terimakasih atas waktunya.
With love
__ADS_1
Citralekha