
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Kami bersiap untuk berangkat ke taman Gandha Arum. Pasopati tiba - tiba mengurungkan niat untuk ikut. Aku tahu maksud Pasopati, karena dia ingin memata matai Astana. Meskipun Widasari keberatan, aku mencoba membujuk Satria untuk tidak ikut ke taman.
"Satria, gimana kalau kamu tidak usah ikut saja. Aku mau buat kejutan untukmu." kataku
Aku mencoba merayu Satria agar dia tidak ikut. Sebenarnya aku juga tidak mau dia ikut. Ini urusan wanita. Tapi aku pura - pura memintanya ikut agar Widasari menyingkir dan aku bisa menyusun rencana dengan Pasopati.
"Tapi, " kata Satria
Belum sempat dia melanjutkan perkataannya, aku sudah memotongnya.
"Enggak ada tapi tapian, udah sana cepat turun dari kereta." kataku sambil tersenyum
"Berani ya ngusir, awas ya nanti kalau kita sudah menikah." godanya
Akhirnya Satria turun dari kereta tapi sebelum itu, dia mencium keningku di hadapan Widasari.
"Kenapa sih harus mencium kakak, di depanku?" gerutu Widasari.
Satria kemudian mencolek dagu dan mengusap kepala Widasari.
"Jaga baik - baik kak Rakyan, ya Widasari." pesan Satria
"Uuuuh tidak mau, udah cepet kak Satria turun dari kereta
"Iya iya turun ini, jaga baik - baik kakakmu, ya." pesan Satria.
Satria turun dari kereta dan memerintahkan beberapa prajurit untuk mengikuti kami. Kereta melaju perlahan, aku merasa curiga dengan jalannya kereta ini.
"Widasari, kenapa kereta jalannya lamban?" tanyaku
"Ngak papa kak, sambil menikmati perjalanan." kata Widasari.
Tak berapa lama kereta sampai di Taman Gandha Arum. Aku kaget, karena taman tersebut ada di lingkungan dalam istana. Aku merasa sebal sama Widasari. Dia sudah mengerjaiku.
"Wida, kenapa tamannya cuma ada di lingkungan istana?" tanyaku heran
"Hehehe... iya kak." kata Widasari sambil cengar cengir.
"Kenapa kita naik kereta, kalau dekat?" tanyaku
"Aku capek jalan, kak." jawabnya
Jawaban Widasari membuatku gemas. Gimana tidak coba, jarak dari kamar ku menuju taman ini paling sekitar 500 m. Jarak segitu bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi, kenapa aku tidak tahu kalau di lingkungan istana ada taman seperti itu. Mungkin aku, masih belum mengenal seluruh detil istana ini.
"Gimana perjalanannya, sayang?" tanya Satria
__ADS_1
Dia tiba - tiba muncul dan sudah menyambut kehadiran kami. Betapa sebalnya aku, pantas saja Pasopati tidak mau ikut. Kurang asem, kenapa aku tidak dikasih tahu. Aku tidak menghiraukan pertanyaan Satria, karena aku masih sebel.
Di pintu masuk taman sudah dijaga oleh para dayang. Pertama, kami diberikan air dulu dan kemudian aku diberi sebuah bunga untuk diselipkan di telingaku.
"Hey." kata Satria sambil merentangkan tangannya.
"Minggir, aku mau lewat." kataku
Dia memberikan isyarat bahwa aku tidak boleh masuk. Dia mengatakan bahwa untuk masuk membutuhkan kunci.
"Maksudnya apa nih?" tanyaku
"Melewati pintu, harus memiliki kuncinya." katanya
"Apaan kuncinya? cepetan ah aku mau masuk." kataku
Dia kemudian menepuk nepukan pipi kanannya, sebagai isyarat agar aku menciumnya. Aku kemudian menepuk kecil pipinya dan mendorongnya.
"Sadis amat tu cewek." gerutu Satria
Demikian juga dengan Widasari yang melihat sadis ke arah Satria.
"Kasihan deh lo, emang enak, wleeek." ejek Widasari
"Awas ya kalian berdua." ancam Satria.
Aku dan Widasari masuk ke dalam taman. Sedangkan Satria dilarang masuk ke taman itu. Tidak hanya Satria, tapi semua lelaki tidak diperbolehkan masuk ke taman ini.
"Maaf pangeran, tapi anda tidak diizinkan masuk." kata dayang.
"Ini khusus wanita, pangeran. " kata dayang satunya lagi
"Baik, buat semakin cantik permaisuri hatiku. Aku akan tunggu di sini." kata Satria.
Aku masuk ke taman itu dan diperhatikan hampir setengah dari tanaman dan ramuan itu aku kenal semua. Ada kunyit, laos, kencur, tumbuhan orang aring.
"Aku tahu kegunaan ini lho." kataku
"Apan?" tanya Widasari.
"Ini kunyit, bagus untuk lulur. Trus ini adalah orang aring untuk rambut." kataku
"Betul." kata Widasari singkat
"Eh, kayu cendana untuk apa?" tanyaku?
Widasari kemudian menoleh ke arahku dan menjelaskan tentang kegunaan beberapa tanaman yang bisa digunakan untuk kosmetik.
Cendana direbus sampai airnya tinggal dikit. Setelah itu, disaring dan dioleskan pada kulit. Air pohon cendana juga bisa dicampur dengan menggunakan irisan jeruk nipis tujuannya untuk meremajakan sel kulit.
Madu dan putih telur digunakan untuk masker wajah. Campuran dua bahan ini dipercaya akan membuat wajah berseri seri.
Kunyit atau parutan dan dicampur dengan air pandan juga dipercaya untuk membuat wajah dan kulit nampak kuning langsat, kulit juga lebih halus.
__ADS_1
Minyak kelapa dan sangrai biji kemiri juga dipercaya dapat menghaluskan rambut dan memperkuat akarnya, serta rambut nampak berkilau.
Air dari sari bunga mawar juga sangat ampuh untuk mengurangi flek hitam pada wajah.
"Ini ramuan untuk apa?" tanyaku
Aku membuka salah satu isi kwali yang baunya agak nyengak wangi wangi gimana gitu. Widasari dan dayang kembali menjelaskan kepadaku tentang ramuan yang baru aku lihat.
Ramuan untuk masker rambut juga terbuat dari rebusan bunga kenanga, melati, minyak kelapa, daun waru, daun mangkokan, dan irisan pandan. Penggunaannya dapat digunakan jika sudah mendapatkan rebusan dan didiamkan selama 3 hari.
Dayang juga menjelaskan tentang sebuah ramuan yang bisa digunakan untuk mengecilkan perut pasca melahirkan.
Ramuan tersebut terdiri dari tepung beras, kencur, daun adas, pulosari, bangle, klabet, kayu manis, dan jahe. Ramuan tersebut dicuci bersih dan kemudian ditumbuk dan dioleskan pada perut dan dikasih stagen kurang lebih selama 40 hari secara rutin.
"Putri, ada beberapa ramuan lagi yang digunakan untuk masalah kewanitaan. Ini Kak Rakai pasti suka." goda Widasari.
"Macam apa itu?" tanyaku
Dia langsung menuntunku ke sebuah kendi dan menyuruhku untuk mencium aroma itu. Aku hampir saja muntah karena mual. Minuman itu adalah jamu ramuan putri keraton untuk menjaga kewanitaannya.
Ramuan tersebut adalah campuran dari kunyit dan asam jawa, dan madu, juga sedikit garam. Ramuan tersebut dipercaya mengurangi rasa nyeri saat haid.
Tumbuhan kunci, daun pandan, dan daun sirih juga dipercaya untuk menghilangkan bau badan, keputihan, dan menjaga daerah kewanitaan.
"Sebelum kakak menikah, kakak harus menggunakan ramuan yang dibakar untuk menjaga daerah kewanitaan." kata Widasari
"Apa itu?" tanyaku
"Serbuk cendana, kayu manis, daun pandan, melati, bunga kenanga, bunga kantil yang sudah kering. Asap dari wewangian itu lah yang digunakan untuk membuat daerah wanita menjadi harum." kata Widasari
Aku sangat beruntung bisa ke abad ini dan menyaksikan berbagai macam jenis tanaman bunga, tumbuhan, dan buah yang dapat digunakan untuk merawat kulit agar tetap bersih.
"Kak, mau coba minuman jamu ini?" tanya Widasari.
"Eng ... enggak makasih, wid." tolakku
Aku nggak kuat sama baunya. Apalagi disuruh meminumnya bisa bisa aku langsung mual dan menurunkan selera makanku. Widasari nampak memaksaku tapi aku menolaknya. Dia kemudian menyerah dan meminum ramuan itu.
"Gimana rasanya?" tanyaku
"Enak, dan badanku terasa segar." katanya
Aku hanya mencicipi kencur, air asam, dan madu dengan jeruk nipis. Rasanya enak, tapi kalau untuk jamu - jamuan jujur aku tidak suka.
Dayang kemudian mempersilahkan aku dan Widasari untuk tidur di tempat yang sudah disediakan. Sepertinya, aku akan di maskerin ala ala spa gitu. Tapi ini menggunakan ramuan tradisional yang ku yakin tidak ada efek buruk pada kulit seperti bahan kimia pada abad 21.
**
Episode kali ini cukup ya. Semoga mendapatkan pengetahuan tentang info perawatan kecantikan resep Jawa Kuna. Aku juga sering mencoba ramuan - ramuan tersebut untuk merawat kulit dan sangat ampuh l, tidak ada efek sampingnya.
Selamat mencoba bagi yang mau mencoba.
With love
__ADS_1
Citralekha