
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Aku segera mencari Puspa, Kencana, Prasta, Satria, Aura, dan Tamara.
"Putri" kata Kencana
"Mereka aman ada di dalam cupu manik ini. Sekarang ayo kita kembali ke dunia mu." kata Puspa
Tapi sebelum kami kembali, aku melihat sekelebat bayangan hitam.
"Lelaki ber hodie hitam" kataku
"Siapa putri?" tanya Puspa
"Lelaki yang berhodie hitam itu selalu muncul ketika terjadi kekacauan." kataku
Puspa pun memandang mataku. Dia sedang melihat apa yang tadi aku lihat. Setelah dia melihat siapa lelaki yang aku lihat. Puspa pun lalu berkedip - kedip.
"Apa yang kamu lihat, Pus?" tanya Kencana
"Dia telah reinkarnasi, sepertinya dia akan membalas dendam." kata Puspa
"Balas dendam apa? siapa musuhku di masa lalu?" tanyaku
Puspa dan Kencana hanya saling menatap. Mereka sepertinya tidak mau menyebutkan siapa lelaki ber hodie itu. Puspa justru mengalihkan pembicaraanku dengan kembali ke alam ku.
"Putri, tidak ada waktu lagi. Kita harus segera kembali ke dunia mu. Jika tidak cepat, maka gerbang alam manusia akan tertutup. Ayooo" kata Puspa
Aku pun juga melihat lubang putih yang berputar - putar. Puspa dan Kencana mempersilahkan aku lebih dahulu masuk. Kemudian dilanjut oleh ke dua nya. Tak berapa lama, kami sampai di dunia ku.
Posisi kami masih sama, yaitu posisi saling bermeditasi. Kami kembali ke tirta Mengening. Tempat hening yang kami gunakan untuk menyatukan 7 mata air kuna.
Aku pun kemudian kembali kepada raga ku. Aku melihat hanya ada 4 manusia dan Adhiraksa. Sedangkan Jero Mangku dan Kinara tidak ada.
Puspa dan Kencana memang sengaja belum membangunkan Wira, Jofel, dan Andi. Hanya Adhiraksa yang sadar dengan kehadiran kami.
"Syukurlah putri, kamu selamat." kata Adhiraksa yang bangun dan hendak memelukku. Tapi Kencana segera menghalangi. Sehingga Adhiraksa memeluk Kencana.
"Putri, kenapa badanmu menjadi melar begini?" tanya Adhiraksa
Dia pun lalu melirik ke arahku. Aku dan Puspa kemudian tertawa. Begitu sadar bahwa yang dipeluk bukannya diriku. Adhir pun segera melepasnya.
"Kencanaaa!!! kenapa jadi kau sih?" tanya Adhiraksa yang sebel tingkat Apsara.
"Jangan macam - macam, kamu mau dihukum lagi?" tanya Kencana
"Astaga, cuma meluk dikit saja ngeselin banget sih." gerutu Adhiraksa
Aku pun lalu mengalihkan perdebatan Adhir dan Kencana. Aku melirik kepada Puspa.
"Puspa, apakah mereka ber 4 bisa di bebaskan?" tanyaku
"Bisa, sebentar ya" kata Puspa
Adhiraksa pun kemudian heboh dia mencari dimana para manusia yang tadi diselamatkan itu.
"Eeh tunggu, kenapa kalian kembali hanya ber 3. Mana yang lainnya?" tanya Adhiraksa
__ADS_1
"Garing bangeet.. diem deh, enggak usah bawel" bentak Puspa
"Yaelah si dewi yang satu ini, masih saja galak." cibir Adhir.
Aku dan Kencana kini yang bergantian menertawakan mereka berdua. Puspa pun lalu mengeluarkan sebuah cupu. Ya sebuah cupu yang digunakan untuk menampung 4 manusia.
"Cupu Manik Astagina." kata Adhiraksa
"Betul, keempat manusia itu ada di dalam sini." kata Puspa
Cupu merupakan suatu wadah berbentuk bundar, kecil biasanya terbuat dari kayu atau logam. Manik adalah batu permata. Dalam kisah Ramayana terdapat sebuah cupu manik yang cukup terkenal yaitu cupu manik astagina milik Dewi Indradi (dalam beberapa buku ditulis Dewi Windradi).
"Bagaimana kau mendapatkan benda itu, Dewi Puspasari?" tanya Adhiraksa.
"Kami adalah makhluk kahyangan. Kami adalah dewa dan dewi. Cupu ini kami dapatkan dari Dewa Surya. Tapi tidak ada manusia yang boleh melihat apa isi nya." kata Puspa
"Menjauhkan putri jika kau ingin selamat." kata Kencana
Aku lalu membalikkan badan. Ya aku tahu sedikit tentwng ceritanya. Cerita tentang Cupu Manik Astagina. Cerita singkatnya adalah cupu tersebut merupakan pusaka dewa. Apabila seorang manusia ingin memilikinya. Maka manusia itu akan terkena kutuk. Karena memang tidak boleh dimiliki dan dilihat oleh manusia.
"Sebenarnya Cupu Manik Astagina itu apa sih?" tanyaku sambil membelakangi Puspa.
"Apa yang kau tahu putri?" tanya Kencana balik
"Aku hanya tahu, bahwa benda itu pernah diperebutkan oleh 3 saudara dalam kisah Ramayana. Tiga saudara tersebut ialah Anjani, Subali, dan Sugriwa. Mereka bertiga kemudian terjun ke salah satu danau. Setelah itu, wajah mereka berubah menjadi kera.
"Jadi ini adalah pusaka dewata. Sehingga tidak boleh memilikinya." kata Puspa
Setelah mendapatkan penjelasan dari Puspa. Dia pun segera membuka cupu itu. Seketika, 4 manusia keluar dan mereka terbaring dalam pura itu.
"Sudah putri, lihatlah teman - teman mu." kata Puspa
Aku pun membalikkan badan dan segera melihat semua sahabatku.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka ber 4? Aku ingin mematikan Aura" tanya Adhiraksa
"Dia yang sudah bekerjasama dengan Balian untuk mendapatkan Satria. Dia juga yang sudah menyakiti perasaan putri." bela Adhiraksa
Kencana pun mendekati Adhiraksa. Dia lalu menyentuh kening Adhir. Seketika itu Adhir bisa melihat gambaran yang terjadi di Setro Gondho Mayit.
"Aku paham sekarang, jadi Aura terkena sebuah sihir atau pengaruh jahat?" tanya Adhiraksa
"Ya, semacam itu Adhir. Aku melihat ketika menggunakan pedang Jiva. Ada bayangan hitam keluar dari tubuh Aura. Selain itu, aku juga melihat kehadiran lelaki ber hodie hitam. Dia selalu muncul di saat kekacauan terjadi pada kita." kataku
Adhiraksa pun memusingkan mata, ketika tahu tentang lelaki ber hodie hitam. Dia juga penasaran dengan lelaki itu.
"Siapa lelaki berhodie hitam?" tanya Adhiraksa
"Dia adalah salah satu musuh terkuat kerajaan di abad - 9." kata Puspa
"Dia sudah reinkarnasi dengan kekuatan yang penuh. Dia akan membalas dendam kekalahannya di masa lalu. Sehingga dia selalu menciptakan benih - benih kejahatan di samping putri mahkota." sahut Kencana
"Musuh kerajaan?" tanyaku bersamaan dengan Adhiraksa
Aku dan Adhir bingung, sebenarnya siapa musuh kami di masa lalu. Jika Adhir, sekarang dia sudah tobat. Apakah adikku Bala putra? Tapi dia kan sudah menjadi pangeran di Sumatra.
"Puspa, katakan pada ku siapa musuh kami di abad 9?" tanyaku penasaran.
"Putri, kau akan tahu dari pangeranmu. Sekarang kita harus mengembalikan keadaan teman - temanmu." kata Puspa
Aku pun mengerti, sebanrnya masih sangat penasaran. Tapi kali ini keselamatan temanku sangat penting. Sehingga aku akan lebih memilih mereka.
"Baiklah bangunkan mereka." kataku
"Tapi sebelum itu, aku akan menghilangkan ingatan mereka tentang siapa diri mu." kata Kencana
Kencana lalu memercikan air ke muka 7 sahabatku. Tak lama kemudian, mereka bangun. Aku pandangi wajah mereka satu per satu. Satria, Prasta, Aura, Tamara, Andi, Jofel, dan Wira.
__ADS_1
"Kak Nara... sepertinya aku mimpi tadi." kata Wira
"Ya, aku juga mimpi kalau Kak Nara masuk ke dunia lain." sahut Andi
"Enggak mana ada seperti itu. Kak Nara baik - baik saja. Kalian tu kecapekan tadi setelah mengantar Kak Nara jalan - jalan." kataku mencoba menenangkan mereka.
Prasta dan Satria pun memandang risih ke arah mereka berdua (Aura dan Tamara).
"Putri, maaf 4 lagi tidak kami hilangkan sepenuhnya. Itu biar menjadi pelajaran bagi 4 orang itu. Tapi mereja tidak akan ingat siapa kamu sebenarnya." kata Kencana
"Nararia, kamu tidak apa - apa kan?" tanya Prasta lalu berdiri menghampiriku
"Apanya yang apa - apa Prasta? Aku baik - baik saja, lihatlah." kataku
Aku maish memperhatikan Satria yang memandang marah pada Tamara dan Aura.
"Satria maafkan aku, aku hanya ..." kata Tamara terputus segera aku menyahut.
Aku tidak mau ke 3 yuniorku ini sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Hmmm..Satria sebaiknya kita kembali ke Villa. Aku takut nanti sahabat kita akan mencari." kataku
Kami pun kemudian bersembahyang bersama di Pura Mengening. Setelah itu, Satria memesan taksi. Aku diantar oleh para yuniorku.
"Adik - adik yang hebat, makasih ya kalian sudah membantu Kak Nara." kataku
"Santai saja Kak, lagi pula hanya jalan - jalan gitu. Kami senang kok" kata Wira
Aku pun lalu mengeluarkan dompet dan ku raih beberapa lembar uang ku.
"Ini nanti bagi buat kalian ber 3 ya. Maaf Kak Nara tidak bisa memberikan lebih." kataku
"Enggak Kak, kami ikhlas membantu kakak." sahut Wira
Tapi aku tetap memaksa mereka agar mau menerima. Akhirnya mereka juga menerimanya. Aku senang sekali, uang itu tidak sebanding dengan pengorbanan mereka.
"Kak kami pamit dulu ya, see you kak" pamit mereka ber 3.
"Hati - hati di jalan dan jadilah Arkeolog Muda yang hebat." kataku
Setelah berpamitan, mereka pun melajukan motornya. Menjauh dari Villa Tabanan milik Mas Putu.
"Mbak Nara ... Ayo masuk, kita makan." panggil Mas Putu
"Ah iya mas" kataku
Ketika aku masuk sampai ke Meja Makan. Aku tidak melihat Aura dan Tamara.
"Prasta, kemana Aura dan Tamara?" tanyaku
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni.
next :
Kemana Tamara dan Aura berada?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
Citralekha
__ADS_1