
***Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya
Happy reading
.
.
Kami berhasil menumpas perusuh yang telah membuat nama Satria menjadi buruk. Kami kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Istana. Begitu kami melewati perkampungan, kami selalu mampir dan memberitahukan kepada penduduk bahwa perusuh itu bukan orang istana.
Masyarakat desa ada yang percaya dengan kami tanpa syarat. Tapi ada juga yang percaya setelah adanya sedikit perselisihan. Dalam pertarungan dengan masyarakat kami sengaja tidak melukainya, hanya melemahkan agar tidak melawan lagi.
Perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Seminggu lamanya, kami baru sampai istana. Sebenarnya jarak antara istana dengan calon lokasi Candi Prambanan dekat. Tapi kami memutuskan untuk berkeliling dari desa ke desa untuk mengetahui kondisi masyarakat sekitar.
Kedatangan kami ternyata sudah di sambut oleh pengawal dan dayang kerajaan. Mereka menaburkan bunga dari gerbang kota raja menuju istana. Ini adalah pengalaman yang indah bagiku.
"Indah sekali, seperti hujan bunga." kataku
"Apa kau bahagia sayang?" tanya Satria
Aku hanya mengangguk kepala dan tersenyum. Begitu sampai di gerbang istana, kami turun dari kereta dan berjalan bersama menuju pendopo keraton.
"Kita harus melukat dulu." kata Pasopati
Melukat sama dengan membersihkan diri. Hal tersebut dilakukan agar kami terhindar dari energi negatif karena habis melakukan perjalanan jauh. Pandita kerajaan kemudian memimpin upacara panglukatan. Kami melukat di bawah pancuran jaladwara.
"Salam pandita, ijinkan kami untuk melakukan pensucian. " kata Widasari
"Mari putri dan pangeran sebelah sini." kata Pandita sambil menunjukan lokasi yang telah disiapkan
Kami mandi di bawah pancuran yang telah diberikan doa - doa oleh pandita. Setelah itu, kami berganti pakaian menggunakan kain dan kemben warna putih.
"Kenapa pakai baju seperti ini?" tanyaku
"Putri, kau ini bagaimana ini kan ritual pensucian ketika habis melakukan tirtayatra." kata Widasari
"Widasari, Putri hanya mengujimu saja. Apakah pengetahuan agamamu semakin meningkat, iya kan Rakyan?" kata Pasopati sambil kedip - kedip.
Aku tertawa dan mengiyakan pertanyaan Pasopati yang mencoba menyelamatkanku dari kecurigaan Widasari.
"Iya putri, aku ingin tahu perkembanganmu, hehehe." kataku
"Oke, jadi ini harus kita lakukan karena badan kita dianggap kotor oleh energi negatif. Makanya kita harus disucikan, kak." kata Widasari
Selanjutnya kami dibawa oleh pandita dan datang menuju sebuah tempat untuk memuja dewa api.
"Kita ke sini untuk ngapain?" tanyaku
"Setelah mandi, yang hilang adalah kotoran di badan kasar kita. Sedangkan jiwa kita juga harus dibersihkan dengan api suci." terang Widasari
Aku menurut saja apa yang diperintahkan oleh pandita. Pertama kami di depan wajah kami diberikan kemenyan aroma cendana kemudian pendeta lainnya menyiapkan api dalam sebuah kundha atau kotak untuk menyalakan api dengan arang. Bara arang tersebut diberikan taburan bubuk cendana.
"Silahkan putri dan pangeran mengelilingi api ini sebanyak tiga kali." kata Pandita
"Selanjutnya kita harus melewati api kecil ini." kata Widasari
Kali ini aku mengikuti intruksi dari Widasari. Aku melompati api kecil itu dan mendengar suara teriakan dari entah siapa yang teriak.
aaaaaakkkkhhhhh.... panaaaas...
Teriaknya sangat memekiknya telinga.
"Eh suara siapa?" tanyaku
__ADS_1
"Itu adalah suara dari danawa yang mengikuti putri." kata Pandita.
Pandita kemudian bertanda kepadaku dan Widasari, tentang danawa yang mengikuti kami.
"Putri, apakah sebelum kembali kalian bertemu dengan danawa?" tanya pandita.
"Enggak Pandita, kami hanya sempat bertarung dengan pasukan butho saat kami mandi di sendang." kata Widasari
"Tapi butho itu sudah hancur dan binasa dengan panah sakti Pancaroba dan teratai emas, Pandita." tambahku
Pandita itu kemudian bersamadi dan mengamati tubuhku dengan seksama.
"Ada apa Pandita?" tanya Satria
"Maaf pangeran, Rakyan diikuti oleh danawa sakti yang telah memikatnya. " terang Pandita
"Maksudnya?" tanya Pasopati
Pandita menjelaskan bahwa danawa tersebut telah mengikuti kami sejak dari perkemahan dan hendak menyusup ke dalam istana. Tapi hal tersebut nampak sia - sia, karena kami telah melukat dan ritual api suci.
"Apakah putri pernah bertemu seseorang yang mencurigakan?" tanya Pandita lagi.
Aku mengingat - ingat tentang sosok pria misterius yang memainkan seruling dan menyentuh selendang yang aku pakai.
"Aku ingat, Pandita. Dia adalah lelaki yang memainkan seruling dan telah menyentuh selendangku ini." kataku
"Benar, tapi dia seorang manusia kok." kata Widasari.
"Tidak putri, dia adalah danawa yang sedang malih rupa. Sekarang berikan selendang itu dan harus dibakar." kata Pandita.
Aku tidak mau memberikan selendang itu. Selendang ini adalah pemberian dari Ibu Dharma Krrti sebagai kenang- kenangan.
"Tidak bisa, Pandita, maaf." kataku
"Kenapa?" tanya Satria
"Pandita apa efeknya jika selendang ini tidak dibakar?" tanya Pasopati
"Putri akan terus dibayangi danawa itu." terang Pandita.
Satria kemudian mendekatiku dan memohon padaku untuk membakar selendang itu. Dia berjanji akan memberikanku selendang yang sama untuk menggantinya. Tapi itu beda rasanya, Pasopati juga memintaku untuk membakar selendang itu demi keamanan.
"Baiklah." kataku
Aku kemudian melepaskan selendangku. Tapi selendang itu tidak bisa dilepaskan, seperti telah menyatu dengan leherku. Semakin aku berusaha melepasnya. Selendang itu semakin kuat dalam melilitku.
"Nggak bisa dilepas, Kak." kataku
Satria berusaha membantunya tapi juga gagal. Pandita kemudian mengambil air suci dan memercikan padaku. Leherku terasa panas seperti tersengat lebah.
"Aaaaaaahhhh... sakit." teriakku
"Inilah salah satu efeknya." kata Pandita
"Lalu bagaimana cara melepaskan selendang itu, Pandita?" tanya Satria yang mulai khawatir.
Pandita hanya menggelengkan kepala dan pasrah. Satria terus berusaha melepaskannya tapi hal itu hanya membuatku semakin kesakitan.
"Rakai ayo keluarkan hawa murni untuk menolong Rakyan." kata Pasopati
Pasopati dan Satria mengeluarkan hawa murni tapi semuanya sia - sia.
"Adakah cara lain Pandita?" tanya Satria
__ADS_1
"Ada, itu hanya bisa lepas jika putri mengikhlaskan selendangnya untuk dibakar." kata Pandita
Aku kemudian berucap dalam hati bahwa aku rela membakar selendang kesayanganku. Saat itu juga lilitannya mulai kendor dan aku bisa melepaskannya. Aku langsung membakar selendang itu di atas api suci
Ddduuuuuaaaaarrrrrrrr
Teriakan akibat dari hancurnya danawa yang mengikutiku.
"Awaaas kalian, aku akan kembali !!!" teriak danawa
Satria langsung memeluk ku dan membelai rambutku.
"Lain kali jangan bertemu dengan orang asing ya. Jika bertemu segera ceritakan padaku." katanya
"Maafin aku ya, Kak." kataku
Pasopati kemudian menyadarkan kami. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan ritual terakhir.
"Ehem ... ritual terakhir." kata Pasopati
"Apaan?" tanyaku
Pandita memberikanku boreh (perpaduan dari serbuk gandharupa, minyak wangi, dan serbuk cendana).
"Apa ini?" tanyaku
"Boreh, untuk perlindungan." kata Satria.
Aku merasakan dingin dan nyaman setelah dahi ku dioleskan dengan boreh. Setelah itu kami melakukan sembahyang bersama di salah satu bilik candi dalam istana. Setelah itu, kami berganti pakaian dan masuk ke Istana untuk bertemu dengan ayah dan ibuku.
"Aku dah kangen sama ibu dharma Krrti." kataku
Semua orang melirik padaku
"Ibu mu Dewi Tara, sayang." kata Satria
"Oh iya... maaf." kataku
"So, siapa dharma Krrti?" tanya Satria
"Mungkin mamanya di masa depan." kata Pasopati
Aku kemudian masuk dan langsung disambut oleh Dewi Tara.
"Bagaimana kabar mu, Nak?" tanya Dewi Tara.
"Saya baik bunda, bagaimana dengan ibunda dan ayah?" tanyaku
"Kami sangat merindukanmu, Nak. Ayo kita kembul bujono raja mangsa." kata Dewi Tara.
Kami masuk mengikuti ibuku dan ternyata masuk di ruang makan kerajaan. Hal yang paling aku sukai adalah makan menikmati makanan masa Mataram.
'Kapan lagi coba makan ala kerajaan' batinku
Kami duduk di kursi yang telah disediakan dan mulai untuk makan. Setelah itu, ayahku bertanya kepada Satria.
"Pangeran, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya ayahku
Kami semua langsung melihat ke arah ayahku.
**
Episode kali ini cukup ya. Mohon maaf telat update ya.
__ADS_1
with love
Citralekha