Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Lelaki Misterius


__ADS_3

**Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya


Rate juga boleh ya


Coin juga boleh**.


Happy reading


.


.


Malam yang sangat melelahkan dan mengharukan. Aku kehilangan dua orang sahabat tak kasat mataku. Aku bener - bener menyesal dengan kejadian malam ini. Malam yang panjang mengisahkan rasa duka kehilangan sahabat yang selalu menjaga. Kini mereka sudah tidak bersamaku.


"Sudah ya berhenti menangis, aku akan selalu melindungimu." kata Satria


Akan tetapi perlindungan yang Satria berikan berbeda dengan dua sahabatku itu. Meskipun demikian aku juga senang mendengar kata - kata dari Satria.


"Rara, tenang lah kami akan melindungimu." kata Pasopati


"Oh iya gimana Widasari?" tanyaku


Widasari masih pingsan. Dia kehabisan tenaga setelah dipinjam raga nya oleh Puspa. Aku berusaha membangunkannya.


"Wida, bangunlah jangan buat kami khawatir." kataku


Pasopati kemudian menyalurkan tenaga dalamnya untuk menolong Widasari. Tak berapa lama ia sadar.


"Kenapa ini, apa yang terjadi?" tanya Widasari


"Kau terlalu nyenyak tidur, putri. Sehingga kami ingin membangunkanmu." kataku


"Kenapa kalian membangunkanku?" tanya Widasari


"Aku ingin mengajak melihat sinar bulan, sebelum nanti pagi kita kembali ke Istana." kata Pasopati


Widasari dan Pasopati keluar dan melihat cahaya bulan. Kami memang sepakat untuk tidak bercerita kejadian malam ini dengannya. Sedangkan di tenda hanya tinggal aku dan Satria.


"Rara" kata Satria


Ia menatapku dengan rasa sedih.


"Kenapa?" tanyaku


"Maafkan aku ya, karena kecurigaanku yang b berlebihan membuatmu kehilangan teman." kata Satria.


Aku kemudian memegang tangannya dan berusaha tegar karena telah kehilangan Kencana dan Puspa.


"Kak, sebelum aku masuk ke dunia mu. Aku belajar bela diri dan memanah." kataku


"Apa? di masa depan ada panahan?" tanya Satria


"Iya, tapi anak panahnya tidak beracun dan itu menjadi permainan dan cabang adu ketangkasan." kataku


"Kalau gitu aku berjanji setelah kita menikah. Aku akan mengirim kamu ke seorang guru sakti." kata Satria


Aku mengiyakan usul Satria. Aku tidak mau dia curiga tentang aku lagi. Aku memang kehilangan dua sahabat, tapi aku masih mempunyai panah sakti pancaroba dan kembang teratai emas.


Malam ini, aku menghabiskan waktu bersama Satria. Aku tertidur dalam pelukannya. Sedangkan Widasari dan Pasopati tidur di luar.


Pagi - pagi sebelum Surya menampakan diri. Satria sudah membangunkanku.


emmmuuuaacch ....


Ciuman di pagi hari membangunkan dari tidur ku.

__ADS_1


"Sayang ayo bergegas untuk kembali ke Istana." kata Satria.


Aku sebenarnya masih malas untuk bangun. Rasa kantukku membuat aku ogah membuka mata.


"Sayang bangun lah atau aku akan membangunkanmu dengan cara lain." kata Satria


Aku masih tidak membuka sama sekali. Satria mulai geram denganku. Ia memencet hidungku, mencubit pipiku, mencium, memeluk. Semuanya nggak berarti untukku


"Aku hitung sampai 3, jika tidak bangun. Aku akan memberikanmu hadiah yang akan membuat kau memiliki seorang anak." goda Satria.


Sontak aku langsung terbelalak dan bergegas bangun.


"Ih dasar mesuuuuuum" teriakku


"Cepet mandi, aku akan menyiapkan sarapan untukmu." kata Satria


Aku langsung keluar dan ku lihat Widasari sedang mencium Pasopati.


"Ehem .. Aku nggak lihat kok." kataku


Pasopati kemudian melempar ku dengan sebuah pisang


"Ganggu orang bersenang - senang saja." kata Pasopati sambil tersenyum


"Putri ayo cuci muka. So, jangan lupa siapkan air hangat untukku." kataku


"Siap tuan putri." kata Pasopati


Widasari nampak masih kesal denganku. Raut wajah ketidakpuasan sangat nampak.


"Maaf ya putri ... Kau jadi tidak puas." ledakku


"Huh, putri kau datang di saat tidak tepat." kata Widasari


"Putri aku tidak akan memaafkanmu." kata Widasari sembari mengejarku


Air sendang yang jernih di bawah pohon besar yang semalam nampak angker sekarang menjadi rindang dan nyaman.


"Kita mandi di sini?" tanya Widasari


Nampak wajah ketakutan dan dia ingin membalikan badan. Aku segera menggandeng tangannya.


"Tenang lah, jangan khawatir. Ada aku." kataku menenangkan Widasari.


"Baiklah putri, ayo mandiiii." kata Widasari


Dia menyirati aku dengan air sendang. Kami bermain dengan sangat gembira pagi ini. Tiba - tiba air sendang berhamburan bunga teratai. Bunga tersebut hanyut di aliran sungai sebelah selatan sendang.


"Bunga?" tanyaku


"Siapa ya putri yang menghanyutkan teratai ini?" tanya Widasari


Kami berdua celinggukan mencari siapa yang menaruh teratai cantik itu. Kami juga mendengar suara seruling yang merdu.


"Siapa yang bermain seruling ya Kak?" tanya Widasari


"Nggak tahu, jangan jangan .... hihihi." kataku


Widasari kemudian mendekat ke tubuhku. Ia terlihat sangat gemetaran.


"Kakak jangan nakutin lah." kata Widasari senyum kecut.


"Ayo kalau mau tau, kita cari tau." kataku


"Jangan kak, aku takut." kata Widasari.

__ADS_1


Aku melangkahkan kaki dan mencari sumber suara suling itu. Semakin lama semakin terdengar jelas seruling itu. Tepi sungai yang penuh dengan bunga wijaya kusuma. Ada seorang lelaki tampan yang sedang bermain seruling.


"Siapa kau?" tanyaku


Ia terus memainkan sulingnya tanpa melihat ke arahku. Aku merasa diabaikan dan tidak suka melihat hal itu terjadi.


"Kak jangan - jangan dia bukan manusia." kata Widasari


"Manusia lah, lihat kakinya menapak." kataku


"Pangeran." kataku lagi


Dia kemudian menghentikan permainan sulingnya. Ia menoleh ke arah kami berdua. Tatapan manis dan wajah tampannya menyihir kami berdua. Hidung mancung semakin membuat dia terlihat lemah lembut.


"Ada apakah kiranya tuan - tuan putri ini menemui hamba?" tanyanya.


"Maaf pangeran sudah menganggumu. Kenapa kau bermain seruling di pagi buta ini?" tanyaku


"Udara pagi sangat sejuk dan angin sepoi pagi akan membuat sang Surya bahagia mendengarkan lantunan suara sulingku." katanya


"Baiklah pangeran, kami hanya memastikan saja. Kami permisi dulu ingin kembali ke tenda."


Pemuda itu lantas berdiri dan menarik selendang yang aku pakai di leher. Swooosh ... Aku berbalik badan dengan mengibaskan rambut panjangku.


"Kenapa pangeran? kenapa kau menarik selendangky?" tanyaku


Widasari kemudian merebut kembali selendangky dan berkata agak gusar.


"Apa kau tahu dia siapa?" tanya Widasari.


"Oh iya kita belum kenalan. Siapa namamu putri?" tanya pemuda itu.


"Dasar pemuda tak tahu adab. Jangan berani ganggu, dia. Dia calon ratu di tanah Medang dan permaisuri hati pangeran Pikatan." kata Widasari


Pemuda itu hanya tersenyum begitu mendengar penuturan dari Widasari.


"Dan kau adalah Putri Widasari? kekasih hati pangeran Pasopati?" tanyanya


Aku dan Widasari saling tatap muka. Kenapa pemuda ini tahu tentang kami.


"Sebenarnya kau ini siapa? apa tujuanmu menarik perhatian kami dengan seruling itu?" tanya Widasari.


"Oh jadi tuan putri tertarik dengan suara seruling yang hamba mainkan?" tanya pemuda itu.


"Maaf pangeran, kami harus segera kembali ke tenda." kataku


Aku berusaha meminta kembali selendang itu dan ternyata dikembalikan oleh nya.


"Silahkan putri, apa perlu hamba kawal sampai ke perkemahan?" tanyanya


Kami menolaknya denga halus. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kami kembali dengan seorang pemuda. Satria dan Pasopati pasti akan ngamuk.


"Tidak perlu, kami bisa kok." kataku


"Baiklah kalau begitu hati - hati tuan putri." katanya


Aku dan Widasari kemudian berjalan menuju tenda dan kita sepakat untuk tidak berbicara apa - apa di depan Satria dan Pasopati.


**


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya.


with love


citralekha

__ADS_1


__ADS_2