
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
.
.
Happy reading
Aku kemudian pamit pada Pasopati dan Satria. Aku capek banget malam ini. Tapi happy karena besok pagi aku akan bertemu dengan mamaku. Sesampainya di kamar, aku langsung melepas perhiasan dan pakaian kebesaranku.
'Andai saja perhiasan ini bisa ku bawa pulang ke abad 21.' batinku.
'Nggak bisa, jika kamu membawa apa - apa dari sini. Kamu akan selalu terhubung dengan dunia ini.' kata Kencana.
'Tapi aku senang, Ken. Aku bisa mengetahui kehidupan abad 9.' kataku
'Semua terserah padamu, Ra. Jika kau ingin selalu terhubung, kamu bisa membawa salah satu perhiasan yang paling kau sukai.' kata Puspa.
Obrolanku dengan Puspa dan Kencana membuatku tenang. Aku memiliki 2 orang teman yang tak kasat mata. Mereka akan selalu menuntun dan memberitahukan langkah apa yang harus ku lakukan.
Tengah malam, mungkin sekitar pukul 01.00, bilik kamarku di ketok orang. Aku terbangun dari tidurku. Tapi aku masih takut membuka jendela. Aku masih trauma akan kejadian di Pesanggrahan.
'Kamu tenang, Ra. Aku akan cek siapa yang ngetok kamarmu.' kata Puspa.
Aku melihat Puspa keluar dari tubuhku. Ia langsung menghilang dan tak berapa lama kembali lagi.
"Siapa, Pus?" tanyaku
'Pasopati.' kata Puspa.
Aku langsung membuka jendela kamarku. Aku heran kenapa Pasopati malam - malam membangunkanku. Apa ada hal yang penting.
"Hey, ngapain malam - malam bangunin orang?" tanyaku agak malas.
"Lama amat buka jendelanya. Ada hal yang harus kamu ketahui." kata Pasopati.
"Apa?" tanyaku
Pasopati kemusian menjelaskan bahwa pertemuanku dengan Dewi Dharmakrtti harus dilakukan secara rahasia. Bahkan Satria juga tidak boleh mengetahui hal itu.
"Kenapa Satria nggak boleh tahu?" tanyaku
"Kalau Satria tahu, Dewi Dharma Kertti adalah ibumu di masa depan, bisa jadi dia akan menjauhkanmu." kata Pasopati.
"Alasannya?" tanyaku
"Ia nggak mau kamu terhubung dengan masa depan. Ia maunya kau tinggal di sini untuk selamanya." kata Pasopati.
Aku menarik napas panjang. Artinya aku harus berhati - hati agar Satria tidak tahu. Tapi bagaimana mungkin, Satria pasti akan mencariku. Kalau sampai Satria tahu, apa yang akan terjadi. Pasopati kemudian pamit dan mengendap - endap agar tidak ketahuan pengawal.
Aku terus memikirkan rencana agar Satria tidak curiga padaku. Aku nggak bisa tidur nyenyak. Aku bolak balik bangun tidur, dan tidur lagi.
'Apa yang kamu khawatirkan, Ra?" tanya Puspa.
"Puspa, Kencana aku harus gimana. Aku nanti siang akan bertemu Dewi Kertti Bangun. Pasopati bilang Satria nggak boleh tahu." kataku
'Aku akan melindungi kalian jika sudah bertemu.' kata Kencana.
__ADS_1
"Gimana caranya?" tanyaku penasaran.
'Aku akan gunakan ajian halimun agar kalian berdua tidak kelihatan oleh orang lain.' kata Kencana.
Aku senang mendengar solusi dari Kencana. Ternyata mereka berdua sangat solutif. Hantu yang baik hati dan tidak sombong.
Pagi hari menyingsing, sinar surya mulai nampak. Aku bangun, dan mandi di sendang dalam istana. Pagi hari yang segar. Indah pemandangan yang nampak. Aku mandi dengan air pancuran yang segar. Bunga teratai bermekaran di sekitar kolam.
Satria sudah nongkrong di depan kamarku. Aku malu karena habis mandi dan hanya menggunakan kemben saja.
"Ngapain kamu pagi - pagi sudah nongkrong di kamarku?" tanyaku sebal.
"Mau ngapelin kamu lah." katanya
"Minggir, aku mau masuk. Mau ganti baju." kataku
Ia menggodaku, mengangkat tubuhku dan meletakanku di meja rias.
"Kamu ngapain sih masuk ke kamarku?" tanyaku
"Kangen kamu, sayang." katanya
Aku tersipu dan kemudian mulai dandan. Merias wajahku dengan ramuan herbal yang disediakan oleh dayang.
"Aku mau ganti baju, kakak keluar dulu sana." kataku
"Aku mau lihat." katanya
Aku kemudian melempar bantal ke mukanya. Mendorong agar keluar dari kamarku. Tapi dia masih mematung tak mau bergerak sedikitpun.
"Mesuuum ... minggir ih, aku teriak ni." ancamku
Dia terus mempermainkanku. Bahkan ia mengambil pakaian yang akan ku pakai buat ganti.
"Kakaak, hentikan!! maumu apa sih?" tanyaku mulai sebel.
"Kakak mau berburu, mau ikut nggak?" tanyanya
Kegiatan berburu pada abad ke 9 adalah hal yang lazim dilakukan oleh para pangeran dan pembesar kerajaan. Aku sebenarnya ingin ikut, tapi aku sudah punya janji akan bertemu dengan Dewi Dharmakrtti.
"Aku kan baru sehari di istana ini. Aku mau seharian ini memghabiskan waktuku keliling istana." kataku bohong.
"Yaudah kalau gitu, kakak temani ya." tawarnya
"Eng ... engak usah kak, aku bisa sendiri. Ada putri Widasari yang akan menemaniku. Kakak berburu saja, kebetulan aku lagi mau makan daging kelinci, kak." kataku
Aku berharap dia tidak akan curiga dan segera pergi berburu. Jadi Satria nggak akan tahu jika aku akan bertemu dengan mamaku.
"Baiklah sayangku, kakak akan bawakan puluhan kelinci untukmu." katanya
"Tapi kelincinya jangan dipanah, harus dibawa hidup - hidup dan nggak boleh terluka sedikitpun." kataku
Ia kemudian pamitan padaku untuk pergi berburu. Tak lupa kecupan manis mendarat di keningku.
"Hati - hati di istana ya sayang." pesannya.
"Seharusnya kakak yang hati - hati ya. Jangan melukai binatang, kasian mereka, kak." kataku
__ADS_1
Aku mengantarkan Satria sampai di gerbang istana. Aku melepas kepergian pangeran gantengku untuk berburu. Aku kemudian menuju ke taman puspa dharma. Aku nggak mau telat dan mamaku menunggu terlalu lama.
Aku duduk di sebuah kursi dan menunggu Dewi Dharmakrtti. Pasopati juga muncul tak berapa lama setelah aku duduk.
"So, kamu nggak ikut berburu dengan Kak Satria?" tanyaku
"Enggak, kan aku mau nemenin kamu." katanya
Aku kemudian celinggukan, berharap putri Widasari tidak melihat kami.
'Aku sudah memasang aji halimunan. Orang lain tidak akan melihat kalian.' bisik Kencana
'Tapi gimana mamaku bisa melihat kami?' tanyaku
'Kamulah yang jemput mamamu jika dia datang.' kata Kencana
"Kamu nyari siapa sih, celinggukan gitu?" tanya Pasopati.
"Aku nggak enak kalau Widasari melihat kita." kataku
Pasopati menjelaskan, jika putri Widasari sedang menyiapkan makan malam. Ia meminta Widasari untuk dibuatkan makan malam yang enak.
"Itu Dewi Dharma Krtti." kata Pasopati.
Aku langsung bangun dan menghampirinya. Aku meminta beliau untuk masuk dalam lingkaran aji halimunan yang diciptakan Kencana.
"Selamat datang, ibu." kataku
Aku tak kuasa melihat mamaku. Aku langsung memeluknya dan menangis sesenggukan. Aku bilang jika aku rindu padanya. Aku minta maaf karena sudah nakal.
"Tuan putri, ada apa?" tanya Dewi Dharma bingung.
"Ibu, aku adalah putrimu di abad 21." kataku sambil menangis dan memeluknya lagi.
"Maksudnya apa?" tanyanya
Aku kemudian menjelaskan bahwa aku dari masa depan. Kehidupan selanjutnya kita akan bertemu dan menjadi keluarga. Tapi nampaknya Dewi Dharma tidak mempercayaiku.
"Awalnya saya juga bingung, ratu. Tapi setelah Rsi Narada menjelaskan, saya paham." kata Pasopati.
"Ini sulit dipercaya. Kalian tidak sedang berbohong padaku kan?" tanyanya
Rsi Narada kemudian muncul di tengah kami. Kami menghaturkan sungkem pada beliau. Sang rsi menjelaskan kepada Dewi Dharma bahwa benar aku dari masa depan dan kami akan memiliki karma untuk menjadi keluarga.
Rsi juga berpesan agar ini dirahasiakan. Dewi Dharma paham dan ia bahagia karena memiliki aku sebagai anaknya.
"Nak, bolehkah ibu memelukmu?" tanyanya
Aku hanya mengangguk kepala dan langsung memeluknya. Ada rasa bahagia dan kehangatan. Pelukan ini terasa beda ketika aku memeluk Ibu Dewi Tara. Meskipun beliau ibuku di abad 9, tapi aku bukanlah putri Pramodhawarddhani yang sesungguhnya.
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya
With Love
Citralekha.
__ADS_1