
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
"Aku juga akan membalas kepada Prasta tentang sakit hatiku. Setahu ku, Prasta dan Satria sekarang sudah bersahabat dengan Nararia. Mereka berdua pasti akan melindungi teman Nararia." kata Aura.
"Sekali tepuk 5 nyamuk sekaligus dapat kita kalahkan. Pangeran kegelapan memang cerdas. Sasaran kita sangat mudah kali ini. Mereka adalah kelemahan Nararia." sahut Tamara.
Setelah mereka membayangkan bahwa rencananya akan berhasil. Mereka lalu sibuk dengan gawai nya. Entah apa yang mereka ingin lakukan.
**
Jakarta
Jalanan Ibu Kota memang selalu ramai. Tapi perjalananku sangat menyenangkan. Tapi sekaligus menyedihkan. Ya sedih, karena sebentar lagi mereka berdua akan pergi ke Jerman. Jauh dari jangkauanku. Terlebih di Jerman ada Tamara dan Aura.
"Gimana latihan kalian dengan senopati dan Kencana?" tanyaku memecah keheningan slama perjalanan.
Ya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh mereka berdua. Sejak menjemputku mereka semua diam. Tidak seperti biasanya yang selalu ngobrol receh ini itu.
"Putri Nararia, maaf kan kami ya. Kami tak berani mengajak mu berbicara. Tanpa seizinmu." kata Ivan.
"Hahaha.. apa - apaan kalian tu. Kenapa kalian jadi aneh sih." tanyaku
"Kamu kan punya penjaga seorang senopati, pangeran yang tampan nan gagah berani (Pangeran Adhiraksa), dan juga dewa dan dewi. Kamu kan seorang putri mahkota dari masa lalu yang harus selalu kami lindungi dan hormati." kata Dika.
"Dik, kamu kok memuji Adhiraksa secara berlebihan sih?." tanyaku
Dika pun terlihat sangat gugup. Aku bisa tahu dari perubahan mimik muka nya.
"Dia kan sudah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku." katanya lalu menunduk dan murung.
Aku paham dengan kondisi Dika saat ini. Dia pasti merasa bersalah banget atas kejadian itu. Mungkin kalau aku di posisi dia. Aku juga akan seperti itu. Tapi aku tidak akan membiarkan dia berlarut dalam kesedihannya.
"Dika, sudahlah ... Adhiraksa ikhlas kok. Jadi sekarang kamu harus jagain aku." kataku mencoba tersenyum
"Baik tuan putri." kata mereka kompak.
"Tapi bisakah kalian tidak seperti itu. Itu membuat orang menjadi curiga. Terlebih jika terdengar oleh musuh kita. Bukankah, nyawa ku akan menjadi incaran mereka?" tanyaku
"Ah iya betul juga, oke kalau gitu kita tetap bersahabat ya. Apapun yang terjadi, kita tetep bersahabat ya." kata Ivan.
Setelah itu kami pun sampai di sebuah tempat. Hutan , ya sebuah tempat yang sangat privat. Tapi aku langsung curiga. Aku takut jika Ivan dan Dika adalah musuhku yang sedang menyamar.
"Kenapa kita ke hutan?" tanyaku
"Tenang lah .. ini adalah tempat latihan kami." kata Ivan.
__ADS_1
Pada saat itu lah, muncullah senopati, Puspa, dan Kencana. Aku sedikit tenang dan lega. Ternyata mereka berdua bukan makhluk jadi - jadian.
"Ada apa putri?" tanya Puspa
"Aku kira Dika dan Ivan adalah makhluk jadi - jadian." kataku sambil tertawa.
Puspa lalu menjelaskan tujuannya untuk bertemu di dalam hutan ini. Tapi aku sangat tak habis pikir.
"Kenapa sih harus bertemu di dalam hutan gini?" tanyaku
"Semua yang berkaitan dengan tempat yang kamu tempati telah dipasang mata - mata, putri. Jadi disini lah tempat yang paling aman." kata Kencana
"Kenapa tidak kau hancurkan mereka?" tanyaku heran.
"Belum saatnya putri, kita akan ikuti permainan yang akan musuh lakukan." kata Puspa.
Puspa pun lalu mengubah suasana hutan yang gelap menjadi pemandangan yang bagus. Suasana yang menyeramkan sekarang berubah menjadi sangat indah.
"Nah dari tadi lah seperti ini, kan enak." kataku
"Baiklah, sekarang dengarkan aku. Kami baru saja mendapatkan kabar dari Jerman. Bahwa musuh utama telah menyiapkan rencana untuk menjebak Dika dan Ivan." kata Kencana
"Menjebak?" tanya kami bertiga kompak.
Kencana lalu me jelaskan tentang rencana Tamara dan Aura. Itulah kenapa kita semua dikumpulkan.
"Maafkan aku ya, kalian berdua malah akan menjadi sasaran mereka." kataku
"Putri, kamu jangan khawatir. Kami bisa jaga diri. Cukup doakan kami saja. Terlebih kami kan sudah belajar ilmu beladiri." kata Dika.
Aku semakin penasaran dengan Dika yang sekarang ini. Dia kadang seperti orang lain. Ah tapi hanya perasaanku saja. Mendengar perkataan dari Dika. Aku pun tertarik pada ilmu kesaktian mereka.
"Maaf putri, kekuatan mereka sudah lumayan. Mereka sudah bisa mengenali aura manusia dan bukan. Jadi untuk tahap awal menjadi seorang ksatria mereka sudah bisa." kata Senopati.
"Sedangkan untuk tenaga dalam, mereka sudah lumayan baik. Setidaknya mereka berdua bisa mengimbangi kekuatan Aura dan Tamara." kata Kencana.
Tapi meskipun mereka berdua sekarang sudah lumayan hebat. Tetap saja, di Jerman ada musuh utama kerajaan dulu. Musuh utama tentu sangat sakti. Mereka berdua pasti akan mudah dikalahkan.
"Nara, jangan meremehkan kami ya. Kalau begitu ayo lawan aku." kata Ivan.
"Baiklah ... kalian berdua majulah." kataku
"Tunjukan hasil latihan kalian berdua dihadapan putri mahkota." kata Senopati
"Anggap aku adalah Tamara dan Aura." kataku
"Tapi mana mungkin kami berdua melawanmu seorang diri?" tanya Dika.
"Kalau begitu, Ivan kau lawan aku dan Dika lawan Puspa." kataku
Akhirnya kami setuju. Tak berapa lama kami saling serang. Tak ada ampun bagi nya. Meskipun hanya latihan. Tapi aku terus memancing mereka. Pada awalnya Ivan masih segan. Mungkin dia takut melukaiku. Tapi aku memukulnya dengan tenaga penuh. Akhirnya Ivan pun menggunakan seluruh kemampuannya.
"Keluarkan pusaka mu, Van. Aku mau tahu seberapa ampuhnya pusaka yang kau dapatkan dari meditasi." kataku
"Baiklah jika itu mau mu." kata Ivan.
__ADS_1
Ivan pun kemudian mengeluarkan tombak pusaka. Ya tombak Satria Tunggal. Tombak tersebut adalah pemberian dari Dewa Kartikeya. Dewa pemimpin perang. Aku tak menyangka, Ivan mempunyai tombak sakti itu. Aku pun mengeluarkan Tombak Ganda Arum pemberian Dewi Sakti.
Ivan pun melepas tombak itu, demikian juga denganku. Tombak kami berdua jika beradu sangat dasyat. Dari dalam tombak Ivan keluarlah seorang ksatria yang gagah. Demikian juga dengan tombakku. Keluar sosok wanita yang tangguh. 2 ksatria tombak kami pun saling beradu. Melihat Ivan takjub dan lengah. Aku langsung menyerang Ivan. Dia pun terjatuh dan terguling.
"Kau curang, Nara." kata Ivan
"Dalam peperangan kelengahan musuh adalah kelemahan terbesar musuh. Pada saat kau lengah. Kau akan mudah dikalahkan. Untuk itu fokus lah pada musuh utamamu." kataku memperingatkan Ivan.
"Putri, Ivan segera panggil tombak sakti kalian berdua. Sebelum terjadi kekacauan di dunia atas" kata Kencana.
Aku dan Ivan pun segera menarik tombak itu ke dalam tubuh kami. Ya, adu 2 senjata sakti kami sangat hebat. Terlebih tombak kami merupakan anugrah dari Dewa dan dewi pemimpin perang di surga loka.
Dika pun tadi mengeluarkan Cambuk sakti dari Dewa Brahma. Sedangkan Puspa mengeluarkan Wina atau alat musik dari Dewi Saraswati. Akibat yang dikeluarkan dari kekuatan itu sangat dasyat banget. Itu lah kenapa, Kencana ingin agar kami menarik senjata kami masing - masing.
"Oke lah kalian berdua... Aku bisa tenang melepas kalian ke Jerman. Tapi, Senopati Dandaka akan ikut dengan kalian ke Jerman." kataku
"Hah,. kenapa harus dikawal sih. Kami bisa melindungi diri kami sendiri. Kamu maish meragukan kami?" tanya Dika.
"Bukan begitu, jika yang menyerang kalian hanya Tamara dan Aura kalian bisa melawannya. Tapi jika lelaki berhodie dan raja kegelapan gimana?" tanyaku
"Baiklah, Senopati bisa ikut dengan kami. Tapi jangan muncul jika tidak kami panggil atau jika kita terdesak ya." kata Ivan.
"Lagi pula, kalian bisa terus mengasah kesaktian kalian dengan senopati. Inget jangan gunakan kesaktian kalian untuk menyerang manusia biasa." kataku
"Heh ... di sini yang tentara siapa sih? yang tugasnya menjaga perdamaian negara siapa sih?" protes Dika
"Kamu bawel, lama - lama seperti pangeran tengik, Adhiraksa deh." kata Senopati.
Aku hanya memperhatikan tingkah Dika. Benar kata Senopati, Dika agak mirip dengan Adhiraksa. Aaah... atau mungkin aku hanya rindu dengan kebawelan dia.
**
Jerman
"Tamara ... jika kita menggunakan wajah sebagai Tamara dan Aura. Pasti Nara telah memberitahu ke sahabatnya." kata Aura.
"Iya benar, kalau begitu kita malih rupa. Aku juga curiga, mungkin si Nararia itu akan mengirimkan salah satu pengawalnya untuk menjaga sahabatnya itu." kata Tamara.
Akhirnya Tamara dan Aura berganti wajah. Mereka merubah wajahnya menjadi wanita bule. Mereka harap wajah baru nya bisa mengelabuhi Dika dan Ivan.
***
Haii... jangan menghujat ya teman2,. maaf ini sedang banyak deadline. Jadi jangan menghujat konten sedikit, lama update ya. Ini sudah berusaha disempatkan untuk diketik.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Apakah Dika dan Ivan bisa mengenali wajah baru Tamara dan Aura?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
__ADS_1
With love
Citralekha