Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Ardana Kumara


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


***


Raja kegelapan pun membuka tudung hitam nya. Betapa kagetnya aku ketika melihat rupa dari sang raja.


"Kau??" kataku tak percaya.


"Ya, ini aku Nararia. Sahabat mu ketika kau di rumah nenekmu. Aku adalah anak lelaki yang selalu merindukanmu. Seharusnya takdir kita bersama. Tapi ini semua terjadi karena ulah temanmu itu. Dia merebutmu dariku." kata Raja Kegelapan.


"Lalu bagaimana kau bisa menjalin kerjasama dengan Walaing? Apakah kau pernah ke masa lalu?" tanyaku


Dia lalu mendekatiku, tapi segera dihadang oleh Prasta.


"Jangan mendekat atau kau akan hancur dengan Padma Ratni?" ancam Prasta.


Raja kegelapan lalu mengibaskan tangannya. Seketika itu Prasta langsung terguling beberapa meter.


"Prastaaa" teriakku


"Simpanlah padma Ratni, putri. Aku adalah kekasih hatimu. Kau harus menjadi milikku." katanya


Aku lalu berusaha mengingat dia. Tapi sayang aku lupa. Meskipun sekilas wajahnya tidak asing.


"Jangan mendekat! Atau aku lepaskan padma Ratni." ancamku


Dia pun berhenti dan memberikanku penglihatan. Seperti dalam sihir, aku melihat dia. Ya, melihat dia di masa lalu. Dia adalah lelaki yang ada di hutan itu. Dia adalah lelaki yang pernah menyelamatkanku dan Widasari. Dia adalah lelaki yang memainkan suling. Dia adalah lelaki tampan yang waktu itu.


"Kau adalah pemain suling waktu itu?" tanyaku


"Betul putri, namaku adalah Arda Kumara. Pangeran dari dunia Kalabantala. Keluargaku dihabisi oleh Pikatan keparat itu. Sehingga aku menjadi seorang diri. Aku lalu memuja kepada inti kekuatan adharma. Sehingga, aku mendapatkan kesaktian. Aku adalah inti dari adharma. Jika kau menjadi permaisuri ku maka kau akan menguasai 3 alam. Kemarilah Nararia dan jadilah cahaya di duniaku. Hariku sepi tanpa mu. Hidupku hampa karena harus menunggu ribuan tahun. Aku sudah menantikan lama hari ini. Pulanglah bersamaku." kata raja kegelapan.


Deg..ternyata Kita pernah ketemu. Dia lah yang pada waktu itu. Arda Kumara pernah hadir dalam mimpiku. Tapi dia bukanlah seorang ksatria. Dia adalah Denawa. Ketika aku kembali dari Hutan. Sifatku berubah berbeda. Dia ikut bersama selendang ku. Karenanya aku kehilangan selendang pemberian mama ku.


"Putri gunakan padma Ratni untuk mempertajam penglihatanmu" bisik suara itu lagi.


"Putri, simpanlah padma Ratni. Aku adalah kekasih hatimu yang sesungguhnya. Pikatan yang sudah merebutmu dariku." katanya.


"Nara ... ingatkah kau masa kecil kita? masa indah saat kita jalan - jalan bersama? Aku Ardika Pradnyawan, teman masa kecilmu. Dia bukan temanmu, ingatlah aku." sahut Dika.


Suara Dika membuatku seperti tersetrum. Aku lalu memejamkan mataku. Fokus pada kekuatan Padma Ratni, teratai emas, dan pancaroba. Lalu aku merasakan tubuhku sangat hangat dan ringan. Mata batinku terbuka dengan sempurna.


"Putri Nararia, kembalilah padaku" kata raja kegelapan.


Aku lalu membuka mata, betapa terkejutnya aku. Ketika mengetahui bahwa wujud Denawa raja kegelapan. Wajahnya sangat mengerikan. Aura hitam terpancar dari dalam tubuhnya.


"Dia seorang Denawa, yang harus dimusnahkan." batinku


Aku langsung memusatkan pikiran. Melihatku fokus pada satu titik. Membuat Ardana terbelalak matanya. Dia pun harus segera pergi atau dia bisa kehilangan setengah kekuatannya. Tanpa pikir panjang Ardana lalu membawa semua pasukannya menghilang.


"Putri buka matamu, Ardana sudah pergi." kata suara itu.


Aku lalu membuka mata. Benar saja, Ardana sudah pergi. Aku pun langsung memejamkan mata. Dalam sekejab Padma Ratni menghilang dari tangan ku. Setelah itu, aku langsung melesat ke arah Prasta. Tapi ketika hendak menyentuh nya. Satria langsung menghalangi.


"Jangan sentuh Prasta, putri." perintah Satria.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Sebaiknya kau segera kembali ke hotel. Kasian Retno Kartika. Segera kasih buah Mahkota Dewa itu kepadanya." saran Satria.


Aku pun berpikir ada benarnya jika aku segera kembali. Tapi kok ada yang aneh ya. Kenapa aku tidak boleh menyentuh Prasta. Ah mungkin hanya perasaanku saja.


"Tapi bagaimana dengan Prasta?" tanyaku


"Dia akan segera kami sembuh kan. Sebaiknya segera pulang. Takutnya nanti akan ada halangan lagi." kata Satria.


"Iya putri, ayo pulang bersamaku." ajak Dika.


Aku pun nurut saja dengan ajakan mereka. Kini, tinggalah Prasta, Satria, dan Senopati Dandaka. Sedangkan yang lain ikut kembali bersamaku.


10 menit kemudian.


Kami sampai di kamar hotel ku. Puspa sudah menanti kedatangan kami.


"Putri Nararia" kata Puspa.


"Puspa" kataku


Kami pun lalu berpelukan. Tak lupa aku tanyakan Retno. Ternyata dia sudah tenang dengan bantuan Agni Jyotir. Aku pun lalu memberikan buah itu. Jujur aku tidak bisa dan tidak tahu caranya menggunakan buah itu.


"Ini buahnya Puspa" kataku


"Kau berhasil putri membawa kemari buah ini. Rintangan pasti datang silih berganti kan?" tanya Puspa.


"Iya betul, kalau begitu ayo segera kita pecah buah ini." ajak Kencana.


"Hah? dipecah?" kata kami heran.


Bagaimana tidak coba. Buah yang kami dapatkan. Akan dipecah begitu saja. Haiihs...


Puspa dan Kencana lalu memecah buah itu. Tatkala dipecah, buah itu mengeluarkan sinar biru (seperti mustika). Lalu secara otomatis mustika itu masuk ke dalam tubuh Retno Kartika. Tubuh Retno bergetar hebat.


"Apa yang terjadi Puspa?" tanyaku


"Tenang saja putri, ini adalah proses pemisahan darah mereka." kata Puspa.


"Retno Ayu, bagaimana kabar mu? bagaimana perasaanmu?" tanyaku


"Nara! kau bukan Nara kan? kau Denawa yang sedang menyamar kan?" hardik Retno.


"Bukan Retno, ini aku Nara yang asli." kataku


Tapi Retno masih trauma rasanya. Akhirnya aku meminta dia untuk mengujiku. Dia pun lalu memberikanku pertanyaan seputar dunia kampus dan kebersamaan kita. Tentu saja aku bisa menjawab pertanyaan nya. Setelah yakin kalau aku nyata. Dia pun langsung memelukku.


"Jangan takut, ada aku di sini." kataku menenangkan dia.


"Maafkan aku ya, aku tidak akan merepotkan mu lagi." kata Retno.


Akhirnya kami pun sekarang kembali berkumpul. Malam ini akan menjadi kebersamaan kita. Soalnya Dikadiraksa dan Ivan masih disini. Mereka menunggu kedatangan Senopati Dandaka.


"Malam ini kita tidur di sini bareng - bareng kan?" tanya Adhiraksa.


"Itu mah mau mu, Dhir. Kita tidur di kamar Prasta." kata Dika


"Ah kamu Dhik, kan enak tidur disini. Satu kamar dengan Nara." protes Adhir.


"Mau tidur dimana kamu pangeran? di lantai? kalau aku mah ogah, dingin bisa masuk angin aku." sahut Ivan.


Ternyata mereka bertiga masih saja berdebat satu sama lain.


*


Satria POV.


Prasta masih pingsan. Aku berusaha membangunkan dia. Dengan bantuan Senopati, seharusnya dia segera bangun. Tapi sudah 1 jam dia tidak bangun.

__ADS_1


"Senopati, kenapa Prasta tidak bangun juga?" tanyaku yang mulai cemas.


"Ini adalah efek pukulan dari Pangeran Ardana. Jadi pangeran Prasta terluka seperti ini." kata Senopati.


Tak berapa lama Prasta tersadar. Aku lega sekali melihat kawanku sadar.


"Satria dimana putri Nara?" tanya Prasta.


"Dia sudah kembali ke hotel membawa buah. Tadi hampir saja dia menyentuh mu." kata Satria.


Prasta pun kaget dengan ucapan Satria. Dia berharap Nara tidak menyentuhnya.


"Apakah dia sempat menyentuhku?" tanya Prasta.


"Tidak, karena aku berusaha mencegahnya." kataku


Senopati Dandaka pun langsung menyahut.


"Kenapa tidak kau beritahu saja siapa identitas kalian." kata Senopati.


"Tidak senopati, biarkan Nara mengenal cintanya." kata Prasta.


"Jika dalam kehidupan ini putri Nara bukan jodoh pangeran Pikatan gimana?" tanya Senopati.


"Semua tergantung pada Nara, senopati." jawab Satria.


Setelah Prasta sembuh, mereka pun lalu kembali ke hotel kami. Tentu saja mereka mendarat di kamarku.


"Eh ngapain loe kesini? kok kamu tidak musnah saja?" tanya Adhiraksa


"Dasar pangeran tengik, ngapain loe kembali lagi. Mendingan loe musnah saja." balas Satria.


Cekcok pun terjadi lagi. Hingga akhirnya aku mengusir mereka semua.


"Kalian kembali ke Jerman sana." kataku


"Sana pergi sudah diusir sama Nara." kata Prasta.


"Kau!" teriak Adhir.


Sebelum Adhiraksa maju, Senopati sudah terlebih dahulu meraih tangan Dikadiraksa dan Ivan.


"Putri kami pamit dulu" kata Senopati.


Seketika itu mereka langsung menghilang. Aku pun lalu mengusir mereka berdua kembali ke kamar nya.


"Kencana kenapa tadi Satria melarangku menyentuh Prasta?" tanyaku


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next:


Apakah Kencana akan memberi tahu tentang kebenarannya?


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".

__ADS_1


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2