
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*
***
Sisi lain, ribuan prajurit Cakrabuana dikerahkan untuk mencari para Ksatria. Mereka sempat putus asa. Para Ksatria sempat menghilang. Sehingga mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan ksatria.
"Bagaimana, apakah sudah ada kemajuan?" tanya Senopati.
"Maaf paduka Senopati, kami belum menemukan. Mereka hilang seperti ditelan bumi. Sulit sekali mendeteksi mereka" kata kepala prajurit.
"Pasti mereka menggunakan ajian halimunan dewata. Patih berkata, jika pangeran Kencana pemilik ajian itu." kata Senopati.
"Lalu ala yang harus kami lakukan, paduka?" tanya kepala prajurit.
"Terus temukan mereka, pasti ada celah sedikit. Gunakan kemampuan kalian. Satukan kekuatan kalian untuk menembus keberadaan mereka." pinta Senopati.
Para prajurit Candrabhairawa pun lalu menyatukan kekuatan. Energi yang dikeluarkan sangat dasyat. Pada saat itu para Ksatria masih di Hutan Selogriyo. Puspa merasakan akan ada bahaya yang sedang mengancam mereka.
"Ada apa Puspasari?" tanya Kencana
"Aku merasakan hawa berbahaya yang sangat kuat. Sebuah energi penyatuan yang maha dasyat." kata Puspa.
"Benar sekali, ini adalah tanda adanya prajurit kegelapan." timpal Kencana.
"Mereka sedang berusaha Menembus benteng kita. Tapi bagaimana mungkin, bukankah Aura dan Tamara sudah mengamankan mereka?" tanya Adhiraksa.
"Apakah penyamaran mereka terbuka?" tanyaku
Adhiraksa, Prasta, dan Satria pun lalu mengambil langkah cepat. Mereka berusaha menahan aura Candrabhairawa.
"Adhir! kekuatannya sangat dasyat, sebaiknya kau segera keluarkan prajurit Cakrabuana" kata Satria.
Adhiraksa pun mengerti dengan maksud Satria. Secepatnya, dia memanggil pasukan Cakrabuana. Tak lama kemudian, pasukan itu datang dalam jumlah ribuan.
"Cepat satukan kekuatan kalian. Tahan agar ajian Candrabhairawa tidak menembus benteng kita." perintah Adhiraksa.
"Baik pangeran" kata prajurit Cakrabuana.
Para prajurit pun lalu mengambil formasi. Serta menyalurkan energi mereka dan melindungi para Ksatria.
"Kita harus segera meninggalkan hutan ini." usul Ivan.
"Baiklah, aku akan melacak keberadaan prajurit Candrabhairawa. Kita harus tahu, kenapa mereka mengejar kita." kata Prasta
Prasta pun lalu menghilang dan menembus ruang. Dia melalui kekuatan Cakrabuana. Tak lama kemudian, dia sampai dia lokasi Candrabhairawa.
"Aku harus menelisik mereka." batin Prasta.
Prasta pun lalu meraih seorang prajurit Candrabhairawa. Dia harus mengetahui apa yang terjadi melalui mata prajurit. Dia lalu membawa prajurit itu ke Hutan Selogriyo.
"Aku mendapatkan dia." kata Prasta
"Biar aku yang melakukan" kata Satria.
Prasta pun menganggukan kepala. Kini Satria maju dan menatap mata prajurit itu. Seketika itu dia bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Bagaimana?" tanya Prasta
"Singkirkan prajurit ini dahulu, baru aku ceritakan." kata Satria.
Seketika itu, Adhiraksa lalu membantai prajurit Candrabhairawa.
__ADS_1
"Hehehe... bukan jadi masalah besar. Tenang saja, gue punya pasukan Cakrabuana." sombong Adhiraksa.
"Dasar pangeran sombong." kata Dika.
"Sirik aja loe" balas Adhiraksa.
Melihat kelakuan dua orang yang tidak pernah akur itu. Satria lalu melerainya.
"Stooop! Kayak anak kecil saja. Jadi rencana kita tidak gagal. Tapi Patih lah yang curiga. Dia memerintahkan Senopati. Pasukan Senopati sedang memburu kita. Selamanya tidak mungkin kita bersembunyi di sini." kata Satria.
"Kita ladeni mereka" kata Adhiraksa.
"Mereka hanya mengerahkan senopati. Sebaiknya aku dan Prasta saja yang pergi. Adhiraksa, pinjam prajurit Cakrabuana mu" kata Satria.
"Cih, dasar lelaki licik. Enak sekali kau pinjam pasukanku." kata Adhiraksa
"Kalau tidak boleh tidak masalah. Topeng emas, ayo temani aku" ajak Satria.
Adhiraksa langsung memberikan perintah kepada prajuritnya. Semua orang yang melihat tingkah kekanakan pun tertawa.
"Dasar pangeran tengik" ledek Dika
"Berisik! Diam loe!" bentak Adhiraksa
Dika pun hanya menertawakan kelakuan Adhiraksa.
"Kalian mah sebelas dua belas, dilarang saling meledek." kata Ivan.
Semuanya pun tertawa, tapi Satria harus segera berangkat. Dia ingin menghajar Senopati kegelapan.
"Tuan dan Nyonya, pangeran ganteng Satria harus berangkat ke medan perang." kata Satria.
Semuanya pun lalu memberikan berkat dan restunya. Berharap dia akan segera kembali.
"Pangeran Satria, tunggu. Biarkan aku menemanimu" kata Kencana.
"Tapi ..." kata Satria
"Kencana benar, aku takut Senopati akan meminta bantuan yang lainnya. Tidak ada salahnya kan buat berjaga - jaga." kata Nara.
"Apakah Satria akan menang melawan Senopati?" tanya Ivan.
"Kamu jangan khawatir, Van. Satria sudah bersama prajurit Cakrabuana. Dia pasti baik - baik saja." kata Adhiraksa.
Setelah itu, mereka fokus dan mengawasi Satria dari jauh.
*
Istana Ilusi.
Malam yang bertabur bunga dan lilin. Membuat kesan romantis yang syahdu. Sepasang suami istri yang baru saja sah menjadi pasangan itu, sedang memadu kasih. Ada rasa bahagia di hati Ardana. Dia merasakan hal yang belum pernah dia rasakan. Dia bahagia bersama wanita nya.
"Permaisuri, terimakasih atas cinta dan pengorbananmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku janji akan selalu membahagiakan dirimu. Jangan pergi dariku, berjanjilah" kata Arda.
Aura pun tersenyum mendengar perkataan dari Arda. Bagaimana mungkin dia akan pergi. Arda adalah cintanya. Tidak mungkin dia akan pergi. Bahkan dia rela melakukan segalanya hanya untuk bisa bersama Arda.
"Kamu ngomong apa Raja ku? Bagaimana mungkin aku akan meninggalkannya? Aku tidak akan pergi dari sisimu. Sebaliknya aku yang takut, kau akan berpaling dari aku." kata Aura.
Arda pun sangat senang mendengarnya. Betapa bahagianya. Dia tidak menyangka, bahwa Nara akan bisa menerimanya dengan mudah. Tapi hal itu lah yang membuatnya sedikit curiga.
"Nara ... aku tahu kau belum begitu mencintaiku dan menerimaku. Aku tahu ini semua kau lakukan untuk menyelamatkan temanmu. Tapi aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku mohon jangan memikirkan lelaki lain selain aku. Aku pasti akan memberikan ala yang kau minta." kata Arda
Aura diam sejenak, dia berpikir bahwa saat ini adalah waktu yang tepat. Dia tidak menyangka akan begitu mudahnya meluluhkan hati Arda. Ya meskipun Arda tahunya jika dirinya adalah Nara. Tapi dia akan membuat Arda tetap ada di sisinya.
"Maharaja, apakah aku boleh minta suatu hadiah pernikahan kita?" tanya Aura
"Katakan permaisuri, apapun permintaanmu adalah perintah bagiku. Apapun gang kau minta pasti akan busa aku turuti." kata Arda.
Aura pun tersenyum, dia langsung memberikan cium nya pada Arda. Tentu saja hal itu yang membuat Arda bahagia.
"Katakan apa yang kau mau, permaisuri?" tanya Arda
"Maharaja, apakah aku bisa dijadikan sebagai ratu kegelapan?" tanya Aura.
__ADS_1
Mendengar permintaan Aura, membuat Arda tertawa. Ternyata hanya minta pengukuhan. Tentu hal itu bukan hal yang sulit.
"Kenapa kau tertawa Maharaja? Apakah aku tidak bisa menjadi ratu kegelapan?" tanya Aura.
Arda lalu memandang lekat wajah istrinya itu. Senyum manis terukir dari bibirnya.
"Sayang, aku kira kau akan minta istana Dewa Indra. Jika kau hanya minta menjadi ratu kegelapan, tentu saja. Itu sangat mudah, kau adalah permaisuriku, ratuku. Besok kau akan dinobatkan sebagai ratu kegelapan. Kau akan memiliki hak untuk mengatur seluruh wanita di kerajaan Kegelapan." kata Arda.
Mendengar hal itu, betapa senangnya Aura. Ternyata dalam waktu sehari dia menikah. Besok dia akan dinobatkan menjadi ratu. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Ide dari Tamara sangat luar biasa.
"Permaisuriku, apakah aku bisa mendapatkan hadiah juga dari mu?" tanya Arda dengan senyumnya.
"Hadiah apa yang kau mau? Aku tidak memiliki apa - apa sekarang ini." kata Aura.
Aura pun menjadi murung, dia harus bersikap tenang. Jangan terpancing dan menunjukan bahwa dia adalah Aura.
"Permaisuriku, aku tidak butuh harta kekayaan." kata Arda
"Lalu?" tanya Aura
"Aku butuh cinta tulusmu. Permaisuri, berikan aku seorang keturunan. Berikan aku seorang pangeran kegelapan." pinta Arda
Aura pun tersenyum bahagia. Ini lah tujuan dia, dengan dia mengandung pangeran kegelapan. Maka Arda tidak akan pernah berpaling darinya. Selain itu, kedudukan dia akan aman. Pangeran putranya nanti hang akan ia gunakan untuk tetap bertahan di istana kegelapan.
"Tentu saja Maharaja, aku bersedia. Berapa pangeran gang kau minta?" goda Aura.
"Kalau begitu, ayo kita buat pangeran yang banyak permaisuri" kata Arda.
Aura pun tersenyum bahagia, selanjutnya ... kalian sudah tahu. 😅
*
Tamara.
Malam ini Tamara agak murung. Meskipun rencananya berhasil. Tapi, dia juga ingin kebahagiaan seperti Aura. Sudah lama dia merindukan kasih sayang seorang lelaki. Niatnya mendapatkan pangeran Pikatan seutuhnya masih selalu ada dibenaknya. Dia berpikir dengan Aura menjadi ratu kegelapan. Dia akan bisa memanfaatkannya untuk mengejar Rakai.
"Malam ini Aura pasti sedang bersenang - senang dengan Arda. Hmmm.. seharusnya aku juga bisa begitu dengan Rakai." gumam Tamara.
Ketika lamunan itu dia ciptakan dalam pikirannya. Betapa bahagianya dia, membayangkan Rakai menyentuh dan memberikan cinta padanya. Tapi pada saat dia melamun, tiba - tiba kamarnya diketok seseorang. Dia pun langsung berjingkat.
"Kurang ajar, berani sekali menganggu kesenanganku." gumam Tamara.
Dia pun langsung menuju pintu kamarnya. Dia sudah berniat akan membunuh dayang yang berani mengganggunya.
Pintu di buka,. and ... jeng jeng jeng.
"Berani sekali kau!!!" bentak Tamara.
Orang yang ada di balik pintunya segera menatapnya dengan tajam.
"Ka ... Kau..." kata Tamara
"Aku sudah tahu semua kebusukanmu." kata pria itu
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Siapakah yang menemui Tamara, sehingga membuatnya kaget.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"