Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Sumur Kuna


__ADS_3

Sebelum membaca


*Jangan lupa like, komen, dan vote ya*


.


.


Sumur Kuna itu terus mencuri perhatianku. Kulihat baik - baik susunan batu candi dan jernihnya air. Tiba - tiba Mbah Bardi menggagetkanku.


"Nduk, mau simbah ambilkan air yang baru nggak?" tanyanya.


"Oh boleh, mbah. Matur nuwun" jawabku karena kaget dan disadarkan dari lamunan itu.


Mbah Bardi kemudian menuang air bekas cuci muka Ivan dan Dika. Tak lama kemudian sebuah ember mulai nampak dan keluar dari dalam sumur. Aku pun kemudian bergumam "Emas eh airnya jadi emas"


Aku sangat terkejut melihatnya. Ternyata teriaku tadi membuat beberapa petani menghentikan aktivitasnya dan menghampiri kami.


"Mana Emasnya" kata Mbah Paijan.


"Enggak kok, bukan ... air bening" kata Mbah Bardi.


Semua orang yang hadir disitu kemudian melihatku dengan agak sinis. Mereka mengira aku sudah bohong. Emas bagi para petani di sekitar daerah situ merupakan hal yang wajar karena beberapa dari petani pernah menemukan emas kuno.


"Tapi tadi beneran aku melihat airnya berubah jadi perhiasan, Mbah, Dik, Van" kataku membela diri.


"Kamu belum sarapan kali. Jadinya ngawur" kata Ivan.


Mbah Bardi kemudian menyuruh yang lainnya untuk kembali lagi. Tapi nampaknya mereka masih menungguin kami.


"Nah, airnya jernih banget. Ayo segera cuci muka" kata Mbah Bardi.


"Nggeh, Mbah" jawabku.


Aku kemudian duduk dan menghampiri ember itu. Kuambil air dan tak lupa ku berdoa. Kusebut nama Hyang Baruna dan Indra. Mereka adalah Dewa Laut dan Hujan. Aku kemudian mulai membasuhkan mukaku dengan air itu dalam keadaan mata tertutup. Begitu aku membuka mata aku sudah berada di dunia lain. Ya dunia yang aku tidak kenal.


"Hey, dimana ini. Ivan, Dika" panggilku kepada 2 orang itu. Ternyata mereka nggak ada.


"Pak, pak, maaf ini dimana ya?" kataku penuh rasa cemas.


Warga itu hanya melihatku dari bawah ke atas, hingga akhirnya mereka semua duduk dan menyembahku.


"Paduka Rakyan" katanya.


"Paduka Rakyan?" tanyaku penuh keheranan.


Tiba - tiba salah satu warga itu maju ke depan dambil berjalan jongkok. Aku heran dengan mereka. Aku juga kaget karena mereka menggunakan pakaian seperti wayang orang.


Laki - laki telanjang dada dan bagian bawahnya ditutup dengan kain. Sedangkan wanita menggunakan kemben. Anak - anak juga bertelanjang dada. Aku merasa aneh dengan semua ini. Aku seperti masuk ke dalam dunia lain.


Masyarakat tadi mendekatiku dengan berjalan jongkok. Aku pun kemudian mundur beberapa langkah. Aku takut jika mereka akan berbuat jahat padaku.


"Apa yang paduka Rakyan lakukan di sini? sungguh suatu anugrah bagi kami" katanya.


"Apakah paduka sedang berjalan - jalan menyaksikan kami rakyat di sekitar Parahyangan Bodisatwa? kenapa tanpa pengawalan dan kebesaran kerajaan" kata seorang wanita paruh baya.


"Kalian siapa?" tanyaku


"Kami adalah penduduk Wanua Taji Gunung." kata salah seorang lelaki

__ADS_1


Aku berusaha menatap mereka. Aku jadi kaget karena aku juga menggunakan pakaian yang sama dengan mereka. Akan tetapi bedanya, aku menggunakan pakaian seperti seorang putri. Aku menggunakan mahkota dan perhiasan yang semuanya terbuat dari emas yang diukir sangat indah.


"Kenapa aku berpakaian seperti ini?" tanyaku


"Karena kamu adalah putri mahkota kerajaan Medang." kata seorang lelaki yang menggunakan jubah putih


"Putri Mahkota?" tanyaku bingung


Pendeta itu kemudian mendekatiku. Sontak aku segera menjauh. Aku takut dia akan bertindak yang jahat.


"Jangan takut paduka. Kami tidak akan menyakiti anda." katanya


"Aku dimana ini?" tanyaku lagi


"Anda berada di wilayah Kerajaan Medang. Selamat datang tuan putri." katanya sambil menundukkan kepala


Aku semakin binggung dengan semua hal ini. Aku kemudian menanggis dan menyebut nama "Wisnu, kembalikan aku ke duniaku". Aku memejamkan mata dan ketika membuka mata aku sudah melihat Ivan, Dika, dan para petani.


"Ivan, Dika, aku kembali" kataku kegirangan.


Aku kemudian memeluk mereka berdua secara bergantian. Aku sampai menangis karena aku bisa kembali dan melihat semuanya berjalan normal.


"Kamu kenapa?" tanya Dika keheranan


"Aku tadi masuk ke Wanua Taji Gunung." kataku


"Apaan tu?" tanya Ivan


Aku kemudian menjelaskan tentang pertemuanku dengan sekelompok masyarakat yang berpakaian layaknya wayang orang. Bertemu dengan seorang Pandita yang menyebutku sebagai putri mahkota.


Mendengar hal itu, mereka berdua tertawa terbahak - bahak. Dika memegang jidatku.


"Kamu enggak kesambet, kan?" tanya Dika.


Aku berbalik arah dan kemudian mengambil air sumur itu. Aku kembali membasuh wajahku, berharap aku bisa mengulanginya lagi dan membuktikan kepada mereka berdua. Tapi ternyata aku tidak masuk lagi.


Setelah itu aku berbalik badan melihat Dika dan Ivan. Mereka melihatku masih dengan penuh keherana dan nggak percaya.


"Kalian kenapa sih ngliatinnya kayak gitu? Cantik ya aku?" kataku penuh dengan rasa bangga.


"iya, Cantik banget" puji Dika.


Aku kemudian tersenyum malu - malu.


"Ah Dikaaa" kataku merajuk.


Salah satu dari petani itu kemudian menghampiriku dan berkata "Jagalah selalu mahkota itu".


"Mahkota?" tanyaku binggung.


"Kamu akan segera bertemu dengan pangeran mu" katanya lagi yang semakin membuatku binggung.


"Pangeran? Ini ada Dika dan Ivan." kataku.


Mereka berdua kemudian tertawa setelah aku bilang sebagai pangeran.


"Tapi pangeran kodok." kataku sambil tertawa.


Mereka berdua kemudian manyun dan mengumpat, karena telah ku bilang sebagai pangeran kodok.

__ADS_1


"Bukan, tapi pangeranmu yang sesungguhnya" katanya lagi.


Mbah Bardi kemudian menggalihkan pembicaraan dan mulai menceritakan keberadaan sumur kuno lainnya.


"Oh hya, selain di sini masih banyak lagi lho sumur - sumur kayak gini. Jumlahnya puluhan" kata Mbah Bardi.


"Dulu di sini adalah perkampungan kuna, masyarakat hidup dengan tentram dan damai. Masyarakat menggunakan air sumur ini untuk keperluan sehari - hari dan untuk upacara keagamaan" kataku.


"Dari mana kamu tau?" tanya Ivan.


"Aku tadi melihat masyarakat desa ini menggunakan air sumur ini untuk keperluan upacara. Ada seorang biksu yang sedang mengambil air itu. Trus air itu diletakan di tempayan dan di bawa ke Parahyangan Bodisatwa". jelasku.


"Parahyangan Bodisatwa?" tanya Ivan dan Dika secara bersamaan.


Aku hanya mrnganggukan kepala.


"Parahyangan Bodisatwa yaiku Candi Plaosan iku, Nduk" terang Mbah Paijan.


"Candinya jauh kah mbah?" tanyaku.


"Enggak deket kok, paling sekitar 2 Km" kata Mbah Bardi.


"Ya iku tadi yang pernah tak jelaskan sebelumnya ada Candi Budho" terang Mbah Paijan.


Setelah bercakap - cakap kami pun kemudian pamit dan berpesan kepada para petani.


"Mbah.. tolong jaga sumur ini, kalau pas lagi musim wiwit, nandur, dan panen. Jangan lupa buat sedekah buat penjaga sumur kuno ini" kataku.


"Iya nduk, kami juga selalu merawat dan menjaga sumur ini." kata Mbah Bardi.


Beliau juga menjelaskan bahwa air sumur itu tidak pernah kering. Meskipun musim kemarau. Mereka juga memberitahu kami, bahwa hasil tani mereka menjadi melimpah tatkala mereka menggunakan air sumur itu.


Mereka juga bercerita, jika pernah suatu hari. Mereka tidak menggunakan air sumur itu. Hasil panen mereka buruk dan bisa dikatakan gagal panen.


"Kalau begitu air sumur ini bertuah." kata Dika


"Suatu saat bisa digunakan untuk salah satu air suci." kataku


Setelah bercakap - cakap tentang keistimewaan air sumur itu. Kami kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan


"Mbah, terimakasih atas penjelasan dan ilmunya yang bermanfaat. Kami ingin melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan." kataku


"Hati - hati ya Nduk, Le. Oh iya, kalian berdua tolong jaga Nararia ya." pesan Mbah Bardi.


"Nggih mbah, matur nuwun. Pamit nggih." kata Dika


Kami segera meninggalkan sumur dan para petani. Setelah sampai dimana sepeda kami parkir. Petani itu melambaikan tangan kepada kami.


"Seneng aku sama mereka." kataku


"Iya mereka ramah dan baik." timpal Ivan


Kami segera mengayuhkan sepeda menuju candi. Perjalanan yang menyenangkan dan membuat hati kami menjadi riang gembira.


**


Episode kali ini cukup ya


Terimakasih atas waktunya

__ADS_1


With love


Citralekha


__ADS_2