
*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya
jangan lupa comment juga*
Happy reading
Perdebatan antara Pasopati dan Balaputra pun tak bisa dielakan lagi. Melihat hal itu, ayah raja Samaratungga menjadi terlihat gusar dan menasehati agar mereka berdua tidak ribut dihadapan jasad Satria dan masyarakat Medang yang sedang berkabung.
"Maafkan hamba, paduka." kata Pasopati lirih
"Maafkan nanda, ayah." kata Balaputra
"Sudahlah kita akan menunggu kakang mas Rakai Patapan Pu Palar." kata ayah Samaratungga
Sementara itu, Widasari terus nempel di lengan Pasopati. Melihat hal itu aku hanya bisa tersenyum. Padahal Pasopati agak risih. Entah apa yang membuat Pasopati agak risih dengan Widasari.
Persiapan untuk perabuan jasad Satria telah dilakukan dengan baik. Tinggal menunggu perintah, maka akan segera di bakar.
Aku tersenyum ketika melihat Pasopati yang seolah ingin melepaskan tangannya dari Widasari. Melihatku tersenyum, ibu Dewi Tara pun senang, karena aku sudah tidak sedih lagi.
"Nak, kamu tersenyum?" tanya ibu
"Kamu bisa merelakan kepergian pangeran Satria, putriku?" tanya ayah Rakai Garung.
Nama abhiseka ayah Samaratungga adalah Maharaja Rakai Garung. Beliau dipercaya yang telah membuat Candi Sambisari berdiri nan megah.
"Apa yang harus nanda sedihkan, ayah dan ibu." kataku
Mendengar perkataanku, ayahku tertegun. Demikian juga adikku Balaputra (Walaing).
"Apa kakak sudah merelakan kepergian kakak ipar?" tanya Balaputra
"Iya, aku tidak mau bersedih untuk jasad yang tidak seharusnya aku bersedih." kataku
"Maksudnya apa nak?" tanya ibu Tara.
"Kanjeng ratu akan segera mendapatkan jawabannya setelah kemunculan Raja Patapan Pu Palar." sahut Pasopati.
Tak berapa lama, rombongan dari Pikatan datang. Mereka bersorak sorak. Melihat hal itu timbullah praduga bahwa Rakai Palar telah memenangkan peperangan denga Dedemit Dandaka.
"Hebat sekali kang mas Pu Palar." gumam ayah Garung
"Kesaktian seperti apa yang dimiliki oleh Rakai Pu Palar. Sehingga bisa menang dan kembali dengan selamat dari Dandaka" kata Balaputra penasaran.
Aku dan Pasopati hanya saling lirik satu sama lain. Kemudian kami tersenyum secara bersamaan.
"Apanya yang lucu, kak?" tanya Balaputra
"Tidak adik, tunggu sebentar lagi." kataku
Balaputra, ayah, ibu, dan Widasari juga nampak bingung. Dari kejauhan, kami sudah nampak kereta kebesaran dari Pikatan muncul. Kereta itu langsung ke samping balai Witana. Kami semua menyambut kedatangan ayah Pu Palar.
Ayah dan ibuku, juga ibu dari Satria datang menghampiri Pu Palar bersama senopati dan prajuritnya. Mereka saling berpelukan sebagai tanda syukur atas kembalinya Pu Palar dari Dandaka.
"Ini sebuah anugrah yang tiada tara, Manjusri telah melindungi kang mas Pu Palar." kata ayah Garung
"Terimakasih dimas, aku membawa sebuah kabar yang sangat membahagiakan." kata Pu Palar.
"Kabar apa itu kang mas?" tanya Dewi Tara
Pu Palar pun segera mengajak kami semua ke balai Witana dan menuju ke tempat perabuan tempat jasad Satria dibaringkan.
"Wahai masyarakat Medang dan Masyarakat Pikatan. Kalian semua tidak usah bersedih atas kematian jasad yang ada di depan mata kita." kata Pu Palar.
masyarakat sangat bingung dengan perkataan Pu Palar. Mereka kemudian bertanya - tanya dan mengira kalau Pu Palar telah kehilangan akal. Mungkin karena terpukul telah kehilangan putra kesayangannya yang akan menjadi maharaja.
__ADS_1
Mendengar bisik - bisik dari masyarakat. Membuat Pu Palar semakin tertawa puas. Ayah, adik, dan ibu sangat bingung.
"Maaf kang mas, saya tahu jika kang mas merasa sangat sedih karena kehilangan putra semata wayangnya. Tapi kang mas harus ikhlas dengan semua ini." kata ayah Garung.
Ayah Pu Palar masih tersenyum dan tertawa semakin puas. Merasa bahwa masyarakat Medang telah dikelabui oleh Senopati Dandaka. Tapi ayah Pu Palar tidak akan memberitahukan tentang perlindungan dari Dandaka.
"Kang mas Samaratungga , apakah kang mas Pu Palar terkena ajian Dandaka. Sehingga membuatnya seperti itu." bisik Dewi Tara
Balaputra nampak bingung, dia dalam hati memanggil demit piarannya. Tapi ternyata Kalasmara tidak kunjung datang. Dia semakin kesal dan bingung.
Tiba - tiba dari jauh datang sebuah kereta kencana yang ditarik dengan 5 ekor kuda. Kereta kencana terus menuju tengah balai Witana. Kereta itu tepat berhenti di tengah kerumunan masyarakat.
"Apa - Apaan ini!! Siapa yang berani merusak suasana khidmat perabuan ini!!" bentak Balaputra.
Dia segera melompat dan langsung menuju ke kera kencana. Dia sangat gusar ada sebuah kereta yang dengan tidak sopan langsung menuju balai Witana.
"Hei, keluar kau. Apakah kau tidak punya etika??" bentak Balaputra
Aku dan Pasopati hanya tersenyum melihat ulah usil dari Adhiraksa. Widasari nampak bingung dengan tingkah kami.
"Apa yang kakak sembunyikan dari Wida?" tanya Widasari
"Tunggu saja sayang." kata Pasopati
Aku kemudian melangkah dan mendekati ayah ibuku. Aku menenangkan mereka agar tidak terpancing emosi dengan teriakan Balaputra terhadap seorang yang berada di dalam kereta kencana itu.
"Sabar ayah, tunggu saja. Ayah akan tahu jawabannya sebentar lagi." kataku
"Tapi nak, dia telah sangat arogan masuk ke balai Witana dan merusak upacara perabuan pangeran Satria." kata ayah Garung.
Aku terus memenangkannya. Demikian juga dengan Pasopati yang berusaha membuat tenang ayah ibuku.
"Dimas Rakai Garung, kau akan tahu kebenarannya sebentar lagi." kata ayah Pu Palar.
Balaputra segera mengeluarkan kesaktiannya untuk menyeret pangeran yang ada di dalam kereta. Tapi semuanya sia - sia. Adhiraksa terlalu sakti dibandingkan Balaputra saat ini. Kesaktian Balaputra tidak ada yang bisa menyentuh kereta nya.
Balaputra kemudian memerintahkan kepada prajurit Medang untuk menyerang orang yang ada di dalam kereta.
"Prajurit kepung dan buat orang yang ada di dalam kereta ini keluar dan meminta maaf kepada masyarakat Medang." kata Balaputra
Prajurit segera mengepung kereta kencana Adhiraksa. Sais kereta nampak tenang. Dia percaya bahwa tuannya Adhiraksa tidak akan membiarkannya mati sia - sia.
"Pangeran di luar banyak prajurit yang mengepung kereta kita." kata sais
"Tenangkan hatimu, sais." kata Adhiraksa
Prajurit segera melancarkan aksinya. Tapi tidak sampai menyentuh kereta nya. Mereka semua terpental. Melihat hal itu, Pasopati segera memerintahkan mereka untuk tidak lagi mendekati kereta itu.
"Prajurit segera menyingkir, saya tidak mau ada korban berjatuhan lagi." kata Pasopati
"Apa yang kau katakan Pasopati?? kereta itu telah dengan arogan masuk ke balai Witana!!" bentak Balaputra.
Mendengar perdebatan antara Pasopati dan Balaputra. Terdengar teriakan dari dalam kereta. Semua orang tertuju pada kereta itu.
"Berhentiiii!! Hentikan adu mulut kalian berdua." kata Adhiraksa.
Pintu kereta segera terbuka pelan. Sais sudah lebih dulu turun dan membukakan pintu. Terlihat kaki sebelah kiri keluar. Semua mata tertuju pada pintu kereta kencana. Perlahan - lahan, kaki itu keluar semua dan kemudian kepalanya keluar dengan sempurna.
Semua mata terbelalak melihat seorang Ksatria tampan yang keluar dari kereta kencana. Semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Pangeran Satria." kata Balaputra dengan mata melotot.
"Pangeran Satria, pangeran Satria." kata masyarakat
Kemudian riuh seketika. Ada yang mundur karena takut jika Satria yang mereka lihat adalah dedemit jelmaan Satria yang bisa dengan cepat menyerang masyarakat. Tapi aura dari Adhiraksa mampu membuat semua orang terpukau dengan kehadirannya.
__ADS_1
"Pangeran Satria." kata ayah dan ibuku secara bersamaan.
Aku hanya tersenyum melihat Adhiraksa sangat gagah keluar dari kereta kencana.
"Kakak, itu tidak mungkin kan?" tanya Widasari penasaran
"Dialah pangeranku, pangeran Satria. Dia masih hidup." kataku
Ayah Pu Palar segera menghampiri Adhiraksa dan memperkenalkannya sebagai pangeran Satria. Dia kemudian menjelaskan tentang keadaan di Hutan Dandaka. Dia juga menjelaskan bahwa jasad yang mereka tangisi adalah sebatang pohon.
Adhiraksa kemudian mengangkat tangan dan segera membuat jasad itu menjadi sebongkah pohon yang sudah lapuk. Melihat hal itu, masyarakat sangat senang. Karena pangeran mereka masih hidup.
Riuh dan elu - elu nama Satria terus terucap dari bibir masyarakat. Demikian juga dengan ibu Satria dia tahu bahwa putranya itu adalah Adhiraksa. Tapi segera dicegah oleh Pu Palar sambil mengedipkan matanya.
"Akan aku jelaskan setelah kita sampai di Pikatan." kata Pu Palar.
Adhiraksa segera menghampiri ibunya. Dengan rasa haru ibu Adhiraksa memeluknya dengan penuh kasih.
"Adhiraksa putraku." bisiknya
"Bunda, tolong panggil hamba Satria." bisik Adhiraksa
Setelah pertemuan haru itu. Masyarakat membubarkan diri. Akan tetapi upacara perabuan tetap dilakukan kepada prajurit yang telah meninggal pada saat Pu Palar mengamuk.
Ayah Samaratungga kemudian mengundang seluruh tamu yang hadir ke Bangsal Kemaharajaan. Mereka semua dijamin di singgasana dan balai agung kerajaan Medang.
Pangeran Balaputra nampak geram. Bagaimana tidak, dia telah dibohongi oleh Kalasmara dengan mentah - mentah. Dia segera pamit dari pendopo agung dan bergegas memanggil Astana.
Dia sangat gusar, karena Satria kembali lagi. Secara tidak langsung dia harus mengunakan cara lagi untuk menyingkirkan Satria
"Astana, kenapa semua ini terjadi lagi?" tanya Balaputra
"Ampun pangeran, hamba juga tidak tahu. Bagaimana dengan Kalasmara?" tanya Astana
Balaputra kemudian menjelaskan jika Kalasmara tidak menjawab panggilan gaib nya. Dia semakin gusar jika mengingat kebohongan dari Kalasmara.
"Pangeran, sebaiknya anda kembali ke pendopo agung. Agar mereka tidak curiga dengan pangeran." kata Astana
Balaputra segera kembali ke pendopo Agung. Pasopati nampak dengan setia mendampingi Adhiraksa. Aku hanya terus tersenyum memandang Adhiraksa dari jauh.
"Pangeran inget ya, dia adalah calon istri kakak anda." bisik Pasopati
"Iya, So. Tapi kita masih memerankan untuk membongkar siapa di balik dalang kekacauan di Medang Ini, kan?" tanya Adhiraksa.
"Baik pangeran, tapi ingat ya jangan kelewat batas." bisik Pasopati
Adhiraksa hanya tersenyum dengan tingkah Pasopati. Dia pun juga akan menjaga diriku selama Satria belum kembali dari pertapaan Wana Taas.
Setelah acara ramah tamah selesai, tamu undangan kembali ke negaranya masing - masing. Adhiraksa menyampaikan pesan kepada dayang untuk ku. Dia berharap dapat bertemu denganku di Taman Puspajali.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
Apa yang akan terjadi di antara mereka berdua.
Akankah Nararia berpaling dari Satria dengan hadirnya Adhiraksa?
Akan kah mereka berhasil mengungkap dalang di balik kekacauan semua ini?
Tunggu episode selanjutnya.
Jangan lupa klik like, vote, dan comment ya.
With Love
__ADS_1
Citralekha