
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
"Ini sungguh luar biasa, maharaja. Sekarang kita harus menyerang dengan kekuatan penuh. Aku yakin mereka tidak akan berani melukai kita. Kau sungguh licik dan cerdik Maharaja." kata Aura.
"Kita akan mulai penyerangan" kata Maharaja.
Setelah mereka sepakat, Akhirnya Tamara dan Aura lah yang berangkat. Mereka akan menguji kekuatan terlebih dahulu.
"Kamu sudah siyap bermain dengan putri mahkota, Tamara?" tanya Aura.
"Tentu saja, aku ingin melihat Nararia menanggiskarena menghabisi sahabatnya sendiri. Sungguh aku sangat bahagia, Aura." kata Tamara
Mereka pun langsung melesat ke kamar dimana aku berada. Tapi karena Puspa dan Tamara telah memasang pagar gaib. Jadi mereka tidak bisa masuk. Tubuh mereka langsung terpental. Mereka jatuh, hal yang sama juga terjadi pada Retno. Tubuh lemahnya juga terjatuh.
"Retno Ayu" seruku
"Pasti Tamara atau Aura berusaha menembus pagar gaib." kata Prasta.
"Serangan segera dimulai." kata Satria.
"Nara, tetaplah di dalam ruangan ini bersama Satria. Aku dan juga (Aku yakin ada Dewi Puspasari dan Pangeran Kencana). Kami akan menghadapi Tamara dan Aura." usul Prasta.
Awalnya aku menolak, aku ingin sekali menghadapi mereka. Tapi, aku juga takut, jika nanti Prasta melukai Tamara dan Aura. Retno juga akan ikut kesakitan.
"Prasta hati-hati ya, kamu tahu kan jika menyakiti mereka sama dengan menyakiti Retno." kataku
"Aku mengerti" kata Prasta.
Puspa dan Kencana pun juga menganggukan kepalanya. Berat sebenarnya situasi ini. Aku pun tidak tega dengan Retno.
"Nara, kita akan salurkan tenaga dalam jika Retno nanti bereaksi. Bagaimana pun juga, memang harus ada 1 orang yang menjadi korban." kata Satria
"Apa nggak ada cara lain?" tanyaku
"Seharusnya ada, tapi aku belum menemukan caranya. Jika ingin tahu bagaimana, kita harus kembali ke abad 9." kata Satria.
Aku pun antusias untuk kembali ke kerajaan. Aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku ingin tahu keadaan mereka seperti apa.
"Yaudah ayok kita kembali." kataku
"Tapi, jika kita ke sana maka aku tidak bisa kembali ke sini lagi." kata Satria tertunduk.
"Kenapa nggak bisa?" tanyaku
"Karena aku akan terkurung selamanya. Jadi kalau pun kamu mau ke masa lalu. Itu hanya bisa kamu lakukan dengan Rakai Pikatan." kata Satria.
Aku agak sedikit bingung.
"Apakah kamu Rakai Pikatan?" tanyaku
"Kenali aku putri, maka kamu akan tahu. Aku siapa, maaf aku tidak bisa memberitahumu. Ketulusan dan cinta lah yang hanya bisa membuatmu tahu." kata Satria.
Pada saat kami berdiskusi. Tiba- tiba tubuh Retno terpental. Tubuhnya terbentur tembok.
"Retno Ayu." kataku
"Ini pasti Tamara dan Aura terluka." kata Satria.
Aku hanya bisa meneteskan air mata. Begitu tahu dengan keadaan Retno. Kalau seperti itu, gimana aku bisa membunuh Walaing nantinya.
*
Pertempuran di luar.
Tamara dan Aura diseret paksa oleh Puspa. Itu lah kenapa tubuhnya Retno ikut terseret.
__ADS_1
"Puspa, hati - hati kau bisa melukai Retno." kata Kencana.
"Tidak apa - apa, tenang saja." kata Puspa
Tamara dan Aura terlihat kesakitan. Tapi mereka nampak senang.
"Terus saja sakit kami, Prasta. Maka kau akan melihat Nararia menanggis. Kau sama saja melukai Retno dan Nararia." kata Tamara.
Mereka tidak bisa melihat Puspa dan Kencana. Jadi mereka pikir yang menyerangnya adalah Prasta.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Prasta.
Dia nampak bingung dengan hal ini. Jika dia melukai Tamara maka Retno akan terluka. Itu juga bisa melukaiku.
"Kamu kenapa Prasta? Ragu kah menyerang kami? Kalau kamu ragu, biar aku yang menyerang duluan." kata Tamara.
Tamara lalu menyerang Prasta. Tamara tahu jika Prasta tidak akan berani melukainya. Dia terus menghajar Prasta. Tapi Prasta hanya menghindar serangan mereka.
"Kenapa kau menghindari serangan kami, Prasta?" tanya Tamara seperti mengejek.
"Kau takut melukai kami, karena artinya akan melukai Retno juga?? dulu kamu dengan tega ingin membunuh kami. Kenapa sekarang tidak tega? Rada cinta yang pernah aku miliki sekarang hilang sirna. Jika kau tidak mau membunuh kami. Maka biarkan kami yang akan membunuhmu." kata Aura.
Prasta bener - bener dalam keadaan bingung. Sementara Tamara dan Aura bersiap akan menggabungkan kekuatan mereka.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang." batin Prasta.
Puspa melihat hal itu langsung melesat masuk ke dalam tubuh Prasta. Kemudian menanggis serangan gabungan dari keduanya. Lalu Puspa mengeluarkan ajian tapak dewa. Serta melempar mereka berdua kembali ke istana kegelapan.
Terlempar nya Tamara dan Aura juga berlaku dengan Retno. Tapi untung nya, aku dan Satria sudah mengikatnya dengan tali gaib. Sehingga tubuh Retno hanya terlempar dalam kurungan cahaya.
*
Istana Kegelapan.
Tamara dan Aura dilempar dengan menggunakan ajian tapak dewa. Mereka pun terlempar sampai di depan sang raja kegelapan. Raja dan Walaing pun sangat kaget. Mereka terluka parah akibat ajian tapak dewa itu.
"Bagaimana bisa kalian terlempar seperti ini?" tanya Walaing.
"Kami tidak tahu pangeran, awalnya Prasta hanya menghindari serangan kami. Tapi pada saat kami menggabungkan kekuatan. Dia langsung menahan dan mengeluarkan ajian tapak dewa ini." kata Tamara yang mulutnya sudah mengeluarkan darah segar.
Walaing pun lalu memanggil prajurit untuk membawa mereka ke Balai obat.
"Rupanya, mereka tetap berani menyerang kita, Raja. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Walaing.
"Mereka pasti melakukan ini untuk menyudahi penderitaan Retno Kartika. Sehingga dengan terpaksa Prasta menggunakan tapak dewa. Tapi, Prasta yang itu sedang digerakan oleh Dewi Puspasari." kata Maharaja.
Mendengar hal itu, Walaing pun terkejut. Bagaimana bisa seorang dewi bisa bersama Prasta.
"Raja, kenapa Dewi Puspasari bersama Prasta?" tanya Walaing.
"Nararia adalah murid Dewi Sakti. Sehingga dia mendapatkan anugrah pengawalan. Pangeran Kencana dan Dewi Puspasari. Untuk itu, Walaing, aku perintahkan kau untuk bertapa di lubang paling dasar neraka. Mintalah anugrah dari kekuatan paling hitam di jagat raya ini. Perang yang sesungguhnya baru akan dimulai" perintah Maharaja.
"Baik Maharaja, saya akan melakukan apa yang raja perintahkan." kata Walaing.
Tak berapa lama pun Walaing menghilang dari hadapan Maharaja. Dia menggunakan mata batinnya untuk melihat keadaan Retno Kartika. Ketika melihat gadis pujaannya itu lemah. Dia pun terlihat sangat sedih.
"Maafkan saya Putri Widasari. Tapi memang itu yang harus kamu terima. Kenapa kamu malah berada di pihak musuh. Seharusnya kau berada di sisiku. Setelah aku kembali bertapa. Aku akan menjemputmu." kata Walaing.
Setelah itu, dia menuju balai obat. Dia ingin memastikan seberapa parahnya luka mereka. Ya, dengan melihat lukanya. Walaing akan tahu kondisi Retno Kartika.
"Tabib, apakah lukanya parah?" tanya Walaing.
"Lumayan pangeran, luka ini bisa sembuh dengan ramuan daun bilva. Pangeran jika kau tidak keberatan..." kata tabib terpotong.
"Aku akan mencarinya, dimana aku harus mencarinya?" tanya Walaing.
"Ada di depan Siwa Grha." kata tabib
Walaing pun lalu menganggukan kepala dan segera menghilang dari balai obat. Dia segera menuju halaman Siwa Grha atau Candi Prambanan. Tanpa disadari Maharaja pun tahu bagaimana suasana hati Walaing.
"Tidak akan aku biarkan cintamu merusak rencana, Walaing. Kamu akan selamanya menjadi pengikut setiaku." kata Maharaja sambil tersenyum licik.
*
Jerman
__ADS_1
Dika sangat tidak sabar. Soalnya, Senopati Dandaka tidak kunjung kembali.
"Apa yang sebenarnya terjadi sih" gumam Dika.
Dia pun lalu mencoba menelpon aku. Tapi karena aku lagi sibuk dengan Retno. Maka aku tidak mengubrisnya.
"Apa dia sudah tidur kali ya." kata Dika
"Kenapa?" tanya Adhiraksa.
"Pangeran, kenapa ya Senopati Dandaka lama banget." kata Dika.
"Mungkin dia jalan-jalan dulu." kata Adhiraksa sambil tertawa.
Dika pun kemudian melotot tajam ke arah Adhiraksa.
"Wah ngajak ribut ni orang. Kamu kok melototin aku sih? mau ngajak duel?" tanya Adhiraksa sebal.
"Eh hantu, kamu tu yang harusnya sadar diri. Sudah berani numpang ke badanku. Tanpa izin lagi, inget ya pangeran Adhiraksa. Nararia itu akan menjadi milikku." kata Dika.
"Sembarangan banget ni kerempeng. Eh aku juga males kali numpang di badanmu kalau nggak terpaksa. Kita saingan secara sehat kalau gitu." kata Adhiraksa.
"Boleh, tapi jangan mencuri caraku buat mendapatkan perhatian Nara. Udah gue ngantuk mau tidur. Awas lo ya, berani masuk ke dalam tubuhku tanpa permisi." kata Dika mendengus kesal.
Adhiraksa pun kemudian menimpuk kepala Dika dengan buku kecil.
"Untung saja temannya Nara, kalau enggak udah gue bunuh di manusia kerempeng." balas Adhiraksa.
"Udah sana pergi, jangan ganggu aku tidur." kata Dika.
"Ini manusia bener-bener melunjak ya. Minta di dudukin kayaknya." kata Adhiraksa.
Adhir pun lalu dengan usil keluar masuk ke raga Dika. Sontak membuat Dika kesakitan.
"Hantu jeleeek, keluar lo dari tubuh gue." teriak Dika.
"Wleeeek, minta maaf dulu sama aku." kata Adhiraksa.
"Ogah" kata Dika
Akhirnya mereka berdua pun berantem seperti anak kecil. Saling lempar bantal dan guling. Pada saat itu, Senopati datang. Dia pun kaget melihat kelakuan dua pangerannya yang seperti anak kecil.
"Pangeran berdua ini apa-apaan?" tanya Senopati.
"Adhiraksa yang salah" kata Dika
"Enak saja, elo yang salah." kata Adhiraksa sambil menoyor kepala belakang Dika.
Mereka berdua pun kembali berantem satu sama lain.
"Kalau pangeran tidak berhenti. Maka saya akan pergi. Padahal saya membawa kabar penting untuk kalian." ancam senopati.
Akhirnya Dika dan Adhiraksa pun diam dan menuju ke Senopati.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Kira - kira kabar apa yang senopati bawa?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"