
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
"Aku punya senjata pamungkas yang akan membuat Maharaja bertekuk lutut padaku." kata Aura.
"Apakah kau yakin?" tanya Tamara.
Aura pun sangat percaya diri dan yakin. Dia akan memenangkan hati Arda.
"Sebenarnya apa rencana mu, Aura?" tanya Tamara penasaran.
Aura pun lalu pergi meninggalkan Tamara. Tapi langsung dikejarnya.
*
(kembali ke Dieng)
Nara dan Adhiraksa masih mengamati Candi Srikandi. Candi Srikandi terletak di selatan Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk kubus. Di sisi timur terdapat tangga dengan bilik penampil. Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu, pada dinding timur menggambarkan Siwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma. Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak. Atap candi sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya.
"Kenapa candi ini dinamakan Candi Srikandi?" tanya Adhir.
"Mungkin karena dia terletak di samping Candi Arjuna. Dalam dunia pewayangan Jawa. Srikandi adalah salah satu istri dari Arjuna." kataku
"Hehehe... Arjuna itu bener bener lelanange jagad ya. Dia bisa punya banyak istri. Hmm, Nara gimana kalau nanti kamu bersuami banyak. Seperti Drupadi yang mempunyai 5 orang suami." kata Adhir sambil senyum
Aku pun langsung meneyor kepala Adhir.
"Sempruuul... mana bisa kek gitu. Dasar lelaki buaya." dengusku
"Bercanda...bercanda" kata Adhir.
"Eh, ayo kita kenali Candi Srikandi." ajakku.
Denah candi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 3,84 m x 3,84 m. bagian batur candi tidak memiliki hiasan atau penampil, sedangkan bagian depan candi posisinya agak menjorok ke luar yang berfungsi sebagai pintu masuk candi. Pada pintu masuk candi kondisinya sudah rusak, namun masih dapat terlihat sebagai ambang pintu atas dan bawahnya.
"Apa keunikan dari Candi Srikandi ini, Ra?" tanya Adhir.
"Keunikan Pada Candi ini adalah adanya pahatan relief Trimurti atau tiga dewa utama umat Hindu. Yakni Dewa Wisnu di dinding candi bagian utara, Dewa Siwa di dinding candi sisi Timur, dan Dewa Brahmana di sisi Selatan. Kondisi relif-relief tersebut sudah agak rusak, namun masih bias dikenali dengan atribut para dewa yang terukir di dinding candi tersebut." kataku
Kami pun lalu berkeliling melihat relief dewa Trimurti. Aku pun menduga bahwa dulu nya pasti sangat ramai orang yang sembahyang di sini. Aku pun bisa merasakan hawa dan aura kerukunan banyak siswa yang belajar teknik pembangunan candi.
"Ra... kamu kenapa melamun?" tanya Adhir.
__ADS_1
"Aku sedang membayangkan kalau dulu pasti ramai banget." kataku
"Kamu memang benar, coba lihat di belakangmu" kata Adhir.
Aku pun lalu menoleh kebelakang. Ini sebuah anugrah yang luar biasa. Aku melihat banyak orang berpakaian serba putih. Mereka sedang dudu dan menyimak penjelasan seorang guru.
"Apakah ini sebuah asrama para pandita dan pandai?" tanyaku.
"Seperti nya iya, Dharmasala tadi adalah tempat untuk istirahat pada siswa. Mereka belajar tentang kontruksi." kata Adhir.
"Jadi, tangan - tangan dan pengetahuan mereka yang telah membuat bangunan megah ini. Sungguh luar biasa sekali." kataku sambil berkaca - kaca.
Kami pun masih mengamati pelajaran yang diberikan oleh guru. Beberapa saat kemudian sang guru mempersilahkan para siswa untuk kembali beraktivitas.
"Apa mereka melihat kita?" tanyaku
"Mereka lah yang mengundang kita." kata Adhir.
Sang guru itu pun kemudian berjalan menuju kami. Aku pun melirik pada Adhir. Dia juga membalas anggukan dari aku. Tentu saja aku paham maksud Adhir. Kami berdua lalu menghampiri sang guru.
"Terimalah salam kami pandita." salam kami berdua.
"Terimakasih kalian berdua telah berkenan hadir di tanah leluhurmu" kata Sang Pandita.
"Pandita, apakah tempat ini merupakan asrama dan pusat pendidikan untuk membuat candi?" tanyaku
"Betul anak mas, ini adalah tempat pembelajaran bagi siswa yang nantinya akan mendapat amanah untuk membangun percandian yang indah" kata sang guru.
Kami bertiga pun lalu diajak sang guru untuk duduk di sebuah balai kayu. Kami terus berdiskusi dan melihat aktifitas para siswa. Tapi tak lama kemudian, sang guru terlihat memejamkan mata. Aku dan Adhir hanya saling menatap.
Kondisi terkini di alam manusia sedang terjadi sebuah kehebohan. Dimana tiba - tiba terjadi gempa yang dasyat. Gempa dengan skala 6,5 serta berlangsung. Masyarakat carut marut dan saling teriak. Gempa itu terjadi pada pukul 05.45
Suasana masih pagi dan membuat geger para manusia. Mereka berteriak dan menyerukan nama Tuhan. Gempa berlangsung selama kurang lebih 1 menit. Serta di sisi utara terdengar dentuman dan kepulan asap dari puncak Merapi. Sedangkan di sisi selatan pantai bergejolak dan menimbulkan gelombang pasang.
"Apa yang terjadi dengan wilayah ini?" tanya Retno
Ya Retno sudah sehat dan sembuh dari penyakit yang menyiksanya.
"Entah lah, tapi aku merasakan sesuatu yang tidak beres" kata Denta.
Denta adalah pemuda indigo yang diberikan tugas oleh Nara untuk menjaga Retno.
"Sepertinya akan terjadi hal buruk." kata Retno
"Aku takut Mbak Retno." kata Denta.
Retno pun berusaha menenangkan Denta. Meskipun Denta telah dibekali kekuatan. Tapi tenaganya masih jauh dibawah yang lainnya.
(Sisi lain).
Senopati Dandaka, Puspa, dan Kencana bertemu. Mereka juga merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Laut selatan bergejolak, gelombang tsunami tinggi. Para Nelayan kocar kacir. Wilayah pantai telah rusak." kata Kencana.
__ADS_1
"Wilayah utara terjadi luncuran awan panas dan lahar panas. Semua tumbuhan kering dan banyak ternak yang terpanggang. Pemandangan yang sangat mengerikan." kata Senopati.
"Sedangkan wilayah tengah paling parah. Sebab terkena guncangan dan juga efek dari awas panas. Sehingga banyak korban manusia. Rumah pada roboh, dan tangisan masih terdengar. Pemandangan yang mengelus dada." kata Kencana.
Mereka bertiga bertemu untuk mendiskusikan akibat dari gejolak lautan, gempa, dan gunung meletus.
"Kenapa alam tiba - tiba bergejolak?" tanya Puspa.
"Pasti ada penyebab di alam yang belum kita ketahui. Jika tidak, pasti tidak akan seperti ini." kata Senopati.
"Ini adalah pertanda bahaya akan segera hadir." kata Kencana.
"Bahaya apa itu?" tanya Senopati.
"Kita kembali ke Kaindran, kita tanyakan pada ayahanda Dewa Indra." kata Kencana.
Pada saat mau kembali ke Kaindran, tiba - tiba Puspa menahan mereka.
"Tunggu, kita melupakan sesuatu" kata Puspa.
"Ada apa?" tanya Senopati.
"Kalian berdua pulang lah ke Kaindran. Aku akan mencari putri mahkota dan pangeran Adhiraksa." kata Puspa.
Begitu nama kami disebut, membuat Senopati dan Kencana terperanjat. Kencana pun menutup mata. Berharap dia dapat menembus keadaan kami di Dieng. Tapi sayang nya, Kencana tidak berhasil masuk dalam dunia ilusi yang diciptakan oleh Rsi Dharma Hyang.
"Benar putri Nararia, bagaimana kita bisa melupakan dia. Baiklah Puspa, cepat pastikan kalau mereka berdua selamat. Aku sudah mencoba menembus keberadaan puti. Tapi ada kekuatan besar yang menghalanginya " kata Kencana dengan khawatir.
"Penghalang?? Apakah itu baik atau buruk? Jangan - jangan terjadi sesuatu dengan putri." kata Senopati dengan cemas.
"Putri dan pangeran masuk ke dalam dunia ilusi. Mereka diselamatkan oleh kekuatan yang besar. Tapi kekuatan besar apa aku tidak tahu. Mata dewa ku tidak mampu menembus keberadaan mereka." kata Kencana.
Setidaknya mereka bisa sedikit lega, karena kami selamat. Tapi tetap saja Puspa harus segera menemukan Nara dan Adhir.
***
Maaf banget baru sempat update.
Banyak hal dan deadline yang harus dikerjakan.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf kalau bosen ya. Serta ceritanya banyak tntg sejarah. Memang novel ini akan banyak menceritakan tentang sejarah indonesia kuna. Sebagai bentuk kampanye budaya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"