
Potret Pangeran Kartikkeya
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya, rate bintang 5 juga boleh*
Happy reading
.
.
"Tapi Nandi, aku malu. Aku datang ke sini tidak membawa persembahan apapun untuk dewa. Aku sebaiknya kembali ke duniaku saja Nandi. Atau kembalikan aku ke abad 21." kataku
Nandi hanya tersenyum dan kembali memainkan damarunya.
"Siapa bilang kamu datang ke sini tidak membawa persembahan. Kamu membawa kok, bahkan membuat dewa senang." kata Nandi
Aku bingung dengan penjelasan Nandi. Apa yang aku bawa. Jelas - jelas aku tidak membawa apa - apa.
"Aku tidak membawa apa - apa, Nandi." kataku
"Cinta, kasih sayang, dan pengabdian yang tulus ikhlas adalah persembahan yang kau bawa." kata Nandi
Aku terdiam setelah mendengar penjelasannya. Aku baru ingat bahwa persembahan yang mulia adalah persembahan yang dipersembahkan dengan rasa cinta dan kasih sayang. Cukup dengan patram, puspam, palam, dan toyam.
"Apa yang sedang kau pikirkan, ayo masuk." ajak Nandi.
Aku hendak mengikuti langkah Nandi masuk ke dalam goa di puncak Himalaya. Tapi tiba - tiba aku mendengar suara burung merak dari angkasa. Aku berhenti dan melihat ke atas. Aku melihat seorang manusia tampan yang sedang mengendarai merak.
"Pangeran Kartikkeya." kata Nandi
"Iya, aku tahu." kataku
Dia sangat tampan dan berwajah imut. Dia juga menggenakan bulu merak di kepalanya.
"Sama Satria lebih tampan siapa?" tanya Nandi
Aku tersipu begitu mendengar pertanyaan Nandi. Aku tak menyangka Nandi akan bertanya hal itu. Jelas saja keduanya sangat tampan. Kartikkeya melihat ke arahku dan tersenyum manis.
"Sadar, Ra ... sadar, inget Satria." batinku
"Orang yang sudah melihat pangeran Kartikkeya pasti akan langsung jatuh cinta." goda Nandi.
Aku memukul bahu Nandi karena saking malunya. Nandi pun kembali menggodaku dan memanggil pangeran Kartikkeya untuk turun ke bawah.
"Pangeran turunlah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." teriak Nandi
"Eh, aku enggak mau ketemu dia. Aku ke sini kan mau ketemu dengan orang tuanya." kilahku
Tapi jika benar pangeran Kartikkeya menemuiku ini adalah bonus, hehehe. Dia turun dan mendarat tepat di hadapanku.
"Ada apa Nandi?" tanya Kartikkeya
__ADS_1
Aku langsung memalingkan wajah dan bersembunyi di belakang tubuh Nandi.
"Pangeran seseorang ingin bertemu denganmu." kata Nandi.
"Siapa?" tanya Kartikkeya.
Nandi kemudian menyingkir dari hadapanku. Sehingga antara aku dan Kartikkeya tidak ada pembatas.
"Ada apa? siapa kamu?" tanya Kartikkeya.
"Tidak pangeran, aku ke sini untuk ketemu dengan Dewa Siwa dan Dewi Parwati." kataku sambil tertunduk
"Berbicaralah dengan memandang wajah orang yang sedang berbicara." kata Kartikkeya
Aku kemudian memandang wajah Kartikkeya. Astaga aku sangat kaget. Wajahnya mirip banget dengan Satria. Apa mungkin Satria adalah perwujudan dari Kartikkeya.
"Kau, mirip sekali dengan kekasih hatiku." kataku
"Pangeranku memang tampan, jangan bilang kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengan pangeran Kartikkeya." kata Nandi
Kartikkeya tersenyum dan mengajakku masuk ke dalam goa untuk bertemu dengan orang tuanya.
"Baiklah, ayo masuk. Aku akan mengantarmu bertemu dengan orang tuaku." ajak Kartikkeya.
"Baik pangeran." kataku singkat
Aku melangkah mengikuti Kartikkeya dibelakangnya. Aku sangat mengagumi tubuh kekarnya.
"Kenapa?" tanya Kartikkeya
Dia hanya tersenyum dan mengedipkan matanya. Manis sekali dia. Dia kembali mengajakku untuk melangkah masuk. Ruangan di dalam goa ternyata tidak ada saljunya. Ada taman bunga yang indah, burung angsa yang sedang berenang di danau. Bunga teratai yang sedang bermekaran. Sungguh indah pemandangan. Aku tidak menyangka bahwa pemandangan di dalam goa seperti ini.
"Ada apa? Apa kau heran?" tanya Kartikkeya
"Iya, aku tidak menyangka pemandangan di dalam goa sangat indah. Aku tadi sudah membayangkan kalau di dalam akan seram." kataku
Dia hanya tersenyum dan kami melewati sebuah taman bermain ayunan. Aku melihat ada bidadari cantik yang sedang bermain ayunan ditemani oleh beberapa merak yang sedang mengepakan sayapnya.
"Dia, adikku namanya Ashok Sundri." kata Kartikkeya
Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan dia. Putri Siwa dan Parwati. Dia lahir karena Parwati memohon seorang anak wanita yang cantik di pohon pengabul semua keinginan.
Kartikkeya terus membawaku ke sebuah tempat yang disitu hanya ada batu bulan (batu andesit) yang masih dalam bentuk balok batu. Aku bingung kenapa aku dibawa ditempat seperti ini. Dimana Dewa Siwa dan Dewi Parwati.
"Pangeran" kataku
"Ayah dan ibuku sedang duduk di batu itu." katanya
Tapi aku tidak melihat siapa - siapa. Aku hanya melihat sebuah batu persegi panjang yang besar. Kira - kira ukuran panjang 2 m, lebar 1 m, dan tinggi 1 m. Aku memandang ke arah Kartikkeya dan menggelengkan kepala, sebagai tanda kalau aku tidak melihat siapapun.
"Lihatlah dengan penuh cinta dan keikhlasan." perintahnya
Aku kemudian duduk, menunduk, menutup mata, dan mencakupkan kedua tanganku untuk menyembahnya.
__ADS_1
"Om Nama Siwaya, Om Shri Parwati Ya Na mah." kataku
Aku hanya ingat beberapa baik maha mantra untuk memuja sang dewa. Tak berapa lama aku merasakan seperti sedang disentuh. Aku juga mendengar suara perempuan yang sangat merdu dan lembut.
"Bukalah matamu, Nak." katanya
Aku segera membuka mata dengan pelan - pelan dan aku kaget. Di hadapanku sudah ada sepasang laki - laki dan wanita yang sangat tampan dan cantik. Aku hanya membatin dan bertanya tentang orang yang ada di hadapanku ini.
"Benar, kamilah Kalyana Sundara Murti." kata Dewi Parwati
Aku segera menghaturkan sembah sujud dan tak terasa air mataku menetes. Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Semuanya terasa seperti mimpi indah dan aku berharap tidak ingin bangun lagi.
"Selamat datang di Kailasha." kata Dewa Siwa.
Aku masih diam membisu karena terpukau dan terpana oleh kehadiran dewa yang selama ini aku puja.
"Kenapa kau diam?" tanya Kartikkeya.
Aku segera sadar dari lamunan ku setelah dikagetkan oleh Kartikkeya.
"Maaf dewa, apakah saya mimpi bisa bertemu dengan sang dewa dan sang dewi?" tanyaku
"Kau sedang berada di alam meditasimu. Kau terberkati." kata Dewi Parwati seraya mengangkat tangannya
Sang Dewa Siwa yang sangat tampan, dengan kulit ungunya. Bermata 3, terdapat bulan dan bintang di kepalanya. Memegang trisula, memakai pakaian dari kulit harimau. Memakai kalung dari ular cobra.
Sang Dewi Parwati sangat cantik dengan perhiasan yang dipakainya. Benar - benar pasangan serasi.
"Apa keinginanmu?" tanya Dewi Parwati
"Ampun, sang dewi. Hamba sebenarnya tidak layak meminta anugrah dari engkau." kataku tertunduk
"Kau sudah sangat jauh, kehidupan di dunia membuatmu harus merasakan penderitaan, ketaatanmu dan kecintaanmu membuatku iba untuk memenuhi permintaanmu. " kata Dewa Siwa.
Aku diam sejenak. Aku bisa saja minta kepada Dewa untuk segera mengembalikanku ke abad 21. Tapi aku masih mau bersama Satria dan ingin melanjutkan kisahku di abad ke 9.
"Dewa, ijinkan aku untuk selalu berpasangan dengan Pangeran Satria di abad 9, 21, dan dikedupan kami selanjutnya, hingga kami terbebas dari lingkaran karma." kataku
Sang Dewa dan sang dewi hanya tersenyum dan keduanya kemudian mengangkat tangan dan memberikanku anugrah.
"Kembalilah ke dunia mu, jangan ceritakan pada Satria. Kalau kau pernah berkunjung kemari. Kau adalah pemujaku. Suatu saat kau adalah menjaga sebuah bangunan suci untuk memujaku saat dibangun dan sampai kapanpun, kau pasti akan selalu terhubung denganku." kata sang dewa.
Aku segera mengucapkan terimakasih dan menutup mata lagi. Aku tak kuasa menahan haru dan tangisku. Aku adalah orang beruntung yang bisa masuk ke Kailasha melalui meditasi.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.
With love
Citraleka
berikut adalah ilustrasi keluarga Siwa :
__ADS_1
Kartikkeya, Ashok Sundri, Siwa, Parwati, dan Ganesha.