
Haaai ...
Lembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Aku masih menangis sambil menyaksikan Prasta dan Tamara di siksa. Mereka berdua dipaksa untuk melayani para gadis dan pria. Sungguh dunia ini sangat kejam. **** adalah kehidupan utama mereka.
"Aku harus menyelamatkan mereka. Tapi gimana caranya?... Dewi Sakti tolong aku." kataku lirih sambil memegang liontin Pancaroba.
Liontinku tiba - tiba mengeluarkan cahaya. Dalam sekejab, Adhiraksa dan Puspa ada di sampingku. Aku hampir berteriak karena terkejut. Tapi segera Puspa membungkam mulutku.
"Puspa, Adhir" kataku sambil memeluk mereka berdua.
Aku merindukan mereka berdua. Merindukan Puspa terutama.
"Apakah aku terlalu merindukan mereka. Sehingga mereka berdua ada di depan mataku." kataku
"Kami nyata, putri. Terimakasih putri, karena dirimu. Kami terbebas dari kepungan demit terkutuk itu." kata Puspa.
Adhiraksa lalu mengamati diriku. Dia memastikan bahwa aku tidak terluka sedikitpun. Aku sudah memastikan kalau aku baik. Tapi tidak untuk ke 3 temanku. Aku lalu menunjukan Satria, Prasta dan Tamara. Melihat hal itu, Adhiraksa naik pitam.
"Satria keparat,. kau tega memberikan pada Nararia bekas dari siluman tengik itu, huh" kata Adhiraksa penuh amarah.
"Sabar Adhir, kamu ingat kan. Kencana bilang, jika Satria masih terjebak dalam penjara makam terkutuk itu. Jadi aku bisa memastikan orang di depan itu bukan Satria." kata Puspa
"Aku jadi meragukan, apakah dia bener Satria, kembaranku. Kenapa dia menjadi lemah sih?" tanya Adhiraksa kesal.
Tiba - tiba percekcokan Adhiraksa dihentikan oleh kehadiran Kencana.
"Hentikan omelanmu, pangeran. Satria tidak ada dalam penjara makam. Tapi orang yang ada di depan kita itu adalah Satria yang asli." kata Kencana
Seperti badai yang tiba - tiba datang. Aku tak percaya bahwa Satria itu adalah Satria asli. Itu artinya, Satria telah ternoda oleh siluman terkutuk. Terlebih ditambah aku melihat Prasta dan Tamara. Mereka berdua dipaksa untuk berhubungan badan dengan para siluman.
Kataku pun bersinar. Sorot mata ku membunuh siluman. Tenagaku seperti full kembali. Tidak ada ketakutan. Yang ada hanyalah keberanian.
Tubuhku terpendar cahaya kemilau keemasan. Puspa, Kencana, dan Adhiraksa pun menutup mata. Mereka tak sanggup melihat cahaya kuning dalam diriku. Demikian cahaya itu menarik perhatian dari para siluman.
Aku tak menyangka bahwa ini semua terjadi pada ku. Aku mendapatkan kekuatanku kembali. Wajahku berubah menjadi seorang putri mahkota. Adhiraksa, Kencana, dan Puspa pun terkejut dengan wujudku.
"Nararia ... tak kusangka dia seperti Srikandi." kata Kencana
"Tapi kenapa wajah nya ada seperti topeng ya?" tanya Adhiraksa.
"Karena belum boleh putri menunjukan siapa diri nya di hadapan semua orang." kata Puspa
Aku segera melesat keluar dari tempat persembunyian. Aku tidak peduli dengan Adhiraksa, Puspa, dan Kencana. Mereka adalah ksatria yang hebat. Sehingga bisa mengurus diri mereka sendiri.
Satria, Prasta, dan Tamara pun terpukau begitu melihat wajahku.
"Putri Mahkota Medang." kata Prasta
Dia pun lalu memandang ke arah Tamara. Aku tak peduli dengan semuanya. Penduduk gaib ini kemudian menyerangku. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang mampu menyentuhku. Mereka terbakar sebelum sampai padaku. Ini adalah efek sinar yang keluar dari liontin pancaroba.
Tanganku segera mengeluarkan pedang gaib. Pedang itu segera membebaskan Prasta dan Tamara dari penjara gaib. Mereka berdua sangat lemah. 3 Wanita yang bersama Satria melesat menyerangku.
__ADS_1
Tapi mata ku langsung mengeluarkan sinar. Mereka bertiga langsung terpental. Tanpa menunggu lama, aku langsung memanah mereka ber 3.
"Tunggu... sebelum kami musnah. Tolong beritahu kami. Kamu siapa?" tanya salah satu wanita itu
"Aku putri Mahkota Kerajaan Medang." kataku
Mereka langsung kaget dan detik itu juga mereka musnah. Kini aku berhadapan dengan Satria. Dilema, antara harus mengalahkan seseorang.
"Hai wanita sialan, aku akan membunuhmu." kata Satria
"Tidak Satria ... hentikan jangan lakukan itu." teriak Prasta
Satria tidak menghiraukan perkataan Prasta. Malah sebaliknya, Satria menyerang Prasta. Tapi segera dihalangi oleh Kencana.
"Putri, dia secara fisik memang Satria tapi jiwa nya denawa.. Kamu harus musnahkan dia secepatnya." kata Kencana
"Tidak bisa Kencana. Tapi fisik nya bisa hancur." kataku
Belum sempat aku berpikir. Satria sudah menyerangku. Aku tidak siap dalam posisi. Sehingga aku terpental.
"Putriii" teriak Adhiraksa.
Secepat kilat Adhiraksa langsung menyerang Satria. Terjadilah pertarungan antara Adhiraksa dan Satria. Sedangkan Puspa dan Kencana menolongnya.
"Putri, apa kamu tidak apa - apa?" tanya Puspa
"Aku tidak apa - apa. Rasa sakit luka ini tidak sesakit kata kasarnya Satria." kataku
"Dia bukan pangeran Satria. Jiwa nya ada di suatu tempat. Jadi sekarang dia Satria. Lihat lah putri, lihat dengan baik. Siapa yang yang ada di jiwa Satria itu." kata Puspa
Aku melihat bagaimana Adhiraksa bertarung dengan Satria. Prasta pun melihat bahwa Satria bertarung dengan angin.
"Siapa yang bertarung dengan Satria?" tanya Prasta
"Meskipun aku benci menyentuh mu. Tapi Tamara bangun" kata Prasta sambil menjejakkan kakinya pada tubuh Tamara.
Tapi Tamara tak kunjung bangun.
"Tapi baguslah, itu artinya aku bisa tahu. Bahwa Tamara bukan putri mahkota. Tapi siapa putri mahkota itu sebenarnya. Wajahnya sangat terang bagaikan cahaya. Sehingga aku tidak bisa melihat wajah nya." kata Prasta
Adhiraksa pun tiba - tiba terpental.
"Adhir.. Kamu tidak apa - apa kan?" tanyaku
"Putri, segera habisi dia." kata Adhiraksa.
"Gunakan mata hati mu, putri. Maka kau akan tahu siapa Satria itu." kata Adhiraksa
Aku pun kemudian memejamkan mataku. Fokus utamaku adalah mengalahkan Satria. Tidak ada keraguan sedikitpun. Dalam doa ku terus berucap bahwa Satria itu palsu. Aku lalu membuka mata.
Betapa kagetnya diriku. Ketika tahu, bahwa Satria di depanku adalah denawa. Maka sorot mataku berubah menjadi pembunuh.
"Ku bunuh kau wanita sialan." kata Satria
Dia berusaha menyerang ku lagi tapi sekarang aku telah siyap. Segera ku tepiskan serangan itu. Serangan yang mematikan itu terus menyerang ku. Serangannya bertubi - tubi. Aku berusaha menghindarinya.
"Putri kenapa kamu tidak menghabisi?" tanya Adhiraksa
"Tenang Adhir... Putri sedang mencari tahu dimana posisi jiwa Satria yang asli." kata Kencana
Aku menghindarinya agar aku tahu dimana posisi jiwa Satria. Aku membuat lingkaran gaib. Agar dia tidak bisa mengangguku. Denawa itu berusaha menyerangku. Tapi selalu terpental dengan lingkaran gaib.
__ADS_1
"Kalung itu." kataku
Aku lalu berusaha merebut kalung yang dipakai oleh Satria denawa. Mataku terfokus pada kalung itu. Pagar gaib segera aku hilangkan. Aku bikin gerakan tipuan dan langsung aku rebut kalung itu.
"Dapaat" kataku
Mataku langsung berbinar dan segera berubah menjadi merah.
"Aku tidak akan segan untuk membinasahkanmu." kataku
Kini tiada ampun lagi bagi denawa itu. Aku langsung mengeluarkan panah pancaroba.
"Putri Mahkota, tidaaak... jangan binasakan Satria." teriak Prasta
Tapi aku tidak menghiraukan teriakan Prasta. Segera ku lepaskan panah itu. Panah itu hanya akan berefek pada denawa. Bukan kepada badan kasar Satria.
duaar...
Terdengar suara ledakan yang sangat keras. Denawa itu kemudian binasa. Tubuh Satria lalu limbung. Ya limbung, karena tidak ada jiwa di dalamnya.
"Putri segera kembalikan jiwa itu." perintah Kencana
Aku lalu mengeluarkan jiwa Satria yang terkurung. Segera jiwa itu masuk ke badan kasarnya. Dengan bantuan liontin pancaroba. Jiwa itu berhasil menyatu dengan badan kasarnya.
Beberapa waktu kemudian Satria tersadar. Aku tersenyum melihatnya siuman.
"Putri segera kembali ke wujud semula. Pura - pura lah keluar dari persembunyian." kata Kencana
Aku hendak pergi tapi lenganku tertahan.
"Si siapa kau?" tanya Satria
Aku hanya menoleh sebentar dan lalu menghilang. Segera setelah itu, aku keluar dari semak persembunyian.
"Prasta, Satria, Tamara ..." kataku sambil berlari.
Aku segera membebaskan ikatan pada Prasta dan membangunkan Tamara.
"Prasta maafkan aku" kataku
"Tidak, Nara ... Aku justru yang harus minta maaf. Karena aku tidak bisa melindungimu." kata Prasta
Belaian lembut tangannya menyentuh pipi ku.
"Prasta, andai aku punya kekuatan. Aku tadi pasti membantumu. Tapi aku takut dengan sosok itu." kataku sambil memegang tangannya yang lembut.
Melihat hal itu, Satria segera mendekat ke arah kami.
"Hentikan adegan romantis kalian. Kita harus pikirkan cara agar kembali ke dunia kita." kata Satria.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktu nya. Jangan lupa untuk k look vote, rate, like, dan comment ya.
next :
Bagaimana cara mereka kembali ke dunia manusia?
Kasih jawabannya ya,. untuk inspirasi bab selanjutnya.
With love
__ADS_1
Citralekha.