Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Memperebutkan Satria


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


.


.


Happy reading


Pembiawara memanggil nama Dewi Kembang untuk maju memperlihatkan ketangkasan dalam bermain panah. Ia maju dengan sangat percaya diri.


"Rakai pangeranku, aku akan memenangkan itu untuk dirimu." kata Kembang dengan genitnya pada Satria.


Ia berusaha memeluk Satria tapi ditepiskan olehnya. Ia juga memandang sinis ke arahku. Tapi aku berusaha tersenyum padanya.


"Semangat ya Dewi Kembang." kataku


Ia hanya tersenyum kecut ke arahku. Putri Widasari dan adiknya Dewi Arum memberikan semangat padanya.


"Semangat kakakku." kata Dewi Arum


"Semangat kak Kembang." kata Widasari.


Kembang berjalan menuju arena dengan membawa busur dan anak panahnya. Begitu sampai di arena, ia tidak langsung mengambil posisi tapi terus melirik ke arahku. Meskipun para pangeran berteriak dan bersorak untuknya tapi tak ia hiraukan.


Ia kemudian merentangkan busurnya. Aku hanya memperhatikan jalannya pertandingan.


'Nararia tetaplah tenang.' bisik Puspa


"Tapi aku tidak bisa tenang jika nanti dia berani menghinaku di depan umum." kataku.


Kembang bersiap untuk melepas anak panahnya. Kali ini ia fokus pada titik sasaran yang ada tidak jauh dari matanya. Jarak antara lokasi berdiri dengan sasaran sekitar 15 m. Para pangeran terus bersorak dan menyemangatinya. Ia kemudian melepaskan anak panahnya dan tepat berada di titik center.


Pangeran dan masyarakat riuh begitu melihat Kembang menyelesaikan tantangannya. Ia juga nampak bangga.


"Aku akan kalah dengan Kak Kembang." kata Arum


"Aku juga pasti dapat dikalahkan dengan Kak Kembang." kata Widasari.


"Jangan menyerah sebelum mencoba adik." kataku


Pambiawara kemudian memanggil Dewi Aruk dan Widasari untuk uji ketangkasan melawan Dewi Kembang.


"Semangat putri Widasari." kata Pasopati menyemangati


"Makasih kangmas." kata Widasari.


Arum dan Widasari pun menuju arena. Sudah ada 3 sasaran dari kayu masing - masing untuk mereka bertiga. Aturan dalam babak final ini adalah ketepatan dan kecepatan ketika juri memukul gong.


Mereka merentangkan busur secara bersama - sama. Melepaskan anak panah secara bersama - sama. Aku melihat sebuah debu tipis yang membelokan panah mereka berdua. Mataku terbelalak ketika ku tahu Dewi Kembang berbuat curang.


"Kencana." batinku


'Jika kau nanti ditantang bertanding maka gunakan pancaroba agar jin pembantu Kembang tidak menganggumu.' usul Kencana.


"Baik" kataku


Pasopati dan Satria pun merasakan ada yang aneh dengan panah Arum dan Widasari.


"Ada sesuatu yang tidak beres." kata Pasopati.


"Ya, aku melihat debu tang membelokan panah ke dua putri itu." timpal Satria.


Aku kemudian menoleh ke arah arena karena ternyata Kembang tidak ingin menerima mahkota itu.


"Aku akan menerima mahkota ini setelah aku berhasil mengalahkan seseorang." kata Kembang


"Siapakah dia, putri?" tanya pambiawara.


Ia melirik ke arahku dan menunjuk tangannya padaku.


"Aku mau bertanding dengan Rakyan." teriak Kembang.


Pasopati dan Satria terhenyak dengan perkataan Kembang. Satria kemudian berdiri

__ADS_1


"Tidaaak ... aku tidak mengizinkan Rakyan mengikuti uji ketangkasan ini. Ia tidak terdaftar." kata Satria.


"Pangeran, jangan kau menutupi kelemahan Rakyan. Aku tahu dia sangat hebat, makanya aku ingin menjajalnya." kata Kembang


Aku juga mendengar Kembang memanas manasi rakyat agar aku segera turun ke arena. Pasopati dan Satria berusaha mencegahku. Tapi aku tidak mau harga diriku dihancurkan oleh Kembang calon pelakor kekasihku.


"Kak, percayalah ... aku bisa." kataku meyakinkan Satria.


"Rakyan ... kamu tidak ngerti dan tidak pernah memegang panah." kata Satria.


Kembang sudah tidak sabar ingin segera bertanding denganku. Ia terus berteriak menantangku.


"Rakyan ... apa kau takut kalah denganku, hah?" kata Kembang


"Aku akan bertanding denganmu." kataku


Semua orang kemudian melihat ke arahku. Termasuk ibukku yang mencoba melarangku. Aku kemudian berjalan turun menuju arena. Pasopati mencoba menghalangiku.


"Dewi Kembang tidak seharusnya kau menantang prameswari." kata Pasopati.


"So, aku bisa. Percaya padaku." kataku.


Aku kemudian berjalan menuju arena. Tak berapa lama aku sampai di arena. Masyarakat bersorak memanggil namaku. Aku tersenyum ke arah mereka. Ada tatapan yang tidak ingin aku ikut adu ketangkasan. Tapi sudah terlanjur, aku sudah sampai di arena.


"Rakyan tak ku sangka nyalimu besar juga." kata Kembang


"Aku akan mencoba bermain sebaik mungkin." kataku


Kembang kemudian tersenyum sinis dan membuat peraturan yang membuat semua orang terkejut dengan ucapannya.


"Rakyan ... aku tidak tertarik dengan mahkota itu. Jika kau setuju aku punya penawaran lain sebagai bahan taruhan." kata Kembang


"Apa maumu Kembang?" tantaku


Ia kemudian melirik ke arah Satria dan menunjuknya.


"Rakai ... rakai adalah bahan taruhan." kata Kembang


"Apa - apaan ini?" teriak Satria.


"Tenanglah pangeranku sayang. Tetap duduk manis di sana." goda Kembang


"Apa maksudmu Kembang dengan mempertaruhkan Rakai?" kataku


Ia tersenyum sinis dan mendekatiku.


"Jika kau kalah, maka akulah yang akan menjadi prameswarinya dan kau jadi selirnya atau kau menjauh dari hidupnya." kata Kembang


"Jika aku yang menang?" tanyaku


"Aku tidak akan menampakan diriku dihadapan kalian." kata Kembang


Satria berlari ke arah arena dan berusaha mempengaruhi Kembang agar tidak melakukan hal itu.


"Aku tidak setujuu!!" bentak Satria


"Aku akan mengatasinya, kak. Tenang dan percayalah padaku." kataku


"Tapi sayang." kata Satria khawatir.


Aku berusaha meyakinkan dia. Aku berharap dia merestuiku dan mendoakan untuk kemenanganku. Akhirnya dia menyerah dan menepi di pinggir arena. Pasopati juga menyusulnya.


Pambiawara kemudian mempersilahkan kami untuk bersiap. Panitia sudah menyiapkan 2 papan kayu sebagai sasaran. Dewi Kembang meminta agar dirinya mulai duluan dan sasarannya hanya 1 buah papan kayu.


Kembang merentangkan busur dan anak panahnya. Ia melepaskan dengan gaya yang indah. Tak berapa lama rakyat bersorak atas keberhasilan Kembang menembus titik tengah sasaran.


"Apa pendapatmu, Rakyan?" tanya Kembang serasa mengejekku


Aku melirik ke araj Satria. Kulihat dia sangat khawatir.


"Bersiaplah untuk menjauh dari kehidupan Rakai." bisik Kembang.


Aku hanya tersenyum dan mencoba menenangkan diri.

__ADS_1


'Nararia segera panggil pancaroba.' kata Kencana


'Bagaimana mungkin?'tanyaku


'Pilihlah anak panah yang paling panjang dan ketika kau menyentuhnya panggil pancaroba. Maka panah itu akan berubah menjadi pancaroba.' kata Kencana.


Aku kemudian berjalan mendekat ke tempat anak panah. Aku memilih anak panah yang paling panjang. selisihnya tidaklah banyak, paling sekitar 2 cm.


'Kenapa kau tidak memanggil pancaroba?' bisik Puspa.


"Apa kau siap melepaskan Rakai?" tanya Kembang


'Aku nggak akan pernah melepaskan dia. Aku ingin segera kembali ke masa depan.' batinku


Aku hanya tersenyum pada Kembang.


--


sisi lain, Satria nampak khawatir. Ia takut aku akan kalah dan itu artinya kita tidak akan bisa bersama.


"So, aku takut dia tidak akan menang. Bagaimana mungkin ia bisa menggeser panah Dewi Kembang." kata Satria.


"Percayalah, ia akan mampu." kata Pasopati


"So, apa yang membuat kau yakin? So, jika dia kalah aku mohon padamu, menikahlah dengannya. Jaga dia untukku." kata Satria lirih.


Ia hendak menyingkir dari pertandingan itu. Tapi Pasopati menahannya.


---


Aku merentangkan busur dan bersiap untuk melepaskan anak panah. Tapi aku melihat ada debu tipis yang mengitari tanganku. Tanganku tidak bisa digerakan, bahkan busur terasa sangat berat. Aku tidak sanggup merentangkan busur ini.


"Jika kau menjatuhkan busur ini, maka kau akan kalah." bisik Kembang


"Kau licik Kembang." kataku


"Seseorang bisa melakukan apapun itu untuk mencapai tujuannya." kata Kembang


Aku berusaha untuk tidak berbuat curang. Tapi Kembang sudah curang duluan. Aku meneteskan air mata. Saat itu aku melihat Dewi Sakti ada di sampingku. Ia menyentuh tanganku dan seketika itu tanganku ringan. Anak panahku berubah menjadi pancaroba.


Aku menoleh pada Dewi Sakti. Ia tersenyum dan mengangguk kepala sebagai tanda ia merestuiku. Aku melirik ke arah Satria. Ia bahkan tidak mau melihatku. Ia meminta kepada Pasopati untuk memberitahu apa yang terjadi. Ia membelakangiku


"Menyerah saja kau Rakyan dan berikan Rakai padaku." kata Kembang


Aku langsung melesatkan anak panah dan tepat mengenai titik pusat serta membelah menjadi 2 anak panah Kembang. Semua orang melihat ke arah papan kayu dengan tatapan tidak percaya. Kembang pun tak berkedip melihat panahnya menjadi 2.


"Jadi kau yang harus menyingkir dari hidup Rakai." kataku


Pasopati kemudian tepuk tangan dan memaksa Satria melihat ke arahku. Satria tak percaya melihat hal itu.


"Bagaimana mungkin?" tanya Kembang


"Kecurangan akan berakibat kekalahan." kataku


Satria kemudian berlari ke arah arena bersama Pasopati. Ia memeluk dan menciumku dihadapan semua orang.


"Dewi Kembang kau kalah. Jadi kau harus menyingkir dari hidup Rakai." kata Pasopati.


Dewi Kembang terduduk lemas. Tapi ia segera bangkit dan mengambil pedangnya. Ia mencoba menusuk pedang ke tubuhku. Tapi secepat kilat Puspa menghalanginya. Pedang itu patah menjadi 2.


"Bagaimana mungkin ini terjadi?" tanya Kembang keheranan.


"Dewi Kembang ... jika kau ingin membunuhku, silahkan tapi aku tidak akan pernah memberikan Rakai untukmu


" kataku


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.


With love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2