
*Sebelum membaca, jangan lupa vote, like, dan comment ya gais*.
happy reading
.
.
Langkah kaki terus menuju ke halaman utama. Tapi sebelum itu, kami berhenti di papan informasi yang terpajang di depan pintu masuk candi. Papan tersebut berisi informasi tentang seluk beluk Candi Prambanan.
"Kita baca ceritanya ya sebelum masuk ke dalam." ajak Dika
Dika memang sangat realistis. Dia mengajak kami untuk membaca petunjuk di papan informasi.
"Baca sejarah berdirinya dulu, untuk bekal ke dalam biar tidak buta informasi." kata Dika
Kami kemudian membaca satu per satu kata yang disajikan dalam dua bahasa. Sisi kiri menggunakan bahasa Indonesia dan sisi kanan dengan bahasa Inggris. Tapi aku membaca di sisi kanan.
"Duh Rara milih baca di sisi kanan." kata Ivan
"Iya Van untuk belajar dan mengasah bahasa ku. Aku ingin kalau besar nanti keliling dunia dan menjadi diplomat yang hebat." kataku
Mereka berdua menoleh padaku ketika aku menyebutkan cita - citaku.
"Diplomat?" tanya mereka berdua secara bersamaan
"Iya, diplomat adalah wakil sebuah negara untuk konferensi, perdamaian dunia, dan negosiator." kataku
"Kamu tahu diplomat dari mana?" tanya Ivan
"Baca di bukunya Mas Antong judulnya 'Diplomat wakil negara'" kataku.
Mereka berdua tersenyum karena untuk anak usia kami yang baru lulus SD untuk menyebutkan cita - cita pasti kalau tidak guru, dokter, polisi, tentara, pilot. Tapi sejak aku kelas 4, sudah ingin menjadi diplomat. Bahkan guru SD ku pun kagum dengan cita - citaku yang berbeda dengan orang lain.
"Iya sejak kecil dia ingin jadi Diplomat dan keliling dunia." kata Dika
Kedatanganku ke Prambanan sebenarnya bukan yang pertama kali. Tapi sejak pesan dari kakeku itu, darahku seperti mendidih ketika mendengar kata "Prambanan". Prambanan dalam benak masyarakat jawa atau sekitar candi dikenal juga dengan nama Roro Jongrang. Hal itu karena adanya sebuah mitos yang muncul dalam masyarakat Jawa (baca kisah episode "Dongeng sebelum tidur").
"Megah ya, Aku kok baru menyadari ya kalau Candi Prambanan sangat megah" gumamku.
"Iya, katanya dibangun oleh Jin dalam waktu semalam" tambah Ivan.
"Enggaklah, pasti dibangun oleh kekuatan manusia, mengerahkan ribuan orang" sanggah Dika.
Dika memang dalam pemikiran suatu hal dia lebih logis dan masuk akal. Tak berapa lama kami sampai di gerbang penjagaan utama masuk candi.
__ADS_1
"Baca ini dulu, sebelum menyimpulkan sesuatu" kata Dika.
Kami bertiga kemudian melanjutkan membaca informasi yang tertera pada papan informasi.
"Tukan, Candi Prambanan dibangun pada tahun 856 M". Trus dibangun oleh Rakai Pikatan" kata Dika sambil membaca bagian sejarah berdirinya.
"Rakai Pikatan?" tanyaku seraya mengulangi perkataan Dika.
Darahku seperti mendidih tatkala menyebut nama 'Rakai Pikatan'. Ada getar aneh yang menyelimuti tubuhku. Nama itu seperti tidak asing untukku.
"Candi ini ketika ditemukan kembali oleh Belanda dalam keadaan rusak parah dan diatasnya ada pohonnya ya" sahut Ivan.
"Kok bisa ada pohon ya di atas candi?" tanyaku dengan polosnya.
"Ya mungkin karena sudah ribuan tahun trus ditinggalkan sama yang buat" jelas Dika.
Otakku kemudian merangkai kata demi kata dari pembahasan yang ada di papan informasi itu. Rakai Pikatan, 856 M, dan ribuan balok batu. Kulangkahkan kakiku pelan menuju halaman luar sebelum masuk ke gerbang utama. Gerbang itu terbuat dari besi yang di cat dengan warna hijau. Samping gerbang terdapat pagar keliling kawat berduri.
Langkah pelan dan kutatap candi paling tinggi dalam dalam. Semakin ku tatap kemudian kumemejamkan mata dan kusebut "Om Nama Siwaya". Tiba - tiba ku merasakan desiran angin sepoi - sepoi yang masuk dalam pori - pori kulitku. Ku dengarkan suara riuh dan desiran air. Ku buka perlahan mataku dan betapa kagetnya aku ketika melihat keadaan ini.
Pemandangan yang lumayan indah, ada sebuah danau besar yang penuh dengan bunga teratai. Kulihat para pendeta dan beberapa masyarakat menggunakan pakaian yang bagus mereka menggunakan ikat kepala dan ditelinganya terdapat sumping bunga kenangga. Mereka membawa persembahan. Mereka kemudian duduk ditepian danau di halaman lapangan yang luas.
Masyarakat kemudian meletakan persembahan yang diletakan dalam wadah yang terbuat dari gerabah dan guci - guci Cina. Aku kemudian melangkahkan kaki menuju danau itu. Tiba - tiba kulihat penuh dengan keajaiban semua bunga teratai itu bermekaran. Inginku memetik bunga itu kemudian bahuku disentuh oleh seseorang.
"Apa yang anakmas lakukan di sini?" kata seseorang yang menggunakan jubah putih, berikat kepala putih, dan wajahnya yang tampan.
"Maaf pak, saya tidak sengaja di sini. Saya juga tidak tahu kenapa saya ada di sini. Seingat saya, saya sedang piknik di Candi Prambanan bersama kedua sahabat saya, Ivan dan Dika".
Aku kemudian celinggukan mencari mereka berdua. Tapi ternyata mereka nggak ada. Kemudian aku bertanya dalam hati
'Apa aku masuk ke dunia lain?'.
"Tidak, Rakyan ini adalah duniamu sebelumnya" kata pendeta itu kemudian tersenyum.
"Duniaku sebelumnya?" tanyaku penuh kebinggungan.
Pendeta itu kemudian mengajakku dan memintaku untuk mengikutinya.
"Ikutlah denganku Rakyan" ajaknya.
Aku kemudian berdiri dan mengikutinya.
"Hmmm.. Pak pendeta kenapa di tempat ini ada danau? di duniaku yang sekarang tempat ini adalah lapangan luas, tempatku dan warga Hindu Klaten melakukan sembahyang saat Tawur Agung" kataku.
Pendeta itu kemudian menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh kepadaku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, di duniamu yang sekarang danau ini tidak akan pernah muncul. Danau ini nantinya akan terkubur oleh lahar dari Sang Girinatha". Pendeta itu kemudian bersedih dan menundukan kepala.
"Pak pendeta, apa kamu tahu dimana Candi Prambanan berada?" tanyaku mengalihkan rasa sedih pendeta itu.
"Parahyangan Brahman, maksudmu?" tanya pendeta itu mengkonfirmasi maksud dari ucapanku.
Aku masih binggung, kemudian aku ingat kalau aku sedang ada di dunia lain.
"Mungkin nama lain dari Candi Prambanan adalah Parahyangan Brahman." kataku dalam hati
"Ya betul tapi disebut juga dengan nama Siwa Grha." kata pendeta itu
Pendeta itu kemudian menjelaskan bahwa candi ini digunakan untuk memuja Dewa Siwa dan emanasinya. Dewa tertinggi dalam candi ini adalah Siwa. Selain Siwa juga digunakan untuk memuja Brahma dan Wisnu.
Aku semakin takjub dengan pemandangan dan orang - orang pada zaman dahulu. Kereta kencana, kuda, gajah, aktivitas mereka.
"Ini mirip seperti film Angling Dharma." gumamku
Aku tiba - tiba ingat dengan sebuah drama kolosal Indonesia yang berjudul Angling Dharma. Film itu merupakan film favoritku setiap malam. Aku bahkan rela menonton tv dirumah tetangga sampai malam untuk melihat itu.
"Apa kau terkejut?" tanya pendeta itu
Aku hanya mengangguk dan berdecak kagum. Kehidupan yang asri dan harmonis. Mereka nampak bahagia dengan suasana yang ada di parahyangan ini. Pakaian mereka sangat indah.
"Persis seperti orang Bali." kataku
Aku memperhatikan bahwa setiap orang yang mengunjungi candi ini membawa sebuah persembahan. Lauk pauk, hasil bumi, binatang peliharaan, barang dagangan, dan apapun yang mereka persembahkan dengan tulus ikhlas.
"Pandita, kenapa candi ini dinamakan Parahyangan Brahman?" tanyaku
"Kau akan tahu sebentar lagi, Rakyan." kata Pandita.
Aku masih bingung dengan penjelasan Pandita itu. Jujur ini membuatku semakin bingung. Dua kali aku masuk ke dunia kuna.
Pandita itu terus mengamati dan tersenyum padaku.
"Pandita, kau belum menjawab pertanyaanku." kataku
Belum sempat pendeta itu menjawab tiba - tiba ada sebuah keajaiban muncul. Keajaiban itu membuatku kagum..
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya. Cerita ini memuat tentang sejarah masa lalu dan juga imajinasi dari penulis.
with love
__ADS_1
Citralekha