Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Rakyan Sanjiwani


__ADS_3

**Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


"Pangeran apa yang kamu katakan pada Wida? kasian tau !!" kataku


"Lha aku benar, putri. Pasopati akan bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik." kata Adhiraksa sambil tersenyum.


Aku bingung dengan perkataan Adhiraksa. Apakah benar, kalau Paso akan bertemu dengan wanita. Penasaran aku. Dari mana coba Adhiraksa tahu tentang masa depan.


"Udah, ayok aku antar ke kamar kamu." kata Adhiraksa


Aku menatap Adhiraksa dan tiba - tiba senyumnya berkembang seperti Satria. Ku tatap mata indah milik Satria. Ku pegang pipinya dan aku langsung memeluknya.


"Satria, aku kangen. Cepat kembali, selesaikan bratamu." kataku


Adhiraksa segera melepaskanku. Aku kaget, ternyata dia bukan Satria.


"Maaf Adhiraksa, aku kira Satria." kataku sambil tertunduk


"Aku yang seharusnya minta maaf, karena telah hadir. Sehingga rasa kangenmu pada Satria tak tertahankan lagi. Apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Adhiraksa


Mendengar perkataan Adhiraksa, aku sangat semangat.


"Apakah bisa?" tanyaku


"Tentu, jika kamu mau. Aku bisa bantu." kata Adhiraksa


"Tapi apa tidak menyalahi aturan dewa?" tanyaku ragu


"Tidak putri, ini sudah masuk bulan ke 3. Seharusnya masa ini dia, bangun sebentar dari tapa nya." kata Adhiraksa


Setelah melakukan diskusi kecil. Aku ke sanggar Pamujan. Tak lupa aku bertanya kepada dua sahabat tak kasat mataku.


"Puspa, Kencana apakah tindakan ini di benarkan?" tanyaku pada mereka


"Boleh putri, tidak apa - apa. Bahkan kalian bisa berkomunikasi. " kata Puspa


Mendengar hal itu aku sangat bahagia. Sudah tak sabar ingin bertemu dengan pangeran Satria.


...


Astana dan Balaputra.


"Pangeran apakah anda sudah siap berangkat ke Rancang Kencono?" tanya Astana


"Siap, As. Tapi sebelum itu, aku akan menemui Widasari dulu." kata Balaputra


Astana hanya bergeleng tatkala mengetahui pangerannya menemui seorang wanita.


"Pangeran pangeran, baru kali ini." kata Astana


...


Hutan Kunjara Kunjadesa


Rombongan Pasopati sudah sampai di Hutan tersebut. Dia turun dari kereta nya dan melangkah pelan - pelan bersama para pengawalnya.


"Jangan jauh - jauh dariku." pesan Pasopati

__ADS_1


"Baik pangeran" kata mereka serempak


Mereka berjalan secara perlahan - lahan tatkala melihat seekor Kijang. Pasopati dengan gesit segera membidik seorang Kijang. Panah pertama langsung mengenai sasaran. Prajurit bersorak, karena Kijang itu segera lumpuh.


"Prajurit, ambil kijangnga. " perintah Pasopati


Tapi ketika mereka hendak menghampiri Kijang yang telah dibidik. Mereka kaget, karena tidak ada seekor Kijang pun di sana.


"Kemana Kijang itu?, tadi aku lihat pangeran Pasopati telah melumpuhkannya." kata seorang prajurit.


"Cari saja di sekeliling semak - semak ini." perintah kepala Prajurit.


Melihat prajuritnya, tidak segera kembali. Pasopati pun menyusul mereka.


"Ada apa prajurit, kenapa lama sekali?" tanya Pasopati


"Ampun pangeran, kami sudah mencari Kijang itu. Tapi tidak ketemu, Pangeran." kata prajurit


Pasopati merasa aneh, jelas - jelas tadi dia dengan tepat sasaran. Kijang telah lumpuh, tapi saat ini bahkan setetes darah Kijang pun tidak ditemukan.


"Ini aneh" gumam Pasopati


"Benar pangeran" kata prajurit.


Pasopati tiba - tiba memperhatikan sekeliling hutan. Dia kemudian bersamadi dan menggunakan mata batinnya. Pandangannya masih gelap. Tiba - tiba angin kencang datang. Rombongan Pasopati menjadi kacau. Prajurit banyak yang berlari.


"Kenapa tiba - tiba ada angin?" tanya Pasopati


"Hamba tidak tahu pangeran, kita harus berlindung." kata kepala prajurit.


"Sebaiknya kamu saja yang sembunyi. Aku akan coba telusuri." kata Pasopati


Akan tetapi kepala prajurit tidak bergeming. Dia bertahan dari badai besar. Pasopati segera menutup mata. Dia mengeluarkan pusaka pedang cakra buana. Dari pusaka itu tiba - tiba mengeluarkan cahaya. Bunyi dentuman sangat keras memekikan telinga.


"Hey manusia, berani sekali kalian menganggu wilayah kami" kata denawa


"Hey denawa, ini adalah hutan kunjarakunjadesa. Hutan ini masuk dalam kekuasaan Kerajaan Medang. Jadi kami berhak melakukan perburuan di sini." kata Pasopati


"Ini adalah hutan belantara tak bertuan. Jadi kami adalah tuannya." kata denawa.


Denawa segera menyerang Pasopati. Prajurit segera membantu Pasopati Tapi ada yang aneh. Setiap tetesan darah dari denawa muncul denawa baru lagi. Jumlah denawa semakin banyak dan banyak. Prajurit Pasopati banyak yang terbunuh. Melihat hal itu, Pasopati menjadi murka.


"Setiap tetesan darah muncul denawa baru." kata Pasopati


Dia kemudian memerintahkan prajurit untuk tidak melukai denawa lagi.


"Prajurit hentikan menggunakan senjata. Mundur kalian!!" perintah Pasopati


Sebenarnya tanpa disuruh pun prajurit akan tetap mundur. Pasopati segera maju dan melawannya menggunakan tenaga dalamnya. Berkali - kali Pasopati tersungkur, ilmu nya tidak bisa mengalahkan denawa itu.


"Kau tidak akan mampu membunuh kami, anak manusia. Pergilah dari sini segera atau kulumat tubuhmu" kata denawa


Pantang bagi Pasopati untuk mundur di medan perang. Tapi dia juga tidak mau mati sia - sia. Dia segera berdoa dan memohon pertolongan dewa.


"Dewa, hamba tidak takut mati. Tapi hamba masih ingin mengabdi pada umat manusia. Serta melindungi putri Nararia selama ada di abad ini." begitulah doa Pasopati


Pasopati segera mengingat masa pertemuan denganku. Mengingat Widasari yang akan sedih jika dia meninggal. Dia juga ingat sosok Adhiraksa yang bisa membuatku melupakan Satria.


Dalam lamunannya itu, denawa maju mendekati Pasopati. Denawa ingin membunuh manusia yang keras kepala. Tapi tiba - tiba cahaya yang menyilaukan mata muncul. Seseorang yang penuh dengan cahaya berdiri di depan Pasopati.


Cahaya itu terus menyinari denawa dan para prajurit Medang. Ajaib, seketika itu prajurit bangun dan denawa yang jumlahnya ratusan menghilang. Hingga tersisa seorang denawa.


"Siapa kau?" tanya denawa

__ADS_1


"Saya adalah kasih dan sayang. Candrabhairawa kembalilah ke asalmu" kata orang bercahaya itu


"Dari mana kamu tahu kalau aku adalah Candrabhairawa?" tanya denawa


Candrabhairawa adalah sebuah ilmu kuna yang sangat sakti. Ilmu itu merupakan ilmu yang kuat. Dia tidak akan musnah dan mati jika pemiliknya tidak mati. Ajian itu tidak bertuan makanya dia selalu muncul kegagalan ksatria yang dikira kuat mengalahkannya. Tapi Pasopati ternyata tidak mampu mengalahkannya.


"Candrabhairawa, dia bukanlah tuan yang kau inginkan. Pergilah kau ke Wana Taas. Disana kau akan bertemu dengan seorang ksatria calon maharaja di tanah Jawa. Bertarunglah dengan dia. Dia adalah tuan yang kau inginkan." kata seorang cahaya itu


Mendengar perkataan seseorang yang bercahaya. Candrabhairawa luluh. Ilmu itu akan jinak jika dilawan dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi jika dilawan dengan kekerasan akan semakin berbahaya.


"Sebelum aku pamit, bisakah aku melihat wujudmu?" tanya Candrabhairawa


Sosok bercahaya itu tiba - tiba menampakan dirinya. Pasopati tertegun ketika melihat orang yang di depannya. Ya seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita yang penuh dengan kasih dan sayang bagaikan Dewi Saraswati.


"Aku adalah Dewi Cahaya. Tapi orang akan mengenalku sebagai Rakyan Sanjiwani" kata Sanjiwani


Mendengar nama itu disebutkan, bunga di Hutan bermekaran tiba - tiba. Semua kehidupan di Hutan menjadi tenang dan udara sejuk menghampiri mereka.


"Baiklah Rakyan Sanjiwani, terimakasih atas nasehatnya. Saya akan segera ke Wana Taas mencari pertapa sakti yang mampu mengalahkan saya." kata Candrabhairawa


Setelah mengucapkan terimakasih, Candrabhairawa menghilang. Rakyan Sanjiwani berbalik badan dan menolong Pasopati. Dia mengulurkan tangannya pada Pasopati.


Pasopati masih tertegun melihat seorang wanita yang di depannya. Dunia seperti berhenti. Dia terpukau dengan kecantikan sang dewi.


"Ehem ... pangeran bisa berdiri sendiri atau saya tolong?" tanya Sanjiwani


"E .. e i ... iya putri cantik eh dewi ... eh Rakyan Sanjiwani" kata Pasopati terbata - bata


Pasopati lalu menerima uluran tangan dari Sanjiwani. Mereka kemudian bercakap - cakap. Ada rasa canggung dari Pasopati ketika berbicara dengan Sanjiwani.


"Maaf dewi, anda sebenarnya siapa?" tanya Pasopati


"Saya bukanlah siapa - siapa. Saya hanyalah seorang pengendara saja pangeran." kata Sanjiwani


"Jadi dewi cantik ini berkelana terus?" tanya Pasopati heran


Sanjiwani hanya mengangguk. Pasopati kemudian mengambil keputusan besar untuk membawa Sanjiwani ke istana.


"Rakyan Sanjiwani ... jika kau berkenan maka ikutlah dengan saya ke istana Medang. anda pasti akan diterima dengan baik sebagai seorang ksatria wanita di Medang. Selain itu, anda juga bisa menjadi pengawal pribadi putri mahkota kami yang bernama Rakyan Pramodhawardhani." kata Pasopati


Mendengar penjelasan Pasopati, Sanjiwani hanya tersenyum. Tapi dari senyumnya tersirat kesedihan yang dalam.


"Ada apa putri?" tanya Pasopati


"Tapi hamba hanyalah seorang pengembara. Apakah saya pantas menjadi pelindung putri mahkota?" tanya Sanjiwani


"Tak masalah" kata Pasopati


Setelah itu, rombongan kembali ke Istana.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya.


Keseruan apa yang akan terjadi di istana?


Tunggu kisah selanjutnya.


with love


Citralekha


berikut adalah ilustrasi Rakyan Sanjiwani,.

__ADS_1



__ADS_2