
Haaai ...
Lembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Dia kemudian tersenyum dan duduk bersila di hadapanku. Dia duduk dengan mengambang. Kaki nya tak menyentuh tanah. Lama - lama dia berganti pakaian. Dia menunjukan jati dirinya. Begitu tahu siapa dia, aku lalu bangkit dari dudukku. Aku senang dan bahagia ternyata aku bisa bertemu dengan dia lagi.
"Kau" kataku sambil berkaca - kaca. Aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya.
"Hai putri cantik, kamu sudah dewasa pada masa ini. Sayang sekali, ya aku tidak bisa bersanding denganmu." katanya sambil menundukkan kepala
Aku masih termanggu karena tak menyangka bahwa orang (eh bukan orang ding) tapi makhluk tak kasat mata.
"Jangan panggil aku hantu." katanya sambil cemberut
"Lha, yang bisa melihatmu hanya aku kan?" tanyaku
"Iya sih, tapi aku ini seorang pangeran. Bisa kan kau panggil aku seperti dulu? Apa kau lupa dengan namaku?" tanyanya
Pada awalnya aku ragu pada kebaikannya. Tapi setelah aku lihat dari ketulusannya. Sepertinya dia benar benar sudah berubah. Dia menjadi pribadi yang menyenangkan.
"Kamu mikir apa?" tanyanya
"Kamu berubah menjadi baik sekarang." kataku
"Ya aku sadar dengan kesalahanku. Sebagai hukumannya, aku tidak bisa reinkarnasi menjadi manusia lagi. Tapi aku mendapatkan tugas untuk menjaga bangunan suci milik sang dewa. Oh iya, apa kau tahu bangunan ini siapa yang membangun?" tanyanya
Aku kemudian turun dari tempat dudukku. Aku berjalan mendekati Candi Siwa. Lalu aku memandang keindahan Candi Prambanan. Tentu saja aku lalu berjalan mendekati hantu tampan itu.
"Candi ini di bangun oleh suamiku, Raja Pikatan Dyah Seladu." kataku dengan bangga.
Hantu tampan itu kemudian tertawa terbahak - bahak. Dia lalu mendekatiku. Jarak kami hanya selisih sekitar 10 cm.
"Jangan dekat - dekat" kataku
"Candi ini dibangun dengan penuh cinta oleh suami, anak, dan rakyatmu. Tapi tahu kah kamu? bahwa keputusan siamimu telah membuat peperangan yang tiada henti." katanya
Aku langsung kaget dengan pernyataannya. Apakah keputusan karena mengangkat Kayuwangi menjadi raja. Sehingga menimbulkan kecemburuan dari putra sulungku.
"Betul putri." katanya
Aku lalu menarik nafas dalam - dalam dan membuangnya dengan kasar.
"Katakan padaku, apa yang terjadi setelah aku kembali ke masa depan?" tanyaku
"Maaf putri, bukan kapasitasku menjawab. Kau harus tanya sendiri pada suamimu." katanya
Aku kaget dengan perkataannya. Suamiku, apakah itu artinya Rakai reinkarnasi di masa depan. Hantu tampan itu lalu menghilang dalam lamunan ku. Aku kemudian mencari - cari nya.
"Adhiiiir... Adhiiraksaaa... Adhiiraksaaa Sidaaa.. jangan kabur kauu." teriakku
Aku lalu duduk kembali ke tangga nandi. Aku pandangi lagi bangunan utama Siwa. Aku berharap bisa bertemu dengan reinkarnasi suamiku.
"Adhir..kembalikan aku ke tempat semula." kataku
Tapi tiba - tiba Adhiraksa muncul. Dia meniup telingaku. Sungguh menyebalkan.
"Dasar hantuuu.. kemana saja lu?" tanyaku
"Baru ditinggal sebentar saja sudah rindu." katanya
"Adhir apa tujuanmu ke masa depan?" tanyaku
__ADS_1
Adhiraksa kemudian tersenyum dan kembali duduk bersila di hadapanku.
"Putri, aku ke sini karena mendampingi saudara kembarku." katanya
Seperti petir disiang boling, aku kaget. Itu artinya Rakai reinkarnasi ke masa depan. Aku lalu meloncat dan menyentuh bahu Adhiraksa.
"Adhir, katakan padaku dimana Satria berada." kataku tidak sabaran.
"Mana aku tahu" katanya sinis
"Katanya kamu mendampingi Satria. Kamu gimana sih jadi hantu." kataku
Adhir lalu berkacak pinggang. Dia lalu menarik rambutku. Dia juga memegang bahuku. Sentuhan ini, aku rindu pada Satria.
"Maafkan aku putri." katanya lalu tertunduk.
"Adhir, katakan padaku menitis kepada siapa Rakai di masa kini?" tanyaku
Adhir kemudian tidak menatapku lagi. Dia memilih membuang mukanya. Aku juga takut memandang Adhiraksa. Bagaimanapun juga aku tidak mau menyakiti perasaan Adhiraksa.
"Putri, maafkan aku. Aku tidak tahu menitis kepada siapa. Kalaupun aku tahu, jelas aku tidak boleh memberitahukan padamu." katanya
"Siapa yang melarangnya?" tanyaku
Adhiraksa lalu tersenyum dan melihat ke arah matahari terbenam. Cahaya menyilaukan mata hadir di depan pintu utama Candi Siwa. Cahaya itu lalu redup dan muncullah sosok dewi yang sangat aku rindukan.
"Dewi Sakti." kataku
Aku dan Adhiraksa kemudian menghaturkan sembah dan sujud kepada Dewi Sakti. Ini adalah kali pertama aku melihat sang dewi. Terakhir kali aku melihat saat dewi mengantarkanku kembali dari masa lalu.
"Putri Nararia dan Pangeran Adhiraksa." sapa sang dewi.
Kami kemudian mengangkat kepala. Sekarang kami dapat melihat wajah sang dewi.
"Ada apakah gerangan sang dewi turun ke marcapada?" tanya Adhiraksa.
"Nanda pangeran, tugasmu adalah menyatukan pangeran Satria dan Putri Nararia." kata sang dewi.
Aku lalu tersenyum dan memandang ke arah Adhiraksa. Dia telah banyak berubah. Tidak lagi bermuka dua dan licik.
"Bunda, maafkan nanda. Bolehkah nanda tanya." kataku sambil menundukan kepala.
"Apa yang kau ingin tanyakan, nanda?" tanya Dewi Sakti.
"Bunda..." kataku terputus
"Nanda, pangeranmu sedang berjuang mencarimu. Demikian juga denganmu. Kau harus mencari nya. Tapi petunjuk bunda adalah kalian akan bertemu di tempat ini." kata Dewi Sakti.
Aku lalu menarik nafas dalam - dalam. Aku harus bersabar lagi ternyata. Menunggu pangeranku yang entah dimana dan siapa itu.
Setelah mengucapkan petunjuk dan pesannya. Dewi Sakti lalu menghilang.
"Adhir, kira - kira siapa ya pangeranku itu." kataku
"Pangeran Pikatan, siapa lagi." kata Adhir
Aku lalu reflek memukul Adhiraksa.
"Aaaawwww... ni manusia tenaganya kuat banget. Heran deh, kenapa kau bisa menyentuhku?" protes Adhiraksa.
Aku hanya tersenyum kepada Adhiraksa dan mengusap bahunya yang katanya panas akibat pukulanku.
"Adhir, kamu tinggal di sini?" tanyaku
"Iya, apakah kau ingin membawa pulang aku?" tanyanya
"Hmmm... Aku akan panggil kamu jika aku butuh. Tapi gimana caranya aku memanggil kamu?" tanyaku
Adhiraksa lalu melihat kepada liontin panah pancaroba ku. Dia lalu menyentuh nya. Cahaya terpencar dalam liontinku.
__ADS_1
"Kenapa bercahaya?" tanyaku
"Artinya, sekarang aku adalah penjagaku. Kau bisa memanggilku kapan pun dan dimanapun kau berada." katanya
Setelah mengucapkan dan memberitahu bagaimana caranya. Adhiraksa menghilang dan aku dikembalikan ke posisi normal. Suasana Prambanan ternyata sudah gelap. Pengunjung semua sudah turun. Hingga tersisa Pak Bege (satpam penganti jaga).
"Mbak Rara dicariin dari tadi. Ternyata ada di sini." kata om Bege.
"Iya, maaf ya om. Yaudah, aku harus segera pulang, hehehe. Takut mama mencariku." kataku
Aku lalu turun kembali ke pos satpam. Bercengkerama sebentar dan kemudian aku pamit dari prambanan. Tapi sebelum melajukan motorku. Aku melihat ke arah Candi Prambanan. Aku melihat Adhiraksa duduk di puncak Candi Siwa. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku.
"Hati - hati putri, panggil aku jika butuh bantuan." teriaknya.
Lalu timbul usilku padanya.
"Adhiiir, kemariiii." panggilku
"Ada apa tuan putri?" tanyanya
"Hanya ngetes doang, hehehe." kataku
Adhir dengan geram lalu mencubit lenganku. Dia merasa dipermainkan oleh diriku.
"Putri jangan main - main." katanya kesal
"Baiklah aku minta maaf." kataku sambil cekikikan.
"Aku akan mengantarmu pulang." katanya
Aku lalu membiarkan Adhiraksa bonceng di motorku.
"Gimana rasanya bonceng kendaraan abad 21?" tanyaku
"Biasa saja, lambat. Dalam sekejab aku bisa menghilang dan sampai di tempat tujuan." katanya
Aku jadi sebal, karena aku tidak bisa melakukan hal itu lagi. andai saja kekuatanku masih dan Kencana Puspa masih bersamaku. Aku juga bisa melakukan hal yang sama.
"Maaf putri, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada Puspa dan Kencana." kata Adhiraksa
"Nggak papa, Adhir. Aku hanya tiba - tiba rindu dengan mereka." kataku
Tak berapa lama aku sampai di rumahku. Adhir mengamati sekitar rumahku. Dia memastikan tidak ada hawa negatif yang menyelimuti rumahku. Setelah terbang ke sana ke sini dia akhirnya kembali.
"Kenapa?" tanyaku
"Aku sudah memasang pagar pelindung rumahmu dari gangguan hal tak kasat mata." katanya
"Makasih ya Adhir." kataku
Aku lalu masuk ke rumah. Seperti biasa, mama sudah menyambut dan mengajak makan malam. Tapi sebelum itu, aku mandi terlebih dahulu. Adhir pergi ke kamarku. Dia ingin melihat kamar tuan putrinya di abad ke 21.
"Ngapain loe?" tanyaku
"Aku lagi berusaha berdamai dengan barang - barangmu. Aku tak menyangka dulunya kamu tinggal di istana yang megah tapi sekarang kamu tinggal di rumah sederhana." kata Adhir
Aku lalu tersenyum, karena Adhir terlihat sangat lucu. Persis ketika aku datang ke Medang. Aku melihat barang - barang mereka sangat unik dan antik.
"Adhir, besok di lab ku akan ada tamu dari Jerman. Kamu mau ikut aku ke kampus nggak?" tanyaku
"Kalau kamu ngajak aku pasti ikut." katanya lagi.
***
Episode kali ini cukup ya,. terimakasih.
hmmm.. tahu nggak siapa ya tamu dari Jerman itu?
silahkan tebak pada kolom komentar ya.
__ADS_1
With Love
Citralekha