Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Rakai Adhiraksa Sida


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comen ya*


Happy reading


.


.


Aku masih tidak percaya bahwa jasad yang ada di depanku adalah Satria. Tiba - tiba semuanya gelap. Aku kembali pingsan.


Pasopati segera menghampiri ku dan memandangi wajah sahabatnya itu.


"Satria, aku tidak menyangka kau akan secepat ini pergi. Aku akan mencari pembunuhmu. Akan ku tuntut balas." batin Pasopati


Upacara kematian Satria untuk sementara berlanjut tanpa aku. Rakai Patapan Pu Palar nampak geram. Dia telah kehilangan putra nya yang gagah perkasa. Pada saat itu, dia mengamuk pada prajurit Medang.


"Samaratungga!! kau apakan anakku?" tanya Pu Palar


"Kang mas bahkan aku sendiri tidak tahu tentang kejadian yang sebenarnya. Sudah 3 bulan, anak mas Rakai Pikatan menghilang dari Istana Medang. Sabar kang mas. Kasihani prajurit ku yang tidak bersalah, kang mas." kata Samaratungga


Mendengar keributan di luar kamar. Pasopati dan aku segera keluar dari bilik kamarku. Kami sangat kaget, karena ayah Pu Palar telah mengamuk. Banyak prajurit yang berjatuhan. Melihat hal itu, aku menjadi geram. Dengan kekuatan yang ku miliki. Aku menghentikan pertikaian itu.


"Hentikan, ayahanda Pu Palar. Bahkan kami sendiri juga tidak tahu penyebab kepergian pangeran Pikatan. Mohon ayahanda untuk tidak membuat kekacauan dan hormatilah jasad putra mu, ayah." kataku sambil terisak.


"Betul paman raja Pu Palar. Saya berjanji akan mencari pembunuh pangeran Pikatan." kata Pasopati


Akhirnya setelah melalui diplomasi dan negosiasi. Ayah Pu Palar menghentikan serangan yang mematikan itu. Mayat - mayat prajurit pun ikut diupacarai kremasi bersama.


Nampan ayah raja Pu Palar sangar syok dan belum bisa menerima semua ini. Demikian juga dengan aku. Aku sangat terpukul. Aku terus menangis dan terisak. Jika Satria meninggal. Lantas siapa yang akan membuatkan aku sebuah candi yang indah. Jika dia meninggal, artinya aku akan terjebak selamanya di abad ke - 9. Aku semakin sedih.


"Anak mas, Pramodhawardhani ... maafkan ayah Pu Palar. Ayah telah melukai perasaanmu dan masyarakat Medang." kata Pu Palar dengan lembut padaku


Pasopati pun segera membawa Astana ke balai Witana. Dia ingin mendapatkan keterangan yang jelas tentang kematian Satria. Pasopati sangat curiga dengan Balaputra. Tapi dia tidak boleh asal menuduh tanpa bukti yang kuat.


"Paman, ini adalah pungawa Astana yang sudah membawa jasad pangeran Satria." kata Pasopati


Astana segera berlutut dihadapan raja Pu Palar. Dia menghaturkan sembah dan permintaan maaf, karena terlambat dalam menyelamatkan Satria.


"Astana, ceritakan padaku. Apa yang terjadi dengan Satria, putraku?" tanya Pu Palar


"Ampun paduka, hamba dan prajurit pilih tanding sedang patroli. Entah mengapa, kami semua ingin ke Hutan Dandaka. Setibanya di tepi hutan, kami melihat pangeran Satria sedang bertarung dengan raja Dandaka. Hingga akhirnya pangeran kalah dan dipenggal kepalanya." kata Astana


Mendengar semua itu, ayah Pu Palar menjadi murka. Dia segera memerintahkan prajuritnya untuk ke Hutan Dandaka dan menuntut balas atas kematian putranya.


"Hutan Dandaka?" tanyaku


"Betul putri" jawab Astana


Aku kemudian mendekati Pasopati. Ini tidak masuk akal. Satria bertapa di Wana Taas. Bagaimana ceritanya dia ke Hutan Dandaka. Semua membingungkan, bahkan aku ingat bahwa ratu Dandaka akan setia denganku. Tapi kenapa dia melukai pangeranku.


"Putri, sepertinya ada sesuatu yang salah." kata Pasopati


"Maksud kamu, So?" tanyaku


Pasopati kemudian menceritakan tentang akal dan siasatnya yang menipu Widasari tatkala dia menjadi duta atas permintaan Balaputra untuk menyelidiki keberadaan Satria.


"Putri, ayo kita ke Dandaka sekarang juga. Kita harus mendahului raja Pu Palar" kata Pasopati

__ADS_1


"Tapi So, bagaimana bisa kita mendahului ayah Pu Palar." kataku bingung.


Pasopati kemudian tertawa kecil. Dia sepertinya tahu, jika dalam keadaan bingung aku tidak dapat berpikir secara rasional.


"Putri kan bisa menghilang." kata Pasopati


Aku kemudian tertawa akan kebodohanku. Tapi aku tidak mau menghilang di hadapan semua orang. Lalu aku meminta kepada Pasopati untuk menemaniku ke sanggar pemujaanku.


Setibanya di sanggar Pamujan. Aku segera memanggil Puspa dan Kencana.


"Puspa dan Kencana, sial kenapa aku bisa lupa dengan mereka." umpatku


Pasti mereka tahu yang sebenarnya. Aku segera memanggil Puspa dan Kencana untuk keluar dari tubuhku. Tak berapa lama, dua sahabat ku keluar. Pasopati masih belum dapat melihat mereka berdua. Tapi atas izin Kencana, Pasopati dapat melihat keberadaan mereka.


"Pangeran Kencana" kata Pasopati


"Puspa, apa benar jasad yang di luar adalah jasad pangeranku?" tanyaku


"Bukan putri, pangeran Satria masih bersamadi di Sana Taas." kata Puspa


Aku dan Pasopati kaget sekaligus senang dan lega. Akhirnya jasad di luar bukanlah jasad pangeranku.


"Lalu itu jasad siapa?" tanya Pasopati


"Sebaiknya kita ke Hutan Dandaka sekarang, sebelum semuanya terlambat. Kalian akan mendapatkan jawaban di Sana." kata Kencana


Aku segera meraih tangan Puspa. Sedangkan Kencana memegang tangan Pasopati. Kami menghilang dan tak berapa lama kami sudah sampai di Hutan Dandaka. Melihat kedatanganku, senopati dan Ratu Kala bang segera menghampiri dan menghaturkan sembah.


"Selamat datang putri, pasti ada suatu hal yang penting." tebak Kala Bang.


"Betul ratu, aku ingin tanya tentang jasad yang ada di istana Medang." kataku


"Putri, maafkan aku itu bukanlah jasad pangeran mu. Jika pangeranmu ke Dandaka, maka permintaannya adalah perintah untuk kami." kata Senopati


Aku dan Pasopati saling menatap satu sama lain. Kami sangat bingung dengan semua ini.


"Maksudmu apa senopati, bisakah kau jelaskan padaku. Karena ayah raja Pu Palar sedang dalam perjalanan menuju kemari untuk menuntut balas." kataku


Senopati segera menjelaskan pada kami. Tentang kedatangan Kalasmara ke Dandaka yang menanyakan keberadaan pangeran. Senopati menolak memberitahu dan memang Satria tidak ada di Dandaka.


Senopati juga menceritakan tentang kecutigaannya dengan demit itu. Maka untuk membuktikan omongannya. Senopati merubah sebatang kayu menyerupai wujud pangeran Satria.


"Benar saja putri, begitu dia melihat wujud pangeran. Dia segera mengelabui pangeran dengan jerat cintanya. Setelah puas, dia memenggal kepala pangeran." kata Senopati


"Jadi itu bukan Satria?" tanya Pasopati


Senopati hanya mengangguk di serta tawa puas karena telah mengelabui dan membalas dendam kepada demit Kalasmara.


"Kalau begitu, kita harus menghadang prajurit ayah Pu Palar agar tidak terjadi pertumpahan darah." kataku


"Tapi harus dengan Strategi, jika tidak maka bisa memperburuk keadaan." kata Pasopati.


Senopati, Kencana, Puspa, dan Pasopati segera menyusun siasat untuk memberitahu ke ayah raja Pu Palar. Akhirnya, kami menemukan cara untuk menjelaskannya kepada ayah raja.


"Aku akan malih rupa menjadi pangeran Satria" kata Kencana


"Sedangkan aku akan menampakan diri sebagai senopati Kaindran." kata Puspa

__ADS_1


Kami berharap dengan cara seperti itu, ayah raja akan percaya. Sedangkan Senopati dan Ratu kalabang bersiap diri menyambut pasukan raja Pu Palar.


Benar saja, tak berapa lama terdengar teriakan dari luar Hutan. Aku dan senopati Dandaka telah memasang pagar pelindung agar tidak melukai masyarakat Hutan Dandaka.


"Kala Bang, akan aku ***** kau karena telah membunuh putraku. " kata Pu Palar


"Selamat datang raja Pu Palar. Saya rasa ada kesalahpahaman diantara kita. Kami tidak membunuh pangeran Satria." kata Kalabang.


Mendengar hal itu, raja Pu Palar segera menyerang Kalabang. Sementara prajurit Pikatan seperti tertahan tidak bisa mendekat dan membantu rajanya. Itu semua karena pagar pelindung yang telah senopati pasang.


Kami memang sengaja membiarkan ayah Pu Palar bertarung. Pertarungan tak dapat di elakan. Keduanya sama - sama sakti. Pukulan demi pukulan dikeluarkan hingga membuat seluruh penguji Dandaka menjadi takut.


"Ayo segera keluar." kata Pasopati.


Aku dan Pasopati segera keluar dan pura - pura berlari. Kami berusaha menghentikan serangan dari ayah raja. Setelah bernegosiasi ayah raja menghentikan serangan.


"Kamu kenapa di sini, putri?" tanya Pu Palar


"Ampun ayah raja, hamba sudah mendapatkan jawaban bahwa pangeran Satria tidak meninggal." kataku


"Apa maksudmu, putri?" tanya ayah prabu.


Satria jelmaan kencana keluar bersama Puspa yang berdiri di atas teratai suci. Melihat hal itu, raja Pu Palar sangat kagum. Bahkan Puspa menggunakan pakaian kebesaran ala Istana Kaindran agar meyakinkan.


"Putraku" kata Pu Palar


"Sembah ananda, ayah raja. Hamba tidak bisa turun menyentuh ayah, karena hamba sedang dalam meditasi untuk menambah kesaktian." kata Satria (Kencana).


Satria lalu menjelaskan tentang kebenarannya. Akan tetapi tiba - tiba Puspa merentangkan tangan dan mencekik dedemit Kalasmara.


Puspa Segera menghancurkan demit Kalasmara. Melihat kejadian itu, raja Pu Palar percaya bahwa kami semua telah dijebak dan ditipu oleh Kalasmara dan Senopati Dandaka guna menyelamatkan pangeran.


Ayah raja segera meminta maaf kepada ratu Kala Bang, atas sikapnya. Setelah semuanya jelas, Satria (Kencana) dan Puspa menghilang.


Aku pun menghaturkan sembah dan ucapan syukur karena pangeran masih hidup. Demikian juga dengan ayah raja. Tapi tiba - tiba mataku terpana dengan kedatangan seorang ksatria yang wajahnya sangat mirip dengan Satria.


"Apakah dia Kencana, kenapa masih berwujud Satria" gumamku.


Tak berapa lama Kencana dan Puspa berada di dekatku. Sontak aku bingung dengan sosok Ksatria itu. Mataku terus memperhatikan dia.


"Satria" kataku


Mendengar hal itu, ayah raja Pu Palar segera melihat ke arah pandangan mataku.


"Adhiraksa Sida. " kata Pu Palar.


Aku hanya tertegun melihat pangeran yang mirip dengan Satria. Ternyata namanya Adhiraksa Sida. Siapa dia aku sendiri kurang tahu. Demikian juga dengan Pasopati yang masih nampak bingung. Dia pun terpana dengan rupa sang Adhiraksa yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Satria.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.


Penasaran nggak siapa itu Adhiraksa Sida?


Tunggu kisah selanjutnya ya...


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2