
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
"Tikus kecil macam kamu mau mengalahkanku? bahkan kau tidak bisa menghindari pedang ku." kata Widasari masih sombong.
Sanjiwani memejamkan mata. Dia mengucapkan mantra memanggil dan menggunakan kesaktiannya. Kesempatan emas tak di sia - sia kan. Dia bernafsu ingin membunuh Sanjiwani. Widasari mengeluarkan pedang dan meluncur ke arah Sanjiwani.
"Widaaaa jangaaan" teriak Pasopati
Secepatnya Pasopati melesat dan akan menghalangi Widasari.
"Pasopatiiiii" teriak Adhiraksa
Tanpa pikir panjang, Pasopati segera melesat ke arah Sanjiwani. Adhiraksa berusaha mencegah Pasopati Tapi semuanya terlambat.
(Braaaaassshhhh ... duaaaar)
Darah segar mengalir deras. Orang tersebut langsung terkapar. Semua yang menyaksikan berteriak selendang mungkin dan histeris.
Aku masih mematung dan tak percaya apa yang aku lihat. Di depan mataku, darah berceceran. Adhiraksa juga berdiri mematung dengan mulut mengangga. Aku tak tahan menyaksikan pemandangan di depanku.
"Rara" panggil Adhiraksa lirih
Air mataku segera mengalir deras. Tak kuasa melihat semua ini.
"Kenapa ini semua harus terjadi, Adhir?" tanyaku sesenggukan.
"Ini lah pelajaran hidup, Ra. Jangan pernah dibutakan oleh cinta. Maka akibatnya akan fatal." kata Adhiraksa.
Aku memeluk Adhiraksa dengan erat. Masih membenamkan kepala di dada bidangnya. Perlahan dia mengusap kepalaku.
"Putri, kalau kamu tidak kuat. Aku akan meminta Anupali untuk mengantarkanmu ke kamar." kata Adhiraksa
"Tidak, aku sanggup. Ayo kita ke lapangan." kataku
Adhiraksa segera memerintahkan kepada prajurit untuk memanggil tabib kerajaan. Sesampainya di lapangan, aku segera meraih tubuh tak bernyawa itu.
"Paaaa sooooo" kataku lirih
Tubuhnya terpotong oleh pedang sakti Widasari. Demikian juga dengan Wida. Dia memuntahkan cairan darah segar. Melihat Pasopati terkapar, Wida langsung tak sadarkan diri.
Sanjiwani bangun dari meditasinya. sungguh kekuatan yang dasyat. Aku baru pertama kali melihat daya tapa yang dapat melumpuhkan orang yang akan menyerangnya.
Matanya perlahan di buka. Saat tahu, bahwa Pasopati berusaha melindunginya dia sedih. Seharusnya Pasopati tidak harus menjadi korban. Ajian Wirabuana adalah sebuah ajian yang sakti. Ajian yang akan menyerang balik berpuluh kali lipat pada penyerangnya.
"Pasopati" kata Sanjiwani lirih
__ADS_1
"Sanji, kenapa kau mengeluarkan ajian Wirabuana?" tanya Adhiraksa
"Maaf Adhiraksa, kemarahanku terhadap Widasari sudah mencapai batas sadar." kata Sanjiwani sambil terisak
Orang tuaku juga hadir tak lama setelah mendengar suara dentuman. Ibuku, Dewi Tara seketika itu pingsan. Ibu tidak sanggup melihat keadaan Pasopati. Dayang pun segera membawa ibu ke kamarnya.
"Apa yang terjadi, Pangeran Satria?" tanya ayahku
"Ampun ayahanda maharaja Samaratungga. Ini karena cemburu yang berlebihan dari Widasari." kata Adhiraksa menjelaskannya
Melihat dan mendengar alasan malapetaka ini. Ayahku merasa sangat terpukul. Pasalnya, Widasari yang selama ini lembut. Berubah menjadi orang yang tak sabar dan bertingkah berlebihan. Tapi untuk sementara waktu, ayah tidak akan mempermasalahkannya. Widasari pun langsung di bawa ke balai obat. Dia terluka parah akibat ajian Wirabuana.
"Putri, maafkan aku" kata Sanjiwani sambil menghampiriku
"Kenapa kau keluarkan Wirabuana, Sanjiwani?" tanyaku
"Maaf putri, hamba tidak bisa menahan emosi." kata Sanjiwani
"Baik putri, aku mengerti. Jika aku berada di posisi mu, pasti aku akan berlaku yang sama." kataku
Keadaan di lapangan menjadi sangat hening. Aku meratapi kematian Pasopati. Dia adalah sahabatku dan juga telah kuanggap sebagai saudaraku. Di hadapanku, kini lemah tak berdaya.
"Putri, ayo aku antarkan ke kamar. Biarkan jasad Pasopati diurus oleh prajurit. Kita harus sempurnakan jasadnya." kata Adhiraksa
Aku pun kali ini nurut dengannya. Aku ingin segera kembali ke kamar dan berkonsultasi. Tapi sebelum itu, aku mencoba mencari tahu tentang ajian Wirabuana.
"Sanjiwani, apakah Pasopati bisa kembali dihidupkan?" tanyaku
"Benar putri, pusaka keabadian itu tidak akan diberikan kepada siapapun juga. Kecuali kepada keturunannya, beliau." kata Adhiraksa
Aku semakin terisak. Kini aku tidak dapat menolong Pasopati. Tapi aku akan berusaha ke Vaikuntha. Tekadku sudah bulat. Aku ingin mengembalikan nyawa Pasopati.
"Pangeran, antar aku ke kamar." kataku
Adhiraksa segera memapahku menuju ke kamar. Setelah itu, aku meminta kepada Adhir untuk meninggalkan ku seorang diri. Dia paham, aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Baik putri, aku keluar dulu. Aku akan mengurus jasad Pasopati." kata Adhiraksa
Sepeninggalnya Adhiraksa, aku segera memanggil kedua sahabatku. Mereka muncul dengan raut sedih. Sepertinya mereka tahu apa yang sedang terjadi. Aku segera memeluk Puspa.
"Puspa, apakah Pasopati bisa hidup lagi?" tanyaku
"Hanya dengan tirta amerta dan air kembang wijaya kusuma, putri" kata Puspa
Aku sejenak tercenang dengan solusi Puspa. Tidak mungkin, aku meminta amrta kepada Dewa. Air itu adalah air keabadian. Jadi solusi terakhir adalah dengan meminjam kembang wijaya kusuma.
"Puspa, apa kau tahu siapa keturunan asli Dewa Wisnu?" tanyaku
"Untuk apa putri bertanya itu?" tanya Puspa
"Kamu pasti tahu untuk apa, Pus." kataku terisak
__ADS_1
Aku kemudian menjelaskan betapa pentingnya Pasopati. Bahkan aku mengancam Puspa jika tidak diberitahu. Aku akan berangkat ke Vaikuntha seorang diri.
"Putri, tunggulah beberapa hari. Jika tidak ada tanda - tanda kehidupan dari Pasopati. Saya akan berangkat ke Vaikuntha." kata Kencana
"Maksudmu apa, Ken?" tanyaku
Aku berpikir, bahwa Pasopati belum meninggal. Tapi hal itu sangat mustahil. Melihat beberapa bagian tubuh Pasopati terpisah.
"Putri, ajian Wirabuana itu adalah ajian yang akan mempan kepada orang yang di sasar. " kata Kencana
"Artinya, Pasopati masih mungkin belum meninggal?" tanyaku meyakinkan Kencana
"Iya, dia belum sepenuhnya meninggal. Tapi jika dalam waktu dua hari dia tidak sadar. Maka dapat dipastikan dia akan meninggal." sahut Puspa
Aku paham sekarang. Jadi ajian itu hanya akan bereaksi dengan hebat kepada sasarannya. Pasopati bukanlah sasaran utama wirabuana. Aku segera ke balai obat, untuk melihat tubuh Pasopati.
"Putri mau kemana?" tanya Puspa
"Tentu saja balai obat. Aku akan meminta kepada tabib untuk merawat Pasopati." kataku penuh semangat.
"Tapi sepertinya tidak mungkin, putri. Pangeran Pasopati sudah sangat rapuh." kata Kencana
Mendengar penjelasan Kencana yang semula membuatku tersenyum. Tapi kemudian membuatku berurai air mata kembali.
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menolong, Pasopati?" tanyaku terisak
"Berdoa kepada Hyang Wenang agar diberikan keajaiban." saran Puspa.
"Aku akan berangkat ke Vaikuntha" kataku
Aku sudah bertekad akan segera berangkat ke Vaikuntha. Aku ingin bertemu dengan Dewa Wisnu. Tentu saja untuk meminjam pusaka Kembang Wijaya Kusuma.
"Putri, apa kau tahu dimana Vaikuntha?" tanya Kencana
Aku hanya menggelengkan kepala. Tapi kenyataannya memang benar. Aku tidak tahu dimana letak Vaikuntha. Hal yang sangat bodoh, bagaimana bisa ke sana. Jika tidak tahu letak Vaikuntha.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
next :
Apakah Pasopati akan meninggal?
Bagaimana dengan nasib Widasari?
Tunggu episode selanjutnya
With Love
Citralekha
__ADS_1