
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
"Prasta, andai aku punya kekuatan. Aku tadi pasti membantumu. Tapi aku takut dengan sosok itu." kataku sambil memegang tangannya yang lembut.
Melihat hal itu, Satria segera mendekat ke arah kami.
"Hentikan adegan romantis kalian. Kita harus pikirkan cara agar kembali ke dunia kita." kata Satria.
Prasta kemudian memintaku untuk membantu membangunkanku Tamara dari pingsannya.
"Tamara bangun..." kataku sambil mengguncangkan badannya.
Tapi dia tak juga bangun. Ada yang aneh dengan Tamara. Kenapa lama sekali dia tersadar dari pingsannya. Satria masih memikirkan cara untuk keluar dari dunia ini.
"Gimana kita kembali, Kencana?" tanya Adhiraksa
"Kita belum boleh kembali. Terlebih kita harus mengembalikan kesucian Satria." kata Kencana
"Kesucian? Kembaran sialan itu sudah ternoda." kata Adhiraksa kesal
"Tapi itu semua diluar kendali dia. Jadi dia bisa kembali suci lagi. Setelah dia berendam di telaga biru." kata Puspa
Aku pun mendengar obrolan mereka ber 3. Itu artinya, kami harus menemukan telaga biru. Tapi aku masih bingung bagaimana harus menyampaikan kepada Satria. Dia tahu nya aku adalah gadis lemah tanpa kekuatan.
"Bagaimana aku bisa memberitahu Satria?" tanyaku dalam hati
"Tenang putri, biar kami yang mengurusnya." kata Puspa
"Ketika Puspa menampakan wujud nya. Tolong putri pura - pura tidak lihat Puspa." saran Kencana
Tanpa membantah aku hanya tersenyum sedikit. Tak berapa lama pun Puspa hadir. Puspa hadir dengan wujud nya yang dasyat. Dia hadir sebagai seorang dewi dari Indraloka. Eh emang dia dari Indraloka ding, hehehe...
Puspa mempunyai sayap yang sangat cantik. Dia berdiri di atas teratai ungu. Puspa ketje nya, batinku.
"Makasih putri" kata Puspa.
Puspa kemudian menampakan dirinya kepada Prasta dan Satria. Mereka berdua lalu menghaturkan sembah hormat kepada Puspa.
"Selamat datang Dewi Puspasari. Terimalah salam sembah kami berdua." kata Satria mengawali pembicaraan dengan Puspa.
"Ada pesan apa yang Dewi Puspasari bawa dari Dewa Indra?" tanya Prasta
"Nanda berdua telah selamat dari marabahaya ini. Ini adalah awal. Musuh kalian telah reinkarnasi ke dunia ini. Harap waspada dan mawas diri. Nanda Satria, fisikmu telah digunakan oleh denawa anak buah musuh kalian. Jadi kamu sudah kotor. Tapi karena itu bukan kemauanmu. Maka ada sebuah cara untuk mengembalikan kesucianmu." kata Puspa
Mereka berdua lalu saling berpandangan. Aku hanya diam saja. Pura - pura memperhatikan gerak - gerik mereka.
"Maksud Dewi Puspasari dengan kesucian hamba. Saya sudah melakukan hubungan badan dengan wanita lain?" tanya Satria memastikan marut dari Puspa
Puspa hanya mengangguk. Betapa kecewanya Satria setelah tahu itu. Ternyata dia sudah tidak pantas menjadi milik siapapun.
"Sat, tenang lah, Dewi Puspasari tahu bagaimana caranya mengembalikan kesucianmu." kata Prasta
Satria lalu memandang ke arah ku. Aku pun pura - pura bingung dengan tingkah mereka.
"Nanda Satria, diujung desa ini. Terdapat sebuah danau. Namanya Danau Biru. Mandi dan berendamlah. Serta mohon ampunan dari Sang Hyang Jagadnatha." pesan Puspa
"Baik Dewi Puspasari. Kami ucapkan terimakasih. Mohon sampaikan salam hormat kami kepada Dewa Indra." kata Prasta mengakhiri percakapan dengan Puspa.
Setelah menyampaikan pesan itu. Puspa lenyap dari pandangan mereka berdua. Sebenarnya Puspa masih ada di depan mereka. Tapi mereka tidak dapat melihat wujud Puspa kembali. Aku kemudian kepo dengan mereka berdua.
"Prasta, siapa yang datang tadi? kenapa aku tidak bisa melihatnya. Serta apa yang dia sampaikan?" tanyaku seolah - olah bingung dengan tingkah mereka tadi.
__ADS_1
"Tadi yang datang namanya Dewi Puspasari. Beliau adalah utusan dari Indraloka. Nara kita harus ke Telaga Biru. Kesucian Satria bisa kembali lagi dengan dia berendam di sana." kata Prasta
"Bagaimana dengan wujud Dewi Puspasari? Apakah sangat cantik? Kenapa aku tidak bisa melihat dia?" tanyaku
"Sangat cantik dan yang pasti tidak seperti dirimu. Kamu itu bukan anggota kerajaan. Jadi kamu tidak akan bisa melihat wujud para dewa maupun dewi dari kahyangan. Kamu hanya manusia biasa." kata Satria
"Wuah kurang ajar ni kembaran. Dia akan menyesal kalau tahu yang dia ajak omong siapa. Ingin aku cekik ni kembaran." kata Adhiraksa sudah mau maju mencekik Satria.
"Jangaaaan" teriakku
Satria dan Prasta kemudian menoleh ke arahku.
"Ada apa Nara?" tanya Prasta
"Hmm..Maksud Aku jangan tinggalkan Tamara seorang di sini." kataku mencari alasan.
"Sat, lu gendong tu calon istri mu." kata Prasta
Ada rasa tidak suka ketika Prasta menyebut demikian.
"Kamu mau lihat aku mandi? Sebaiknya kamu di sini temani Tamara sampe dia bangun." kata Satria
"Kalau gitu, kamu berangkat ke Telaga Biru sendirian. Aku tak tega meninggalkan Nara seorang diri. Apalagi dia manusia biasa." kata Prasta
"Kok kamu jadi belain dia sih?" tanya Satria
Akhirnya terjadilah perdebatan anak kecil. Kelakuan mereka mengingatkanku pada sosok Satria dan Pasopati. Tamara akhirnya di putuskan untuk diajak. Mungkin saja air dari Telaga Biru akan membangunkan Tamara. Satria pun mengendong Tamara.
*
Telaga Biru
Dinamakan telaga biru karena banyak ditumbuhi bunga teratai warna biru. Aku lama sekali tidak memandang indahnya bunga teratai yang bermekaran seperti itu.
"Cantik banget" kataku
"Jika kamu mau, aku akan memetik untukmu." kata Prasta
"Tamara bergerak" kataku
Dia pun lalu pelan - pelan membuka mata.
"Tamara akhirnya kamu sadar" kataku
"Aku dimana, dimana Satria?" tanya Tamara
"Kamu pingsan. Satria lagi berendam." kataku
Tamara pun kemudian meminum air danau itu. Benar - benar ajaib air itu. Tamara sembuh dari sakit yang diakibatkan oleh senjata penduduk gaib. Aku dan Prasta pun kemudian ikut membasuh muka, tangan dan kaki kami.
Aku lihat Tamara masih duduk termenung. Aku pun mendekatinya.
"Kamu kenapa Tam?" tanyaku
"Aku masih memikirkan kesucian Satria" kata Tamara
Aku dan Prasta hanya tersenyum. Tak lama kemudian, Satria kembali. Wajahnya seperti bersinar. Tamara pun terpukau dengan Satria.
"Mata nya putri. Belum tentu dia Rakai lho. Kalau dia memang kembaranku. Kenapa Dia bodoh sekali." kata Adhiraksa menyindir kepadaku
"Brisiiik.. Aku panah lho kamu" kataku dalam hati sambil tersenyum
"Ampun putri, mentang - mentang kekuatannya sudah kembali. Sekarang semena - mena." kata Adhiraksa
Aku, Puspa, dan Kencana pun hanya bisa tersenyum. Entah bagaimana bisa. Sehingga kekuatanku kembali lagi. Tapi ini sebuah anugrah dari Hyang Siwa. Meskipun aku kembali sakti. Tapi itu tidak Aku gunakan semena - mena.
"Putri Mahkota, apa kau tidak mau menyambut Satria mu?" ledek Prasta
"Dia lelaki yang sudah ternoda." kata Tamara
"Satria sudah kembali suci lagi, Tam" kataku
__ADS_1
Mendengar penuturan ku, Tamara langsung berhambur memeluk Satria. Setelah itu, kami memikirkan cara untuk keluar dari dunia kejam ini. Aku merasakan dunia ini akan segera hancur.
"Gimana caranya kita bisa keluar?" tanyaku
"Satu - satu nya adalah dengan masuk ke Telaga Biru." kata Puspa
Tentu saja suara Puspa hanya bisa didengar olehku.
"Mungkin kita kembali ke jalan semula." usul Tamara
"Kalau kita kembali ke jalan semula itu tidak mungkin." kata Prasta
Aku masih bingung, gimana cara memberitahu mereka tentwng pintu gaib itu. Aku tidak mau mereka curiga padaku.
Akhirnya Kencana membuat pusaran angin. Dia membelah Telaga atau Danau Biru. Sehingga membentuk sebuah jalan di tengah telaga.
"Lihat pusaran air itu" tunjukku.
Mereka ber 3 lalu melihat ke arah telaga itu. Lama - lama, telaganya nampak ada jalan.
"Ini jalan dari Dewa. Ayo segera kita kembali ke dunia kita." kataku
"Tunggu Nara ... Kamu tidak tahu ini jebakan atau tidak" kata Prasta
Aku hanya tersenyum dan kemudian segera melompat ke bawah. Aku berani karena, Puspa, Kencana, dan Adhiraksa sudah menunggu di bawah. Aku pun segera berjalan di tengah telaga. Demikian juga Prasta yang tanpa pikir panjang langsung menyusul. Mereka berdua (Tamara dan Satria masih ragu).
"Putri, jika engkau lebih dulu sampai di ujung. Maka pintu ini akan tertutup. Kau juga tidak bisa kembali melangkah ke belakang" kata Kencana
Aku paham maksud Kencana. Sehingga aku hanya berteriak kepada Satria.
"Pintu air ini akan segera tertutup. Jika kalian tidak segera turun. Maka kalian akan selamanya terjebak di sini." teriakku
"Ayo Satria, cepaat" teriak Prasta
Satria dan Tamara kemudian sadar. Memang benar celah itu sebentar lagi akan penuh air. Satria pun melompat bersama Tamara.
Kami semua berjalan dan kembali ke dunia kita. Pintu keluar rumah hantu. Kami menoleh ke belakang. Sudah tidak ada lagi telaga. Tapi ketika kita sadar. Bahwa kita keluar dari toilet.
"Lho kemana rumah hantu nya?" tanyaku
"Sebenarnya tidak ada rumah hantu, putri. Itu hanya ilusi." kata Kencana
Setelah kejadian itu, aku kembali menjalani rutinitas sebagai staf di departemen Fisika.
* (Seminggu kemudian).
"Semua staf Fisika, kita akan ke Bali. Kita akan kerjasama dengan RSUD Tabanan." kata Pak Gede.
Semua orang girang, karena bisa skalian liburan.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya. Maaf telat update
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya.
next :
Bagaimana dengan petualangan Nara di Bali? Akan ada kejadian mistis apa kira - kira?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
Citralekha
kira - kira seperti ini ilustrasi ketika Kencana membelah Telaga Biru.
__ADS_1