
Firda memindahkan bakso nya ke mangkuk, kemudian ia menyajikan nya untuk Gabriel dan Gio, tentu juga untuk diri nya sendiri.
Firda dan kedua pria di depan nya itu pun makan dalam diam. Aneh memang, Gabriel tahu betapa berbahaya nya Gio dalam hidup nya, namun Gabriel bisa satu rumah bahkan makan di satu meja makan dengan Gio.
Begitu juga sebaliknya, Gio tahu Gabriel adalah malaikat maut anggota keluarga nya, yg telah membuat Gio menjadi yatim piatu, tapi Gio tak bisa membalaskan dendam nya itu pada Gabriel meskipun saat ini mereka sedang duduk di meja makan yg sama bahkan tinggal di bawah atap yg sama.
Gio dan Gabriel melirik sebuah pisau buah yg ada tepat di tengah meja makan, kedua nya membayangkan bergerak cepat mengambil pisau itu dan dengan gesit langsung menyayat leher musuh dengan pisau kecil yg berkilau itu. Dengan kedalaman sekitar tiga senti dan asal tepat di tenggorokan nya, pasti lawan akan merenggang nyawa dalam beberapa menit atau bahkan beberapa detik.
"Apa bakso nya enak?" suara itu menyadarkan mereka dari lamunan dan khayalan mereka, suara yg begitu lembut bak irama melodi yg menyenangkan dan menenangkan.
Gio dan Gabriel mendoangak dan tatapan mereka langsung tertuju pada tatapan yg begitu sendu, dengan senyum yg mengembang di bibir nya begitu hangat.
Dia lah satu satu nya alasan Gio dan Gabriel tak saling membunuh saat ini, dia lah satu satu nya alasan Gabriel dan Gio menyingkirkan segala perasaan dendam, amarah, dan menekan jiwa buas mereka yg bak binatang pembunuh saat merasa terancam.
"Enak" jawab Gabriel lirih sambil tersenyum.
"Sangat enak, Nyonya Firda. Terima kasih" ujar Gio.
__ADS_1
.........
Saat malam hari, Firda terus menerus melirik Gabriel yg saat ini sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan sebuah laptop di pangkuan nya.
Sementara Firda duduk di samping nya dengan sebuah buku di tangan nya. Gabriel yg bisa merasakan lirikan Firda dari tadi pun akhir nya bersuara.
"Ada apa, Firda?" tanya Gabriel tanpa menoleh pada Firda.
"Bang Gabriel meletakkan kamera tersembunyi di kamar Gio?" tanya Firda pada akhirnya karena ia sudah merasa sangat penasaran. Jari jemari Gabriel yg menari lincah di atas keyboard laptop seketika langsung berhenti saat mendengar pertanyaan Firda, namun kemudian mengangguk dan kembali menarikan jari nya di atas keyboard.
"Ada yg mencurigakan dari Gio?" tanya Firda lagi yg membuat Gabriel berfikir sejenak, ingin rasa nya ia mengatakan yg sebenarnya tentang Gio, namun Gabriel takut melukai perasaan istri nya itu. Sudah cukup Gabriel yg membuat Firda sedih dan merasa di khianati. Jangan lagi, jangan sampai Firda kembali merasa di khianati, meskipun sebenarnya Gabriel sangat membenci Gio, namun rasa benci itu tidak sebesar rasa perduli nya pada perasaan Firda, gadis baik baik yg berasal dari keluarga yg penuh kedamaian.
"Ya aku tanya saja, Bang Gabriel mengawasi Gio, ada gerak gerik yg mencurigakan engga?" tanya Firda yg membuat Gabriel langsung menatap nya dengan memicingkan mata nya.
"Kamu curiga sama Gio, Sayang? Apa dia menyakiti mu?" tanya Gabriel kemudian, antara penasaran dan cemas.
Firda terdiam sejenak, ia masih saling memandang dengan Gabriel saat ini.
__ADS_1
"Dia tidak pernah menyakiti ku sih..." kata Firda kemudian dengan suara rendah, ia menunduk dan memainkan tali sarung guling nya.
"Terus? Apa dia melakukan tindakan yg mencurigakan?" tanya Gabriel mengintrogasi.
"Jangan sakiti dia ya..." kata Firda kemudian dengan lirih.
"Maksud nya?" Gabriel kembali bertanya karena ia tidak mengerti apa yg di maksud kan oleh Foirda .
"Maksud ku, jika misal Gio bukan pria yang baik, atau dia berniat menyakiti mu, kamu jangan sakiti dia balik. Mungkin saja dia punya masalah di masa lalu yg memercikan amarah, mungkin..." Firda kembali berkata dengan lirih "Jadi aku mohon sama kamu, Bang. Coba bicara dulu baik baik ya sama Gio, jangan langsung di hakimi"
Gabriel tersenyum mendengar apa yg di katakan Firda pada nya, Gabriel merasa yg ia nikahi adalah seorang bidadari, malaikat yg tak bersayap, seumur hidup Gabriel, Firda adalah satu satu nya orang yg selalu berbicara dengan lembut kepada nya, berbicara menggunakan hati dan perasaan dalam segala situasi dan kondisi.
"Iya, Sayang. Jangan khawatir" kata Gabriel pada akhirnya "Sekarang tidur lah, ini sudah malam" Gabriel berkata sembari menutup laptop nya, meletakkan nya di atas meja kemudian ia berbaring di ranjang dan menarik Firda ke dalam dekapan nya.
Gabriel mengecup kening Firda cukup lama, jika bukan karena Firda, mungkin Gabriel sudah membunuh Gio dengan brutal. Gabriel mengelus perut Firda dengan penuh kasih sayang.
"Anak Daddy, sudah saat nya bobok ya, Sayang. Mommy perlu istirahat juga" kata Gabriel yg membuat Firda tersenyum simpul. Firda mendoangak dan mencium rahang suami nya itu sambil memejamkan mati.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Bang" lirih Firda kemudian ia menyeruakan wajah nya di dada Gabriel "Dan aku mohon, Bang Gabriel. berhenti lah menjadi pembunuh, karena itu dosa besar. Tidak semua masalah harus di lakukan dengan kekerasan. Dan masalah juga tidak akan musnah dengan membunuh lawan mu" tutur Firda yg membuat hati Gabriel tersentuh. Namun ia tak bisa menjanjikan itu pada Firda. Karena hidup seperti hidup Gabriel harus selalu di hadapkan pada pilihan di bunuh atau membunuh.