Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 44 - Positif


__ADS_3

Gabriel mondar mandir di kamar nya sembari menunggu hasil tes kehamilan Firda. Gabriel bahkan merasa gugup seperti ia menunggu hasil ujian saja. Gabriel menggigit jari nya dan bersamaan dengan itu Firda keluar dari kamar mandi dengan ekspresi yg tak terbaca.


"Bagaimana?" tanya Gabriel antusias "Hasil nya positif atau tidak?"


"Kenapa kamu tanya positif lebih dulu? kamu mengharapkan hasil nya positif ya?" tanya Firda masih dengan ekspresi yg tak bisa Gabriel tebak.


"Positif apa negatif, Firda?" tanya Gabriel lagi tak sabar.


"Positif..." jawab Firda lirih yg membuat Gabriel langsung terbelalak, ia pun langsung mengambil tes peck yg Firda pegang dan ia melihat tes peck itu menunjukkan dua garis yg berarti memang benar Firda positif hamil.


Gabriel tidak tahu apakah ia merasa bahagia dan terharu karena akan memiliki anak lagi, atau haruskah dia sedih dan merasa bersalah karena dia benar benar telah menodai gadis yg sepolos Firda.


Sementara Firda jelas ia tidak merasa senang dengan kehamilan nya, Firda benar benar merasa kecewa dengan Gabriel dan juga diri nya. Perasaan bersalah kepada kedua orang tua nya kembali menghantam hati nya.


Firda menjatuhkan diri nya di tepi ranjang, duduk lemas dan tatapan sendu.


"Kamu melakukan nya..." lirih Firda dengan suara tercekat "Aku haru bilang sapa sama Abi dan Ummi?"


"Firda..." Gabriel langsung berlutut di hadapan Firda, bahkan ia menggenggam tangan Firda dan menatap tepat di kedua mata Firda "Aku dengar, bukankah anak itu anugerah?"


"Tapi anak yg ada sebelum pernikahan..."


"Itu bukan salah ny..." Gabriel menyela dengan cepat "Apapun alasan kehadiran nya, anak tetap lah anak. Aku mohon kamu jangan sedih dan jangan membenci nya, ya..." pinta Gabriel lembut. Firda tak bisa menjawab nya, ia hanya bisa mengerjapkan mata nya saat mata nya itu teras rabun karena air mata yg mendesak ingin keluar.


"Aku takut..." lirih Firda dan satu bulir bening itu menyelinap begitu Saja dari kelopak mata nya.


"Aku di sini..." Gabriel berkata dengan tatapan yg begitu dalam "Kita akan menjaga nya bersama, aku janji..." lanjut nya sembari menghapus air mata Firda.


Firda mengelus perut nya yg masih rata itu, sungguh ia tak menyangka bahwa kini diri nya benar benar hamil dan akan menjadi seorang ibu.


Firda tidak tahu bagaimana caranya memberitahu kan kabar kehamilan nya pada keluarga nya, terutama pada Abi dan Ummi nya. Meskipun kini Firda sudah menikah dengan Gabriel, namun kedua orang tua Firda tahu bahwa anak itu ada sebelum pernikahan terjadi.

__ADS_1


Gabriel duduk di samping Firda dan ia menarik Firda kedalam pelukan nya, Firda pun membiarkan saja Gabriel memeluk nya. Lagi pula sekarang Gabriel bukan hanya suami nya, tapi juga ayah dari bayi nya. Dan seperti kata Firda sebelumnya, ia ingin menjalani pernikahan ini dengan serius dan bukan hanya menjadikan pernikahan ini sebagai penutup aib nya.


Sejauh ini, Gabriel tidak pernah memperlakukan nya dengan buruk atau menyakiti nya. Mungkin memang benar, itu bukan pemerkosaan melainkan kecelakaan.


.........


Sementara itu, di sebuah kamar hotel mewah terdapat seorang pria yg sedang berbicara di telpon dengan seseorang. Pria bertubuh jakun itu tampak marah, ia mengepalkan tangan nya dan melempar sebuah pajangan yg ada di kamar nya.


"Bagaiamana bisa gagal?" desis nya.


"Ada yg menyelamatkan nya, Tuan. Dan kami tidak bisa mengejar nya karena tiba tiba saja datang beberapa mobil yg melindungi mobil mereka dan menggiring mereka pergi"


"Sialan, lain kali kau harus berhasil, bodoh! Atau jika tidak, kepala kalian yg akan aku hancurkan dengan truck!!!"


.........


Firda masih terdiam merenung memikirkan kehamilan nya, ia berjalan menuruni tangga masih dengan fikiran yg melayang. Pandangan nya kosong hingga ia terpeleset dan hampir saja ia jatuh berguling Jika saja tak ada tangan yg menangkap nya.


Firda langsung memaksa melepaskan diri dari Gio namun itu malah membuat nya jatuh terjerembab. Dan syukurlah ternyata Firda sudah ada di tangga kedua dari bawah.


"Auch, Kenapa di lepasin ?" erang Firda sembari memegang punggung nya.


"Maaf, Nyonya..." seru Gio meminta maaf meskipun ia tahu Firda jatuh karena ulah Firda sendiri. Gio hendak membantu Firda berdiri namun Firda menolak nya.


"Huh, kenapa lah hidup tuh begini amat..." gerutu Firda sembari berjalan keluar dan Gio langsung mengikuti nya dari belakang.


"Rasanya engga adil, tapi... Tapi Tuhan itu maha Adil" Firda ke bali menggerutu "Tapi tetap saja rasa nya benar benar tidak adil, takdir nya terasa tidak adil. Ugh..." ia masih menggerutu dengan kesal yg membuat Gio merasa bingung dengan Nyonya muda nya ini.


"Gio...." seru nya sembari menghentikan langkah nya dan ia berbalik badan.


"Ya, Nyonya?"

__ADS_1


"Pernah engga, kamu merasa ada di titik di mata kamu merasa hidup itu engga adil?" tanya Firda dan seketika pandangan Gio lurus dengan senyum tipis di bibir nya.


"Pernah, Nyonya... Bahkan jika bukan karena Don Gabriel, mungkin sampai detik ini aku akan tetap berada di titik dimana hidup itu bukan lagi terasa tidak adil, tapi memang sangat tidak adil"


"Don Gabriel?" tanya Firda mengulang nama panggilan dari Gio itu "Kenapa kamu memanggil nya Don Gabriel? Itu terdengar seperti... Gengster" ucap Firda yg membuat Gio gelagapan, ia memuat otak nya dengan cepat untuk menemukan jawaban dari pertanyaan Nyonya muda nya ini.


"Hem itu supaya terdengar keren saja, Nyonya" jawab Gio kemudian dan Firda malah dengan mudah nya percaya.


"Oh gitu, terus memang nya apa yg sudah kamu lalui dulu?" tanya Firda penasaran dan kini ia kembali berjalan keluar, menikmati angin sore yg menerpa wajahnya.


"Dulu, aku hanya anak yatim piatu, Nyonya. Hidup di jalanan, kelaparan, tanpa tempat tinggal"


"Wajah mu bule..." celetuk Firda yg membuat Gio terkekeh.


"Tempat asal ku Swedia, Nyonya. Don Gabriel menemukan ku saat itu, dia merawat ku dengan baik sampai detik ini..."


"Berarti Om Gabriel itu orang baik ya..." celetuk Firda lagi yg kali ini membuat Gio tercengang. Karena ia merasa seperti nya istri sang Don ini memiliki kepribadian yg ajaib.


"Ya, dia memang orang baik, Nyonya"


"Gio???"


"Ya, Nyonya?"


"Aku terlalu muda untuk di panggil Nyonya, panggil saja aku Firda"


"Maaf, Nyonya. Itu tidak terdengar baik"


"Benarkah?"


"Iya..."

__ADS_1


"Kalau begitu, cari panggilan yg baik selain Nyonya dan Firda" setelah berkata demikian, Firda bergegas kembali ke dalam rumah, karena ia teringat belum melaksanakan sholat ashar.


__ADS_2