
Pertarungan sengit antara Gio dan Gabriel masih terus berlanjut, kedua nya sudah sama sama kelelahan dan tenaga nya terkuras habis. Namun kedua nya sudah bertekad tak kan berhenti sampai ada yg mati di antara kedua nya.
Sementara John yg memegang jas Gabriel merasakan ponsel Gabriel yg berdering, John memeriksa nya dan tertera nama Beloved Wife di sana. John sengaja mendiamkan nya meskipun ponsel Gabriel terus bergetar.
Sementara Gabriel kini sedang tersungkur di tanah dan Gio sedang duduk di atas nya, mengajar nya membabi buta.
"Kamu tahu kenapa aku ingin membunuh mu, huh?" teriak Gio marah.
Gabriel berbalik memukul Gio hingga ia berhasil menyingkirkan Gio dari atas tubuh nya, Gabriel meludah saat mulut nya di rasa penuh dengan darah. Begitu juga dengan Gio, wajah kedua nya sudah tak jauh berbeda. Lebam, luka, berdarah, bahkan kemeja kedua nya juga sudah tidak berbentuk.
"Cuihh..." Gabriel meludah sambil menatap sinis Gio, sementara Gio mengelap darah di bibir nya "Kamu ingin membalas kematian keluarga mu, eh?" tanya nya sambil tersenyum miring.
"Aku memang membunuh mereka karena mereka ingin membunuh ku" tegas Gabriel.
"Tidak mungkin, ibu ku bukan seorang penjahat" desis Gio marah.
"Benarkan? Liodra Glatzel bukan seorang penjahat? Apa kau yakin?" tanya Gabriel.
"Jangan berani menyebut nama ibu ku..." desis Gio dan ia kembali menyerang Gabriel, Gabriel menghindar dan memberikan pukulan keras di tulang rusuk nya, membuat Gio mengerang kesakitan.
"menurut mu apa, Tuan muda Glatzel? Dia wanita suci sedangkan dia adalah adik dari Eduardo Glatzel?" tanya Gabriel lagi sengaja memanas manasi Gio.
"Dia tidak sesuci itu, dia terlibat dalam penjualan narkoba, penyulundupan senjata dan aku membunuh nya karena dia telah mengkhianati Black Swan dan mengambil senjata kami" tegas Gabriel yg seketika membuat Gio tercengang, ia menggeleng dan menolak percaya semua yg di katakan Gabriel.
"Tidak mungkin, tidak mungkin ibu ku seperti itu....!!!" teriak Gio dan ia kembali menyerang Gabriel penuh dengan amarah namun tanpa perhitungan sehingga Gabriel dengan mudah nya melempar Gio, hingga Gio tersungkur ke tanah, Gio terjatuh tepat di jas nya dan bersamaan dengan itu ponsel nya tadi yg terlempar keluar dari saku nya berdering, Gio melihat nama Nyonya Firda tertera di layar ponsel nya dan tanpa fikir panjang Gio langsung menjawab nya, entah kenapa ia tidak bisa mengabaikan Nyonya muda nya itu. Gabriel tercengang saat Gio malah sempat sempat nya menjawab panggilan di saat seperti ini.
__ADS_1
"Halo, Nyonya Firda..." kata Gio sembari berusaha mengatur nafas nya dan amarah nya.
Gabriel yg mendengar Gio mengucap nama istri nya langsung bergegas dan mengambil ponsel Gio dengan paksa, Gabriel me load speaker panggil itu.
"Gio... Kamu dimana? Sweetie sakit, Gio. Harus di bawa kerumah sakit sekerang juga!!" terdengar suara panik dan bergetar Firda dari seberang telpon.
Gabriel dan Gio sama sama menganga apa lagi ketika mendengar isak tangis Firda.
"Gio, pulang dong. Anterin kerumah sakit, aku sudah telpon Bang Gabriel tapi engga di angkat. Cepatan pulang, Gio. Nanti kalau Sweetie mati, kamu tanggung jawab ya" tegas Firda di tengah isak tangis.
"AKU PULANG SEKARANG..." Gio dan Gabriel malah menjawab nya secara bersamaan. Kedua nya saling tatap dengan tatapan yg sangat tajam dan sinis.
"Oh, jadi kalian sedang bersama. Pulang sekarang ya, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Sweetie, aku akan menuntut kalian berdua" tegas Firda lagi yg membuat Gio dan Gabriel kembali melongo.
"Baiklah, Nyonya Firda. Kami akan pulang" jawab Gio kemudian, Firda pun langsung memutuskan sambungan telpon nya.
"Ada apa, Tuan? Kau tidak membunuh pengkhianat itu?" tanya John.
"Lain kali dia pasti mati di tangan ku, John. Tapi tidak sekarang" kata Gabriel sembari mengenakan jas nya.
"Aku akan pulang dulu, Firda meminta kami pulang" kata Gabriel yg membuat John langsung melongo.
"Kami?" tanya nya "Kami maksud nya kamu dan dia?" tanya nya lagi tak percaya dan Gabriel hanya mengangguk.
"Tapi bagaimana bisa? Dia bisa saja membunuh mu di tengah jalan nanti"
__ADS_1
"Maka aku akan membunuh nya lebih"
.........
Gabriel dan Gio kini benar benar pulang dalam satu mobil, kedua nya sama sama waspada sekarang dan bersiap jika sewaktu waktu ada yg menyerang lebih dulu.
Namun, di tengah serius nya kewaspadaan mereka, mereka juga sibuk merapikan penampilan mereka, mengelap darah di bibir mereka, merapikan rambut mereka dan mengatur emosi mereka.
Gio melirik Gabriel dari kaca begitu juga Gabriel.
"Jangan beri tahu Nyonya Firda" kata Gio kemudian, entah kenapa dia takut Firda tahu tentang nya, tentang pengkhianatan nya dan juga tengah rencana pembunuhan yg ia lakukan.
"Itu lah salah satu alasan ku kenapa tidak membunuh mu saat aku mengetahui pengkhianatan mu, Gio. Istriku sangat yakin kamu pria baik, dia bukan hanya menganggap ku teman tapi juga saudara. Aku mengawasi setidak detik pergerakan mu, suatu hari nanti aku akan membunuh mu dan akan aku katakan pada Firda kalau kamu mati terbunuh karena melindungi ku, bagaimana? Firda pasti akan mendoakan mu" jawab Gabriel yg membuat Gio tersenyum sinis, sementara Gabriel tampak sangat puas.
"Tidak akan semudah itu membunuh ku, Emerson. Suatu hari nanti, aku akan membunuh mu dan akan aku katakan pada Nyonya Firda bahwa kau mati karena di serang musuh. Setelah kematian mu, aku akan tetap menjadi bodyguard sejati Nyonya Firda dan mungkin suatu hari nanti aku bisa menggantikan posisi mu di hati nya... "
" HEY... " geram Gabriel bahkan langsung menodongkan senjata tepat di kepala Gio, Gabriel tampak sangat marah dan sekarang Gio lah yg tersenyum puas.
"Seharusnya kamu berterimakasih karena aku sudah memberi mu kesempatan hidup dua kali, Tuan muda Glatzel. Saat itu aku juga ingin menghabisi mu, saat kau tertidur dengan begitu lelap nya bahkan saat kami menembaki kedua orang tua mu" Gio mendesis mendengar apa yg di katakan Gabriel.
Ingatan Gio berputar kembali kepada pada pagi itu, dimana saat ia turun dari kamar nya dengan riang gembira, tiba tiba semua itu musnah ketika melihat jasad keluarga nya.
"Dan sekarang, aku membiarkan mu hidup karena Firda. Tapi tidak ada kesempatan ketiga, di kesempatan selanjutnya, aku pasti akan membunuh mu"
"Tidak akan, Emerson. Kau yg harus mati, aku tidak percaya ibu ku adalah orang najis seperti mu dan para kriminal itu. Ibu ku adalah wanita baik baik, wanita yg suci, sesuci Nyonya Firda" kata Gio masih fokus dengan setir, sementara Gabriel hanya tersenyum miring, ia menarik senjata nya dan duduk tegak di jok belakang.
__ADS_1
Sebentar lagi mereka sampai di rumah, tanpa sadar kedua nya menarik nafas secara bersamaan itu dan mengatur emosi mereka.
Karena cinta, itu lah yg membuat kedua nya harus bertindak seolah semua nya baik baik saja. Karena kedua nya tak ingin menyakiti yg mereka cintai. Tak ingin membuat nya khawatir, sedih dan takut m