Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 117 - Balas Dendam


__ADS_3

Gabriel memasukan Flashdisk itu ke saku nya dan kemudian ia menyelipkan pistol nya di balik celana nya. Gabriel berniat akan balas dendam pada John palsu itu yg kemungkinan memang ayah nya.


Dan bagaimana jika benar John itu memang ayah nya? Tentu Gabriel akan sangat bersyukur karena dengan begitu ia tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk mencari pembunuh ibunya, Gabriel akan membunuh pembunuh ibu nya meskipun itu adalah ayah nya sendiri.


"Kamu yakin tidak ada jalan lain selain membunuh?" tanya Firda memelas, ia sangat ingin menjauhi kekerasan apa lagi pembunuhan.


"Maafkan aku, Sayang. Tapi aku harus membalaskan dendam ibu ku" Jawab Gabriel sembari kembali memasang jaket kulit nya.


"Kenapa harus selalu tentang dendam? Aku mohon, aku yakin akan ada cara lain..." bujuk Firda namun hati Gabriel tak ingin berdiskusi saat ini.


"Aku akan mengirim mu dan Micheal ke luar negeri..."


"Tapi..."


"Firda, please..." geram Gabriel. Jiwa monster nya sungguh telah terusik sekarang dan ia tidak dalam mode baik baik saja. Gabriel akan membunuh siapa saja yg menghalangi jalan nya.


Sementara itu, Hito dan Mini sedang berada di ruang tengah, menemani Micheal bermain karena sejak tadi anak itu rewel dan terus menanyakan Mommy nya. Hito memberi nya sebuah laptop dan membiarkan Micheal memainkan sebuah game anak anak.


Hito yg menyadari horden jendela nya tidak tertutup rapat langsung mendorong kursi roda nya mendekati jendela yg ada di samping pintu masuk.


"Mau kemana, Pa?" tanya Mini sembari pandangan nya mengikuti pergerakan ayah nya.


"Menutup jendela, takut nya ada yg memperhatikan kita" jawab Hito.


saat tangan nya terulur untuk menarik ujung horden, tiba tiba terdengar suara tembakan yg membuat Mini terkejut begitu juga dengan Micheal.


"DOOORR..."


"PAPA...." Teriak Mini histeris saat ayah nya langsung terjungkal beserta kursi roda nya dengan luka tembakan tepat di dada nya...

__ADS_1


"Huaaa...." Micheal pun langsung menangis histeris karena shock dengan suara tembakan dan teriakan histeris Mini.


Firda dan Gabriel yg mendengar suara tembakan juga dan teriakan Mini langsung keluar dan Firda juga berteriak histeris saat melihat Hito sudah terjungkal ke lantai.


"TIARAP....!!!" seru Gabriel saat Mini hendak berlari menghampiri ayah nya yg berbatuk dan mengeluarkan darah dari mulut nya


"Jauhi jendela!!!" titah Gabriel lagi.


Firda dan Mini pun langsung tiarap, Firda yg melihat Micheal menangis langsung merangkak menghampiri anak suami nya itu.


Sementara di luar, John tersenyum miring saat tembakan nya mengenai dada Hito.


Ia memberi isyarat pada orang orang nya untuk maju dan mendobrak rumah kecil Mini.


"Pastikan kalian tidak menyakiti putra ku dan cucu ku!!!" titah John palsu.


"Papa.... Hiks.. Hiks..." Mini hanya bisa menangis di lantai melihat ayah nya yg sedang sekarat.


Gabriel merangkak tanpa suara dan berusaha menarik tubuh Hito ke dalam kamar dan berlindung. Gabriel juga membawa Mini, Firda dan Micheal.


"Min..." Hito bersuara lirih, tangan nya meraba raba udara sementara mata nya mulai tertutup. Mini menyalakan senter ponsel nya dan ia menangis melihat ayah nya yg semakin melemah, Firda juga menangis dan ia langsung menyambut tangan hito, Mini menggenam tangan ayah nya yg satu nya dan ia terus terisak.


"Papa..." lirih Mini ketakutan. Air mata memabasahi pipi nya dan jatuh di tangan ayah nya yg berlumuran darah.


"Kita harus membawa nya kerumah sakit, Bang..." pinta Firda pada Gabriel yg sedang mempersiapkan senjata nya. Gabriel mengintip dari jendela dan memperhatikan ada banyak sekali orang di luar sana. Gabriel mulai merasa bersalah karena ia telah membuat nyawa orang lain terancam karena nya dan perasaan bersalah itu ada untuk pertama kali nya.


"Apa ada pintu belakang?" tanya Gabriel pada Mini dan Mini mengangguk.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara pintu yg di dobrak yg di susul dengan suara John.... Atau Edward.

__ADS_1


"Gabriel..." teriak John sembari mengarahkan senjata nya dengan sigap "Keluar lah dan aku janji tidak akan menyakiti yg lain!!!" seru nya.


Gabriel menggeram marah mendengar suara itu, ia teringat dengan ibu nya yg telah di bunuh oleh nya dan ia juga teringat dengan kelancangan nya yg telah mengganggu privasi istri dan putra nya.


Sementara Firda harus membekap mulut Micheal yg masih menangis ketakutan.


"Kita keluar lewat pintu belakang" bisik Gabriel dan ia hendak membawa Hito namun Hito menolak.


"putri ku... Mini..." bisik Hito. Ia tahu diri nya tidak akan selamat sekarang, sementara pendarahan nya semakin parah.


"Papa..." Mini hanya bisa menangis dalam diam dan mencium tangan ayah nya yg tiba tiba melemas, Mini menggigit bibir nya agar tak histeris saat menyadari ayah nya telah pergi untuk selama nya. Firda pun juga menangis dalam diam dan perasaan bersalah menghantam diri nya. Tubuh nya gemetar dan dada nya terasa begitu sesak menyaksikan kematian Hito dan kesedihan Mini.


Sementara Gabriel tercengang, ini bukan pertama kali nya ia melihat seseorang mati karena nya namun perasaan Gabriel begitu asing sekarang. Ia merasa sedih dan bersalah, apa lagi melihat Mini yg menangis dalam diam dan bahkan tidak bisa berteriak untuk melupakan rasa sakit nya.


Gabriel berjongkok dan merengkuh Mini dalam dekapan nya.


"Maafkan aku..." lirih Gabriel dengan begitu tulus.


"Tapi sekarang kalian harus pergi..."


Sementara itu, John dan anak buah nya menyusuri rumah kecil itu dan mengikuti jejak darah Hito di lantai yg menuju sebuah kamar.


Anak buah John ingin menembak pintu kamar itu namun di cegah oleh John.


"Ada putra ku dan cucu ku di dalam..." desis nya marah.


"Kau bisa membunuh yg lain tapi tidak dengan putra dan cucu ku" imbuh nya.


"Gabriel..." John menggedor pintu itu sekuat tenaga "Keluar dan kita bisa bicara baik baik..." seru nya.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyakiti kalian..." ia kembali berteriak namun tak ada respon sedikit pun.


"Dobrak pintu nya...." titah nya pada anak buah nya.


__ADS_2